Memahami Bid’ah

Standar

Cover September 2015Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Mungkin suatu ketika Anda pernah mendengar kata-kata seperti “Jangan mengerjakan amalan tersebut, karena itu adalah bid’ah..!!”, “Itu bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat..!!”, “Jangan ikut pengajian kiai itu. Dia ahli bid’ah”, dan yang semisalnya.

Pada kesempatan kali, kita akan mengkaji hal ihwal tentang bid’ah. Apakah bid’ah itu? Apakah semua bid’ah pasti sesat? Apakah peringatan Maulid Nabi termasuk bid’ah dan sesat?

 

Pengertian bid’ah

Al-Imam Izzudin Abdul Aziz bin Abdissalam (577-660 H), seorang alim yang bermadzhab Syafi’i, menjelaskan bahwa bid’ah adalah mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikenal pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam, 2/172)

Sedangkan al-Imam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawi (631-676 H), hafidz dan faqih dalam madzhab Syafi’i, pengarang kitab Syarh Shahih Muslim dan Riyadh al-Shalihin, mendefinisikan bid’ah sebagai ‘mengerjakan sesuatu yang baru yang belum ada pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat, 3/22)

 

Apakah semua bid’ah pasti sesat?

Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Memang ada sebuah hadits riwayat Imam Muslim dan Abu Dawud yang berbunyi

فاِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Kalau kita belajar makna hadits hanya dengan modal terjemah, maka kita akan memahami teks hadits tersebut dengan “setiap bid’ah adalah sesat”. Oleh karena itu kita harus bertanya kepada ulama ahli hadits untuk memahami teks hadits tersebut. Al Imam an-Nawawi, seorang pakar hadits, pengarang kitab syarh Shahih Muslim dan Riyadhush Shalihin, menjelaskan

قوله ﷺ وكلّ بدعة ضلالة هذا عام مخصوص والمراد غالب البدعة

“Sabda Nabi ﷺ, ‘semua bid’ah adalah sesat’, ini adalah kata-kata umum yang dibatasi jangkauannya. Maksudnya, kebanyakan bid’ah itu sesat”. (Syarh Shahih Muslim, 6/154). Kemudian beliau juga menyampaikan bahwa bid’ah terbagi menjadi dua; bid’ah hasananh (baik) dan bid’ah qabihah (buruk). (Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, 3/22).

Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris al-Syafi’i (150-204 H), seorang mujtahid mutlak dan pendiri madzhab Syafi’i yang diikuti oleh mayoritas umat Islam di Asia Tenggara, berkata: “Bid’ah ada dua macam; Pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau al-Sunnah atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (bid’ah yang sesat). Kedua, seuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, al-Sunnah, dan Ijma’, dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (al Hafidz Baihaqi, Manaqib al-Imam al-Syafi’I, 1/469)

Lebih lanjut, al-Imam Izzudin Abdul Aziz bin Abdissalam (577-660 H) di dalam kitab Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam mengklasifikasikan bid’ah menjadi lima bagian.

  1. Bid’ah wajibah (bid’ah yang hukumnya wajib)

Sebuah bid’ah dihukumi wajib jika bid’ah tersebut masuk di dalam kaedah sesuatu yang wajib. Contohnya menekuni ilmu nahwu (gramatika bahasa Arab) sebagai sarana untuk memahami al-Qur`an dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Menjaga syari’at itu wajib dan tidak mungkin bisa menjaganya tanpa memahami ilmu nahwu. Sedangkan sesuatu yang menjadi sebab terlaksananya perkara yang wajib, maka hukumnya juga wajib.

