Risalah Ringkas Zakat

Standar

zakat fitrahSebentar lagi bulan puasa akan kembali menghampiri kita, berbagai macam persiapan baiknya kita lakukan semenjak sekarang. Mulai dari fisik, mental, materi termasuk sebagai tambahan amal dibulan Ramadhan yakni, zakat. Oleh sebab itu, redaksi akan sedikit mengulas mengenai zakat ini. Semoga uraian di bawah ini bisa bermanfaat dan membantu para pembaca jika ingin mengeluarkan zakat kepada yang berhak.

***

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)

Kewajiban Zakat

Zakat adalah kewajiban pokok dan merupakan salah satu rukun Islam. Kewajiban zakat disejajarkan dengan kewajiban shalat dalam 28 ayat al-Qur`an.  Ibadah maaliyah (ibadah harta) ini difardlukan bagi umat Islam sejak tahun ke-2 Hijriyah.

Allah swt berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (QS. al-Bayyinah[98]: 5).

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (QS. At-Taubah[9]: 103).

Rasulullah saw bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya; mendirikan salat; melaksanakan puasa (di bulan Ramadan); menunaikan zakat; dan berhaji ke Baitullah (bagi yang mampu)”. (HR. Muslim).

 

Ancaman Bagi Orang Tidak Mau Menunaikan Zakat

Tidak membayar zakat berarti berbuat dzalim, memakan harta yang bukan haknya. Karena sebagian harta yang dikeluarkan sebagai zakat pada hakekatnya adalah hak milik orang-orang yang berhak menerima zakat. Allah ta’ala mengancam orang-orang yang tidak mau membayar zakat dengan ancaman yang sangat keras.

“…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka. (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang diberi oleh Allah harta kemudian ia tidak membayar zakatnya, maka akan dijelmakan harta itu pada hari kiamat dalam bentuk ular yang kedua kelopak matanya menonjol. Ular itu melilitnya kemudian menggigit dengan dua rahangnya sambil berkata: “Aku adalah hartamu, aku adalah simpananmu”. Lalu beliau membacakan firman Allah Ta’ala, yang artinya: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di leher mereka di hari kiamat”. (QS. Ali ‘Imron: 180). (HR. Bukhari II/508 no.1338)

 

Definisi

Secara bahasa, kata zakat berarti kesucian (thaharah), kesuburan atau berkembang (nama’), dan keberkahan (barakah).

Sedangkan secara syari’at, zakat adalah nama bagi pengambilan tertentu dari harta tertentu, menurut sifat-sifat tertentu, dan diberikan kepada golongan tertentu.

 

Nishab dan Harta Yang Benda Yang Wajib Dizakati

Nishab adalah batasan minimal bagi harta yang wajib dizakati.

  1. Nishab emas : 20 mitsqal = 85 gram

Zakatnya 2,5 % (dibayar setahun sekali).

  1. Nishab perak : 200 dirham = 624 gram

Zakatnya 2,5 % (dibayar setahun sekali).

  1. Nishab tanaman, biji-bijian, dan buah-buahan : 5 ausaq = 750 kg beras

Jika pengelolaannya butuh biaya pengairan, pupuk dan tenaga, maka zakatnya 5 % (dibayar ketika panen).

Jika pengelolaannya hanya dengan air hujan atau sungai serta tidak butuh biaya dan tenaga tambahan, maka zakatnya 10 % (dibayar ketika panen)..

