HUKUM MENGHINA NABI SAW

Standar

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh : Ust. Nur Kholis Majid,  S.HI, M.HI. Dosen Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya.  Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com / SMS langsung ke pengasuh : HP.  081703382149/081333359934  ———————————

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh :
Ust. Nur Kholis Majid, S.HI, M.HI. Dosen Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya.
Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com / SMS langsung ke pengasuh : HP. 081703382149/081333359934
———————————

Pertanyaan:

                Assalamualaikum wr.wb. Ustadz, mau bertanya tentang hukum melecehkan Rasul SAW sebagaimana yang saya temukan di beberapa situs internet, antara lain: “Melecehkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sama dengan melecehkan Allah dan Islam. Itulah, ketika gembong Yahudi bernama Ka’ab bin Al Asyraf menghina Nabi, Nabi berkata, “Siapa yang mau membunuh Ka’ab bin Al Asyraf? Sesungguhnya dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya.” Muhammad bin Maslamah berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau suka jika aku membunuhnya?” Kata Nabi, “Ya.” Singkat cerita, Ka’ab bin Al Asyraf pun dibunuh oleh Muhammad bin Maslamah.  (Muttafaq Alaih dari Jabir)”. Bagaimana pendapat Ustadz tentang Hadis ini?

Kikis Rizkian

Surabaya

Jawaban:

Waalaikum Salam Wr.Wb. Mas Kikis yang dimulyakan Allah SWT. Belakangan ini, memang marak terjadi beraneka ragam aksi yang substansinya mendiskreditkan Nabi SAW sebagai penutan bagi umat Islam seperti halnya menggambarkan Nabi SAW sebagai sosok yang hyperseks, dan lain sebagainya. Tentu, sebagai umat Islam kita tidak bisa menerima penyataan dan analogi tersebut mengingat banyaknya teks-teks keTuhanan yang mendeskripsikan keutamaan Nabi SAW. Berikut Penulis paparkan Hadis-Hadis Nabi SAW yang berkaitan dengan hukum melecehkan dan mencaci maki Nabi SAW sebelum Penulis mengambil sebuah kesimpulan. Hadis-Hadis yang dimaksud antara lain:

عَنْ عَلِىٍّ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ يَهُودِيَّةً كَانَتْ تَشْتِمُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم وَتَقَعُ فِيهِ فَخَنَقَهَا رَجُلٌ حَتَّى مَاتَتْ فَأَبْطَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم دَمَهَا[1]

Artinya: “Dari Ali r.a. sesungguhnya ada seorang wanita yahudi yang mencaki maki Nabi SAW, dan dia terjatuh disisinya, lalu ada salah seorang yang mencekiknya hingga meninggal dunia. Lalu, Rasul SAW mengusap darahnya”.

 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِينَ يَسُبُّونَ أَصْحَابِى فَقُولُوا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى شَرِّكُمْ   [2]

Artinya: “Dari Ibn Umar r.a. beliau berkata: Rasul SAW bersabda: “jika kalian melihat sebagian orang yan mencaci maki sahabat Nabi SAW, maka ucapkanlah “semoga kejahatan kalian mendapat laknat Allah SWT”.

 

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ قَالَ : غَضِبَ أَبُوْ بَكْرٍ عَلَى رَجُلٍ غَضَبًا شَدِيْدًا حَتَّى تَغَيَّرَ لَوْنُهُ قُلْتُ يَا خَلِيْفَةَ رَسُوْلِ اللهِ وَاللهِ لَئِنْ أَمَرْتَنِي لَأَضْرِبَنَّ عُنُقَهُ فَكَأَنَّمَا صُّبَّ عَلَيْهِ مَاءٌ بَارِدٌ فَذَهَبَ غَضَبُهُ عَنِ الرَّجُلِ قَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ أَبَا بَرْزَةَ وَإِنَّهَا لَمْ تَكُنْ لِأَحَدٍ بَعْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ[3]

Artinya: “Dari Abi Barzah beliau berkata: “Abu bakar pernah marah besar hingga berubah mukanya. Aku berkata: wahai khalifah Rasul SAW, demi Allah jika engkau perintahkan aku, maka aku akan memukulnya sampai seolah-olah dituang dengan air dingin dan menghilangkan amarah Abu Bakr. Abu Bakar menjawab: Ibumu akan sedih wahai Abu Barzah, sesunnguhnya hal tersebut tidak berlaku bagi seseorang setelah Rasul SAW”.