  1. Bid’ah mandubah (bid’ah yang hukumnya sunnat)

Sebuah bid’ah dihukumi sunnat jika ia masuk ke dalam kaedah sunnat. Contohnya mendirikan madrasah-madrasah sebagai lembaga untuk mengkaji ilmu syariat, pelaksanaan shalat tarawih secara berjama’ah selama satu bulan penuh, dan setiap kebaikan yang belum pernah dilakukan pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

  1. Bid’ah mubahah (bid’ah yang hukumnya boleh)

Jika sebuah bid’ah masuk ke dalam kaedah mubah maka ia dihukumi mubah. Contohnya makan makanan yang enak, minum minuman yang lezat, memakai pakaian mewah, tinggal di rumah mewah, dan lain-lain.

  1. Bid’ah makruhah (bid’ah yang hukumnya makruh)

Contoh bid’ah yang masuk ke dalam kaedah makruh adalah memperindah bangunan masjid, menghiasi mushaf al-Qur`an.

  1. Bid’ah muharramah (bid’ah yang hukumnya haram)

Bid’ah muharromah adalah bid’ah yang bertentangan dengan syariat Islam. Contohnya ajaran Mu’tazilah (kelompok yang lebih mengedepankan akal dari pada nash), Mujassimah (kelompok yang menyamakan Allah dengan makhluk, bahwa Allah itu memiliki wajah, tangan, dan kaki seperti makhluk), dan berbagai macam bentuk kema’shiatan yang belum terjadi pada masa generasi awal.

Jadi secara umum, bid’ah itu terbagi menjadi dua bagian; (1) bid’ah yang buruk (madzmumah), yaitu bid’ah yang bertentangan dengan al-Qur`an, al-Sunnah, dan Ijma’, (2) bid’ah yang baik (hasanah), yaitu bid’ah yang memiliki dasar di dalam syari’at dan tidak bertentangan dengan al-Qur`an, al-Sunnah, dan Ijma’. Bahkan secara lebih rinci, bid’ah dapat diklasifikasikan ke dalam lima bagian sesuai hukum-hukum yang berlaku di dalam syari’at, yaitu; wajib, sunnat, mubah, makruh, dan haram.

 

Contoh-contoh Bid’ah Hasanah setelah Rasulullah wafat

  1. Penghimpunan al-Qur`an dalam Mushaf

Pada masa khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq terjadi perang Yamamah yang menelan banyak korban umat Islam yang merupakan para penghafal al-Qur`an. Melihat fenomena ini, sayyidina Umar bin Khaththab cemas dan kawatir. Beliau mengusulkan kepada khalifah Abu Bakar agar melakukan penghimpunan al-Qur`an. Pada awalnya Abu Bakar menolak dengan alasan hal tersebut belum pernah dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Setelah diyakinkan oleh sayyidina Umar, akhirnya khalifah Abu Bakar menyetujui usul mulia ini. Kemudian beliau membentuk panitia penghimpunan mushaf al-Qur`an yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Alhamdulillah, upaya tersebut berhasil dan disetujui oleh seluruh sahabat pada masa itu.

 

  1. Shalat Tarawih dengan berjama’ah selama satu bulan

Pada masa Nabi ﷺ belum pernah dilakukan shalat tarawih secara berjama’ah selama satu bulan Ramadhan. Beliau hanya mengerjakan qiyamullail pada malam bulan Ramadhan selama beberapa malam. Hal serupa juga terjadi pada masa khalifah Abu Bakar. Qiyamullail pada bulan Ramadhan dilakukan berpencar-pencar. Ada yang shalat sendirian. Ada juga yang berjama’ah. Kemudian pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, beliau mengumpulkan kaum muslim untuk melaksanakan shalat tarawih secara berjama’ah pada seorang imam. Pada waktu itu yang dipilih menjadi imam adalah sahabat Ubay bin Ka’ab. Shalat tarawih dikerjakan sebanyak 20 raka’at dan dilaksanakan di awal malam setelah shalat Isya’. Khalifah Umar berkata,

نعمت البدعة هذه

“Sebaik-sebaik bid’ah adalah ini”.

