Sampaikah Pahala Bacaan al-Fatihah kepada Mayit?

Standar

FSCN0017 وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “wahai Tuhan kami, berilah ampun kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu, dan janganlah Engkau menjadikan di dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman; wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

(QS. Al-Hasyr [59]: 10)

 

Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Beberapa waktu yang lalu ada salah satu TV swasta nasional yang menayangkan sebuah acara religi. Di dalam acara tersebut, sang host menyatakan bahwa menghadiahkan pahala bacaan surat al-Fatihah kepada mayit adalah bid’ah dan dilarang karena tidak ada dalilnya di dalam agama Islam. Acara tersebut mengundang kontroversi di masyarakat. Sebagian mendukung pernyataan sepasang host yang juga artis sinetron terkenal tersebut. Sebagian yang lain menyatakan tidak setuju dan melontarkan bantahan, sanggahan, hingga cercaan.

Pada kesempatan kali ini, kami ingin membahas permasalahan tersebut secara ilmiah. Bukan hanya berdasarkan rasa suka atau tidak suka. Bukan hanya berdasarkan dugaan dan prasangka. Tetapi berdasarkan dalil-dalil syari’at yang bisa dipertanggungjawabkan. Semoga Allah ta’ala senantiasa melimpahkan taufiq-Nya kepada kita semua. Amin.

 

Apakah seorang muslim bisa mendapatkan manfaat dari amalan yang dikerjakan oleh muslim yang lain?

Syeikh Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Taimiyah menyatakan bahwa barangsiapa meyakini bahwa seseorang tidak bisa mendapatkan manfaat kecuali hanya dari amalannya sendiri berarti dia menentang ijma’ berdasarkan banyak dalil, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Sesungguhnya seseorang bisa mendapatkan manfaat dari doa orang lain. Ini berarti bahwa seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amalan doa orang lain.
  2. Allah ta’ala berfirman (didalam surat al-Kahf) tentang cerita dua pemuda yatim, bahwa “Dan kedua orang tua mereka adalah orang saleh”. Kedua anak itu mendapatkan manfaat kesalehan orang tua mereka.
  3. Haji wajib akan gugur atas mayit jika walinya atau ahli warisnya berhaji untuknya berdasarkan nash sunnah.
  4. Seorang mayit mendapatkan manfaat sedekah atas dirinya berdasarkan nash dan ijma’. Hal ini berarti mayit mendapatkan manfaat dari amalan yang tidak dia kerjakan, tetapi dikerjakan orang lain.
  5. Seseorang akan terbebas dari tanggungan utang jika ada orang lain yang melunasinya. Ini berarti dia mendapatkan manfaat dari amalan orang lain.
  6. Shalat jenazah dan doa di dalam nya bermanfaat untuk mayit. Hal ini berarti mayit bisa mendapatkan manfaat dari shalat dan doa orang yang masih hidup.
  7. Orang yang shalat berjama’ah maka dia mendapatkan pahala yang lebih baik 27 derajat daripada shalat sendirian. Hal ini berarti orang-orang yang mengerjakan shalat dengan berjama’ah saling memberi manfaat satu sama lainnya.
  8. Zakat fitri diwajibkan atas anak kecil dan yang membayarnya adalah orang tua atau walinya. Begitu juga orang-orang yang berada di bawah tanggungan seseorang. Anak kecil dan orang-orang tersebut mendapatkan manfaat dari amal yang tidak mereka kerjakan sendiri.

Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain di dalam permasalahan ini yang semuanya mengantarkan kita kepada kesimpulan bahwa seseorang bisa mendapatkan manfaat dari amal yang dikerjakan oleh orang lain.

 

Sampaikah Hadiah Pahala Amal yang dikirim kepada mayit?

Ada banyak keterangan hadits dari Rasulullah ﷺ yang secara gamblang menjelaskan bahwa pahala amal yang dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal dunia akan sampai kepadanya dan bermanfaat untuknya. Kami kutipkan beberapa diantaranya.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Sayyidah ‘Aisyah r.a., beliau berkata bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya

إنّ أمي افتلتت نفسها ، وأظنّها لو تكلمت تصدقت ، فهل لها أجر إن تصدقت عنها ؟ قال : ( نَعَمْ )” رواه البخاري (۱۳۸۸) ، ومسلم ( ۱٠٠۴) 

‘ibuku telah meninggal dunia mendadak sehingga ia tidak berkesempatan untuk berwasiat dan saya kira andaikan ia mendapatkan kesempatan bicara, tentu ia berwasiat untuk bersedekah. Apakah ia mendapatkan pahala apabila saya bersedekah untuknya?’ Nabi ﷺ menjawab, ‘iya’.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari Abdullah bin Abbas r.a., beliau berkata bahwa telah datang seorang wanita kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya

يا رسول الله، إن أمي ماتت وعليها صوم شهر، أفأقضي عنها؟ قال: فقال: ((أرأيت لو كان على أمك دَيْن، أما كنت تقضينه؟))، قالت: بلى، قال: ((فدين الله عز وجل أحق)).  أخرخه أحمد (۱/۲۴) وأبو داود (۳۳۱٠)

