TRADISI “HALAL BI HALAL”

Standar

Cover Agustus 2015DALAM LINTASAN SEJARAH, SUBSTANSI DAN LEGITIMASINYA DALAM PERSPEKTIF AGAMA

(Oleh: Nur Kholis Majid[1])

Jika kita menelusuri al-nusus al-shar‘iyyah (al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW) yang merupakan sumber pengetahuan dan pijakan bagi umat Islam, atau bahkan terhadap literatur keislaman, tentu kita tidak akan menemukan dalil atau statemen fukaha dan mufassir yang secara sarih (jelas) melegitimasi tradisi tersebut, lebih-lebih dalam tatanan teknisnya yang menyangkut waktu, cara pelaksanaannya, dan lain-lain. Dengan demikian, sudah bisa diprediksi bahwa tradisi tersebut merupakan tradisi yang ber ciri khaskan keislaman yang erat hubungannya dengan kebudayaan yang ada di suatu daerah. Oleh karenanya, keabsahan tradisi tersebut dalam sudut pandang agama, masih menjadi “pro-kontra” dikalangan umat Islam sendiri. Atas dasar inilah, Penulis memandang perlu untuk mengkaji secara lebih intens agar mendapatkan pemahaman yang rajih} dan menjadi pijakan bagi umat Islam dalam beramal.

  1. Tradisi “Halal Bi Halal” Dalam Lintasan Sejarah

Secara historis, tradisi “Halal Bi Halal” diadakan dan dilaksanakan pertama kali di era kepemimpinan Presiden Soekarno. Inisiatif dan gagasan tersebut muncul dari seorang ulama’ kharismatik yaitu K.H. Wachid Hasyim (ayah alm. K.H. Abdurrahman Wahid atau lebih akrab dengan sapaan Gus Dur). Pada mulanya, tradisi tersebut diadakan secara manual dan perseorangan pasca perayaan Idul Fitri dan dalam jangka waku yang cukup lama. Itupun, tujuannya untuk bersilaturrahim dan saling meminta maaf sering kali tidak terwujud karena keterbatasan waktu dan kesibukan masing-masing pejabat negara. Alasan dan pertimbangan inilah yang melatar belakangi munculnya tradisi “Halal Bi Halal” seperti yang yang berkembang di masyarakat hingga saat ini. Pelaksanaan acara “Halal Bi Halal” dalam bentuk ceremonial yang bersifat formal dalam suatu waktu dan tempat tertentu dipandang lebih efektif dan efisien, khususnya bagi masyarakat elite dan modern yang berdomisili di kota-kota besar. Pada moment itulah, pihak keluarga, kerabat, dan sahabat dapat hadir secara bersamaan dan saling melantunkan kalimat “minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir batin”.

  1. Substansi, dan Legitimasinya Dalam Perspektif Agama.

Pada prinsipnya, ibadah dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu:

  1. ‘Ibadah Mahdlah Muqayyadah (ibadah yang bersifat murni dan terikat tata caranya). Ibadah dalam kategori pertama ini bersifat tawqifi yang sudah ada tuntunannya dari al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW baik yang berkenaan dengan waktu, cara pelaksanannya, dan lain-lain. Pada bagian ini, umat manusia tidak diberikan peluang untuk melakukan intervensi baik menambah maupun menguranginya. Manusia hanya dituntu untuk mentaati sesuai dengan dicontohkan oleh Nabi SAW bersama para sahabatnya.
  2. ‘Ibadah Mutlaqah Ghairu Muqayyadah (ibadah yang bersifat mutlak dan tidak terikat tata caranya). Pada kategori kedua inilah, manusia diberikan peluang untuk berkreasi dan berinovasi sesuai dengan kehendaknya selagi tidak keluar dari koridar yang ada. Jenis ibadah yang kedua ini, Allah SWT dan RasulNya memberikan batasan secara umum, tetapi teknis dan pelaksanaannya diamanahkan kepada umat manusia. Kaitannya dengan tradisi “Halal Bi Halal”, yang substansi dan tujuannya adalah memperkuat ukhuwah islamiyah dan tali silaturrahim, sekaligus moment yang tepat untuk saling memaafkan antar umat Islam karena selama bulan Ramadlan umat Islam berjuang dan berjihad untuk membersihkan dan membebaskan diri dari haqqullah. Alangkah baiknya dan lebih sempurnanya jika umat Islam membersihkan diri dari haqqunnas (hak sesama manusia). Dengan demikian, tradisi tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam, karena as}lul amri (perintahnya) ada, namun teknis pelaksanaannya diatur oleh manusia, dan bahkan didukung oleh sejumlah teks keagamaan yang bersifat mujmal (umum) karena relevan dengan subtansi dan tujuan “Halal Bi Halal”. Jika demkian yang menjadi tujuan “Halal Bi Halal”, maka sangat selaras dengan firman Allah SWT dan Hadis Nabi SAW berikut:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ   [2]

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”. (Q.S. 3: (Ali Imran), 159  )

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ لَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ لِى يَا عُقْبَةُ بْنَ عَامِرٍ صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَأَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ وَاعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَكَ[3]

Artinya: “Dari ‘Uqbah bin ‘Amir beliau berkata: Saya bertemu dengan Rasul SAW, dan beliau bersabda kepada saya: Wahai ‘Uqbah bin ‘Amir, Sambunglah tali silaturrahim dengan orang yang memutus hubungan denganmu, bersedekahlah kepada orang yang meminta kepadamu, dan maafkanlah orang yang berbuat dzalim denganmu”. (Musnad Ahmad, Juz 30, hal. 405. Hadis No. 17915)

[1] Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya

[2] Q.S. 3: (Ali Imran), 159

[3] Musnad Ahmad, Juz 30, hal. 405. Hadis No. 17915

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s