 

  1. Adzan Jum’at dua kali

Pada masa Rasulullah, khalifah Abu Bakar dan Umar, adzan shalat jum’at dikumandangkan satu kali pada saat imam telah duduk di atas mimbar. Pada masa khalifah Utsman bin Affan, kota Madinah menjadi semakin luas dan populasi penduduk meningkat. Untuk memberi tahu masyarakat bahwa waktu shalat juma’at akan segera tiba, sebelum imam naik ke atas mimbar, dan agar umat Islam tidak datang terlambat untuk shalat jum’at, khalifah Utsman memerintahkan agar dikumandangkan adzan (pertama) yang dilakukan di Zaura’, sebuah tempat di pasar kota Madinah. Sejak saat itu adzan shalat jum’at dikumandangkan dua kali; yang pertama sebelum imam naik ke atas mimbar, dan yang kedua setelah imam naik ke atas mimbar. Seluruh sahabat pada waktu itu menyetujui ijtihad beliau. Apa yang beliau lakukan tersebut termasuk bid’ah hasanah, karena adzan jum’at dua kali tersebut belum pernah dilakukan pada masa Nabi ﷺ. Pada hakikatnya, apa yang dilakukan oleh khalifah Utsman (juga khalifah Abu Bakar dan Umar) adalah termasuk sunnah berdasarkan sabda Nabi ﷺ

“Berpeganglah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang memperoleh petunjuk”.

 

  1. Pemberian titik dan harokat dalam penulisan mushaf al-Qur`an

Pada zaman Rasulullah ﷺ mushaf al-Qur`an ditulis oleh para sahabat dengan tanpa titik dan harokat. Begitu pula pada masa khalifah Abu Bakar, ketika al-Qur`an dihimpun dalam satu mushaf, ditulis dengan tulisan Arab kuno tanpa titik dan harokat. Bahkan ketika Khalifah Utsman menyalin mushaf menjadi 6 salinan dan dikirim ke berbagai kota besar seperti Basrah dan Mekah, mushaf al-Qur`an juga ditulis dengan tanpa titik dan harokat. Hal tersebut tidak bermasalah karena memang pada waktu itu agama Islam masih dipeluk oleh mayoritas bangsa Arab dan al-Qur`an diajarkan dan disebarluaskan dengan metode hafalan. Seorang guru membacakan beberapa ayat al-Qur`an kepada murid, lalu murid tersebut menghafalkannya. Kemudian ditambah, diulangi, ditambah, dimuroja’ah, ditambah, dan begitu seterusnya.

Pemberian titik dan harokat pada mushaf al-Qur`an dipelopori oleh Abul Aswad ad-Duali (w. 69 H/ 688 M), seorang pakar ilmu nahwu yang hidup pada masa Daulah Bani Umayyah. Upaya ini kemudian dilanjutkan dan disempurnakan oleh murid-murid beliau seperti Nasr ibn ‘Ashim (w. 707 M) dan Yahya ibn Ya’mur (w. th. 708 M). Pada waktu itu para ulama tidak menolaknya dan justru mendukung upaya-upaya tersebut karena memandang ada maslahat yang terkandung di dalamnya.

 

  1. Peringatan Maulid Nabi

Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad ﷺ dalam bentuk perayaan seperti yang dilakukan mayoritas umat Islam di Indonesia baru terjadi pada sekitar abad ke-enam hijriyah. Sebagian sejarahwan mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan perayaan maulid adalah Raja al-Muzhaffar Abu Sa’id Kukuburi bin Zainuddin Ali Buktikin (w. 630 H), Raja Irbil di Iraq. Para ulama menilai bahwa peringatan maulid Nabi ﷺ termasuk sesuatu yang baik karena di dalam kegiatan tersebut dibacakan sirah perjalanan hidup beliau ﷺ . Selain hal itu, peringatan maulid mendorong kita untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Dalam hal ini Syeikh Ibnu Taimiyah (661-728 H) mengatakan, “Mengagungkan maulid dan menjadikannya sebagai hari raya setiap musim dilakukan oleh sebagian orang. Ia akan memperoleh pahala yang sangat besar dengan melakukannya karena niatnya yang baik dan mengaungkan Rasulullah ﷺ sebagaimana telah aku sampaikan kepadamu.” (Iqtidha’ as-Shirath al-Mustaqim, hal. 297)