‘Ya Rasulullah, ibuku telah wafat sedang ia masih berhutang puasa sebulan. Apakah saya boleh melakukan qadha (membayar hutang puasa) untuk ibuku?’ Nabi ﷺ bersabda, ‘Jika ibu mu punya hutang, apakah kamu akan membayarkan hutang tersebut untuknya?’ Wanita itu menjawab, ‘iya’. Nabi ﷺ bersabda, ‘hutang kepada Allah lebih berhak (untuk dibayar)’.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Muslim dari sahabat Buraidah al-Aslamiy r.a., beliau berkata, telah datang seorang wanita kepada Nabi ﷺ dan bertanya

يا رسول الله، إن أمي نذرت أن تحج فلم تحج حتى ماتت، أفأحج عنها؟ قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((حجي عن أمك))  رواه الإمام أحمد في (باقي مسند الأنصار) حديث بريدة الأسلمي برقم ۲۲٥۲۳ ، ومسلم (۱۱۴۹)

‘Ya Rasulullah, sesungguhnya ibuku bernadzar untuk haji dan beliau belum berhaji hingga beliau wafat. Apakah boleh saya berhaji untuknya?’ Nabi ﷺ menjawab, ‘berhajilah untuk ibumu’.

Dari hadits-hadits di atas bisa diambil kesimpulan bahwa ibadah badaniyah (seperti puasa), ibadah maliyah (seperti sedekah), dan ibadah badaniyah wa maliyah (seperti haji), jika pahalanya dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal dunia maka hal itu boleh dilakukan, pahalanya akan sampai kepada mayit dan bermanfaat untuknya.

Lebih lanjut Syeikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid rahimahullah menulis satu pasal khusus di dalam kitab Ghayatul Maksud (hal. 430) yang mengumpulkan berbagai pendapat Imam Madzhab Fiqh tentang sampainya manfaat amal atau pahala dari orang yang masih hidup yang dihadiahkan kepada orang yang telah mati.

Beliau menukil pendapat Imam Madzhab Fiqh Hanafi seperti Syeikh Burhanuddin Ali bin Abu Bakar, Syeikh Syamsuddin Abdul Abbas, Syeikh Ibnu Abidin, Syeikh Ali Qori, dan lain-lain. Dari Madzhab Maliki ada Imam Ibnu Ruysd, Ibnul Hajj, Al Hattabi, dan lain-lain. Dari Madzhab Syafi’I ada Imam Nawawi, Imam Suyuthi, Imam Subkiy, Imam Ibnu Sholah, Syeikhul Islam Abu Abdillah Al-Qoyyati, dan lain-lain. Lalu kemudian para Imam madzhab fiqh Hanbali seperti Imam Ahmad dan Ibnu Qudamah. Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berpendapat bahwa “Segala bentuk pahala kebaikan seperti shadaqah dan shalat atau yang lainnya yang dihadiahkan kepada mayit akan sampai kepadanya”.

 

Sampaikah pahala bacaan al-Qur`an kepada mayit?

Penulis musnad Firdaus menyebutkan hadits yang sanadnya kepada sahabat Abu Darda r.a.:

ما من ميّت تقرأ عنده يس إلا هوّن الله عزّ وجلّ عليه

“Setiap mayit yang dibacakan surat Yasiin untuknya, maka Allah meringankan bebannya.” (Musnad Firdaus IV/32)

Selanjutnya, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Majmu’ al-Fatawa juz 24 halaman 24 menyatakan : “Adapun bacaan Al-Quran, shadaqah dan ibadah lainnya termasuk perbuatan yang baik. Dan tidak ada pertentangan dikalangan ulama ahlussunnah wal jamaah bahwa sampainya pahala ibadah maliyah (ibadah harta) seperti shadaqah dan membebaskan budak. Begitu juga dengan doa, istighfar, shalat jenazah dan doa di kuburan. Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat tentang sampai atau tidaknya pahala ibadah badaniyah seperti puasa, shalat dan bacaan (al-Qur`an). Pendapat yang benar adalah semua amal ibadah itu sampai kepada mayit. Karena diriwayatkan di dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda, ‘Barangsiapa meninggal dunia dan dia punya hutang puasa maka hendaknya walinya berpuasa untuk mayit tersebut’. Dan ini adalah pendapat Ahmad bin Hanbal, Abu Hanifah dan beberapa ulama Malikiyah dan Syafi’iyah”.

Disebutkan dalam kitab al-‘Iddah Syarah Umdah bahwa pahala bacaan al-Qur`an yang dihadiahkan kepada mayit akan sampai kepadanya, hal ini adalah pendapat jumhur ulama. Telah diriwayatkan dalam hadits bahwa,

أنّ الموت يعذّب ببكاء أهله عليه

“Sesungguhnya mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya atas dirinya”.