 

قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ أَىْ لَمْ يَكُنْ لأَبِى بَكْرٍ أَنْ يَقْتُلَ رَجُلاً إِلاَّ بِإِحْدَى الثَّلاَثِ الَّتِى قَالَهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كُفْرٌ بَعْدَ إِيمَانٍ أَوْ زِنًا بَعْدَ إِحْصَانٍ أَوْ قَتْلُ نَفْسٍ بِغَيْرِ نَفْسٍ وَكَانَ لِلنَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَقْتُل[4]

Artinya: “Ahmad bin Hanbal berkata: Abu Bakr tidak akan membunuh seseorang kecuali karena tiga hal sebagaimana diisyaratkan oleh Rasul SAW, yaitu kafir setelah beriman, perzinahan yang dilakukan bagi orang yang sudah menikah, dan membunuh orang lain tanpa dengan cara yang benar”. Hal itu (membunuh) dilakukan oleh Nabi SAW”.

 

Beberapa Hadis Nabi SAW dan sebagian pendapat Ulama’ sengaja Penulis paparkan untuk mengetahui beraneka ragam pandangan dan kemudian menyimpulkannya”. Menurut hemat Penulis, memang secara formalitas dan tekstual, ada nas yang menyebutkan bahwa hukuman bagi penghina Nabi SAW adalah dibunuh. Dan tidak demikian dengan penghinaan yang ditujukan kepada sahabat atau orang-orang setelahnya sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibn Umar dan Abu Bakar pada Hadis kedua dan ketiga diatas. Meskipun demikian, penghinaan dan dan pelecehan dalam bentuk apapaun yang ditujukan kepada sahabat Nabi SAW tetap merupakan tindakan tercela dan tidak mencerminkan moralitas Islam itu sendiri. Bagaimana tidak, Rasul SAW menyebutkan dalam hadis yang lain bahwa Allah SWT melaknat orang yang mencela kedua orang tuanya. Sahabat bertanya, apa ada anak yang mencela kedua orang tuanya. Rasul SAW menjawab: dia mencaci maki kedua orang tua dari orang lain, dan orang lain membalasnya dengan mencaci maki kedua orang tuanya sendiri. Jika mencaci maki orang lain saja itu besalah dan dilaknat, maka mencaci para sahabat Nabi SAW jelas akan lebih tercela mengingat mereka (para sahabat Nabi SAW) adalah orang yang setia bersama Rasul dalam memperjuangkan agama Islam sebagaimana diisyaratkan oleh banyak Hadis Nabi SAW.

Disisi lain, Penulis ingin memberikan beberapa pertimbangan sebagai berikut: Pertama, hukuman pembunuhan bagi pencaci maki Nabi SAW bukanlah bersifat mutlak dan patent yang pernah dilakukan oleh Nabi SAW sendiri sebagaimana pendapat Ibn Taimiyah pada bunyi teks keempat diatas. Tentu, akan lebih bijaksana jika dilakukan proses komunikasi dan diskusi yang lebih intens dengan  para pencaci maki Nabi SAW, mengingat Islam adalah agama rahmatan lil alamin (penebar kasih saynag bagi umatnya), dengan harapan semoga hidayah Allah SWT akan segera menerangi dan mengiringi mereka untuk menuju pintu-pintu kebenaran dan kebahagiaan hakiki dibawah panji-panji Islam. Dengan proses diskusi dan komunikasi yang intens itulah, motif dan latar belakang pencaci makian yang ditujukan kepada Nabi SAW akan bisa diketahui dan selanjutnya bisa dilakukan langkah- langkah yang tepat untuk memebrikan jawaban dan menepis anggapan dan persepsi sebagian orang yang membenci Islam. Sikap seperti inilah yang sebenarnya menurut hemat Penulis akan menumbuhkan sikap simpatik dan emapti dari orang lain dengan mengedepankan akhlaq dan moralitas yang tinggi. Kedua, Jika hukuman pembunuhan tersebut dikaitkan dengan konteks keIndonesiaan, maka akan berlawanan dengan konstitusi bangsa yang menegaskan bahwa kita harus tunduk dan patuh pada perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yang nota benenya bukan termasuk kriminalitas yang akan berkonsekuensi pada pembunuhan. Jika hal tersebut dipaksakan untuk dilakukan, sama halnya kita tidak mematuhi peraturan perundang-undangan dan berhadapan dengan para penegak hukum yang pada ujungnya nanti akan berimbas pada kriminalitas. Atas dasar inilah, Penulis lebih memprioritaskan pendekatan persuasif dengan mengedepankan aspek moralitas dan kemaslahatan bersama.

Sebagai catatan akhir Penulis, hukuman pembunuhan bagi pencaci maki Nabi SAW meskipun boleh dilakukan sebagaimana makna teks diatas, tetapi eksekusinya ialah orang yang mendapatkan mandat langsung dari pemerintah (penguasa). Demkkian jawaban dan tanggapan Penulis, semoga bermanfaat, amin! ()

[1] Sunan Abi Dawud, Juz 13, hal 2. Hadis No. 4364

[2] Sunan Turmudzi, Juz 14, hal. 13. Hadis No. 4240

[3] Sunan al-Nasa’I Juz 7, hal. 107. Hadis No. 4075

[4] Sunan Abi Dawud, Juz 13, hal 2. Hadis No. 4365

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s