Ada apa di Bulan Sya’ban?

Standar

Cover Mei 2016Termasuk salah satu kaidah yang dijadikan pedoman oleh para ahli ilmu adalah bahwa suatu masa (zaman) itu menjadi mulia karena adanya peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di dalamnya. Berikut beberapa peristiwa yang terjadi pada bulan Sya’ban.

 

Pertama, pemindahan qiblat

Pada bulan Sya’ban terjadi pemindahan arah qiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah.

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاءِ , فَلَنُوَلِّيَـنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْـتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ …

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya” ) QS. al Baqarah:144.)

Abu Hatim al-Busti menginformasikan bahwa umat Islam melaksanakan shalat dengan menghadap Baitul Maqdis selama 17 bulan 3 hari terhitung sejak kedatangan Rasulullah ﷺ di Madinah. Dan Allah ta’ala memerintahkan umat Islam untuk shalat menghadap Ka’bah pada hari Selasa pertengahan Sya’ban. (lihat al-Jami’ lil-Ahkam al-Qur`an lil Imam al-Qurthubi, II/150)

 

Kedua, pelaporan amal

Di antara keistimewaan bulan Sya’ban yang sudah dikenal adalah laporan amal (Raf’ul Amal). Dalam hadits dari Usamah bin Zaid ra disebutkan: Ia berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihat engkau puasa dalam bulan – bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ذَاكَشَهْرٌيَغْفُلُالنَّاسُعَنْهُبَيْنَرَجَبَوَرَمَضَانَوَهُوَشَهْرٌتُرْفَعُفِيْهِاْلأَعْمَالُإِلَىرَبِّالْعَالَمِيْنَوَأُحِبُّأَنْيُرْفَعَعَمَلِيوَأَنَاصَائِمٌ

Itulah bulan yang dilupakan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Itulah bulan dimana amal – amal diangkat (dilaporkan) kepada Tuhan semesta alam dan aku suka jika amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa” (HR. Nasa`i)

 

Ketiga, turunnya ayat tentang shalawat

Di antara keistimewaan bukan Sya’ban adalah ia menjadi bulan di mana diturunkan ayat Shalawat dan Salam kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ayat itu adalah firman Allah:

 (إِنَّاللهَوَمَلاَئِكَتَهُيُصَلُّوْنَعَلَىالنَّبِيِّيَآأَيُّهَاالَّذِيْنَآمَنُـوْاصَلُّوْاعَلَيْهِوَسَلِّمُوْاتَسْلِيْمًا)

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” QS al Ahzab:56.

Ibnus Shoef al Yamani menyebutkan bahwa bulan Sya’ban disebut Bulan Shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam karena ayat QS al Ahzab 56 turun pada bulan ini [Tuhfatul Ikhwan lil Imam Ahmad bin Hijazi al Fasyni hal 74]. Imam Syihabuddin al Qosthalani mengatakan dari sebagian ulama bahwa bulan Sya’ban adalah Bulan Shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam karena ayatShalawat (QS al Ahzab 56) turun pada bulan ini [Syarah Az Zarqani ala al Mawahib 7/328].

 

Keempat, Rasulullah memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya: “Puasa apakah yang lebih utama setelah Ramadhan?” Beliau menjawab: “Sya’ban guna memuliakan Ramadhan” ditanyakan: “Sedekah apakah yang lebih utama?” Beliau menjawab: “Sedekah dalam Ramadhan” (Imam Turmudzi berkata: Hadits Gharib)

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, Aisyah ra berkata:

 كَانَأَحَبُّالشُّهُوْرِإِلَىرَسُوْلِاللهِصَلَّىاللهعَلَيْهِوَسَلَّمَأَنْيَصُوْمَهُشَعْبَانَثُمَّيَصِلُهُبِرَمَضَانَ

“Bulan yang paling disukai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk berpuasa adalah Sya’ban. Selanjutnya Beliau menyambungnya dengan Ramadhan”

Dalam riwayat Nasa’i disebutkan, Aisyah ra berkata:

 لَمْيَكُنْرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَلِشَهْرٍأَكْثَرَصِيَامًامِنْهُلِشَعْبَانَكَانَيَصُوْمُهُأَوْعَامَّتَهُ

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah banyak berpuasa dalam suatu bulan lebih banyak daripada di bulan Sya’ban. Beliau selalu berpuasa atau banyak berpuasa pada bulan (sya’ban)”

Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim,Aisyah ra berkata:

لَمْيَكُنِالنَّبِيُّصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَيَصُوْمُشَهْرًاأَكْثَرَمِنْشَعْبَانَفَإِنَّهُكَانَيَصُوْمُشَعْبَانَكُلَّهُوَكَانَيَقُوْلُ : ” خُـذُوْامِنَالْعَمَلِمَاتُطِيْقُوْنَهُفَإِنَّاللهَلاَيَمَلُّحَتَّيتَمَلُّوْا , وَكَانَأَحَبُّالصَّلاَةِإِلَىالنَّبِيِّصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَمَادُوْوِمَعَلَيْهِوَإِنْقَلَّتْوَكَانَإِذَاصَلَّىصَلاَةًدَاوَمَعَلَيْهَا

“Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah berpuasa dalam satu bulan lebih banyak daripada di bulan Sya‘ban. Sungguh Beliau puasa dalam seluruh Sya’ban dan Beliau bersabda, “Ambillah amal yang kalian kuat (mampu) karena sesungguhnya Allah tidak bosan sehingga kalian bosan” dan adalah shalat yang paling disukai oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah yang dilanggengkan meski sedikit. Jika telah melakukan suatu shalat maka Beliau melanggengkannya”

Marilah kita memperbanyak puasa sunnah di Bulan Sya’ban dalam rangka ittiba’ (mengikuti)sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Semoga Allah ta’ala menerima amal ibadah kita. Amin.

