Maulid Nabi & Tuntunan Ulama’

Standar

Cover Januari 2016Sebelum kami suguhkan beberapa pandangan Ulama tentang perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ, terlebih dahulu perlu kami jelaskan beberapa permasalahan berikut.

Pertama, kami merayakan Maulid Nabi sepanjang tahun dan setiap saat setiap ada kesempatan, terlebih pada bulan Rabi’ul Awal karena bertepatan dengan bulan kelahiran beliau ﷺ. Kami merayakan Maulid Nabi karena kami merasa senang dan bahagia dengan kelahiran beliau dan karena kami mencintai beliau ﷺ . Kami mencintai beliau ﷺ karena kami adalah orang yang beriman.

Aneh jika ada orang yang mengaku beriman kemudian bertanya, “Bolehkah merayakan Maulid Nabi?” karena hal tersebut sama saja dengan bertanya, “Bolehkah berbahagia dengan kelahiran Nabi Muhammad?”

Kedua, yang dimaksud merayakan Maulid Nabi adalah kegiatan berkumpul-kumpul untuk mendengarkan sirah kehidupan Nabi yang mulia, membaca shalawat kepada beliau, memberi makan dan memuliakan orang-orang faqir dan orang-orang yang membutuhkan, dan memasukkan rasa bahagia ke dalam hati orang-orang yang mencintai Nabi Muhammad ﷺ.

Ketiga, perayaan Maulid Nabi adalah salah satu bentuk media untuk berdakwah. Diantara tugas terpenting para da’i dan ulama adalah mengingatkan dan menunjukkan umat terhadap Nabi Muhammad ﷺ, akhlaq, adab, perilaku, perjalanan hidup, cara bergaul, dan ibadah beliau agar mereka menjadikan beliau ﷺ sebagai teladan dalam kehidupan.

 

Orang Yang Pertama Kali Merayakan Maulid

Sesungguhnya orang yang pertama kali merayakan maulid adalah shohibul maulid, yaitu Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini sebagaimana keterangan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim; ketika Nabi ditanya tentang puasa hari senin beliau menjawab bahwa “hari tersebut adalah hari kelahiran saya”.

Dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺpernah ditanya mengenai puasa pada hari senin, beliau menjawab,

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

“Hari tersebut adalah hari saya dilahirkan, dan hari saya diutus atau diturunkannya wahyu kepada saya.” (HR. Muslim no. 1162)

Hadits ini adalah dalil naqli yang paling terang dan jelas terhadap disyari’atkannya perayaan maulid Nabi ﷺ. Dan beliau sendirilah yang mempelopori perayaan maulid dengan berpuasa sunnah.

Jika ada yang mengatakan: “Bukankah Nabi merayakan hari kelahirannya dengan berpuasa? Sedangkan kalian merayakannya dengan berkumpul-kumpul, mendengarkan sirah, membaca shalawat, dan lain-lain yang tidak ada pada zaman Nabi?”

Kami menjawab: “Hal ini terkait tata cara perayaan. Tata cara adalah sesuatu yang ijtihadi. Karena hal ini tidak terkait dengan ibadah mahdhoh yang tata cara pelaksanaannya adalah tauqifi seperti shalat, zakat, puasa dan haji. Yang sedang kita bahas adalah apakah perayaan maulid itu memiliki dasar di dalam syariat atau tidak? Bukan tentang tata caranya. Dan hadits riwayat Muslim tersebut adalah dalil yang sangat jelas bahwa perayaan maulid Nabi memiliki dasar di dalam syari’at.”

Hal ijtihadi seperti ini banyak sekali terdapat di dalam ajaran agama Islam. Contohnya adalah belajar dan mengajarkan al-Qur`an.

Maklum. Belajar dan mengajarkan al-Qur`an adalah perintah agama. Tapi bagaimana tata caranya? Apakah ada tata cara atau metode khusus? Apakah harus dihafalkan ayat per ayat? Surat per surat? Atau bagaimana?

Jawabnya adalah “tata cara pengajarannya diserahkan kepada sang pengajar”.

Sekarang kita bisa melihat banyak sekali para ahli baca al-Qur`an yang menyusun berbagai macam metode belajar al-Qur`an seperti Iqro’, Tartila, Tilawati, Qiro`ati, dan Ummi. Ada juga yang mencetak mushaf al-Qur`an dengan tafsir per kata, tajwid warna, dan dalam berbagai macam model. Kita saksikan juga adanya rekaman bacaan al-Qur`an dalam bentuk MP3, video, kaset-kaset, dan lain-lain yang semuanya dibuat untuk memudahkan umat mempelajari al-Qur`an. Ada juga yang mendirikan pondok pesantren, madrasah dan rumah tahfidz.

Apakah hal-hal seperti ini terdapat pada zaman Nabi ﷺ? Apakah semuanya itu haram?

