Belajar Tawadhu (Rendah Hati)

Standar

Cover Oktober 2015Rendah  hati  dalam  wacana  Islam  sering  juga  dikatakan  dengan  tawadhu’. Tawadhu’ termasuk salah satu sifat terpuji yang harus dimilki oleh seorang muslim.  Tawadhu’  secara  bahasa  dapat  dimaknai  dengan  ‘merendahkan hati’.  Artinya  sengaja  memposisikan  diri  lebih  rendah  dari  posisi  sebenarnya.  Pada  dasarnya  tawadhu’  hanya  ditujukan  kepada  Allah  Yang Maha  Agung.  Yakni  merasa  lemah  dan  tidak  berdaya  dibanding  dengan kekuasaan  Allah  swt.  apalah  kuasa  manusia  sampai  berani  mengharap surganya  Allah?  apakah  Allah  rela  memberikan  surga  kepada  seorang hamba, jika hamba tersebut merasa tidak memerlukan surga? Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan bahwa tujuan tawadhu sebenarnya adalah mengharapkan  surga  (ridha-Nya)  Allah  swt  dan  menghindarkan  diri  dari api neraka (thoma’an li jannatihi ta’ala wa rahban min narihi ta’ala).

Meskipun  tawadhu’  ditujukan  kepada  Allah  swt  sebagai  bukti  adanya hubungan vertikal, tetapi harus dibuktikan dalam praktik keseharian ketika bermuamalah dengan sesama yang mengandalkan hubungan horizontal. Sebagaimana di terangkan dalam surat al-Furqan ayat 63.

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan hamba-hamba Tuhan yang  Maha  Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi  dengan  rendah hati dan apabila orang -orang jahil menyapa  mereka,  mereka  mengucapkan kata-kata (yang  mengandung) keselamatan.”

Artinya  bahwa  diantara  tanda-tanda  orang  yang  memiliki  sifat  tawadhu’ selalu  berjalan  dengan  menundukkan  kepala.  Seolah-olah  tidak  pernah melihat  langit.  Berjalan  dengan  santai  tanpa  membusungkan  dada. Meskipun  ia  memiliki  kuasa  sebagai  gubernur,  jendral  ataupun  ulama misalnya.

Hal  ini  berbeda  dengan  orang-orang  yang  sombong  yang  berjalan dengan mendongak ke atas tidak pernah melihat bumi. Bahkan ketika mereka disapa dan dikomentari, mereka hanya menjawab  ‘salama’, yang artinya  keselamatan  atas  kita  semua,   diantara  kita  tidak  ada  yang  lebih baik, aku juga tidak lebih baik dari kamu begitu juga sebaliknya.

Begitu spesialnya sifat tawadhu, sehingga Allah mengistimewakan mereka yang  memiliki  sifat  tawadhu’  dengan  menyebut  ‘ibadurrahman’  hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang. Hal ini sejalan dengan janji Allah sebagaimana disampaikan kepada Rasulullah saw dalam haditsnya.

من توضع رفعه الله ومن تكبر وضعه الله

“Allah akan mengangkat derajat mereka yang memiliki sifat tawadhu’, dan akan membenamkan mereka yang bersifat sombong.”

Lalu,  apakah  sebenarnya  pentingnya  tawadhu’?

Selain  mengharapkan  derajat  dari  Allah  swt, tawadhu  juga  menghindarkan  diri  kita  dari  sifat yang  paling  dibenci  Allah  Yang  Maha  Kuasa  yaitu sombong.  Karena  kesombongan  akan  menimpa mereka yang tidak memiliki ketawadhuan. Padahal sejatinya kesombongan itu hanya pantas dimilikiNya. Oleh karena itu Allah sangat membenci orang yang  sombong.  Hal  ini  terbersit  dari  hadits  qudsi yang disampaikan oleh Rasulullah saw.

عن أبي هريرة قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – :  ( قال الله عز وجل : الكبرياء ردائي ، والعظمة إزاري ، فمن نازعني واحداً منهما قذفته في النار )   وفى رواية (ولا أبالى)

“Dari Abi Hurairah radliyallau ‘anhu : Rasulullah saw bersabda : Allah ‘azza wa jalla berfirman : Sifat  sombong  itu  selendang-Ku,  keagungan adalah  busana-Ku.  Barang  siapa  yang  merebut salah  satu  dari-Ku,  akan  Ku  lempar  ia  ke  neraka. Dan Aku tidak peduli.”

Artinya,  kesombongan  dan  keagungan  itu  hanya khusus milik Allah. Allah sungguh tidak terima bila ada  hamba  yang  memilki  sifat  keduanya.  Begitu tersinggungnya  Allah  hingga  Ia  akan  melempar siapapun  yang  ‘menggunakan’  kedua  sifat  itu,  ke Neraka  tanpa  peduli.  Tanpa  peduli  apakah  dia seorang sufi, seorang wali, seorang nabi, seorang preiden atau juga seorang raja.

