Idul Fitri, Bukan Kembali Suci

Standar

Kesalahan PCover Juli 2016 Layoutenerjemahan

Sebagian orang menerjemahkan kata Idul Fitri ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘kembali suci’. Apakah penerjemahan tersebut benar?

Kata Idul Fitri berasal dari bahasa arab ‘id al-fihtr (عِيْدُ الْفِطْرِ).

Kata ‘id (عِيْدٌ) berarti hari raya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَبَا بَكْرِ، إِنَّ لِكُلَّ قَوْم
عِيْدًا
، وَهَذَا عِيْدُنَا

“Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap umat memiliki hari raya. Dan (hari) ini adalah hari raya kita”. (HR. Bukhari  dan Muslim)

Hari Raya Natal dalam bahasa arab disebut ‘idul milad (عيد الميلاد), artinya Hari Raya Kelahiran. Jadi ‘id bukan berarti ‘kembali’. Hari Raya disebut ‘Id karena hari tersebut dirayakan berulang-ulang setiap tahun. Selain Idul Fitri, umat Islam memiliki hari raya yang lain, yaitu ‘Id al-Adlha (عِيْدُ الْأضحى). Idul Adha berarti Hari Raya Hewan Sembelihan, bukan ‘kembali kepada hewan sembelihan’. 

Kata ‘kembali’ dalam bahasa arab adalah ‘ada – ya’udu – ‘audatan (عاد – يعود – عودة). Sekilas hurufnya memang ada kemiripan, tetapi makna kata ‘id dan ‘audah jauh berbeda dan penggunaanya pun tidak sama.

Selanjutnya, kata fithr (فِطْرٌ) berarti makan, buka, sarapan. Lihatlah penggunaan kata al-fithr dalam beberapa hadits di bawah ini.

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan; bahagia ketika berbuka dan bahagia ketika berjumpa Tuhannya” . (HR. Bukhari Muslim)

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصَّوْمُ يَوْمٌ تَصُوْمُوْنَ وَالْفِطْرُ يَوْمٌ تُفْطِرُوْنَ وَالْأَضْحَى يَوْمٌ تضحون

“Shaum/puasa adalah hari kalian berpuasa, (‘Id) al-Fithri adalah hari kalian berbuka, dan (‘Id) al-Adlha adalah hari kalian menyembelih.” (Sunan at-Tirmidzi no. 697)

Kata fithr berbeda dengan fithrah (فِطْرَةٌ). Sekilas hurufnya memang mirip, tetapi makna dan penggunaannya jauh berbeda. Kata fithrah bermakna kesucian, agama yang lurus, dan asal kejadian. Lihatlah penggunaan kata fithrah dalam beberapa hadits di bawah ini. Bandingkan dengan penggunaan kata fithr di atas.

عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأْظْفَارِ وَغَسْل الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإْبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ

Ada sepuluh hal dari fithrah (kesucian), yaitu memangkas kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), potong kuku, membersihkan ruas jari-jemari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan istinjak (cebok) dengan air. ” (HR. Muslim).

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ وُلِدَ عَلىَ الفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِهِ

Tidak ada bayi yang terlahir kecuali lahir dalam keadaan fithrah (beragama lurus, yakni muslim). Lalu kedua orang tuanya yang menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi. (HR. Muslim)

Oleh karena itu, kata ‘id al-fihtri jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti Hari Raya Makan. Pada hari Idul Fitri (tanggal 1 Syawwal) umat Islam diperintahkan untuk makan dan diharamkan berpuasa. Bahkan salah satu sunnah pada hari raya Idul Fitri adalah makan (sarapan) sebelum melaksanakan shalat ‘id.

Diriwayatkan dari Buraidah radliyallahu ‘anhu, beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ لاَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ

“Nabi tidak keluar (untuk shalat ‘Id) pada hari Idul Fitri sehingga beliau makan terlebih dahulu”. (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibu Majah)

 

Kekeliruan Kultural

Kesalahan penerjemahan dan pemaknaan kata Idul Fitri ternyata mengakibatkan kekeliruan pemahaman akan makna hari raya idul fitri dan munculnya tradisi dan kepercayaan yang kurang sesuai, bahkan bertentangan, dengan ajaran Islam. Karena mengartikan Idul Fitri sebagai ‘kembali suci’, banyak orang Islam yang menyangka bahwa pada hari idul fitri mereka kembali suci, dosa-dosa mereka semuanya diampuni. Kemudian orang-orang ini mengadakan berbagai macam pesta pora; pesta musik, pesta film spesial, pesta belanja, dan pesta-pesta yang lain.

