DEBU TAKWA PEMBEBAS DERITA

Standar

10. Prof. Ali Aziz menyampaikan Taushiyah

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya (QS. At Thalaq [65]:5).

Ayat ini kelanjutan dari tiga ayat sebelumnya (QS. 65: 2-4) tentang keuntungan bagi orang yang bertakwa, yaitu (1) mendapat solusi atas semua masalah hidup (2) memperoleh banyak rizki di luar dugaan, dan (3) kemudahan dalam segala urusan. Selanjutnya pada ayat ini sebagaimana dikutip di atas, Allah SWT menjelaskan keuntungan takwa yang lain, yaitu (4) pengampunan atas segala dosa, dan (5) lipatan pahala atas kebaikan yang pernah dilakukannya.

Dalam beberapa literatur disebutkan, takwa adalah menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Secara lebih praktis, Umar bin Khattab r.a menjelaskan, takwa adalah kehatian-kehatian dalam setiap langkah, seperti kehati-hatian pejalan kaki di atas jalan yang penuh duri. Kaki baru diinjakkan ke tanah ketika ia yakin bahwa jalan yang diinjak itu benar-benar aman dari tusukan duri. Jika berpedoman pada pengertian ini, tidak ada satupun orang yang bisa disebut bertakwa selain nabi. Tapi, bergembiralah, sebab Allah tetap mengampuni kesalahan Anda berkat ketakwaan Anda meskipun hanya setitik debu. Tidak hanya itu, Allah melipatgandakan pahala sekecil apapun kebaikan kita, sebagaimana disebut pada ayat di atas, “..dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya (QS. At Thalaq [65]:5).

Nabi SAW pernah bercerita, ada seorang yang hidup sebelum masa kenabiannya. Orang tersebut hidup berlimpah harta dengan anak cucu yang amat menyenangkan. Menjelang mati, ia bertanya kepada anak-anaknya, “Menurut kalian, ayah kalian ini orang yang bagaimana?” Mereka menjawab, “Orang baik.” Selanjutnya sang ayah mengatakan, “Ketahuilah wahai anak-anakku, aku lebih tahu tentang diriku. Aku tidak memiliki sedikitpun kebaikan di sisi Allah. Oleh sebab itu, pasti Allah akan menyiksaku kelak.” Saya wasiatkan kepada kalian, “Jika suatu saat aku mati, bakarlah tubuhku lalu tumbuklah arangnya sampai menjadi abu. Tumbuklah sekali lagi sampai benar-benar lembut. Lalu, pergilah ke laut dan taburkan semua abu itu ketika angin sangat kencang!”

“Semua anaknya berjanji untuk melakukan wasiat itu. Demi Tuhanku, mereka benar-benar melakukannya,” kata Nabi SAW.  Ketika abu telah ditebar, Allah SWT berfirman, “Kun (jadilah), maka berdirilah seorang lelaki yang utuh.” Allah kemudian bertanya, “Ay ‘abdii, maa hamalaka ‘ala an fa’alta maa fa’alta? Qaala: makhaafataka / Wahai hamba-Ku, mengapa kamu melakukan semua itu?” Lelaki itu menjawab, “Karena takut kepada (siksa-Mu).” Nabi SAW melanjutkan, “Maka sejak itu, ia mendapat limpahan rahmat Allah.” Nabi SAW mengulang sekali lagi, “Maka sejak itu, ia mendapat limpahan rahmat Allah” (HR. Al Bukhari No. 7.508 dari Abu Said r.a).

Ada satu lagi kisah hampir sama yang saya yakini dapat menguatkan optimisme ampunan Allah untuk Anda. Pada zaman Nabi Musa a.s, ada pria di sebuah kampung yang meninggal dan tak satupun orang bersedia memandikan dan memakamkannya. Mereka bahkan menyeret dan melemparkannya ke pembuangan sampah, karena sepanjang hidupnya ia benar-benar “sampah” yang menyusahkan warga. Allah SWT lalu memberitahu Nabi Musa a.s, “Wahai Musa, ada orang yang dibuang ke tempat sampah di suatu perkampungan. Carilah ia sampai ketemu, lalu mandikan, bungkuslah dengan kafan, shalatilah dan makamkanlah secara terhormat. Ia benar-benar kekasih-Ku.”

