Tunaikanlah Zakat

Standar

Cover Juli 2015 وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَارْكَعُواْ مَعَ الرَّاكِعِينَ

Artinya: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk”. (QS. Al-Baqarah [2]: 43)

Ayat ini adalah salah satu dari 28 ayat di dalam al-Qur`an yang menyebutkan kewajiban membayar zakat sejajar dengan kewajiban melaksanakan shalat. Saking pentingnya ibadah zakat ini, Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq pernah berkata:

“Demi Allah akan kuperangi orang yang membedakan antara shalat dengan zakat. Karena zakat adalah hak Allah atas harta. Demi Allah jika ada orang yang enggan membayar zakat di masaku, padahal mereka menunaikannya di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, akan ku perangi dia’.

Dan benar. Sejarah mencatat bahwa Khalifah Abu Bakar memerangi orang-orang murtad dan orang-orang yang tidak mau membayar zakat.

Selain menggunakan lafadz “zakat”, untuk menyebut ibadah maliyah (ibadah harta) yang difardlukan pada tahun ke-dua Hijriyah ini juga digunakan lafadz  “shadaqah” (at-Taubah: 103), “haqq” (al-An’am: 141), “nafaqah” (at-Taubah: 35), dan “al-‘afwa” (al-A’rof: 199). Walhasil, membayar zakat adalah kewajiban bagi umat Islam dan merupakan salah satu rukun Islam yang lima.

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ. [رواه الترمذي ومسلم ]

“Agama Islam dibangun diatas lima perkara; Persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadlan.” (HR. at-Tirmidzi dan Muslim)

Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.

Seandainya ada seorang raja yang hendak memberikan uang kepada seseorang sebesar satu juta rupiah dengan syarat orang tersebut harus menyisihkan yang lima puluh ribu rupiah dan memasukkannya ke kotak infaq di masjid, apakah Anda mau menjadi seseorang tersebut? Apakah Anda bersedia menerima uang satu juta dan menyisihkan yang lima puluh ribu untuk kotak infaq di masjid? Kalau saya tentu bersedia. Toh masih sisa Rp 950.000 yang bisa saya gunakan untuk berbagai macam keperluan.

Saudaraku yang semoga dijaga oleh Allah ta’ala.

Siapakah yang memberi kita rezeki? Siapakah yang memberi kita tangan, kaki, dan akal pikiran hingga kita bisa menggunakannya untuk mencari rezeki di atas bumi ini? Siapa pula yang menciptakan langit, bumi, dan seisinya yang kita gunakan untuk hidup sampai hari ini? Benar..!! Dialah Allah yang Maha Pencipta dan Pemberi Rezeki.

Oleh karena itu, ketika Allah ta’ala Sang Pemberi Rezeki memerintahkan kita untuk membayar zakat, mengapa kita masih enggan? Padahal harta yang dibayarkan untuk zakat itu “sangat kecil” prosentasenya jika dibandingkan dengan keseluruhan rezeki yang Allah ta’ala berikan kepada kita. Misalnya:

  1. Jika kita mempunyai emas seberat 100 gram, maka yang wajib dibayarkan untuk zakat adalah 2,5 % nya saja, yaitu 2,5 gram.
  2. Jika kita memiliki penghasilan tetap sebesar Rp 10.000.000 per bulan, maka yang wajib dibayarkan untuk zakat adalah 5 % nya saja (diqiyaskan kepada zakat tanaman), yaitu 500 ribu rupiah.
  3. Zakat fitrah hanya berupa beras (atau makanan pokok) seberat 2,5 kg (seharga Rp 25.000 – Rp 30.000) dibayar sekali dalam setahun.

Selain prosentase harta yang wajib dibayarkan untuk zakat itu sangat kecil, Allah ta’ala juga menjanjikan berbagai keutamaan dan manfaat bagi orang yang bersedia membayar zakat. Diantaranya adalah

  1. Mendapatkan rahmat dari Allah ta’ala

Menunaikan zakat adalah salah satu perantara untuk mendapatkan rahmat (kasih sayang) dari Allah ta’ala.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS At-Taubah [9]: 71)

  1. Membersihkan jiwa dan harta

Zakat yang kita bayarkan akan membersihkan jiwa kita dari penyakit bakhil dan membersihkan harta kita dari hal-hal yang syubhat (tidak jelas halal dan haramnya).

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS At-Taubah [9]: 103)

  1. Harta terjaga, berkembang dan barokah

Sepanjang pengetahuan saya, dan hal ini juga bisa Anda buktikan sendiri, tidak ada orang yang usahanya bangkrut dan jatuh miskin karena membayar zakat. Justru sebaliknya, zakat yang dikeluarkan tersebut akan menjaga harta orang yang berzakat (muzakki). Lebih lanjut orang yang istiqomah membayar zakat dan juga infaq serta shadaqah, usahanya semakin lancar dan berkembang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Jagalah harta kalian dengan zakat dan obatilah orang sakit kalian dengan shadaqah.” (HR. Abu Dawud dan Ath-thabrani)

Firman Allah ta’ala:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 261)

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 276)

  1. Menjadi penghuni surga

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, ada seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, beritahu aku amalan yang jika aku mengerjakannya, aku akan masuk surga’ Beliau bersabda, ‘Beribadahlah kepada Allah dan jangan berbuat syirik, dirikanlah shalat, bayarlah zakat yang diwajibkan, dan berpuasalah di bulan Ramadlan.’ Badui itu berkata, ‘Aku tidak akan menambah amalan selain itu.’ Tatkala orang Badui itu beranjak keluar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Siapa yang ingin melihat penghuni surga, lihatlah orang ini.’ (Muttafaqun ‘alaih)

Ancaman bagi orang yang enggan membayar zakat

Saudaraku yang semoga dijaga oleh Allah ta’ala.

Prosentase harta yang dibayarkan untuk zakat itu sangat kecil. Ditambah lagi ada banyak keutamaan dan manfaat yang bisa diperoleh dari membayar zakat. Oleh karena itu jika ada orang yang diberi rezeki yang berlimpah oleh Allah ta’ala namun dia enggan membayar zakat, maka pantas dia disebut sebagai orang pelit, kikir, dan bakhil. Orang-orang semacam ini diancam akan mendapatkan sisksa yang pedih kelak di akhirat. Berikut beberapa ancaman siksa yang pedih bagi orang-orang yang tidak mau menunaikan kewajiban zakat.

“Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa diberi harta oleh Allah, lalu dia tidak menunaikan (kewajiban) zakatnya, pada hari kiamat hartanya dijadikan untuknya menjadi seekor ular jantan aqra’ (yang kulit kepalanya rontok karena di kepalanya terkumpul banyak racun), yang berbusa dua sudut mulutnya. Ular itu dikalungkan (di lehernya) pada hari kiamat. Ular itu memegang (atau menggigit tangan pemilik harta yang tidak berzakat tersebut) dengan kedua sudut mulutnya, lalu ular itu berkata,’aku adalah hartamu, aku adalah simpananmu’. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca (firman Allah ta’ala,QS. Ali Imran: 180) ’Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil menyangka…dst’.” (HR Bukhari II/508 no. 1338)

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil (kikir) dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di lehernya kelak pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180).

Suatu ketika sahabat Abu Dzar al-Ghifari berkata: “Sampaikan kepada para penumpuk harta akan seterika-seterika api neraka..!!”

“…. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35)

Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Marilah kita membayar zakat. Semoga kita selamat di dunia dan akhirat. Semoga Allah ta’ala senantiasa melimpahkan taufiq-Nya kepada kita dan keluarga. Amin.

[tj]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s