  1. Nishab kambing : 40 ekor

Zakatnya 1 ekor kambing/domba (dibayar setahun sekali)

  1. Nishab sapi/kerbau : 30 ekor

Zakatnya 1 ekor sapi umur satu tahun (dibayar setahun sekali)

  1. Nishab unta : 5 ekor

Zakatnya 1 ekor kambing/domba umur dua tahun (dibayar setahun sekali)

Disamakan dengan nishab emas, harta-harta seperti;

  1. Ma’din (barang tambang) seperti timah, besi, platina, dan yang semisalnya.
  2. Batu pertama, intan, berlian, zamrud, dan yang semisalnya.
  3. Uang simpanan (tabanas, deposito, dan yang semisalnya).
  4. Hasil perdagangan, pertokoan, depot, ekspor-impor, percetakan, penerbitan, dan yang semisalnya.
  5. Industri tekstil, keramik, bata merah, kapur, granit, batik, ukiran, dan yang semisalnya.
  6. Industri pariwisata, hotel, losmen, restoran, dan yang semisalnya.
  7. Perumahan, persewaan.
  8. Perdagangan hasil pertanian, perkebunan, peternakan, dan yang semisalnya.
  9. Al maalul mustafad (pendapatan dan jasa), seperti pendapatan dokter, notaries, akuntan, designer, guru, dosen, gaji pegawai/ karyawan, dan yang semisalnya. (menurut DR. Yusut Qardlawi, al maalul mustafad diqiyaskan kepada emas)

Disamakan dengan nishab tanaman, harta-harta seperti;

  1. Biji-bijian (jagung, gandum, dan yang semisalnya)
  2. Kacang-kacangan
  3. Umbi-umbian
  4. Buah-buahan (kurma, anggur, apel, papaya, nanas, jambu, durian, dan yang semisalnya).
  5. Sayur-sayuran (kol, mentimun, cabe, lobak).
  6. Rumput-rumputan (tebu, bamboo, serai).
  7. Al maalul mustafad (menurut DR. Muhammad al-Ghazali, al maalul mustafad diqiyaskan kepada tanaman)

 

Orang-orang Yang Berhak Menerima Zakat

Mustahik (orang yang berhak menerima) zakat ada 8 golongan;

  1. Fakir

Yaitu seseorang yang tidak memiliki harta dan penghasilan dan juga tidak memiliki pekerjaan.untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

  1. Miskin

Yaitu seseorang yang memiliki penghasilan dan pekerjaan, namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (kebutuhan primer).

  1. Amil zakat

Yaitu petugas yang medapatkan mandat dari pemerintah untuk menarik, mengumpulkan, mengelola, dan menyalurkan zakat.

  1. Muallaf

Yaitu orang yang dicondongkan hatinya kepada Islam. Termasuk dalam kategori muallaf adalah;

  • Orang yang baru masuk Islam.
  • Orang yang diharapkan kuat masuk Islam agar segera masuk Islam.
  • Orang non-muslim yang memiliki pengaruh (terhadap orang-orang kafir) yang diharapkan, dengan diberi zakat, orang-orang kafir yang berada di bawah pengaruhnya tidak mengganggu umat Islam.
  1. Fir riqab

Yaitu hamba sahaya yang dijanjikan merdeka oleh tuannya jika dia menebus dirinya sendiri. Hamba ini diberi zakat agar bisa menebus dirinya.

  1. Gharim

Yaitu orang yang terlilit utang.

  1. Fi sabilillah

Yaitu orang yang secara suka rela menjadi bala tentara perang melawan orang kafir harbi (orang kafir yang memerangi umat Islam), sedangkan dia tidak mendapatkan gaji dari pemerintah.

  1. Ibnu sabil

Yaitu orang yang sedang berada di perjalanan yang halal dan dalam keadaan membutuhkan ongkos untuk mencapai lokasi yang dituju.

 

Contoh Teknis Pelaksanaan Zakat

Contoh 1

Ahmad adalah seorang karyawan swasta. Gajinya Rp 5.000.000 per bulan. Berapa zakatnya?

Gaji per bulan                                          = Rp 5.000.000

Gaji per tahun (12 x 5.000.000)              = Rp 60.000.000

Harga emas 85 gram (85 x 525.000)      = Rp 44.625.000

Jika diqiyaskan kepada emas, gaji karyawan tersebut telah mencapai nishab. Maka dia wajib membayar zakat.

