Kalimat Efektif Berkomunikasi dengan Anak

Standar

Keg TPA (7)Kalimat-kalimat ini bisa menjadi pembuka untuk mengawali percakapan Anda dengan anak. Selain menciptakan relasi yang kuat antara orang tua dan anak, percakapan berkualitas melatih keterampilan komunikasi anak, serta membentuk perilaku masa depan mereka.

  1. “Mama suka kamu.

“Berbeda dari “Mama sayang kamu,” kalimat ini cenderung bermakna, “Mama suka kepribadian atau perilakumu.” Menurut Psikolog Anna Surti Ariani (Nina), kalimat ini akan lebih efektif bila lebih spesifik dan disesuaikan dengan konteks. Misal, “Mama suka, deh, kalau kamu membersihkan kamar tanpa disuruh.” Atau, “Mama suka karena kamu mau berbagi dengan adik.” Dengan merinci perilaku baik yang sudah anak lakukan, ia akan memahami perilaku yang disukai Mama, dan lebih mudah mengulangi perbuatan tersebut.

  1. “Kamu cepat paham, ya.”

Anak kecil luar biasa cepat mempelajari sesuatu. Yang Anda ucapkan saat mereka berusia dini akan memengaruhi cara belajar mereka di masa depan. “Kalimat ini lebih efektif daripada sekadar ‘kamu pintar’ karena lebih spesifik. Pintar terdiri atas beberapa aspek, antara lain cepat memahami sesuatu, punya daya ingat bagus dan mampu berkonsentrasi,” tutur Nina. Coba ucapkan setelah anak menguasai kemampuan baru. Misal, ucapkan saat Mama mengajari si bungsu cara menutup kotak makanan sendiri, lalu ia bisa melakukannya. Dengan begitu, anak memahami, yang dipuji adalah kecepatannya memproses informasi. Kelak, ia akan berusaha mereproduksi kemampuan itu agar bisa menunjukkan lagi kepada Mama.

  1. “Terima kasih!”

Sopan santun sederhana adalah tanda respek. Hal ini akan mengasah kemampuan sosial dan emosional anak. Sekar Ayu, mama dari Hario (6), sudah melatih putranya berterima kasih, dengan mencontohkan. Sejak Hario kecil, Sekar selalu berterima kasih bila ia berbuat baik kepadanya, atau melakukan tugas sederhana. Ia juga memberi teladan dengan berterima kasih kepada orang lain yang membantu atau melayaninya. Hasilnya, saat ini Hario sudah pandai berterima kasih. Sekar teringat ketika mereka berkunjung ke kebun binatang di luar kota. Ia sebenarnya kurang menikmati karena kondisi kebun binatang itu kotor, becek, gelap, dan kurang pengawasan petugas. Sebaliknya, Hario senang dan merasa pengalaman itu seru sekali. Di akhir perjalanan, seluruh lelah Sekar terbayar ketika mendengar Hario berkata manis, “Ibu, terima kasih jalan-jalan hari ini, ya.”

  1. “Bagaimana kalau kita sepakat untuk…”

Menyepakati perjanjian akan membantu Anda menghindari masalah-masalah yang biasa terjadi, dan mungkin muncul. Menurut Nina, melibatkan anak dalam menegakkan peraturan adalah tanda pola asuh autoritatif atau moderat. Ni Luh Ketut Ayu selalu membuat kesepakatan dengan kedua putrinya, Rassa (12) dan Gayatri (4). Ayu punya banyak sekali kesepakatan dengan mereka. Misalnya, untuk 30 menit bermain gadget, Rassa harus
berlatih soal-soal Ujian Nasional selama 30 menit, sedangkan Gayatri harus merapikan mainannya sendiri. Bila mereka melanggar, Ayu akan memperingatkan, dan sanksi terberat adalah menyita gadget – walau hal itu belum pernah terjadi. Bila Rassa ingin bermain gadget lebih lama, misalnya, mereka tinggal mengulang kesepakatan agar Rassa menambah waktu belajarnya.

  1. “Ceritain, dong. Terus bagaimana?”

Selain menunjukkan bahwa Anda berminat dan perhatian kepada anak, kalimat ini akan memacu perkembangan kognitif anak, merangsang kecerdasan bahasa dan merangsangnya agar lebih mudah mengungkapkan ide. Anak sulung Lea Roosa yang bernama Miska (8) dulu cenderung tertutup dan jarang bercerita banyak kepada orang lain, termasuk kedua orang tuanya. Namun, Lea setiap hari sabar memancingnya dengan kalimat, “Bagaimana tadi di sekolah? Asyik, nggak? Tadi main sama anak kelas lain, nggak? Sama siapa saja? Terus?” Biasanya Lea juga melihat kondisi Miska. Bila Miska sedang lelah sehabis pulang sekolah dan ogah-ogahan menjawab, Lea tak meneruskan pertanyaannya. Namun bila Miska terlihat sudah segar, Lea kembali memancing dengan menceritakan pengalamannya sendiri sewaktu kecil. Kini Miska jauh lebih terbuka dan kerap bercerita panjang lebar kepada orang tuanya, juga kepada teman-temannya. Menurutnya, kemauan dan kemampuan anak bercerita sangat menyehatkan jiwa. Selain itu, ketika anak bercerita kepada orang lain, ia akan mendapatkan banyak masukan dan pendapat yang memperkaya wawasannya.

