Capek Ibadah, Gak Dapat Pahala

Standar

Cover Maret 2015Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda (yang maknanya):

“Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Ia pun dihadapkan, lalu Allah mengingatkan kepadanya nikmat-nikmatNya, ia pun mengingatnya, kemudian ditanya, “Kamu gunakan untuk apa nikmat itu?” Ia menjawab, “Aku (gunakan untuk) berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid”, Allah berfirman, “Kamu dusta, sebenarnya kamu berperang agar dikatakan sebagai pemberani dan sudah dikatakan demikian”, kemudian Allah memerintahkan orang itu agar dibawa, lalu ia diseret dalam keadaan telungkup kemudian dilempar ke neraka. (Kedua) seorang yang belajar agama, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an. Ia pun dihadapkan, lalu Allah mengingatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya, ia pun mengingatnya, kemudian ditanya, “Kamu gunakan untuk apa nikmat itu?” Ia menjawab, “Aku (gunakan untuk) mempelajari agama, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an karena Engkau”, Allah berfirman: “Kamu dusta, sebenarnya kamu belajar agama agar dikatakan orang alim (orang yang pandai), dan membaca Al Qur’an agar dikatakan qaari’ (orang yang bagus bacaan al-Qur`annya), dan sudah dikatakan”, kemudian Allah memerintahkan orang itu agar dibawa, lalu ia diseret dalam keadaan telungkup kemudian dilempar ke neraka. (Ketiga) seseorang yang dilapangkan rezkinya dan diberikan kepadanya berbagai jenis harta, ia pun dihadapkan, lalu Allah mengingatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya, ia pun mengingatnya, kemudian ditanya, “Kamu gunakan untuk apa nikmat itu?” Ia menjawab, “Tidak ada satu pun jalan, di mana Engkau suka dikeluarkan infak di sana kecuali aku keluarkan karena Engkau”. Allah berfirman, “Kamu dusta, sebenarnya kamu lakukan hal itu agar dikatakan sebagai orang yang dermawan dan sudah dikatakan“, kemudian Allah memerintahkan orang itu agar dibawa, lalu ia diseret dalam keadaan telungkup kemudian dilempar ke neraka.” (HR. Muslim)

Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Tiga (golongan) manusia yang disebutkan di hadits di atas sama-sama memiliki amal ibadah yang besar. Sayangnya, mereka mengerjakan amal ibadah itu bukan karena Allah ta’ala, tapi karena ingin mendapatkan pengakuan, pujian dan penghargaan dari manusia. Allah ta’ala Maha Tahu. Di akhirat mereka sama sekali tidak mendapatkan manfaat dari ibadah itu. Allah ta’ala tidak menerima amal ibadah mereka. Dan justru mereka diseret dan dilemparkan ke neraka. Na’udzu billah min dzalik.

Hadits tersebut hendaknya kita renungkan dalam-dalam. Kita ambil pelajaran dan hikmah besar yang terkandung di dalamnya. Semestinya kita senantiasa ikhlash (dan menjaga keikhlasan) dalam setiap amal ibadah kita. Kita kerjakan amal ibadah hanya karena Allah ta’ala. Hanya karena mengharap pahala dan ridla dari Allah ta’ala. Bukan yang lainnya.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah ta’ala dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus [tidak mempersekutukan Allah dan menjauhi kesesatan]…” (QS. Al Bayyinah [98]: 5)

 

Selanjutnya, marilah kita menghayati nasehat Rasulillah shallahu alaihi wa sallam terkait dengan hal ini.

“Bahwasanya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan balasan atas apa yang ia niatkan.” (HR. Imam Bukhori [1] dan Muslim [1907])

 

Ikhlash

Syekh Ibnu Athaillah rahimahullah dalam Miftah al Falah wa Mishbah al Arwah menyampaikan bahwa motivasi dari amal perbuatan manusia itu ada yang bersifat ruhani (ikhlash) dan ada yang bersifat setani (riya’, beramal karena selain Allah ta’ala). Motivasi yang bersifat ruhani dimiliki oleh mereka yang cenderung dan cinta kepada Allah ta’ala. Sedangkan motivasi setani dimiliki oleh meraka yang cinta kepada nafsu dan dunia.

Sementara itu, dalam Syarh Arba’un an-Nawawiyah, Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa amal perbuatan yang disertai niat (ruhani) itu ada tiga keadaan;

Pertama, orang-orang yang melakukan amal perbuatan karena takut kepada siksa Allah ta’ala; neraka. Mereka menjauhi keburukan dan ma’shiat serta mengerjakan kebaikan dan ta’at karena takut kelak akan mendapatkan siksa yang sangat pedih di akhirat. Ini adalah ibadah seorang hamba. Sekedar info: Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan kita akan pedihnya siksa neraka.

Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah orang yang mengenakan sepasang sandal dari api neraka, maka mendidihlah otaknya sebagaimana mendidihnya air dalam bejana. Ia beranggapan bahwa tidak ada orang lain yang lebih besar siksanya daripada dirinya. Padahal itu adalah siksa yang paling ringan”. (HR. Muslim: 196)

Ini adalah siksa yang paling ringan. Bagaimana yang ‘sedang’? Apalagi yang ‘berat’? Gak kebayang deh betapa berat dan pedihnya. Na’udzu billahi min dzalik… Rasa takut kepada siksa neraka yang sangat dahsyat insyaallah akan mampu menjaga seseorang dari perbuatan-perbuatan dosa yang pada akhirnya akan menyelamatkannya dari neraka dan mengantarkannya ke dalam surga.

“dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami, merasa takut (akan diazab)’. Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. (QS. Ath-thur: 25-27)

Kedua, orang-orang yang melakukan amal perbuatan karena berharap pahala dari Allah ta’ala; surga. Mereka menghindari perbuatan-perbuatan buruk dan melaksanakan amal-amal sholih karena berharap kelak di akhirat mendapatkan pahala yang besar dari Allah ta’ala. Ini adalah ibadah seorang pedagang. Adakah yang lebih menguntungkan daripada berdagang dengan Allah ta’ala?

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka…. ”. (QS. At-taubah: 111)

(Maksudnya): “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan sholat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”. (QS. Al-Fathir: 29-30)

Ketiga, orang-orang yang melakukan amal perbuatan karena menunaikan hak Allah ta’ala. Mereka menjauhi berbagai jenis keburukan dan ma’shiat karena malu kepada Allah ta’ala. Mereka bersemangat menjalankan berbagai macam ibadah karena bersyukur kepada Allah ta’ala. Inilah yang dinyatakan oleh Rasulullah ketika sayyidah ‘Aisyah bertanya kepada beliau saat melihat beliau mengerjakan sholat malam hingga kaki beliau bengkak-bengkak. “Wahai Rasulullah, masihkah engkau terbebani dosa? Padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa engkau yang akan datang dan yang telah lampau”. Rasulullah menjawab,

أَفَلَا أَنْ أكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا

“Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?” (HR. Imam Bukhori [4837] dan Muslim [2820]). Ini adalah ibadah orang-orang istimewa. Jumlahnya sangat sedikit.

“…. dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur.” (QS. As-Saba`: 13)

Dari ketiga macam motivasi ruhani tersebut, bisa jadi diantara kita ada yang memiliki satu, dua, atau ketiga-tiganya. Yang penting, motivasi dari amal ibadah kita adalah motivasi ruhani, karena Allah ta’ala. Bukan karena ingin dipuji, malu kepada manusia, atau motivasi setani yang lain.

Ikhlash adalah ruh-nya amal. Jika amal ibadah dikerjakan tanpa keikhlasan, maka sama saja dengan seonggok jasad tanpa ruh. Apakah kita mau mempersembahkan amal seperti itu kepada Allah ta’ala? Betapa buruk adab kita. Sungguh Allah ta’ala hanya menerima amal ibadah yang didasarkan pada ikhlash.

Dalam hadits qudsi Allah ta’ala berfirman: “Aku sangat tidak butuh sekutu, siapa saja yang beramal menyekutukan sesuatu dengan-Ku, maka Aku akan meninggalkannya dan syirknya.” (HR. Muslim)

 

Awas Bahaya Riya` ..!!

Kebalikan dari ikhlash adalah riya`, yaitu mengerjakan amal ibadah karena ingin dilihat manusia, karena ingin mendapatkan pujian dan penghargaan dari manusia. Riya` ini disebut sebagai asy syirkul al ashgor, syirk kecil.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ar Riya’.” (HR. Ahmad dari shahabat Mahmud bin Labid no. 27742)

Jika asy-syirk al-akbar (syirk besar atau syirk I’tiqadi, menyembah Tuhan selain Allah ta’ala) adalah dosa terbesar yang menghancurkan iman. Maka asy-syirk al-ashghor atau riya` ini adalah penghancur pahala amal ibadah. Sebesar apa pun amal ibadah, jika dibarengi riya`, maka hancurlah pahala ibadah itu.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadikan ia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunujuk kepada orang-orang kafir”. (al Baqarah : 264).

Orang-orang yang beramal karena berharap dilihat, didengar, dipuji oleh manusia, maka kelak mereka akan merugi di akhirat.

“dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Az-Zumar: 65)

“… barangsiapa diantara mereka yang melakukan amal akhirat dengan niat imbalan dunia, maka ia tidak akan memperoleh apa-apa di akhirat(HR. Ahmad)

Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Marilah kita belajar mengikhlaskan niat dan menjaga keikhlasan dalam setiap amal ibadah kita. Jangan sampek kita capek ibadah, tapi gak dapat pahala. Justru malah dimasukkan ke dalam neraka. Na’udzu billah min dzalik.

 

Istiqomahkan baca doa agar terhindar dari riya`

Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita: “Wahai sekalian manusia, jauhilah dosa syirik, karena syirik itu lebih samar daripada rayapan seekor semut.”

Lalu ada orang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kami dapat menjauhi dosa syirik, sementara ia lebih samar daripada rayapan seekor semut?”

Rasulullah berkata: “ucapkanlah

اَللّهُمَّ إِنّى أَعُوْذُ بِكَ اَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَاَنَا أَعْلَمُ وَ أَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ 

Allahumma inni a’udzu bika an usyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima laa a’lam

(‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku ketahui. Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa syirik yang tidak aku ketahui).” (HR. Ahmad)

Semoga Allah ta’ala senantiasa melimpahkan taufiq dan hidayah –Nya kepada kita semua, sehingga kita bisa ikhlash dan menjaga keikhlasan dalam setiap amal ibadah kita. Amin. Wallahu a’lam bish shawab. [TJ/alumni Pesma BaitHik]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s