LA TAHZAN

Standar

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sungguh Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Jangan bersedih, sungguh Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah, dan seruan Allah-lah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah [09]:40)

Sebelum membaca uraian ini lebih lanjut, saya mohon Anda membaca penggalan ayat di atas dengan suara sedikit nyaring sebanyak tiga kali: “La tahzan innallaha ma’ana” (Jangan bersedih. Sungguh Allah bersama kita). Inilah firman Allah yang menjelaskan perjalanan hijrah Nabi SAW ke Madinah yang memerlukan bekal fisik dan mental baja. Ayat ini sekaligus menggambarkan betapa semua tantangan itu dilalui dengan tenang dan optimisme oleh Nabi SAW dan pengawalnya, Abu Bakar As Shiddiq r.a.

Nasehat Nabi SAW kepada Abu Bakar r.a: “La tahzan innallaha ma’ana” disampaikan ketika mereka dalam persembunyian di sebuah gua di bukit Tsur. Saat itu Nabi melihat Abu Bakar cemas dan ketakutan setelah ia melihat kaki para algojo sebagai perwakilan dari semua etnis Makkah untuk mengejar dan membunuh Nabi SAW. Peristiwa itu terjadi antara hari Kamis sampai Senin tanggal 1-4 Rabiul Awal tahun ke 53 dari kelahiran Nabi SAW atau tanggal 24-27 September 622 M. Setelah tiga malam di gua, barulah mereka melanjutkan perjalanan ke Madinah.

Sebenarnya Nabi SAW sangat mencintai Makkah sebagai tanah kelahirannya. Ia berkata, “Demi Allah, engkau adalah tempat yang paling aku muliakan. Andaikan pendudukmu tidak mengusirku, aku tidak akan meninggalkanmu.” Keberangkatan Nabi SAW ke Madinah dilakukan atas perintah Allah SWT karena tindakan orang-orang kafir di Makkah sudah sangat membahayakan jiwa Nabi SAW.

Mengapa Nabi SAW memilih Abu Bakar a.s sebagai pengawal? Sebab ia sahabat yang sudah terbukti kesetiannya kepada Nabi SAW dan itulah yang sangat dibutuhkan untuk perjalanan jauh yang memerlukan suport mental dan finansial. Dialah juga sahabat yang pertama kali masuk Islam, kaya raya dan amat dermawan. Dialah yang juga mengerahkan semua anggota keluarganya untuk mendukung perjuangan Nabi SAW.

Dalam perjalanan dari Makkah menuju ke gua, Abu Bakar kadang berjalan di muka Nabi agar menjadi tameng bagi penyerang dari muka, dan sesekali di belakangnya agar bisa menghalau para pengejarnya. Nabi SAW bertanya, “Jadi kamu lebih suka mati lebih dulu? Abu Bakar r.a menjawab, “Demi Allah yang mengutusmu untuk kebenaran, betul demikian wahai Nabi.” Ia menambahkan, “Jika aku yang terbunuh, hanya seorang yang mati. Tapi jika engkau yang terbunuh, maka umat dan agama ikut binasa.”

Abu Bakar r.a sudah lama mengharap Nabi segera meninggalkan Makkah demi keselamatan jiwanya, bahkan sudah menyiapkan dua ekor unta terbaik untuk sewaktu-waktu dibutuhkan. Maka ketika mendengar berita adanya perintah hijrah, Abu Bakar r.a sangat senang dan menyuruh Nabi SAW untuk memilih satu dari dua unta tersebut. Semua biaya perjalanan termasuk upah untuk penunjuk jalan ditanggung sepenuhnya oleh Abu Bakar r.a. Ia juga memerintahkan putrinya, Asma’ binti Abu Bakar untuk mengirim makanan setiap malam ke gua yang dimasukkan ke ikat pinggangnya. Kegesitan Asma’ dalam perjuangan inilah yang menjadi inspirasi bagi semua wanita muslimah untuk tampil dalam kiprah dakwah dengan peran masing-masing sesuai dengan kodratnya. Sejarah telah mengukir dengan tinta emas peran para wanita muslimah dalam sejarah pengembangan Islam. Bangkitlah para wanita muslimah!

Ucapan Nabi SAW, “La tahzan innallaha ma’ana” sangat menyejukkan Abu Bakar r.a dan benar-benar menyemangatinya. Para malaikat dikirim Allah menuju gua tempat persembunyian Nabi SAW agar membuat sarang laba-laba dan mengaburkan penglihatan para pengejar Nabi. Begitulah antara lain cara Allah SWT menolong hamba-Nya. Mengingat jasa Abu Bakar r.a sebagaimana disebut di atas, maka pantaslah ia diabadikan dalam Al Qur’an sebagai dua sejoli (tsaniya isnayni) dengan Nabi SAW. Kesatuan jiwa Nabi SAW dengan Abu Bakar masih kita saksikan sampai sekarang melalui letak makam mereka berdua yang berdampingan di dalam Masjid Madinah.

Ayat di atas memberi dua pesan penting kepada kita. Pertama, seorang pemimpin harus tetap tenang sekalipun keadaan amat genting agar para pengikutnya tidak cemas. Ia harus tetap menyemangati pengikutnya. Ucapan pemimpin, “La tahzan innallaha ma’ana” yang bisa diterjemahkan secara bebas, “Tenang, jangan cemas. Allah SWT tetap menyertai langkah kita” pasti memberi motivasi yang luar biasa bagi pengikutnya. Masyarakat yang dipimpin pasti akan kehilangan semangat perjuangan jika pada saat-saat sulit, seorang pemimpin misalnya mengatakan, “Kita bingung dan tidak tahu apa yang harus kita lakukan menghadapi kesulitan ini.” Spirit dan keberanian pempimpin akan menular kepada pengikutnya. Demikian juga sebaliknya. Nasehat “La tahzan innallaha ma’ana” harus lebih sering diucapkan oleh orang tua kepada anak-anaknya, guru kepada pada para muridnya, suami kepada istrinya, kepala kantor kepada anak buahnya, dan semua orang di sekeliling kita.

Kedua, Allah SWT telah menyiapkan jutaan malaikat untuk menolong hamba-Nya yang mengalami kesulitan. Tidak hanya untuk nabi, tapi juga untuk semua hamba-Nya, asalkan ia tetap beriman kepada Allah dan meyakini kepastian pertolongan-Nya. Anda tidak perlu bertanya bagaimana cara Allah memberi pertolongan. Allah SWT tidak akan menolong orang yang meragukan pertolongan-Nya. Ucapan “La tahzan innallaha ma’ana” adalah sebuah ekspresi keyakinan kepada Allah. Oleh sebab itu, semakin Anda yakin dengan ucapan itu, semakin banyak malaikat yang dikirim Allah untuk menolong Anda.

Sebagai penutup tulisan, ucapkan “La tahzan innallaha ma’ana” berkali-kali, lalu tulis dan tempelkan di tembok untuk menyemangati hidup Anda, keluarga dan semua orang di sekeliling Anda.  (Sumber : Hamka, Tafsir Al Azhar juz X: 214, M. Qureish Shihab, Tafsir Al Misbah volume 5, p. 104-112, Moh. Ali Aziz, Hijrah Nabi, p. 3). (http://www.terapishalatbahagia.net/la-tahzan/)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s