Oleh karena itu guna mempermudah  diri melatih menuju  ketawadhuan  kepada  Allah  hendaknya seorang  hamba  harus  mengakui  dan  memiliki beberapa  perasaan.

Pertama,  merasa  hina  (dzlil) dan  meyakini  bahwa  yang  mulia  adalah  Allah. Seorang hamba harus segera sadar bahwa ia seorang yang hina. Ia hanyalah berasal dari setetes air mani, yang jikalau Allah swt menghendaki bisa saja mani itu tumpah dan menjadi konsumsi semut dan lalat.

Kedua,  merasa  faqir  selalu  membutuhkan  dan Allahlah  yang  Maha  Kaya  Raya.  Sekarang  para hartawan dan miliyuner akan merasa bangga atas kejayaan  dan  mengandalkan  segala  macam  harta yang dimilikinya. Padahal kata Allah : “Sesungguhnya  semua  harta  itu  adalah  hartaKu, orang-orang faqir itu keluargaKu, dan para hartawan  adalah  wakilku.  Barang  siapa  yang  berlaku pelit terhadap keluargaKu. Aku akan menyiksanya tanpa peduli.”

Ketiga,  merasa  bahwa  dirinya  adalah  orang  yang bodoh  dan  Allah  yang  Yang  Maha  Mengetahui. Seringkali para hamba yang dianugerahi ilmu oleh Allah  swt.  melupakan  bahwasannya  ilmu  itu hanya sekedar titipan Allah swt yang dapat diambil  kapanpun.  Lihatlah  ketika  seorang  professor, doctor,  cendekia  tetapi  terkena  struk  apa  yang dapat ia lakukan?

Keempat,  merasa  lemah  dan  hanya  Allah  Yang Maha  Kuat.  Sebagai  pelajaran  betapa  banyak legenda tentang kejayaan para raja yang berkuasa begitu  hebatnya,  tetapi  sekarang  hanya  tinggal dalam  kenangan  dan  catatan  sejarah  saja.  Bukankah  kekuatan  negara  adidaya  di  dunia  juga selalu silih berganti?

Adapun  gambaran  praktek  tawadhu  kepada sesama  dalam  kehidupan  sehari  sangatlah  bagus berpegang  pada  pesan  Syaikh  Abdul  Qadir  alJailani kepada muridnya bahwa

اذا لقيت أحدا من الناس رأيت الفضل له عليك وتقول عسى أن يكون عند الله خيرا منى وأرفع درجة, فإن كان صغيرا قلت هذا لم يعص الله وأنا قد عصيته فلا شك إنه خير منى, وإن كان كبيرا قلت هذا قد عبد الله قبلى, وإن كان عالما قلت هذا أعطي مالم أبلغ ونال مالم أنال وعلم ما جهلت وهو يعمل بعلمه, وإن كان جاهلا هذا أعصى الله بالجهل وأنا عصيته بالعلم ولا أدرى بما يحتمل لى ولا يحتمل له

Jikalau  kamu  berjumpa  dengan  seseorang  maka hendaklah  engkau  melihat  keunggulannya  dibanding  denganmu.  Dan  katakanlah  (dalam  hati) bahwa “orang itu lebih baik dari pada aku di mata Allah  swt”.  Maka  apabila  (kamu  berjumpa)  dengan anak kecil, hendaklah berkata (dalam hati) dia ini  belum  terlalu  banyak  maksiat  (karena umurnya lebih muda) dan otomatis dia lebih baik dari  pada  aku.  Dan  apabila  (kamu  berjumpa) dengan  orang  tua,  hendaklah  berkata  orang  ini telah  lama  beribadah  kepada  Allah  sebelum  aku (karena  umurnya  lebih  tua,  maka  dia  lebih  baik dia  dari  pada  aku).  Apabila  (kamu  berjumpa) dengan  seorang  yang  ‘alim,  hendaklah  berkata (dalam  hati)  dia  telah  diberi  sesuatu (pengetahuan)  yang  aku  belum  memilikinya  dan dia  telah  memperoleh  sesuatu  yang  aku  belum peroleh dan dia juga telah mengerti apa yang aku tidak  mengerti.  Dia  beramal  dengan  ilmunya (pastilah  lebih  diterima  amalnya  dari  padaku). Apabila  (kamu  berjumpa)  dengan  seorang  yang bodoh,  hendaklah  berkata  dia  maksiat  karena kebodohannya, sedangkan aku melakukan maksiat dengan ilmuku. Sungguh aku tidak tahu apakah aku lebih baik dari pada dia?.  (disarikan dari Buletin Jum’at NU edisi 118)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s