Apapila dalam urusan hukuman dan siksa hal ini berlaku, tentu dalam urusan pahala dan karunia sudah sepantasnya juga berlaku. Maksudnya, jika tangisan keluarga mayit bisa berakibat seorang mayit disiksa, maka sudah sepantasnya bacaan al-Qur`an yang pahalanya dihadiahkan kepada mayit akan sampai kepadanya dan bermanfaat untuknya. Sungguh Allah ta’ala Maha Mulia.

 

Argumentasi mereka yang berpendapat bahwa seseorang hanya mendapatkan manfaat dari amal yang dia kerjakan sendiri

Orang-orang yang meyakini bahwa seseorang tidak bisa mendapatkan manfaat dari amalan yang dikerjakan oleh orang lain berdalil dengan:

‏وَأَن لَّيْسَ لِلإنسَانِ إلاَّ مَا سَعَى

“Dan sesungguhnya manusia tidak memiliki kecuali apa yang telah ia usahakan.” (QS. An-Najm: 39)

Mereka juga berdalil dengan sebuah hadits

(إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له) رواه البخارى و مسلم

“Apabila anak Adam (manusia) telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, (1) shadaqah jariyah, (2) ilmu yang bermanfaat, (3) anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Berdasarkan ayat dan hadits tersebut mereka beragumen bahwa pahala amal orang yang hidup tidak bisa sampai dan bermanfaat bagi orang yang sudah meninggal dunia.

 

Penjelasan Ulama tentang ayat dan hadits tersebut

Dalam kitab ar-Ruh, Syeikh Ibnu al-Qayyim menjelaskan bahwa ayat al-Qur`an (surat an-Najm ayat 39) di atas tidak menafikan dapatnya seseorang memperoleh manfaat dari usaha orang lain, tetapi menafikan ‘memiliki sesuatu yang bukan dari usahanya’. Perbedaan keduanya sangat jelas. Di dalam ayat tersebut Allah ta’ala menyatakan bahwa manusia tidak memiliki pahala kecuali dari hasil usahanya sendiri. Dan orang lain memiliki apa yang ia usahakan. Apakah ia mau menghadiahkan apa yang ia miliki kepada orang lain, atau tetap bagi dirinya sendiri, hal itu terserah dia. Allah ta’ala tidak menyatakan bahwa seseorang tidak mendapatkan manfaat kecuali dari usahanya sendiri.

Sedangkan hadits “Jika manusia mati maka terputuslah amalnya…..” maksudnya adalah jika seseorang itu meninggal dunia, tentu ia tidak bisa beramal lagi. Putuslah amalnya. Hal ini adalah sesuatu yang maklum. Orang yang mati tidak bisa beramal. Hadits tersebut tidak menyatakan bahwa orang yang mati tidak bisa mendapatkan manfaat dari amal orang yang masih hidup. Jadi, menggunakan hadits tersebut sebagai dalil ‘bahwa seseorang tidak bisa mendapatkan manfaat dari amalan orang lain’ adalah tidak tepat.

Sayid Muhammad al-Maliki di dalam kitab Tahqiqul Amal Fi Ma Yanfa’u lil Mayyit Minal A’mal mengutip pendapat Sayid Alawy bin Abbas al-Maliki:

Hadits “Jika manusia mati maka terputuslah amalnya kecuali 3 perkara…..”. Ketahuilah bahwa terputusnya amal karena kematian merupakan perkara yang jelas sekali karena si mayit tidak dapat melakukan amal apapun dan tidak dituntut apapun setelah kematiannya. Yang dimaksud hadits tersebut adalah bahwa ada beberapa amal ibadah yang tetap membuahkan hasil dan bermanfaat bagi pelakunya meskipun sang pelaku amal tersebut sudah meninggal dunia. Diantara amal tersebut adalah (1) shadaqah jariyah seperti membangun masjid, membuat sumur, dan mewaqafkan al-Qur`an, (2) ilmu yang bermanfaat, artinya ilmu syari’at yang bermanfaat yang menyelamatkan manusia dari siksa neraka dan mengantarkan mereka memperoleh kenikmatan abadi di surga, termasuk di dalamnya mengajar ilmu syariat dan mengarang kitab, (3) anak saleh yang mendoakannya, karena dari hasil usahanya selama hidup dalam mendidik anak sehingga anaknya menjadi orang yang saleh. Orang tersebut akan mendapatkan manfaat dari amal saleh dan doa anaknya.

Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Dari dalil-dalil syariat berupa nash al-Qur`an dan sunnah serta penjelasan ulama di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa hukumnya boleh, menghadiahkan pahala bacaan surat al-Fatihah kepada orang yang sudah meninggal dunia. Dan insyaallah, hadiah pahala bacaan surat al-Fatihah tersebut akan sampai kepada si mayit dan bermanfaat untuknya. Tentu, membaca surat al-Fatihah nya harus dengan baik dan benar sesuai dengan aturan ilmu tajwid serta diniati dengan ikhlash untuk mendapatkan ridla dari Allah ta’ala. Demikian, semoga bermanfaat.

والله أعلم بالصواب

[Muhtar Tajuddin, Guru Diniyah PP. Darul Hikmah]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s