 

Malam Nishfu Sya’ban

Di dalam bulan Sya’ban terdapat sebuah malam yang masyhur kemuliannya, yaitu malam nishfu Sya’ban.

Imam Thabarani dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal ra dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda:

يَطَّلِعُاللهُإِلَىجَمِيْعِخَلْقِهِلَيْلَةَالنِّصْفِمِنْشَعْبَانَوَيَغْفِرُلِجَمِيْعِخَلْقِهِإِلاَّلِمُشْرِكٍأَوْمُشَاحِنٍ

Allah melihat (memberikan rahmat) kepada seluruh makhluk-Nya pada malam nishfu sya’ban dan memberikan ampunan kepada seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik, atau Musyahin”

Musyahin, adalah orang munafik yang sangat buruk kelakuannya yang selalu memicu perpecahan dan menyalakan api permusuhan di antara kedua pihak yang saling mencintai. Ibnul Atsir dalam an Nihayah berkata: Musyahin, ia orang yang saling bermusuhan. Syahna’, adalah permusuhan (An Nihayah fi Ghariibil Hadits wal atsar 2 / 449)

 

Pendapat Sebagian Ulama Salaf

Diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz rahimahullahmenulis surat kepada wakilnya (Amir) di Bashrah yang isinya: [Perhatikanlah olehmu empat malam dari setahun karena pada malam-malam itu Allah menumpahkan secara penuh rahmat-Nya. Malam-malam itu adalah; 1) Malam Pertama bulan Rajab, 2) Malam Nishfu Sya’ban, 3) Malam Hari Raya Idul Fitri, 4) Malam Hari Raya Idul Adha].

Imam Syafi’i rahimahullahberkata: [Sampai kepadaku bahwa do’a dikabulkan dalam lima malam; Malam Jum’at, Malam Dua Hari Raya, Malam Pertama Rajab dan Malam Nishfu Sya’ban].

Ibnu Rajab al Hambali berkata: [Para tabi’in Syam seperti Khalid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin Amir dan yang lain sangat mengagungkan malam Nishfu Sya’ban dengan berijtihad beribadah di dalamnya. Dari merekalah orang – orang mengambil keutamaan dan kemuliaan malam ini. Dikatakan bahwa para tabi’in Syam itu mengacu kepada Atsar – atsar Israiliyyah yang mereka terima. Ketika hal tersebut mulai tersebar di penjuru negeri, bermunculan lah reaksi antara orang yang menerima, sepakatdan ikut serta mengagungkannya yang di antara mereka adalah para ahli ibadah tanah Bashrah. Sementara di pihak lain, yaitu ulama Hijaz seperti Atha’ dan Abu Mulaikah serta para ahli fiqih madinah – sebagaimana dinukil oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam – mengingkari kenyataan tersebut di mana pengingkaran ini juga diikuti oleh para santri Imam Malik dengan menyatakan bahwa: “Semua itu adalah bid’ah”].(Latha’iful Ma’arif libni Rajab al Hambali hal 161)

Warid dari Nauf al Bakkali bahwa Ali radliyallahu ‘anhu keluar pada malam Nishfu Sya’ban. Malam itu Beliau sering keluar sambil menengadah seraya berucap, [Sesungguhnya malam ini, tiada seseorang yang memohon kepada Allah kecuali Dia Mengabulkan, pada malam ini tiada orang yang memohon ampunan kecuali Dia Mengampuni selama ia bukan seorang tukang pungutan liar, tukang sihir, penyair, dan peramal atau pemain gendang dan tamborin]

Ali radliyallahu ‘anhu lalu berdo’a, “Ya Allah Tuhan Dawud, ampunilah orang yang berdo’a kepadaMu di malam ini dan memohon ampunanMu”

Dari Said bin Manshur dalam (Sunannya). Ia berkata: Abu Ma’syar menceritakan kepadaku dari Abu Hazim dan Muhammad bin Qoes. Keduanya dari Atha’ bin Yasar yang berkata: [Tiada malam setelah Lailatul Qadar yang lebih utama daripada Nishfu Sya’ban. Allah tabaaraka wata’aalaa turun ke langit dunia lalu mengampuni para hamba seluruhnya kecuali orang musyrik, musyahin dan pemutus tali sanak famili]

Dari hadits-hadits dan atsar-atsar tersebut bisa diambil faedah dianjurkannya qiyam (shalat sunnah) pada malam ini (malam Nishfu Sya’ban) dan berijtihad di dalamnya dengan membaca Alqur’an, dzikir dan do’a dalam rangka menyambut hembusan-hembusan (nafahat) rahmat Allah sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Muhammad bin Maslamah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallambersabda:

 

إنَّللهِفِىأَيَّامِالدَّهْـرِنَفَحَاتٍفَتَعَـرَّضُوْالَـهَافَلَعَلَّأَحَدَكُمْأَنْتُصِيْـبَهُنَفْـحَةٌفَلاَيَشْقَىبَعْدَهَاأَبَدًا

Sesungguhnya bagi Allah pada hari-hari setahun ada hembusan-hembusan rahmat-Nya, maka sambutlah itu karena mungkin sekali salah seorang kalian mendapatkan satu hembusan dan setelahnya ia tiada akan pernah celaka” (HR Thabarani). Wallalu a’lam bish-shawab.

*Disarikan dari kitab Madza Fi Sya’ban karya Abuyya Prof. DR. As-sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki al-Hasani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s