Wanita Menstruasi, Bolehkah di Masjid?

Standar

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh : Ust. Nur Kholis Majid,  S.HI, M.HI. Dosen Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya.  Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com / SMS langsung ke pengasuh : HP.  081703382149/081333359934  ———————————

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh :
Ust. Nur Kholis Majid, S.HI, M.HI. Dosen Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya.
Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com / SMS langsung ke pengasuh : HP. 081703382149/081333359934
———————————

Pertanyaan:

Ass. Wr. Wb. Ustadz, saya seorang anggota majelis ta’lim yang aktif mengikuti kegiatan pengajian, istighotsah dan dzikr bersama yang seringkali diadakan di dalam masjid. Sebagai kaum hawa, secara fitrah alamiah, adakalnya sedang mengalami menstruasi (haidl). Nah, Bagaimana hukum berdiam diri di masjid bagi wanita yang sedang haidl? Bolehkah?

 

Hanifah

Sidoarjo

 

Jawaban:

 

                Waalaikum salam Wr.Wb. Mbak Hanifah yang dirahmati Allah SWT, memang secara naluri dan kebiasaannya, para setiap bulannya seorang wanita yang masih belum mencapai usia monopouse akan mengalami masa menstruasi secara rutinitas. Dan hal tersebut merupakan takdir dan kodrat seorang wanita yang ditetapkan atas dasar iradah ilahiyyah. Oleh karenanya, tidak perlu risau dan cemas dengan peristiwa tersebut karena memang akan berjalan secara alami. Namun, ada sejumlah rangkaian ibadah yang tidak bisa dilakukan oleh seorang wanita yang sedang menstruasi semisal shalat, puasa, dan lain-lainnya, termasuk salah satunya ialah berdiam diri di masjid, meskipun hal ini masih menjadi khilafiyyah (perbedaan pandangan) di kalangan fukaha, sebagaimana dalam teks berikut ini:     

(فرع) في مذاهب العلماء في مكث الجنب في المسجد وعبوره فيه بلا مكث: مذهبنا انه يحرم عليه المكث في المسجد جالسا أو قائما أو مترددا أو على أي حال كان متوضأ كان أو غيره ويجوز له العبور من غير لبث سواء كان له حاجة أم لا وحكي ابن المنذر مثل هذا عن عبد الله ابن مسعود وابن عباس وسعيد بن المسيب والحسن البصري وسعيد بن جبير وعمرو بن دينار ومالك وحكي عن سفيان الثوري وأبي حنيفة وأصحابه واسحاق ابن راهويه أنه لا يجوز له العبور الا ان لا يجد بدا منه فيتوضأ ثم يمر وقال احمد يحرم المكث ويباح العبور لحاجة ولا يباح لغير حاجة قال ولو توضأ استباح المكث: وجمهور العلماء علي ان الوضوء لا أثر له في هذا وقال المزني وداود وابن المنذر يجوز للجنب المكث في المسجد مطلقا[1]

Artinya: “(Cabang) beberapa pandangan ulama’ tentang hukum berdiam diri dan melewati masjid tanpa berdiam diri: Menurut kami, haram bagi orang yang sedang junub untuk tinggal di masjid baik duduk, berdiri, atau bolak-balik atau dalam keadaam apapun, baik berwudlu’ ataupun tidak. Boleh baginya untuk melewati masjid tanpa berdiam diri baik karena hajah (kebutuhan) ataupun tidak. Ibn Mundzir menceritakan hal seperti ini juga dari Abdullah ibn Mas’ud, Ibn Abbas, Said bin Musayyab, Hasan Basri, Said bin Jubair, Amr bin Dinar, dan Malik. Dan diceritakan pula dari Sufyan al-Tsauri, Abi Hanifah dan pengikutnya, Ishaq bin Rawaih, sesungguhnya tidak boleh melewati masjid tanpa ada kebutuhan dan berwudlu’ terlebih dahulu. Imam Ahmad berpendapat, haram bagi orang yang sedang junub untuk berdiam diri di masjid, dan boleh melewatinya jika ada hajah (kebutuhan) dan sebaliknya tidak boleh jika tidak ada hajah (kebutuhan). Beliau berpendapat, jika berwudlu’ maka hukumnya boleh, dan mayoritas ulama’ berpendapat bahwa wudlu tidak berpengaruh pada boleh dan tidaknya berdiam diri di masjid. Berkata al-Muzni, Daud, dan Ibn Mundzir bahwa orang yang sedang junub boleh berdiam diri di masjid secara mutlak”.

