HUKUM KAWIN LARI

Standar

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh : Ust. Nur Kholis Majid,  S.HI, M.HI. Dosen Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya.  Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com / SMS langsung ke pengasuh : HP.  081703382149/081333359934  ———————————

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh :
Ust. Nur Kholis Majid, S.HI, M.HI. Dosen Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya.
Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com / SMS langsung ke pengasuh : HP. 081703382149/081333359934
———————————

Pertanyaan:

Assalamualaikum Wr.Wb. Ustadz, beberapa waktu yang lalu, ada rekan kerja (perempuan) saya yang bertanya tentang hukum kawin lari (tidak dihadiri oleh walinya)? Pasalnya, dia sudah lima tahun menjalin kasih asmara dengan seorang lak-laki yang dicintainya, namun karena ada beberapa faktor orang tuanya tidak merestui hubungan mereka berdua. Menurut teman saya, alasan yang dikemukakan oleh orang tuanya sangat tidak logis karena semata-mata pertimbangan fisik dan materi. Padahal, yang diprioritaskan olehnya adalah kesetiaan dan ketulusan dalam mencintainya. Bolehkah hal ini menjadi dasar untuk melakukan kawin lari (menikah ditempat lain dan tidak dihadiri oleh walinya) ? Atas jawabnnya disampaikan terima kasih.

Rizal

Waru – Sidoarjo

Jawaban:

Waalaikum Salam Wr.Wb. Mas Rizal yang dimulyakan oleh Allah, Dalam rangka untuk menjawab pertanyaan teman anda sebagaimana diatas, Penulis hendak menjawabnya dalam perspektif fikih (hukum Islam) dan hukum positif (UU perkawinan 1974), tanpa mengabaikan aspek moral dan etika, sebagai bahan pertimbangan sebelum memetuskan untuk melakukan kawin lari. Kawin lari merupakan fenomena sosial yang ditimbulkan dari adanya ketidak ikhlasan orang tua untuk menerima calon pendamping anaknya (calon menantu) dengan berbagai motif dan alasan baik yang bersifat fisik, ekonomi, keturunan, dan sebagainya. Jika merujuk kepada Hadis Nabi SAW, sejatinya beliau telah memberikan empat indikator dalam menentukan kriteria calon pasangannya, dan sekaligus beliau memberikan skala prioritas dari empat indikator tersebut. Empat indikator tersebut tersirat dalam Hadisnya sebagai berikut:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ[1]

Artinya: “Dari Abi Hurairah r.a., dari Nabi SAW beliau bersabda: “wanita dinikahi karena empat factor, yaitu harta, keturunan, raut wajah, dan agamanya. Utamakanlah agama, engkau akan beruntung”. (Shahih Bukhari, Juz XVII, hal. 127. Hadis No. 5090)

Pertimbangan fisik dan materi sebagaimana pertanyaan teman anda merupakan hal yang lumrah dan juga pernah terjadi di zaman Nabi SAW. Sebagai orang tua, tentu menginginkan calon yang terbaik bagi anaknya. Perhatikan Hadis Nabi SAW berikut:

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ كَانَتْ حَبِيبَةُ بِنْتُ سَهْلٍ تَحْتَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ وَكَانَ رَجُلاً دَمِيمًا. فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ لَوْلاَ مَخَافَةُ اللَّهِ إِذَا دَخَلَ عَلَىَّ لَبَصَقْتُ فِى وَجْهِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ فَرَدَّتْ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ قَالَ فَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم[2]

Artinya: “Dari Amr bin Syuaib, dari ayahnya, dari kakeknya, beliau berkata: Habibah binti Sahl menjadi istri Tsabit bin Qais bin Syammas (dia laki-laki yang buruk rupanya). Habibah berkata: Ya Rasul, demi Allah andai saja bukan karen takut kepada Allah jika ia masuk, maka aku akan meludahi wajahnya. Lalu Rasul menjawab: maukah engkau mengembalikan kebun yang diberi Tsabit bin Qais bin Syammas? Habibah menjawab: Ya. Lalu Habibah mengembalikannya, dan Rasul SAW menceraikan antara keduanya”. (Sunan Ibn Majah, Juz VI, hal 321. Hadis 2135)

