Allahu Akbar….Merdeka..!!

Standar

Cover November 2015Pada tanggal 10 November 1945, meletus pertempuran yang sangat dahsyat antara bangsa Indonesia, terutama arek-arek Suroboyo, melawan pasukan sekutu. Pertempuran ini adalah perang pertama bangsa Indonesia melawan pasukan asing pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, dilakukanlah pelucutan senjata terhadap tentara Jepang. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tentara Inggris mendarat di Jakarta pada tanggal 15 September 1945, kemudian mendarat di Surabaya pada 25 Oktober. Berkedok melucuti tentara Jepang, tentara Inggris datang ke Indonesia atas nama Sekutu, dengan membawa misi mengembalikan Indonesia kepada pemerintah Belanda sebagai jajahannya. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) pun membonceng.

Itulah yang meledakkan kemarahan rakyat Indonesia di mana-mana, sehingga pecahlah insiden Bendera 19 September 1945 di Hotel Yamato atau Hotel Orange (sekarang Hotel Mandarin Oriental Majapahit) Surabaya. Rakyat Surabaya marah dengan adanya bendera merah putih biru milik Belanda berkibar di atas menara hotel. Beberapa pemuda yang berhasil mendekati dan memanjat dinding serta puncak menara Hotel, menurunkan bendera Belanda dan menyobek bagian birunya serta menaikkan kembali bendera Merah-Putih dengan diiringi takbir dan pekikan “Merdeka!” yang disambut dengan gempita oleh massa yang berkerumun di depan Hotel Orange.Dalam insiden penyobekan bendera Belanda di Hotel Orange tersebut empat pemuda Arek Suroboyo tewas. Mereka adalah Cak Sidik, Mulyadi, Hariono dan Mulyono. Sedangkan dari pihak Belanda, Mr Ploegman tewas terbunuh oleh amukan massa. Insiden di jalan Tunjungan Surabaya ini menyulut bentrokan-bentrokan bersenjata antara pasukan Inggris dengan para pejuang di Surabaya, yang memuncak dengan tewasnya Brigadir Jenderal AWS Mallaby (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945.

Setelah insiden itu Mayor Jenderal Mansergh (pengganti AWS Mallaby) mengeluarkan ultimatum bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Jika ultimatum itu tidak dipatuhi, pasukan sekutu akan membumihanguskan Kota Surabaya. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat TKR juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia. Salah satu tokoh terkenal yang membakar semangat para pejuang agar menolak ultimatum tersebut adalah Bung Tomo. Dengan pidatonya yang berapi-api, Bung Tomo menggerakkan arek-arek Suroboyo untuk melawah sekutu dengan pekikan takbirnya yang sangat terkenal, “Allohu Akbar! Allohu Akbar! Allohu Akbar! Merdeka!!”

Pihak sekutu menepati ultimatumnya. Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya. Inggris mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang. Inggris kemudian membombardir kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan tersebut, baik meninggal maupun terluka.

Di luar dugaan pihak Inggris yang optimis bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut sampai berminggu-minggu. Selain itu, tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) sehingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung lebih lama dari perkiraan semula. Bahkan boleh dibilang, peran para Kyai dan Ulama beserta santri-santri ini sangatlah besar.

Peristiwa yang juga disebut sebagai “Battle of Surabaya” ini merupakan salah satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme. Pertempuran yang berlangsung hampir satu bulan ini mengakibatkan sekitar 16.000 pejuang Indonesia meninggal dunia dan lebih dari 200.000 warga mengungsi keluar dari Surabaya. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan dan membangkitkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.

 

Makna 10 November hari ini…

Semangat para pejuang kemerdekaan untuk meraih dan mempertahankan kedaulatan bangsa Indonesia ini hendaknya kita install ke dalam sanubari kita. Selayaknya bara semangat para pahlawan itu memantik api semangat di dalam diri kita untuk melawan musuh-musuh yang berniat “menjajah” kita. Siapakah musuh kita? Setidaknya, ada tiga musuh yang saat ini senantiasa mengancam kedaulatan dan kemerdekaan kita sebagai hamba Allah dan khalifatullah di bumi. Mereka adalah setan, nafsu amarah, dan materialisme.

Musuh kita yang pertama adalah setan, baik dari jenis jin maupun manusia. Iya, sesungguhnya setanlah musuh yang nyata bagi kita umat manusia. Dialah yang senantiasa mengajak kita untuk melakukan kema’shiatan dan pembangkangan kepada Allah ta’ala, Tuhan kita, Tuhan semesta alam. Setanlah yang setiap saat berusaha dengan berbagai cara untuk menggelincirkan kita jatuh ke dalam jurang kehinaan, neraka jahannam.