 

Pandangan Ulama Terhadap Maulid

Penting bagi kita umat Islam untuk senantiasa bernaung di bawah cahaya ulama karena mereka adalah pewaris para Nabi. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu)

Para ulama menilai bahwa peringatan maulid Nabi ﷺ termasuk sesuatu yang baik karena di dalam kegiatan tersebut dibacakan sirah perjalanan hidup beliau ﷺ . Selain hal itu, peringatan maulid mendorong kita untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.

 

Pendapat Syeikh Ibnu Taimiyah (661-728 H)

Dalam hal ini Syeikh Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Taimiyah mengatakan, “Oleh karena itu maka mengagungkan maulid Nabi ﷺ dan menjadikannya sebagai acara rutin setiap musim, hal ini terkadang dilakukan oleh sebagian orang, dan mereka akan memperoleh pahala yang besar dengan melakukannya karena niatnya yang baik dan mengagungkan Rasulullah ﷺ. Sebagaimana telah aku sampaikan kepadamu bahwa sesungguhnya ada hal-hal yang dinilai baik apabila dilakukan sebagian orang tetapi justru dinilai buruk apabila dilakukan oleh orang yang imannya kuat.” (Iqtidha’ as-Shirath al-Mustaqim)

 

Penjelasan al-Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani (773-852 H)

Status perayaan Maulid telah jelas berdasarkan dalil yang kuat, yaitu hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi datang di Madinah dan mendapati orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyuro (tanggal 10 Muharram). Beliau bertanya kepada mereka dan mereka pun menjawab, “itu adalah hari di mana Allah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan nabi Musa, kami berpuasa padari hari itu sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah”. Maka beliau ﷺ bersabda:

نَحْنُ أَوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ

“Kami lebih berhak terhadap nabi Musa daripada kalian.”

Dari hadits tersebut diambil faedah bahwa perlu melakukan syukur kepada Allah ta’ala atas anugerah-Nya pada hari tertentu yang berupa kucuran nikmat atau terhindar dari bencana. Dan syukur tersebut diulang pada hari yang sama setiap tahun. Syukur kepada Allah bisa dilakukan dengan berbagai macam ibadah seperti sujud, puasa, membaca al-Qur`an dan bersedekah. Dan kiranya nikmat apakah yang lebih besar dari pada kemunculan Nabi Muhammad ﷺ sebagai nabi pembawa rahmat?

Allah ta’ala berfirman (maknanya):

“Sungguh benar-benar Allah telah memberi anugerah kepada orang-orang yang beriman ketika Dia mengutus diantara mereka seorang rasul dari mereka sendiri…” (QS. Ali Imron: 164)

 

Pendapat al-Imam Jalaluddin al-Suyuthi (849 – 911 H)

Al-Imam Jalaluddin al-Suyuthi, pakar ilmu al-Qur`an dan ilmu Hadits, di dalam kitab Husnul Maqsad fi Amalil Maulid berpendapat bahwa perayaan Maulid Nabi yang berupa berkumpulnya manusia dengan membaca al-Qur`an dan sejarah Nabi serta memakan hidangan makanan termasuk bid’ah yang baik (hasanah) yang mendapatkan pahala karena bertujuan mengagungkan Nabi Muhammad dan menampakkan kegembiraan terhadap kelahiran Nabi ﷺ.

Lebih lanjut, Prof. DR. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Imam ahlussunnah wal jama’ah abad 21, di dalam kitab Haula al-Ihtifal bi Dzikro Maulid an-Nabawi as-Syarif menjelaskan dalil-dalil tentang kebolehan perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Diantaranya adalah

Pertama, peringatan Maulid Nabi ﷺ adalah ungkapan kegembiraan dan kebahagiaan atas kelahiran beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu.

Ketika Abu Lahab mendapatkan kabar gembira tentang kelahiran keponakannya, Muhammad ﷺ, ia pun memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya itu, kelak di akhirat Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa setiap hari senin.

Keterangan ini dikutip dari kitab Shahih Bukhari bab Nikah, juga dinukil oleh Syeikh Ibnu Hajar di dalam al-Fath. Juga diriwayatkan oleh Imam Abdurrazak as-San’ani didalam kitabnya al-Musannaf (jilid 7: 478), Ibn Katsir di dalam kitabnya, al-Bidayah bab as-Sirah an-Nabawiyyah (jilid 1: 224), Ibn ad-Daiba asy-Syaibani didalam kitabnya Hada’iq al-Anwar (jilid 1: 134), Imam Hafiz al-Baghawi didalam kitabnya Syarah Sunnah (jilid 9 : 76), Ibn Hisyam dan as-Suhaili didalam al-Raudh al-Unuf (jilid 5 : 192), dan al-Amiri didalam kitabnya Bahjatul Mahaafil (jilid 1 : 41).

Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi ﷺ, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir Allah merahmati, karena kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?

Kedua, beliau sendiri mengagungkan hari kelahiran beliau dan bersyukur kepada Allah pada hari itu atas nikmatNya yang terbesar. Nabi ﷺ merayakan hari kelahiran beliau dengan berpuasa sunnah pada hari senin.

Dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺpernah ditanya mengenai puasa pada hari senin, beliau menjawab,

فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَىَّ

“Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu diturunkan wahyu kepadaku.” (HR. Muslim)

Ketiga, bergembira dengan Rasulullah ﷺ adalah perintah AI-Quran. Allah SWT berfirman,

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ

“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.” (QS Yunus: 58).

Allah SWT memerintahkan kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Nabi ﷺ merupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran, “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’: 107).

Pemahaman seperti ini sesuai dengan pendapat sahabat ahli tafsir, Abdullah bin Abbas radliyallahu anhu. Menurut beliau بِفَضْلِ ٱللَّهِ adalah ilmu, sedangkan بِرَحْمَتِه adalah Nabi Muhammad ﷺ. Allah ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

“Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’: 107). (Lihat Kitab ad-Durrul Mantsur, Juz 3, Hal. 308)

Keempat, perayaan Maulid Nabi ﷺ mendorong orang untuk bershalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Ahzab 56,

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلاَئِكَـتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan beserta para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya”.

Sesuatu yang secara mendasar diperintah di dalam syari’at, maka apa-apa yang mengantarkan dan mendorong kepada hal tersebut tentu juga diperintahkan. Tentang perintah, keistimewaan, dan fadhilah shawalat kepada Nabi ﷺ, ada banyak sekali hadits nabi yang menjelaskannya dan di sini bukan tempat untuk membahas hal tersebut.

Kelima, di dalam perayaan Maulid Nabi ﷺ dibacakan dan diperingati hari kelahiran beliau, sirah kehidupan beliau, akhlaq dan adab beliau, sifat-sifat beliau, serta mu’jizat beliau yang kesemuanya itu bermanfaat untuk menambah cinta dan iman kepada beliau ﷺ.  Bukankah kita diperintahkan untuk mengenal dan memahamai sirah kehidupan Nabi ﷺ? Bukankah kita diperintahkan untuk senantiasa meningkatkan rasa cinta dan iman kepada Nabi ﷺ?

Keenam, segala kebaikan yang tercakup didalam dalil-dalil syari’at dan dalam memperbaharuinya tidak ada maksud melawan syari’at serta tidak mengandung unsur kemungkaran, maka kebaikan itu termasuk bagian dari agama.

Sungguh Rasulullahﷺ telah menjanjikan pahala bagi orang yang membuat sunnah (kebiasaan, tradisi) yang baik dan sesuai dengan dalil-dalil syari’at.

:(مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا) صحيح مسلم

“Barangsiapa membuat suatu sunnah hasanah (perbuatan baik) dalam Islam, maka baginya pahala perbuatan itu dan pahala orang-orang yang melakukannya setelahnya sampai hari kiamat tanpa sedikitpun mengurangi pahala mereka…” (Shahih Muslim)

 

Kesimpulan

Berdasarkan bimbingan cahaya ulama yang telah membahas status perayaan Maulid Nabi ﷺ dan menjelaskan dalil-dalil tentang kebolehannya, bahkan menganjurkan dan mendorong umat untuk melaksanakan perayaan tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ adalah sesuatu yang baik, bermanfaat untuk umat Islam, dan diperbolehkan serta memiliki dasar yang jelas dan kuat di dalam syari’at Islam.

Kami akhiri uraian kami tentang Maulid Nabi ﷺ ini dengan sebuah syair gubahan al-Hafiz Syamsuddin Muhammad Nasiruddin ad-Dimasyqi (777-842 H).

إِذَا كَانَ هَذَا كَافِرًا جَاءَ ذَمُّهُ           * بِتَبَّتْ يَدَاهُ فِيْ الجَحِيْمِ مُخَلَّدا

أَتَى أَنَّهُ فِيْ يَوْم الإِثْنَيْنِ دَائِما          * يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسُّرُوْرِ بِأَحْمَدَا

فَمَا الظَّنّ بِالعَبْدِ الذَّيْ كَانَ عُمْرُهُ     * بِاَحْمَدَ مَسْرُوْرًا وَمَاتَ مُوَحِّدَا

Artinya:

Jikalau si kafir ini (Abu Lahab) yang telah datang cercaan Allah kepadanya (di dalam surah al-Masad) dan celakalah kedua tangannya didalam neraka selama-lamanya

Telah datang (khabar) sesungguhnya dia pada setiap senin senantiasa diringankan (azab siksa) darinya karena gembira dengan kelahiran Nabi Muhammad

Maka tidak syak lagi, bagi seorang hamba yang sepanjang hayatnya bergembira dengan Nabi Muhammad dan mati dalam keadaan mengesakan Allah (sudah tentu akan mendapatkan rahmat melebihi daripada apa yang dikurniakan kepada Abu Lahab)

*والله يتولي الجميع برعايته*

[tj]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s