Hadis Nabi SAW diatas merupakan kisah terjadinya khulu’ (permohonan cerai yang diajukan oleh istri) yang terjadi pertama kali di era Nabi SAW. Dan Hadis itu juga mengindikasikan adanya larangan untuk mengintimidasi dan intervensi yang dilakukan oleh orang tua dengan mengabaikan hak dan aspek psikologis anak. Subahanallah! Sangat bijak dan penuh dengan rasa kemanusiaan tindakan yang dilakukan oleh Rasul SAW sebagaimana gambaran diatas. Larangan tersebut mengingat adanya banyak problematika rumah tangga atau madarrah yang akan ditimbulkan dari adanya kawin paksa semisal tekanan psikologis, ketidakharmonisan dan lain sebagainya disamping juga karena adanya kemungkinan tidak terwujudnya kebahagiaan hakiki yang didasarkan cinta kasih antara keduanya yang selama ini menjadi impiannya. Bukankah kerelaan, keikhlasan dan ketulusan untuk mencintai pasangannya menjadi syarat mutlak untuk menggapai kebahagiaan hakiki dalam rumah tangga? Akankah impian tersebut menjadi sebuah kenyataan jika ikatan suci pernikahannya tidak didasarkan atas cinta kasih antara keduanya? Dalam hal ini, meskipun Penulis tidak mengatakan MUSTAHIL, tetapi nampaknya kebahagiaan yang bersifat abadi tersebut akan sulit terwujud. Atas dasar inilah, Pemerintah melalui Kementrian Agama telah mengaturnya melalui Undang-Undang Perkawinan tahun 1974 pasal 6 ayat 1 sebagaimana bunyi undang-undang berikut: “Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon memepelai”. Namun jika dikaitkan dengan konsep wali mujbir dalam konteks fikih, yang memberikan porsi dan otoritas yang sebesar-sebesarnya bagi orang tua untuk menentukan calon pendamping dari anaknya, hemat Penulis merupakan hal yang wajar, karena keinginan orang tua yang sangat kuat untuk menentukan calon yang terbaik bagi anaknya. Selain itu, orang tua yang sudah menjalani kehidupan rumah tangga terlebih dahulu tentu lebih memiliki sejumlah pengalaman yang mungkin belum dimiliki oleh anak sehingga orang tua merasa lebih tahu tentang seluk beluk rumah tangga. Meskipun demikian, orang tua tidak boleh mengabaikan hak anak dengan melakukan intervensi dan intimidasi demi kemaslahtan dan aspek psikologis anak. Oleh karenanya, Undang-Undang Perkawinan pasal 27 ayat 1 memberikan batasan dengan adanya kebolehan untuk mengajukan pembatalan perkawinan jika dilakukan atas dasar paksaan dan ancaman yang melanggar hukum.

Kedua, hubungannya dengan kawin lari (nikah tanpa dihadiri oleh wali), Jumhur fukaha (tiga madzhab) berpendapat bahwa nikah tersebut batal (tidak sah) berdasrkan Hadis Nabi SAW berikut:

عَنْ أَبِى مُوسَى أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِىٍّ     [3]

Artinya: “Dari Abi Musa, sesungguhnya Nabi SAW bersabda: tidak (sah) nikahnya seseorang tanpa ada wali”. (Sunan Abi Dawud, Juz VI, hal. 279. Hadis No. 2087)

Namun demikian, fukaha yang lain (Hanfiyah) menyatakan bahwa kawin lari (nikah tanpa dihadiri oleh wali) tetap sah, mengingat Hadis Nabi SAW sangat problematik (terputus sanadnya, ada perawi yang tidak tsiqah, dan lain-lain) sehingga tidak bisa dijadikan dasar atau hujjah. Selain itu, argumentasi mereka juga didasarkan kepada hasil analogi (qiyas). Jika seorang perempuan boleh melakukan transaksi jual beli dengan sendirinya, maka dalam konteks nika sekalipun juga diperbolehkan untuk menikahkan dirinya sendiri.

Terlepas dari persoalan khilafiyyah fiqhiyyah (perbedaan fikih), pernikahan seorang anak yang tidak dihadiri oleh walinya merupakan tindakan yang melawan etika dan moral. Bagaimana tidak, orang tua yang dengan penuh kasih sayang melahirkan, menyusui, merawat, hingga  membesarkannya, namun pada saat berlangsungnya akad nikah (ikatan suci), yang merupakan momentum yang penuh suasana haru dan bahagia, orang tua tidak mengetahui, menghadiri, dan menyaksikannya. Sebagai orang tua, tentu merasa kecewa dan marah. Inilah yang bisa menyebabkan murkanya Allah SWT. Sangat disayangkan jika momentum kebahagiaan ini harus ternodai dengan tidak hadirnya orang tua. Oleh karenanya, seharusnya kawin lari ini tidak dilakukan karena mencederai akahlaq dan etika anak kepada orang tua.

Demikian jawaban dan tanggapan Penulis perihal pertanyaan teman anda, semoga bermanfaat, amin!

 

 

[1] Shahih Bukhari, Juz XVII, hal. 127. Hadis No. 5090

[2] Sunan Ibn Majah, Juz VI, hal 321. Hadis 2135

[3] Sunan Abi Dawud, Juz VI, hal. 279. Hadis No. 2087

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s