MENDAKI DENGAN RENDAH HATI

Standar

وَعِبَادُ الرَّحْمنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجهِلُوْنَ قَالُوْا سَلمًا (

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

٦۳)

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) mereka yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) kedamaian.” (QS. Al Furqan [25]:63)

 

Ayat di atas termasuk ayat yang sering dibaca oleh imam shalat di semua negara. Juga ayat yang paling sering dikutip untuk menjelaskan sifat tawadlu (rendah hati) yang harus dimiliki setiap muslim. Pada ayat-ayat sebelumnya (ayat 56-62), Allah SWT menunjukkan diri-Nya dengan tindakan nyata sebagai Tuhan Maha Pengasih kepada semua makhluk-Nya. Ia menciptakan langit dan bumi, bintang-bintang di langit untuk menerangi bumi, serta pergantian siang dan malam, yang semuanya untuk kelangsungan dan kenyamanan hidup makhluk-Nya. Tidak hanya menyediakan sarana fisik, Allah SWT juga mengutus rasul untuk membimbing mereka secara gratis dengan cara persuasif. Para rasul hanya diberi tugas memberi berita yang menyenangkan bagi yang taat kepada Allah dan ancaman siksa bagi yang menolaknya. Nabi ﷺ tidak boleh bersedih atau marah atas sikap mereka: menolak atau menerima ajakannya. Nabi ﷺ dilarang keras melakukan pemaksaan apalagi kekerasan.

Setelah Allah membuktikan kasih-Nya kepada semua makhluk, barulah Ia memerintahkan manusia untuk bertindak penuh kasih dan bersikap rendah hati. Allah SWT secara tidak langsung memberi pelajaran kita, “Jangan menyuruh anak, istri, suami dan siapapun untuk bersikap mengasihi dan rendah hati, sebelum Anda memberi ketauladanan untuk hal yang sama.”

Ada dua macam tawadlu’ yaitu kepada Allah dan kepada sesama manusia. Tawadlu kepada Allah berupa kesungguhan menerima perintah Allah tanpa mempertimbangkan rasional atau tidaknya, dan menerima apapun pemberian Allah dengan senang hati. Sedangkan tawadlu kepada manusia berupa sikap tenang, sederhana, tidak merasa lebih dari orang lain, apalagi merendahkannya, dan menjadikan sesamaa muslim benar-benar sebagai saudaranya. Demikian definisi yang dikemukakan oleh kebanyakan ahli hakekat atau ahli tasawuf.

Orang yang tawadlu’ atau disebut mutawadli’ tidak menyombongkan diri atas apapun yang dimiliknya . Dalam ayat di atas juga disebutkan, “..dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) kedamaian.” Yang dimaksud orang bodoh di sini adalah mereka yang tidak mengerti jalan pikiran, visi dan misi kita, sekalipun mungkin saja mereka sarjana S1, S2 atau S3. Orang bodoh selalu nampak kebodohannya dalam tutur katanya. Mereka miskin perbendaharaan kata dan tidak faham dengan etika, sehingga seringkali perkataanya amat menyakitkan dan menjengkelkan kita. Imam As-Suyuthy berkata, “ma kana kabirun fi ‘ashrin illa kana lahu ‘aduwwun minassalafah”/Orang besar di setiap generasi selalu dimusuhi orang yang tidak memahaminya.” Orang tawadlu’ selalu senyum dan berkata lembut, penuh sopan santun dalam menjawab ejekan atau cemoohan orang bodoh. Anda tidak perlu gusar dan terkejut dengan para pengejek, sebab dalam Al-Qur’an (Al Mai-dah [5]:54) disebutkan adanya “laumata laa-im” yaitu orang yang berhobi mengolok-olok. Dalam bahasa kelakar, “Sehari tanpa ejekan, ia terkena sariawan.”