Kami ingin bertanya, dari mana Anda bisa merasa bahwa Anda kembali suci? Apakah Anda bisa memastikan bahwa puasa dan amal ibadah Anda selama di bulan Ramadlan diterima oleh Allah ta’ala? Apakah Anda bisa memastikan bahwa dosa-dosa Anda sudah diampuni oleh Allah ta’ala? Apakah amal ibadah yang Anda lakukan benar-benar sudah sesuai dengan syari’at? Apakah amal ibadah yang Anda lakukan benar-benar ikhlash HANYA karena Allah ta’ala?

Bukankah pada bulan Ramadlan kemarin Anda masih saja berbuat dosa? Masih melihat sesuatu yang diharamkan oleh Allah, masih berbohong, masih menggunjing (ngerasani), masih berkata keji dan kasar, masih menyakiti orang lain? Bukankah di dalam hati masih ada riya` (ingin dilihat orang lain) ketika shalat di masjid, bersedekah, berinfaq, ataupun membayar zakat? AYO JUJUR..!!

Jangan sombong..!! Jangan merasa sok suci. Justru setelah Ramadhan berakhir kita dianjurkan, dengan penuh rasa rendah hati, memperbanyak do’a:

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

Taqobbalallohu minna wa minkum

Semoga Allah menerima [ibadah] kami dan kalian”. (Diriwayatkan dari Jubair bin Nufair. Lihat Fiqhussunnah: I/274)

Dalam Lathaiful Ma’arif, hal. 264, Ibnu Rajab al-Hanbali mengutip perkataan Mu’alla bin Fadl;

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان يدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang bulan Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka ketika di bulan Ramadhan.”

Merasa senang dengan hadirnya Hari Raya boleh-boleh saja. Namun jangan sampai kelewat batas. Jangan sampai malah memperbanyak dosa melalui acara-acara yang mengandung ma’shiat. Jangan sampai malah lupa dari apa yang dianjurkan oleh agama; memperbanyak doa:

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

 

Tradisi Yang Baik

Selain kesalahan dan kekeliruan pemaknaan Idul Fitri seperti yang kami sebutkan di atas, Alhamdulillah di negeri ini masih ada tradisi yang baik yang senantiasa dilestarikan oleh masyarakat pada bulan Syawwal, yaitu tradisi Halal bi Halal. Walaupun istilah Halal bi Halal ini secara tekstual tidak ditemukan di dalam al-Qur`an dan al-Hadits, bahkan tidak juga didapatkan dalam bahasa Arab, tetapi secara substansial ada kebiasaan mulia yang terdapat di dalam acara ini. Kebiasaan tersebut adalah ‘saling minta maaf dan memberi maaf’.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيْهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيْهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيْهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ (رواه البخاري رقم ٦٥٣٤)

Barangsiapa pernah berbuat dzalim kepada saudaranya, maka hendaknya ia minta kehalalannya (minta maaf). Sebab disana (akhirat) tidak ada dinar dan dirham (untuk menebus kesalahan). Sebelum amal kebaikannya diambil dan diberikan kepada saudaranya yang didzalimi tersebut. Jika ia tidak memiliki amal kebaikan, maka amal keburukan saudaranya akan dilemparkan kepadanya” . (HR al-Bukhari No. 653)

Diriwayatkan dari Sakhbarah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنِ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ وَأُعْطِيَ فَشَكَرَ وَظُلِمَ فَغَفَرَ وَظَلَمَ فَاسْتَغْفَرَ أُوْلَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ (رواه الطبراني في الكبير رقم ٦٤٨٢  والبيهقي في شعب الايمان رقم ٤١١٧ )

“Barangsiapa diberi cobaan kemudian bersabar, diberi nikmat kemudian bersyukur, dianiaya kemudian memaafkan, dan berbuat dzalim kemudian meminta maaf, maka merekalah yang mendapatkan kedamaian dan merekalah yang mendapat hidayah” . (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 6482 dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 4117)

Tentu, acara Halal bi Halal semestinya dikemas secara Islami. Misalnya, selain acara utama ‘ saling minta maaf dan memberi maaf’, juga diisi dzikrullah, pembacaan al-Qur`an, sedekah, dan pengajian. Hindari campur baur laki-laki dan perempuan, terlalu banyak bergurau, dan hal-hal lain yang tidak bermanfaat, apalagi yang mengandung ma’shiat.

Selain itu, kebiasaan ‘saling minta maaf dan memberi maaf’ seharusnya bukan hanya dilakukan pada hari raya Idul Fitri atau bulan Syawwal, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim. Dua hadits di atas berlaku umum, bukan hanya pada saat Idul Fitri. Lagian, kita tidak tahu apakah nanti sore atau besok pagi kita masih diberi kesempatan oleh Allah ta’ala untuk menghirup nafas di atas bumi ini, atau tidak. Segeralah minta maaf dan memberi maaf.

Semoga Allah ta’ala senantiasa melimpahkan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua.

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

(M. Tajuddin, S.Hum. –Staf Pengajar PP. Darul Hikmah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s