Musa berjalan menyusuri kampung ke kampung untuk mencari “manusia sampah” itu. Setiap orang memberi julukan yang sama untuk mayit itu: ”si jahat.” Nabi Musa a.s meminta ditunjukkan di mana si jahat itu dibuang. Setelah mayat itu ditemukan tergeletak busuk di tumpukan sampah, Musa a.s berkata, “Wahai Tuhanku, apakah Engkau memerintahkan aku menshalati orang yang sudah dikenal kejahatannya ini?”

Allah SWT mengatakan, “Wahai Musa, benar, ia memang orang jahat, tapi tahukah kamu bahwa ketika menjelang matinya, ia meminta belas kasih-Ku. Apakah Aku, Tuhan Yang Maha Pengasih tidak mengasihinya? Ketahuilah wahai Musa, menjelang sakaratul maut, ia berkata lirih, “Wahai Tuhanku, Engkau Maha Mengetahui gunungan dosa yang telah aku lakukan sepanjang hidupku. Tapi, saya yakin, Engkau Maha Mengatahui isi hatiku. Aku sejatinya berontak setiap kali aku melakukan dosa. Wahai Tuhanku, sekalipun penuh dosa, aku tetap senang dan hormat kepada orang-orang shaleh di sekitarku. Jika ada dua panggilan, dari orang jahat dan orang shaleh, pastilah aku mendahulukan orang shaleh.”

“Wahai Tuhanku, jika Engkau mengampuni aku, pastilah Nabi-Mu tersenyum gembira karena salah satu umatnya terbebas dari neraka. Sebaliknya, musuh-musuh-Mu, yaitu Iblis dan setan akan bersedih. Aku yakin, Engkau lebih menyukai senyuman Nabi-Mu daripada senyum Iblis dan kawan-kawannya. Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kasihanilah aku.” Maka Allah SWT berfirman, “Aku, Tuhan Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Aku akan mengasihi dan mengampuni dia, karena ia telah mengakui dosa-dosanya kepada-Ku. Allah SWT berfirman, “Wahai Musa, segera shalat untuknya sesuai perintah-Ku. Aku akan mengampuninya atas keberkahan orang yang menshalatinya.”

Sekali lagi, bergembiralah, dengan kasih-Nya yang tak terbatas, Allah akan menyelamatkan Anda berbekal ketakwaan meskipun sebesar partikel. Ibnu Athaillah mengatakan, ‘alima wujudad dla’fi minka faqallala a’daadaha, wa’alima ihtiyaajaka ilaa fadl-lihi fakatstsara amdaadaha (Allah mengetahui kelemahanmu, maka Allah meminimalkan (tuntutan) bilangan (ibadahmu). Allah juga Mengetahui kebutuhanmu akan karunia-Nya, maka Ia melipatgandakan pahala kebaikanmu)

Dua kisah di atas juga bisa menampar muka Anda. Orang yang Anda pandang penuh maksiat, bisa jadi ia kekasih Allah karena setitik debu takwa dalam hatinya yang tidak diketahui siapapun, dan partikel takwa itulah yang mendatangkan ampunan Allah kepadanya. Sedangkan Anda yang merasa lebih suci daripadanya, bisa jadi menurut Allah, ada setitik debu dosa yang Anda lakukan tanpa Anda sadari dan partikel dosa itulah yang membuat Allah SWT murka kepada Anda. Mulai saat ini, hapuslah perasaan bahwa Anda lebih suci daripada orang lain, dan hentikan kebiasaan memandang sinis pelaku dosa di sekitar Anda, sebab bisa jadi ia lebih harum di sisi Allah daripada Anda. Wallahu alamu bis shawab. (terapishalatbahagia.net)

 

Referensi: (1) Muhammad bin Abu Bakar Al Usfuri, Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah, Penerbit Mutiara Ilmu Surabaya, Zeid Husein Al Hamid, 1994: cet II: 4-6; (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Panjimas, Jakarta  (3) Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 176; (4) Ibnu Atha’illah As-Sakandari, Al Hikam, (Al Hikam dan Syarahnya) terj. DA. Pakih Sati LC, Penerbit saufa Yogyakarta, 2015, cet.I

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s