BERDIRI DI ATAS API

Standar

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Sungguh, Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin (pendatang di Madinah) dan orang-orang anshar (penduduk asli Madinah) yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati sebagian dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (QS. At Taubah [09]:117)

 

Ayat di atas merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya tentang perang Tabuk, perang melawan tentara Romawi. Inilah perang dengan persiapan paling berat bagi Nabi SAW. Dalam ayat yang dikutip di atas, Allah SWT menyebut suasana perang itu dengan kata sa’atil ‘usrah (masa sulit). Itulah masa paceklik, musim buah mulai gugur karena pergantian musim panas ke musim gugur, udara panas luar biasa, minim perbekalan, sampai kurma harus dihemat-hemat selama perjalanan. Kendaraan perang juga terbatas: satu unta harus dikendarai dua sampai tiga orang untuk menempuh perjalanan yang sukar dan jauh dari Madinah.

Umar bin Khattab menggambarkan derita Tabuk sebagai berikut, “Ketika istirahat di suatu tempat, kami sangat haus, tenggorokan kami rasanya hampir putus dan tidak ada air setetespun. Satu-satunya cara adalah menyembelih unta, agar bisa mengambil air yang tersimpan di lambungnya, dan itulah yang kami lakukan. Melihat tentara sudah semakin tidak kuat menahan haus, Abu Bakar memohon Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, Tuhanmu telah menjamin doamu dikabulkan. Berdoalah agar Allah menurunkan hujan.” Andaikan tidak seberat itu derita yang dirasakan, tentu Abu Bakar tidak minta demikian kepada Nabi SAW. Nabi mengangkat tangan berdoa, lalu tidak lama setelah menurunkan tangannya, turunlah hujan deras. Dengan riang gembira, para tentara minum dan mengisi kantong-kantong air. Setelah semua kantong terpenuhi, berhentilah hujan. Ajaib, ternyata hujan itu hanya di sekitar Nabi SAW.”

Dalam perang dengan perbekalan terbatas menghadapi kekuatan musuh yang jauh lebih kuat itu, tidak sedikit orang Islam yang menolak secara terang-terangan ikut perang. Ada juga yang berangkat dengan setengah hati, menggerutu dan pulang di tengah perjalanan. Tapi, ada juga penduduk asli Madinah (anshar) dan pendatang di Madinah (al muhajirin) yang sepenuh hati mengikuti nabi sekalipun harus “berjalan melintasi api.” Orang-orang pilihan inipun hampir saja tergoda untuk desersi, mengingat beratnya tantangan. Keraguan dan pesimisme menjalani derita perang itulah yang mereka mintakan ampunan Allah SWT. Mereka gembira karena Allah telah mengampuninya, sebab Dia Maha Pengampun, sebagaimana disebut pada ujung ayat, “Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.”

Sebelum berangkat ke Tabuk, ada beberapa orang yang meminta ijin Nabi untuk absen perang dan Nabi mengiyakan. Nabi merasa “berdosa,” sebab seharusnya tidak mudah memberi ijin mereka sebelum mengetahui alasan yang masuk akal, sebab banyak yang absen hanya karena kemalasan. Inilah “dosa” nabi yang diampuni oleh Allah sebagaimana disebut pada awal ayat di atas. Sebenarnya kesalahan itu tidak termasuk dosa, sebab hanya sebuah keputusan, tapi bagi nabi, sekalipun sesederhana itu, ia tetap meminta ampunan Allah.

Dari mereka yang absen perang itu, ada tiga orang yang paling mengecewakan Nabi SAW, yaitu Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Marrah bin Rabi’. Mereka ini, terutama Ka’ab adalah sahabat-sahabat mulia, tapi mengapa mengikuti jejak orang-orang munafik. Kekecewaan Nabi tersebut diceritakan sendiri oleh Ka’ab pada masa tuanya yang sudah buta, kepada anaknya, Abdullah. Ka’ab bercerita, “Ketika pasukan Nabi berangkat, saya sedang istirahat di rumah. Saya sangat sehat dan baru saja membeli tunggangan baru.” Ia maju mundur untuk berangkat, dan akhirnya benar-benar absen. Ketika pasukan sudah sampai di Tabuk, Nabi tiba-tiba bertanya, “Mana Ka’ab bin Malik?” Seorang sahabat menjawab, “Dia terikat oleh selimutnya dan sedang mengurus dirinya.” Nabi diam dengan wajah yang sedikit berubah.