Jika dikeluarkan per bulan, maka zakatnya;

2,5 % x 5.000.000   = Rp 125.000,-

Jika dikeluarkan per tahun, maka zakatnya;

2,5 % x 60.000.000 = Rp 1.500.000,-

 

Contoh 2

  1. Mustafa menghitung penghasilannya praktek dokter selama 1 tahun, yaitu Rp 360.000.000,- selain itu beliau memiliki kos-kosan yang pendapatannya per bulan sebesar Rp 10.000.000,- berapa zakat yang harus beliau bayarkan?

Pendapatan jasa dokter per tahun                                          = 360.000.000

Pendapatan kos-kosan per tahun (10.000.000 x 12)              = 120.000.000

———————————————————————————————

Total pendapatan per tahun                                                    = 480.000.000

Zakat yang harus dibayar per tahun adalah

2,5 % x 480.000.000               = Rp 12.000.000,-

 

*Contoh tersebut adalah permisalan yang sederhana. Bisa saja penghasilan seseorang tidak tetap setiap bulannya, bisa bertambah atau berkurang. Untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas dan akurat, kami sarankan kepada Anda untuk berkonsultasi kepada petugas Amil Zakat BAZ atau LAZ yang ada di daerah Anda. Semoga Allah ta’ala memudahkan langkah Anda untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim.

 

Harta Yang Tidak Wajib Dizakati

Termasuk harta yang tidak wajib dizakati adalah;

  1. Harta milik umum, seperti harta Negara, waqaf, harta milik yayasan, dan lembaga sosial keagamaan.
  2. Harta yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti rumah, perabotan rumah tangga, kendaraan, pakaian, dan makanan sehari-hari.
  3. Harta yang disisihkan untuk membayar hutang yang telah jatuh tempo.

 

Zakat FITHRI

Zakat fithri diwajibkan bagi setiap muslim yang menjumpai akhir bulan ramadlan dan awal bulan syawwal, meskipun dia adalah seorang bayi yang baru lahir. Zakat fithri wajib ditunaikan oleh setiap muslim yang memiliki kelebihan makanan pada hari tersebut (akhir bulan ramadlan dan awal bulan syawwal).

Seorang muslim juga wajib mengeluarkan zakat fithri bagi orang yang berada di bawah tanggungannya, seperti anak-anak dan budaknya.

Kadarnya adalah 1 sha’ = 3 kg makanan pokok.

Sebagian ulama, seperti al-Imam Abu Hanifah, berpendapat bahwa boleh menggantinya dengan uang seharga makanan pokok tersebut.

Zakat fithri ini khusus diberikan kepada fakir dan miskin. Waktu pembayarannya adalah sejak awal bulan Ramadlan hingga sebelum shalat Idul Fithri. Namun yang paling utama adalah dibayarkan pada malam Idul Fithri hingga sebelum pelaksanaan shalat Id.

 

Penutup

Pada saat berzakat, hendaklah muzakki (orang yang berzakat) tidak melupakan niat. Karena niatlah yang membedakan antara zakat, infaq, shadaqah, atau hibah. Jika seorang muzakki berniat ketika memisahkan hartanya untuk membayar zakat, maka hal itu dianggap cukup.

Contoh niat adalah dengan mengucapkan di dalam hati;

“Saya niat mengeluarkan zakat dari harta saya karena mengharap ridla Allah ta’ala”

Semoga dengan menunaikan kewajiban zakat, Allah ta’ala membersihkan hati kita dari penyakit kikir dan cinta harta dunia.

Semoga dengan membayar zakat, Allah ta’ala menyuburkan kebaikan-kebaikan di dalam hati kita dan memberkahi harta kita. Amin.

Wallahu a’lam bish-shawab

Rujukan;

  1. Ikhtisar Risalah Zakat, KH. M. Ihya Ulumiddin, Vd Press.
  2. Zakat, Sebuah Potensi Yang Terlupakan, KH. Abdushshomad Bukhori, BAZ Jatim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s