Dimensi Spiritual Gerhana

Standar

 

JONI HERMANA REKTOR ITS SBY

Oleh : JONI HERMANA Rektor ITS Surabaya

Kemarin, tepatnya 9 Maret 2016, Indonesia menjadi pusat perhatian dunia. Sebab, boleh dikata, Indonesia menjadi satu-satunya negara di dunia yang dilewati gerhana matahari total (GMT) dengan durasi yang cukup lama, 3 menit 19 detik.

 

Bagi negara kita, seperti diberitakan di halaman utama harian Jawa Pos kemarin, peristiwa GMT tersebut hanya akan kembali dilihat dalam waktu 7 tahun lagi. Yaitu, 2023, serta akan berulang 19 tahun kemudian yakni 2042.

Luar biasa langka! Sehingga tidak heran kalau kemarin hampir semua golongan masyarakat berbondong-bondong menyambutnya, baik melakukan salat sunnah gerhana berjamaah maupun sekedar “mengintip” keluar rumah menjadi bagian dari salsi sejarah atas “hilangnya” cahaya matahari sementara atas di atas muka bumi.

Terlepas bahwa GMT hanyalah merupakan fenomena alam biasa –terjadi karena perputaran bumi maupun bulan sehingga secara sains dapat dihitung kapan dan di mana terjadi peristiwanya- hal tersebut juga bisa memberikan banyak pelajaran bagi manusia. Tinggal bagaimana manusia itu menyikapinya. Sebab, tiada satu peristiwa pun yang terjadi tanpa ada maksud di belakngnya.

Peristiwa sinar matahari yang meredup, lalu kemudian gelap gulita sebenarnya menegaskan kembali kepada kita bahwa gelap itu sebenarnya tidak ada, tetapi hal itu dapat terjadi semata karena ketiadaan cahaya. Cahaya mataharinya ada, tetapi bumi menjadi gelap karena sinarnya terhalang kehadiran bulan.

Atas kejadian itu, saya teringat perkataan Albert Einstein ketika menyanggah pendapat profesornya yang membuat hipotesis bahwa, apabila Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia ini, berarti Tuhan pulalah yang menciptakan kejahatan! Lalu, dengan cerdas dia menjawab keraguan profesornya dengan jitu.

Menurut Einstein, gelap itu sebenarnya tidak ada. Sebab, yang ada hanyalah ketiadaan cahaya. Demikian juga dingin, sebenarnya dingin itu tidak ada, yang ada hanyalah ketiadaan panas. Selanjutnya, dengan analogi yang sama, Einstein muda menegaskan bahwa kejahatan itu tidak ada, yang ada adalah ketiadaan kebaikan dalam diri manusia itu sendiri. Baik secara sengaja maupun tidak sengaja telah ditutup atau dihilangkan diri sendiri.

Makna filosofisnya, Allah itu tidak menciptakan kejahatan, Allah hanya menciptakan kebaikan, dan kalaupun terjadi tindak kejahatan, itu terjadi karena manusia sendirilah yang menutupi kebaikan tersebut dari dirinya. Kebenaran selalu berasal dari Allah Sang Pencipta, sedangkan kesalahan selalu berasal dari manusia sendiri, sebagai makhluk yang lemah.

By default, semua manusia dilahirkan adalah ahli surga. Namun, dalam perjalanan hidupnya, manusia sendirilah yang mengubah nasib dirinya dengan melakukan hal-hal yang meredupkan cahaya kebaikan yang diberikan oleh-Nya dalam dirinya dengan menzalimi diri sendiri.

Sangat tepat sekali, jika dalam suasana gerhana yang mendukung untuk berkontemplasi dan berintrospeksi ini, kita simak pemikiran ahli filsafat Islam yang sangat terkenal, yaitu Ibnu Atha’illah Al Iskandari. Dia menyatakan, berkas cahaya Ilahi yang ada dalam diri manusia itu dapat diidentifikasi apakah masih “bersinar” ataukah mulai meredup karena tertutupi oleh perilaku diri manusia itu sendiri.

Tiga ciri bahwa cahaya Ilahi masih bersinar dalam diri seseorang adalah apabila : 1) Ketika menerima sutu kebenaran, dia langsung menerimanya sehingga bisa membedakan mana yang hak dan mana yang batil, 2) Ketika hatinya mampu melihat kebenaran itu, lalu meyakininya sehingga menjadi keyakinan yang tidak tergoyahkan, dan 3) Ketika dia kemudian diberi-Nya ilham tentang bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupannya, padahal orang lain mungkin tidak pernah mampu memikirkannya, bahkan sekedar terlintas idenya.

Karena itu, marilah kita berusaha untuk memelihara berkas cahaya Ilahi dalam diri dan hati kita agar tetap bersinar. Sebab, hanya dengan begitu, manusia akan tetap terjaga untuk berada di jalan yang benar, jalan yang lurus yang menyelamatkan dirinya di dunia dan di akhirat kelak.

Wallahu a’lam bis-sawab…. (Sumber : Jawapos, Kamis, 10 Maret 2016).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s