Setelah Nabi SAW tiba kembali di Madinah, sebanyak delapan puluh orang meminta maaf kepada Nabi dengan berbagai alasan dusta. “Kemari, kenapa engkau tidak ikut datang? Tidakkah kamu bisa membeli tunggangan lagi?”. Ka’ab datang memenuhi panggilan Nabi dan berkata jujur apa adanya, “Jika saya berbicara kepada “orang bumi,” saya bisa menyampaikan seribu alasan, lalu engkau tidak marah, tapi Allah pasti tetap marah kepadaku. Aku tidak ikut perang bukan karena apa-apa, dan saya waktu itu juga sangat sehat dan ekonomi berkecukupan.” Nabi kemudian berkata, “Engkau berkata jujur. Sekarang pergilah, dan tunggulah keputusan Allah untukmu (mengampuni atau tidak)!”

Ka’ab keluar rumah dengan lunglai. Sambil menunggu keputusan Allah itulah, Nabi SAW melarang semua sahabat untuk berhubungan dengannya. Istrinyapun juga dilarang tidur bersamanya. “Aku pergi kemanapun: ke pasar, tetangga, bahkan ke rumah sanak famili, tidak ada satupun yang mengajakku bicara. Ketika Nabi selesai memimpin shalat di masjid, saya amat berharap Nabi memandangku, tapi ternyata juga tidak,” keluh Ka’ab. “Bumi terasa sangat sempit bagiku, dan dadaku terasa terhimpit,” katanya sebagaimana tersirat dalam QS. At Taubah 118. Derita batin itu dirasakan Ka’ab sampai lima puluh hari.

Pada hari ke lima puluh pengucilan Ka’ab, tiba-tiba usai shalat subuh, beberapa sahabat, termasuk penunggang kuda berdatangan mengucapkan selamat kepadanya, karena Nabi SAW telah mengumumkan di dalam masjid bahwa telah turun ayat tentang pengampunan Allah untuk Ka’ab dan dua orang temannya, yaitu Hilal bin Umayyah dan Marrah bin Rabi’. “Aku langsung berlari memasuki masjid untuk mendengar langsung berita itu dari Nabi SAW,” katanya.

Sebelum memasuki kerumunan orang, Thalhah bin Ubaid berdiri menyambutku dengan ucapan selamat. “Dialah sahabat yang terbaik menurutku. Karenanya, saya tidak akan melupakannya selamanya,” katanya. Nabi berkata dengan wajah yang amat ceria, “Ada berita gembira untukmu, berita yang paling membahagiakan seumur hidupmu.” Ka’ab bertanya, “Ini berita ampunan darimu atau dari Allah, wahai Nabi?”. “Dari Allah,” kata Nabi SAW. Begitu senangnya mendapat berita pengampunan, ia menyerahkan semua hartanya kepada Nabi, tapi ditolak oleh nabi, dan dianjurkan sebagain hartanya saja.

Dari kisah di atas, jelaslah bahwa setiap muslim harus siap menjalani seberat apapun tantangan, bahkan berdiri di atas api sekalipun demi cita-cita agung dan mulia. Ini berlaku dalam hal usaha penyebaran agama, mencari ilmu, usaha, membangun kebahagiaan keluarga dan sebagainya. Terbesit sedikitpun rasa malas atau takut menghadapai tantangan dipandang sebagai cacat iman. Setiap muslim harus juga siap “berdiri di atas api” untuk berkata jujur. Telah terbukti, jujur itu pahit pada awalnya, tapi pasti manis buah yang akan dipetiknya. (http://www.terapishalatbahagia.net/berdiri-di-atas-api/)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s