Senyum Pejalan Senyum Tuhan

Standar

10. Prof. Ali Aziz menyampaikan Taushiyah

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran [03]:104)

Pada ayat-ayat sebelumnya dijelaskan bahwa Allah telah menyelamatkan umat Islam yang hampir saja jatuh dalam neraka atau kehancuran dan penderitaan. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan keharusan adanya sekelompok orang yang peduli moralitas lingkungan dengan melakukan amar makruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan menghentikan yang dosa) agar generasi sekarang dan selanjutnya selamat dari bencana yang sama.

Pada ayat di atas terdapat dua kata yang hampir sama maknanya, yaitu al khair (kebaikan yang bersumber dari Al Qur’an) dan al makruf (kebaikan yang bersumber dari kesepakatan komunitas setempat). Ada perbedaan cara pemasyarakatan antara dua kebaikan itu. Allah SWT memerintah kita untuk “mengajak” (yad’uuna) kepada kebaikan (al khair) yaitu nilai-nilai asasi yang bersumber dari Al Qur’an. Ini berarti bahwa untuk memasyarakatkan nilai-nilai Al Qur’an, Anda hanya diperintah untuk “mengajak”, tanpa sedikitpun unsur pemaksaan atau ancaman. Sedangkan untuk penegakan nilai-nilai yang bersumber dari kesepakatan bersama baik yang positif (al makruf) maupun penghentian yang negatif (al munkar), maka pihak pemegang kekuasaan bisa melakukan “perintah” (ya’muruna) bahkan pemaksaan berdasar undang-undang. Juga bisa dilakukan oleh setiap muslim dengan apapun bentuk kekuasaan di tangannya. Oleh sebab itu, setiap muslim harus berusaha menciptakan opini publik tentang nilai kebaikan, sehingga jika suatu saat terjadi pelanggaran nilai-nilai tersebut, semua orang bahu-membahu menghentikannya dan Anda sebagai penganjur kebaikan mendapat dukungan publik secara luas.

Saya yakin Anda penasaran di mana letak keterkaitan ayat ini dengan judul tulisan di atas? Begini, ayat ini berbicara tentang perintah menebar kebaikan dan menghentikan apa saja yang dilarang agama, apalagi yang menimbulkan malapetaka manusia. Dalam Islam, tindakan tersebut disebut amar makruf nahi munkar. Ternyata, menurut Nabi SAW, amar makruf nahi munkar tidak hanya didengungkan di tempat-tempat ibadah dan acara-acara keagamaan melalui ceramah-ceramah agama, tapi juga dilakukan di jalan raya. Sebab kelancaran, kenyamanan dan keamanan di jalan raya menentukan keselamatan jiwa, kegiatan ekonomi, kelancaran silaturahim dan sebagainya. Oleh sebab itu, semua pihak harus melakukan amar makruf nahi munkar di setiap ruas jalan raya.

Bagi Anda yang pernah mengalami kecelakaan di jalan atau terhambat perjalanan ke suatu tujuan sehingga Anda mengalami kerugian finansial atau non-finansial, Anda pasti lebih tertarik untuk mendalami tulisan ini. Apalagi Anda yang mengalami kekerasan fisik atau perampasan hak milik yang dilakukan pembegal atau orang-orang jalanan yang tidak bermoral. Anda bisa mengetahui tingginya perhatian Nabi SAW terhadap moralitas, kenyamanan dan keselamatan di jalan raya dari hadis berikut ini.

Abu sa’id Al Khudry r.a berkata, Nabi SAW bersabda, “Jauhilah duduk-duduk di tepi jalan!” Para sahabat bertanya, “Wahai rasulullah, kami tidak bisa meninggalkannya sebab itu tempat kami membicarakan sesuatu. Rasulullah SAW bersabda:

فَاِذَا اَبَيْتُمْ اِلَّا الْمَجْلِسَ فَاَعْطُوا الطَّرِيْقَ حَقّهُ قالوُا وَمَاحَقُّ الطًّرِيْقِ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ

قَالَ غَضُّ البَصَرِ وَكَفُّ الْاَذَى وَرَدُّ السّلامِ وَالْاَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ

رَوَاهُ الْبُخَارِى وَمُسْلِمٌ

“Jika kalian tidak bisa meninggalkan duduk-duduk di sekitar jalan raya, maka penuhilah hak-hak jalan itu. Para sahabat bertanya, “Apa sajakah hak-hak jalan itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, hak-hak jalan (atau kewajiban kalian di jalan raya) adalah memejamkan mata (dari yang dosa), menjauhkan segala hal yang mengganggu lalu lintas, menjawab salam, menganjurkan yang baik, dan mencegah yang munkar atau dosa (HR. Al Bukhari dan Muslim). Dalam hadis yang lain, Nabi SAW menjelaskan bahwa salah satu bukti keimanan adalah menjauhkan segala sesuatu yang membahayakan atau setidaknya mengurangi kenyamanan pengguna jalan (imathatul adza ‘anit thariq).

Yang dimaksud hak-hak jalan yang disebut dalam hadits di atas adalah kewajiban setiap muslim yang berada di tengah atau sekitar jalan. Ada banyak hadits yang menjelaskan aturan ketertiban di jalan. As Shiddiqi dalam Kitab Dalilul Falihin mengutip pendapat ulama yang menyebutkan 14 kewajiban muslim di jalan berdasar sejumlah hadis Nabi SAW. Lima di antaranya sebagaimana tersebut dalam hadits di atas. Pertama, menghindari pandangan yang dosa, misalnya melihat aurat wanita yang sedang melintasi jalan, sebab hal ini mengundang nafsu birahi dan membuat tidak nyaman bagi yang dipandang sehingga memungkinkan terjadinya kecelakaan. Kedua, menjauhkan hal-hal yang mengurangi kenyamanan dan keamanan jalan. Misalnya parkir kendaraan yang menyusahkan pengguna jalan lain, berjualan di tepi atau badan jalan yang menambah kemacetan, membuat “polisi tidur”; menyirami jalan dengan air selokan. Air kotor itu merusak kesehatan lingkungan dan menjadikan pakaian pelintas jalan najis, membiarkan jalan yang berlubang atau olie yang tertumpah, membuang bangkai hewan di jalan, membuang sampah di jalan, berlalu lintas tidak sopan di jalan, mendahului kendaraan tanpa memberi tanda sehingga mengagetkan pengguna jalan yang lain, menutup akses jalan untuk kegaiatan apapapun tanpa kordinasi dengan petugas pengatur jalan, dan sebagainya. Ketiga,menjawab salam yang diucapkan oleh pelintas jalan. Menurut aturan Islam, orang yang berdiri mendahului pengucapan salam pada yang duduk dan pengendara memberi salam kepada pejalan kaki. Dengan salam ini, dimaksudkan orang di sekitar jalan menambah semarak Islam dan menebar kedamaian (as salam) bersama.Kelima, menyebarkan kebaikan di jalan raya dan menghentikan apapun yang membuat dosa dan kerusakan, misalnya melarang balapan liar jalanan, menghentikan ugal-ugalan di jalan, memerangi pembegal dan sebagainya.

Ketika menulis artikel ini, Allah menakdirkan saya menyaksikan berita mengharukan di televisi, yaitu adanya tukang becak (65 tahun) di Surabaya, Pak Tuwek alias Abdul Syukur yang setiap malam selama sepuluh tahun secara sukarela mengangkut 2-3 kuintal batu atau sisa aspal untuk menambal jalan yang berlubang agar tidak ada pengguna jalan yang terjatuh karenanya. Saya juga teringat, sekelompok orang di Jakarta yang setiap malam berhasil mengumpulkan beberapa kilo paku yang tercecer di jalan agar tidak ada ban kendaraan yang bocor karenanya.

Jika Anda telah melakukan perintah Allah dan Rasulullah sebagaimana dikutip di atas, maka Anda telah menjadi muslim penebar sedekah di jalan. Anda telah membuat senyum pengguna jalan dan percayalah Allah tersenyum dengan apa yang Anda lakukan. Adakah kebahagiaan melebihi senyum Allah untuk Anda? (Sumber: An Nawawi, Riyadus Shalihin, juz 1: p.193; As Shiddiqy, Dalilul Falihin, juz 1, p. 358; Hamka, Tafsir Al AzharJuz IV, p. 27-34; M. Qurasih Shihab, Tafsir Al Misbah Vol 2, p. 208-210) (terapishalatbahagia.net)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s