“Sesungguhnya setan adalah musuh bagi kamu, maka jadikanlah dia musuh; sebenarnya ia mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka”. (al-Fathir 35: 06)

Bagaimana cara memerangi setan ini? Berhati-hatilah..!! Mari kita memperdalam ilmu agama. Dengan mengetahui mana yang haqq dan mana yang bathil kita insyaalloh bisa menghindari ajakan dan bujuk rayu setan. Dan janganlah kita sekalipun mengikuti langkah-langkahnya. Karena jika kita “mencoba” mengikuti langkahnya, maka kita ‘kan jatuh ke dalam tipu dayanya yang semakin lama semakin dalam hingga akhirnya kita sulit keluar dari lembah tipu daya setan ini. Jangan menjadikan setan sebagai pemimpin dan panutan.

Sebaliknya, hendaknya kita senantiasa minta pertolongan kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya dan senantiasa mengikhlashkan niat dalam setiap perbuatan, perkataan, dan sikap.

“Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabb-nya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah”.[An Nahl : 99-100].

Selain hal itu, jangan lupa untuk senantiasa berdoa memohon perlindungan kepada Allah ta’ala dari godaan syetan yang terkutuk.

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. [Al A’raf : 200].

“Dan katakanlah : “Ya, Rabb-ku. Aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau, ya Rabb-ku, dari kedatangan mereka kepadaku”. [Al Mukminun : 97-98]

Musuh kita yang kedua adalah nafsu amarah. Nafsu ini selalu mengajak kita berbuat jelek. Nafsu ini senantiasa mendorong kita berbuat kejahatan dan pelanggaran. Kalau setan itu musuh yang datang luar diri kita, nafsu amarah ini adalah musuh yang berada di dalam diri kita. Dia hidup di dalam sanubari kita. Maka hendaknya kita senantiasa waspada.

“Sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak kepada kejahatan, kecuali yang dirahmati oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Yusuf : 53)

Bagaimana cara memerangi nafsu amarah ini? Caranya adalah dengan menundukkan nafsu tersebut kepada syariat Islam, aturan Allah ta’ala dan tuntunan Rasulullah ﷺ. Jangan pernah menuruti nafsu amarah ini karena sekali ia dituruti, ia akan minta dituruti lagi dan lagi. Dia tidak akan pernah puas.

“…janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, yang dapat menyesatkan kamu dari jalan Allah…” (Shad: 26)

Musuh kita yang ketiga adalah materialisme. Faham kebendaan ini senantiasa mendorong kita untuk menomorsatukan materi dalam segala hal. Faham ini mengajak kita untuk mementingkan kesenangan dan kesejahteraan di dunia dan melupakan kehidupan di akhirat. Mari kita tengok kehidupan sekitar kita (dan tentu kita sendiri). Kalau ada orang punya waktu produktif 16 jam per hari, berapa jam yang dia gunakan untuk mencari materi (uang)? Dan berapa jam yang dia gunakan untuk mempersiapkan bekal akhiratnya??  Kalau ada orang yang memiliki uang satu juta rupiah, biasanya berapa yang ia habiskan untuk belanja dan hiburan? Lalu berapa yang ia gunakan untuk shadaqah dan infaq??

Mengenai hal ini, Rasulullah ﷺ pernah bersabda (yang maksudnya) :

“Sesungguhnya bagi setiap ummat ada ujiannya, dan ujian bagi ummatku ialah harta kekayaan”. (H.R. at-Tirmidzi)

Bagaimana cara memerangi budaya materialisme ini? Langkah pertama tentu dengan belajar, mendalami ajaran agama Islam yang sumber utamanya adalah al-Quran dan al-Hadits serta hikmah para Ulama`. Karena dengan ilmu lah kita bisa menyadarkan diri kita akan makna hidup yang sebenarnya. Dari mana kita berasal? Kemana tujuan hidup kita? Dan apa yang semestinya kita lakukan semasa hidup di dunia? Mari senantiasa menjadikan keuntungan di akhirat sebagai visi dan tujuan hidup di dunia yang fana ini.

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy-Syuro: 20)

Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Mari kita merdekakan diri kita dari jajahan setan, nafsu amarah, dan budaya materialisme. Kita berdoa, semoga Allah ta’ala senantiasa mencurahkan petunjuk dan pertolongan-Nya kepada kita semua.

Allohu Akbar! Allohu Akbar! Allohu Akbar! MERDEKA..!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s