Nasihat Cinta untuk Orang Tua

Standar

DSCN1958 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ الله عَنْهُ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم :]كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، حَتَّى يَكُونَ أَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ[

(رواه البخاري و مسلم)

Dari Abu Hurairah r.a., beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: [Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga kedua orangtuanya menjadikannya yahudi, nasrani,  atau majusi]. (HR. Bukhari dan Muslim)

Al-Imam Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali rahimahullah mengatakan:

“Anak adalah amanat di tangan kedua orang tuanya. Hatinya yang suci adalah mutiara yang masih mentah, belum dipahat maupun dibentuk. Mutiara ini dapat dipahat dalam bentuk apa pun, mudah condong kepada segala sesuatu. Apabila dibiasakan dan diajari kebaikan, maka dia akan tumbuh di dalam kebaikan itu. Dampaknya, kedua orang tuanya akan hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Semua orang dapat menjadi guru dan pendidiknya. Namun apabila dibiasakan dengan keburukan dan dilalaikan –seperti dilalaikannya hewan- pasti si anak akan celaka dan binasa. Dosanya akan melilit leher orang yang seharusnya bertanggung jawab atasnya dan menjadi walinya.”

Wahai Bapak Ibu yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Percayalah. Jika ada masalah di dalam diri anak, entah itu berupa kenakalan, tabiat yang jelek, sifat yang buruk, akhlaq yang rusak, dan kebiasaan-kebiasaan yang merugikan, kemungkinan besar penyebabnya adalah orang-orang yang dekat dengan dia, terutama ayah bundanya (atau pengasuhnya). Mungkinkah, ketika lahir dulu, anak tersebut memiliki keinginan, “aku ingin jadi anak nakal”, “aku ingin melawan orang tua”, “aku ingin mencuri”, “aku ingin berbohong”. Mungkinkah hal itu terjadi?

Oleh karena itu, jika kita ingin memperbaiki watak, perilaku, sifat, dan tabiat si anak, kita harus lebih dulu memperbaiki watak, perilaku, sifat, dan tabiat orang-orang yang setiap hari dekat dengan anak, terutama ayah bundanya.

Ibnul Qayyim rahimahullah menyampaikan,

“Barang siapa dengan sengaja tidak mengajarkan apa yang bermanfaat bagi anaknya. Meninggalkannya begitu saja. Berarti dia telah melakukan kejahatan yang sangat besar. Kerusakan pada diri anak kebanyakan datang dari sisi orang tua yang meninggalkan mereka. Tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban agama berikut sunnah-sunnahnya. Para orang tua itu melalaikan mereka di waktu kecil, sehingga mereka tidak mampu menjadi orang yang bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan juga bagi orang tua mereka.“

Ada sebagian orang tua yang mencela anaknya karena sikap durhakanya. Sang anak membantah, “Wahai bapakku (wahai ibuku), Engkau telah mendurhakiku di masa aku kecil, maka sekarang aku mendurhakaimu setelah engkau tua. Engkau melalaikanku sewaktu aku kecil, maka sekarang aku pun melalaikanmu di masa tuamu.”

Lalu bagaimana cara menjadi orang tua yang baik bagi anak?

Bagaimana agama Islam memberikan pedoman bagi kita agar menjadi orang tua yang baik?

Bagaimana cara mendidik anak agar menjadi anak yang baik?

“Yuk belajar menjadi orang tua yang shalih… (sebelum meminta anak menjadi anak yang shalih).

Bismillah…

(Sumber : Prophetic Parenting, Cara Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mendidik anak)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s