HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADHAN

Standar

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh : Ust. Nur Kholis Majid,  S.HI, M.HI. Dosen Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya.  Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com / SMS langsung ke pengasuh : HP.  081703382149/081333359934  ———————————

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh :
Ust. Nur Kholis Majid, S.HI, M.HI. Dosen Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya.
Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com / SMS langsung ke pengasuh : HP. 081703382149/081333359934
———————————

Pertanyaan:

Assalamualaikum Wr.Wb. Ustadz yang terhormat, beberapa hari lagi, bulan Ramadlan akan tiba. Tentu, umat Islam di sentero dunia merasa bahagia dengan kehadirannya yang sudah dalam pennatian, dan akan menjalankan ibadah puasa di bulan suci tersebut. Disisi lain, tak sedikit pula umat Islam yang tidak menjalankan ibadah puasa di bulan suci tersebut baik karena faktor kesehatan, masyaqqah, dan udzur syar’i yang lain, dan ada pula yang sengaja meninggalkannya tanpa alasan dan sebab yang masyru’ah (dibenarkan secara syariat). Oleh karenanya, saya ingin bertanya ustadz, bagaimana hukum meninggalkan puasa Ramadlan dengan tanpa sebab atau alasan yang syar’i? dan sanksi apa yang bisa dijatuhkan kepadanya? Atas jawabannya disampaikan Jazakumullah Ahsanal Jaza’, Amin

Robi

Sedati-Sidoarjo

Jawaban:

Waalaikum Salam Wr.Wb. Mas Robi yang dimulyakan Allah SWT. Melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadlan termasuk salah satu rukun Islam dan merupakan kewajiban bagi seluruh umat Islam yang sudah mencapai usia baligh dan terkena taklif syar’i. Kewajiban tersebut sebagaimana tersurat dalam teks Syar’i berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ[1]

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Dan Hadis Nabi SAW ketika menjawab pertanyaan  Malaikat Jibril sebagaimana berikut:

 

… فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِىَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلاً. قَالَ صَدَقْتَ[2]

Artinya: “…Lalu Rasul SAW menjawab: “Islam ialah bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah utusanNya, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan Haji ke Baitullah jika memiliki kemampuan. Jibril menjawab: benar”.

Oleh karena berpuasa di bulan suci Ramadlan itu termasuk salah satu rukun Islam sebagaimana tergambar dalam makna teks shar’i diatas, maka pengingkaran terhadapnya tentu akan berkonsekuensi bagi siapapun yang melanggarnya. Konsekuensi atau sanksi yang dimaksud sesuai dengan pelanggaran yang dilakukannya. Artinya, jika orang tersebut meninggalkan puasa karena rasa malas tetapi hati nuraninya tetap berkeyakinan bahwa berpuasa di bulan Ramadlan itu merupakan kewajiban baginya, maka dia tetap berstatus sebagai seorang muslim namun fasiq (pelaku dosa besar). Konsekuensi dari status keIslamannya tersebut, dia berhak diperlakukan sebagaimana muslim pada umumnya. Jika suatu saat dia kembali ke pangkuan Allah SWT, maka umat Islam wajib untuk melaksankan shalat jenazah atasnya, dikafani, dimandikan, dan dimakamkan bersama orang-orang Islam lainnya. Dalam konteks inilah, seharusnya orang yang meninggalkan puasa Ramdlan tersebut diminta untuk bertaubat terlebih dahulu dengan harapan semoga Allah SWT memberikan hidayah atasnya.

Dan jika orang yang meninggalkan puasa Ramadlan tersebut atas dasar keyakinan dalam hatinya, maka dia berstatus sebagai orang yang murtad (keluar) dari Islam. Dalam keadaan seperti inilah, dia tetap diminta untuk bertaubat kepada Allah SWT agar melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadlan. Jika dia tetap berkeyakinan bahwa puasa Ramadlan bukanlah sebuah kewajiban atasnya, maka dia boleh dibunuh sebagai hukuman atasnya dan konsekuensi dari kekafirannya. Oleh karena dia berstatus sebagai (murtad), maka dia tidak boleh diperlakukan sebagaimana umat Islam pada umunya (tidak boleh dishalati, dimandikan, dan dimakamkan secara terpisah dengan umat Islam lainnya).

Demikian jawaban Penulis terhadap pertanyaan anda, semoga kita termasuk orang-orang yang setia melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadlan secara istiqamah, dan semoga tulisan bermanfaat, amin !

[1] Q.S. al-Baqarah: 183

[2] Sahih Muslim, Juz I, Hal. 28. Hadis No. 102

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s