Apakah orang rendah hati bisa mendaki menuju panggung kejayaan dan kesuksesan? Untuk menjawab ini, Rasulullah ﷺ pernah memberi pelajaran para sahabat dengan metode aktivasi otak kanan, yaitu menelungkupkan telapak tangan, lalu membaliknya, sambil bersabda, “Allah SWT berfirman, “Siapa yang tawadlu demi Aku, maka Aku akan mengangkat derajatnya.” (HQR. Ahmad, Bazzar, Abu Ya’la dan At Thabrani dari Umar r.a). Agar otak kanan Anda juga berfungsi, coba gerakkan telapak tangan Anda, sebagaimana yang dilakukan Nabi ﷺ. Dalam kesempatan lain, Nabi ﷺ bersabda dengan pesan yang sama, “Man tawadla’a lillahi rafa‘ahullah /siapa yang tawadlu demi Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya” (HR Abu Na’im dari Abu Hurairah r.a)

Nabi ﷺ tidak pernah berbicara tetang sesuatu, sebelum ia sendiri memberi contoh ketauladanan. Nabi ﷺ sangat sayang dan akrab dengan anak-anak, sehingga mereka tidak jarang bergelayutan manja kepadanya. Silakan introspeksi, mengapa Anda tidak menyapa anak-anak kecil yang Anda jumpai ketika memasuki masjid? Mengapa justeru wajah Anda menakutkan bagi mereka? Nabi ﷺ menyapu rumahnya, memerah susu sendiri, menggiling gandum bergantian dengan pembantunya, makan bersama pembantu, dan berbelanja sendiri ke pasar. Bagaimana dengan Anda? Semoga Anda tidak termasuk suami yang serba memerintah istri ataupun pembantu, seolah-olah Anda raja dan istri atau pembantu Anda sebagai hamba.

Nabi ﷺ mendahului menyapa dan mengucapkan salam kepada setiap orang yang dijumpai. Silakan introspeksi sekali lagi, mengapa Anda kadangkala merasa senior dan terhormat, lalu memandang orang lain lebih pantas menyapa Anda terlebih dahulu? Nabi ﷺ selalu menolak diberi tempat duduk khusus dalam setiap pertemuan, juga menolak digelarkan tikar untuknya. Semoga Anda bukan sejenis orang yang pernah saya jumpai: “orang besar” yang merasa dilecehkan karena tidak diberi tempat yang terhormat dalam sebuah perhelatan, lalu marah-marah di atas podium, berpidato singkat dan meninggalkan acara dengan hati dongkol.

Maukah Anda dijelaskan lebih lanjut tentang tawadlu’ Nabi ﷺ? Rumah Nabi ﷺ bertipe 5-S (Sangat Sempit, Sederhana, dan Sulit Selonjor). Karenanya, Nabi ﷺ seringkali harus menggeser kaki istrinya, Aisyah ketika ia bersujud. Alas tidur Nabi ﷺ hanya lembaran pelepah kurma, sehingga ketika bangun untuk shalat malam, Aisyah mengambil beberapa kerikil yang menempel di punggungnya terlebih dahulu. Mengapa Anda selalu mengeluh soal rumah, padahal lebih luas daripada rumah Nabi ﷺ, lalu mencari pinjaman bank untuk merehabnya, padahal tidak terlalu mendesak?

Nabi ﷺ mendatangi undangan siapa saja, termasuk orang paling miskin. Ia juga selalu membalas pemberian hadiah orang. Jika bercanda, Nabi ﷺ selalu menjauhi canda yang mengandung dusta, dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak. Mengapa Anda kadangkala terpancing meladeni canda orang yang tak bermutu, bahkan berlebihan sampai menimbulkkan ketersinggungan orang lain, atau canda berbau porno? Nabi ﷺ selalu menghadapkan muka dengan serius untuk mendengarkan orang yang berbicara dengannya. Sebagai introspeksi terakhir, mengapa anak-anak Anda terus bermain hand-phone, padahal guru atau orang tuanya sedang berbicara serius kepadanya? Atau jangan-jangan yang melakukan itu Anda sendiri.

Rendah hati sama sekali bukan berarti menunjukkan kelemahan dan kerendahan diri. Rendah hati justru mengundang simpati dan menjadi daya tarik yang luar biasa bagi orang lain untuk bekerjasama dengan Anda. Orang selalu mencari padi yang menunduk, sebab ia pasti berisi. Sekali lagi, tulungkupkan telapak tangan Anda, kemudian balik dan angkatlah, sambil berkata kepada diri sendiri, “Jika aku rendah hati, Allah pasti memudahkan kesuksesanku esok hari.” (http://www.terapishalatbahagia.net/mendaki-dengan-rendah-hati/)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s