Selain itu al-Imam Jalaluddin al-Suyuthi (849 – 911 H), pakar ilmu al-Qur`an dan ilmu Hadits, di dalam kitab Husnul Maqsad fi Amalil Maulid berpendapat bahwa perayaan Maulid Nabi yang berupa berkumpulnya manusia dengan membaca al-Qur`an dan sejarah Nabi serta memakan hidangan makanan termasuk bid’ah yang baik (hasanah) yang mendapatkan pahala karena bertujuan mengagungkan Nabi Muhammad dan menampakkan kegembiraan terhadap kelahiran Nabi ﷺ.

Lebih lanjut, Prof. DR. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Imam ahlussunnah wal jama’ah abad 21, di dalam kitab Haulal Ihtifal bi Dzikrol Maulidin Nabawi as-Syarif menyatakan bahwa:

Pertama, peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba. Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati, karena kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?)

Kedua, beliau sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah pada hari itu atas nikmatNya yang terbesar kepadanya. Nabi ﷺ merayakan hari kelahiran beliau dengan berpuasa sunnah pada hari senin.

Ketiga, gembira dengan Rasulullah SAW adalah perintah AI-Quran. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.” (QS Yunus: 58). Jadi, Allah SWT menyuruh kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Nabi SAW merupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran, “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’: 107).

Keempat, peringatan Maulid nabi SAW mendorong orang untuk bershalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Ahzab 56, “Sesungguhnya Allah dan beserta para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya”.

Walhasil, peringatan maulid Nabi Muhammad ﷺ dalam bentuk perayaan seperti yang jamak dilakukan masyarakat Islam dewasa ini memang merupakan perkara baru yang belum dilakukan pada zaman Nabi. Namun karena secara esensi peringatan maulid justru sesuai dengan al-Qur`an dan al-Sunnah, serta kaidah-kaidah syariat, maka hal tersebut termasuk hal yang baik dan dianjurkan.

 

  1. Mendoakan guru di dalam shalat

Al-hafidz al-Baihaqi (384 – 458 H) meriwayatkan dari Ahmad bin al-Laits bahwa al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata; “Saya mendoakan al-Imam al-Syafi’i dalam shalat saya selama 40 tahun. Saya berdoa, ‘Ya Allah… ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan Muhammad bin Idris al-Syafi’i’.” (Manaqib al-Imam al-Syafi’i, 2/254)

Apa yang dilakukan oleh al-Imam Ahmad seperti itu adalah hal baru yang belum dilakukan pada masa Nabi ﷺ sehingga termasuk bid’ah. Namun karena berdoa secara umum adalah termasuk ibadah sunnah, apalagi mendoakan orang tua dan guru, maka yang dilakukan oleh al-Imam Ahmad tersebut adalah termasuk bid’ah hasanah, bid’ah yang baik dan dianjurkan.

Sudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Berdasarkan uraian ulama otoritatif yang kami nukil pendapatnya diatas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tidak semua bid’ah itu pasti sesat dan terlarang. Bid’ah yang sesat adalah bid’ah yang menyalahi aturan syariat, bertentangan dengan al-Qur`an, al-Sunnah, dan Ijma’. Sedangkan bid’ah yang berupa kebaikan secara umum dan memiliki landasan di dalam syariat serta tidak bertentangan dengan al-Qur`an, al-Sunnah, dan Ijma’ maka hal tersebut tidaklah dilarang. Bid’ah yang kedua ini disebut bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Semoga Allah ta’ala senantiasa melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. Wallohu a’lam bish-showab. (tj)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s