 

Paparan diatas telah cukup menjadi bukti yang tak terbantahkan bahwa hukum berdiam diri di masjid bagi perempuan yang sedang menstruasi masih menjadi perdebatan diantara fukaha. Oleh karenanya, Islam sebagai agama yang menghendaki adanya kemudahan dan kemaslahatan bagi umat, tentunya kita dituntut selektif untuk memilih pendapat yang lebih mengedepankan aspek kemaslahatan. Menurut hemat Penulis, perempuan yang sedang menstruasi diperbolehkan berdiam diri di masjid, terlebih melakukan serangkaian aktifitas yang bermanfaat baik sifatnya personal (meningkatkan spiritualitas) maupun sosial-komunal (mempererat tali silaturrahim) semisal berdzikir dan lain sebagainya, dengan catatan ada jaminan untuk menjaga diri agar darah haidt tersebut tidak menetes di masjid sehingga dapat mengakibatkan najisnya tempat tersebut. Dengan demikian, hendaknya menggunakan pembalut atau instrument lainnya yang bisa memproteksi darah agar tidak menetes. Pendapat ini didasarkan kepada Hadis Nabi SAW sebagaimana berikut:

 

عَنْ عُرْوَةَ أَنَّهُ سُئِلَ أَتَخْدُمُنِي الْحَائِضُ أَوْ تَدْنُو مِنِّي الْمَرْأَةُ وَهِيَ جُنُبٌ ؟ فَقَالَ عُرْوَةُ كُلُّ ذَلِكَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَكُلُّ ذَلِكَ تَخْدُمُنِي وَلَيْسَ عَلَى أَحَدٍ فِي ذَلِكَ بَأْسٌ أَخْبَرَتْنِي عَائِشَةُ أَنَّهَا كَانَتْ تُرَجِّلُ تَعْنِي رَأْسَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَهِيَ حَائِضٌ وَرَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ حِيْنَئِذٍ مُجَاوِرٌ فِي الْمَسْجِدِ يُدْنِي لَهَا رَأْسَهُ وَهِيَ فِي حُجْرَتِهَا فَتُرَجِّلُهُ وَهِيَ حَائِضٌ[2]

Artinya: “Dari Urwah, beliau ditanya: apakah perempuan yang sedang haidh atau wanita yang sedang junub boleh mendekatiku? Berkata Urwah, semua itu  (sedang haidl atau junub) sama-sama bisa, dan bisa melayani saya, dan tidaklah berdosa meskipun sedang haidl atau junub. Aisyah mengabarkan kepadaku bahwa beliau menyisir rambut Rasul SAW padahal beliau dalam keadaan haidl, dan pada saat itu Rasul SAW sedang i’tikaf di masjid dengan menaruh kepalanya dipangkuan Aisyah, lau Aisyah menyisirnya meskipun dalam keadaan haidl”.

 

Selain Hadis Nabi SAW diatas sebagai rujukan, Penulis juga lebih sepakat bahwa keharaman untuk berdiam diri di masjid bagi perempuan yang sedang menstruasi adalah dengan menggunakan azas kehati-hatian, dan untuk menghormati masjid sebagai institusi  terhormat dan manjadi sentral peribadatan umat Islam pada umumnya. Pendapat Penulis ini menggunakan dasar Hadis Nabi SAW berikut:

.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم لَقِيَهُ فِي بَعْضِ طَرِيْقِ الْمَدِيْنَةِ وَهُوَ جُنُبٌ فَانْخَنَسْتُ مِنْهُ فَذَهَبَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ ( أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ) قَالَ كُنْتُ جُنُبًا فَكَرِهْتُ أَنْ أُجَالِسَكَ وَأَنَا عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ فَقَالَ ( سُبْحَانَ اللهِ إِنَّ الْمُسْلِمَ لاَ يَنْجُسُ[3]

Artinya: “Dari Abi Hurairah, bahwa sesungguhnya Nabi SAW bertemu dengannya (Abu Hurairah) di jalan-jalan kota sedangkan dia (Abu Hurairah) dalam keadaan junub. Lalu aku pergi dari Abu Hurairah, dan dia (Abu Hurairah) pergi dan mandi, dan kemudian datang kembali. Nabi SAW bertanya: dimana kamu Abu Hurairah? Beliau (Abu Hurairah) menjawab: saya dalam keadaan junub dan aku tidak suka bersanding denganmu dalam keadaan tidak suci (berhadats). Nabi SAW menjawab: “Maha Suci Allah SWT, sesungguhnya orang yang beragama Islam itu tidak najis”.

 

Hadis diatas riwayat Abu Hurairah mengindikasikan adanya aspek moralitas yang dikedepankan dalam pengharaman bagi perempuan menstruasi untuk berdiam diri di masjid. Jika menjauhkan diri untuk tidak duduk bersanding dengan Nabi SAW pada saat junub saja dilakukan oleh sahabat, semestinya berdiam diri di masjid dalam keadaan berhadats lebih dihindari mengingat masjid yang nota benenya rumah Allah (Baitullah) yang suci nan terhormt. Atas dasar inilah, Penulis tetap menghimbau untuk selalu dalam keadaan suci (tidak berhadats) pada saat berdiam diri di masjid kecuali situasi dan kondisi tertentu yang sifatnya mendesak. Demikian jawaban dan tanggapan Penulis, semoga bermanfaat, amin!

[1] al-Nawawi, al-Majmu’ Juz II, hal. 160.

[2] al-Bukhari, Sahih Bukhari, juz I, hal. 114. Hadis No. 292

[3] al-Bukhari, Sahih Bukhari, Juz I, hal. 109. Hadis No. 279

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s