 

  1. “Kita membaca, yuk!”\

Menurut Nina, membaca bersama adalah langkah pertama belajar membaca. Jika anak belum merasakan kenikmatan membaca, sebaiknya jangan diajari membaca dulu. Sejak putri saya, Pendar (9), masih kecil, saya selalu mengajak ia membaca sebelum tidur. Sewaktu Pendar belum bisa membaca, tentu saya yang membacakan buku untuknya. Namun ketika Pendar masuk SD dan sudah lancar membaca, ia ‘keenakan’. Ia tetap minta dibacakan cerita dan tak mau membaca sendiri, walaupun ia sudah menyukai buku. Barulah ketika sudah kelas 3, tiba-tiba ia berkata, “Bunda, kita ‘klub buku’, yuk!” Rupanya, yang ia maksud klub buku adalah: Kami duduk berdampingan, lalu kami membaca buku kami sendiri-sendiri. Sejak itu, saya tak perlu lagi membacakan untuknya karena ia sudah hobi membaca sendiri.

  1. “Kita semua pernah salah.”

Bila Anda yang melakukan kesalahan, ini justru momen untuk memperlihatkan kepada anak bagaimana Andabertanggung jawab terhadap kesalahan itu dan move on. Anak-anak kecil bisa menyalahkan diri mereka sendiri, bila merasa tak sempurna atau tak bisa memenuhi standar Anda. Saling memberikan ruang untuk berbuat kesalahan (dan belajar dari kesalahan itu) sangat baik untuk Anda dan anak. “Kalimat ‘Kita semua pernah salah’ sebaiknya didahului oleh pembahasan mengenai kesalahan yang dilakukan anak. Misalnya, dengan bertanya, bagaimana awalnya, atau, kok, bisa begitu, lalu pelajaran apa yang bisa kamu ambil. Penting sekali bagi anak untuk merasakan, mengenali, dan mengeluarkan emosi negatifnya dulu. Jangan buru-buru diredam. Setelah itu, orang tua bisa menutup dengan kalimat, kita semua pernah salah, kok. Barulah kalimat itu sakti, karena terasa sangat menghibur dan menyetarakan. Anak diberi tahu bahwa semua orang – termasuk orang tuanya – juga tak luput dari kesalahan,” tutur Nina.

  1. “Maaf”

Menurut Nina, kata maaf akan lebih efektif, bila yang mengucapkan benar-benar merasa menyesal. Selama ini, Sekar memberi contoh kepada Hario untuk meminta maaf, jika melakukan kesalahan. Tempo hari, ketika ia ingin memotret Hario bersama beberapa temannya, Hario rupanya ingin berdiri paling depan. Ia lalu mendorong seorang kawannya, hingga marah dan menangis. Sekar langsung meminta Hario minta maaf. Namun tak mudah bagi Hario langsung minta maaf karena saat itu masih malu. ia tetap meminta maaf, walau dengan berurai air mata. Dua hari kemudian, ketika kembali bermain bersama, Hario meminta maaf ulang kepada temannya. Rupanya ia belum lega dan merasa harus meminta maaf lagi.

  1. “Menurut pendapatmu bagaimana?

“Meminta masukan anak dan memberi mereka kesempatan dalam diskusi keluarga akan membuat anak belajar membuat keputusan dan mulai bertanggung jawab terhadap pilihan mereka. Irawati Diah selalu melibatkan putrinya Nadira (7) dalam diskusi keluarga, dari pemilihan restoran, tempat liburan, hingga sekolah. Bagi Ira, hal itu penting karena anak akan merasa dihargai dan dianggap oleh orang tuanya. Selain itu, “Kalau kita ingin anak kita bisa bersikap dewasa, kita harus melatih mereka berpikir seperti orang dewasa, bukan?” ucap Ira.

  1. “Iya”

Orang tua kerap melarang, tapi lupa mengarahkan. Misal, jika anak ingin makan di depan TV, Mama bisa bilang, “Ya, kamu boleh nonton TV, TAPI setelah makan.” Jadi, anak punya arahan apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan keinginannya. Irawati menerapkan hal ini. Ketika Nadira meminta nonton TV hingga malam di hari sekolah, Ira tidak langsung melarangnya. Ia mengajak Nadira berdiskusi dan memikirkan konsekuensi logisnya. “Kalau kamu nonton sampai malam, besok pagi bisa terlambat bangun. Akibatnya, bisa terlambat sekolah. Nadira mau, nggak, terlambat sekolah?” Ira menyukai cara ini karena komunikasi berlangsung dua arah. Ia melatih Nadira untuk tidak sekadar patuh, tapi juga memahami akibat perbuatannya. (parenting.co.id)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s