TATA CARA SHALAT DI KERETA API

Standar

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh : Ust. Nur Kholis Majid,  S.HI, M.HI. Dosen Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya.  Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com / SMS langsung ke pengasuh : HP.  081703382149/081333359934  ———————————

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh :
Ust. Nur Kholis Majid, S.HI, M.HI. Dosen Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya.
Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com / SMS langsung ke pengasuh : HP. 081703382149/081333359934
———————————

Pertanyaan:

Assalamualaikum Wr.Wb. Ustadz, Saya sering menggunakan jasa Kereta Api kelas Ekonomi untuk bepergian jarak jauh. Karena biayanya yang murah dan juga nyaman. Namun sering kali saya bingung tentang bagaimana cara melaksanakan ibadah shalat. Kereta berangkat jam 16.00 (sore hari) dan tiba di stasiun terakhir sekitar jam (06.00 pagi hari). Bagaimana cara saya mengerjakan shalat Maghrib, Isya’ dan Subuh? Karena di dalam Kereta Api kelas Ekonomi tidak ada tempat khusus untuk melaksanakan shalat. Mohon jawaban dan penejelasan Ustadz. Terimakasih.

Habibi

Tambak Sari – Surabaya

Jawaban:

Waalaikum Salam Wr.Wb. Mas Habibi yang dimulyakan oleh Allah SWT, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa shalat termasuk salah satu rukun Islam yang kelak di hari kiamat, menjadi pertanyaan dan hisab yang pertama, sebagaimana isyarah nass berikut:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ[1]

Artinya: “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka”.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ صَلَاتُهُ فَإِنْ كَانَ أَكْمَلَهَا وَإِلَّا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ وُجِدَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَكْمِلُوا بِهِ الْفَرِيضَةَ (رواه النسائي)[2]

 

Artinya: “Dari Abi Hurairah, dari Rasul SAW beliau bersabda: perbuatan seorang hamba yang akan dihisab pertama kali (kelak) ialah shalat, jika dia melakukannya dengan sempurna. Dan jika tidak, maka Allah SWT akan memerintahkan kepada maliaktnya, “lihatlah, apakah dia pernah melakukan shalat sunnah? jika ada, sempurnakanlah shalat sunnah yang ia lakukan”.

 

Dua dalil diatas cukup menjadi bukti dan dasar akan adanya kewajiban bagi umat manusia untuk melakukan shalat dalam situasi dan kondisi apapun selagi masih ada tanda-tanda yang mengindikasikan bahwa dia masih hidup. Oleh karenanya, meskipun anda termasuk musafir (bepergian jauh), anda tetap terkena taklif syar’i (pembebanan syariat) untuk melaksanakan shalat. Artinya, tidak ada alasan atau sebab apapun yang bisa menggugurkan kewajiban shalat. Meskipun demikian, Islam sebagai agama penebar rahmat tetap memberikan rukhsah (keringanan) berupa shalat jamak, jamak-qashar, dan qadha’ atau iadah, dalam kondisi tertentu. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh Wahbah al-Zuhayli sebagaimana dalam artikulasi berikut:

 

وَلاَ تَسْقُطُ عَنْهُ الصَّلاَةُ مَادَامَ عَقْلُهُ ثَابِتًا لِوُجُوْدِ مَنَاطِ التَّكْلِيْفِ[3]

Artinya: “Shalat tidak akan pernah gugur (bisa ditinggalkan), selagi dia berakal karena adanya taklif”.

 

Selain itu, ayat tersebut diatas menurut hemat Penulis mengisyaratkan bahwa ketaatan dan ketekunan seorang hamba untuk melakukan shalat menjadi salah satu cirri-ciri muttaqin (orang-orang yang bertaqwa). Adapun yang berkenaan dengan tata caranya, pelaksanaannya, Rasul SAW memberikan panduan lengkap melalui sejumlah Hadisnya, antara lain:

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ أَنَّ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ – وَكَانَ رَجُلاً مَبْسُورًا – وَقَالَ أَبُو مَعْمَرٍ مَرَّةً عَنْ عِمْرَانَ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَهْوَ قَاعِدٌ فَقَالَ « مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهْوَ أَفْضَلُ ، وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ ، وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ » . قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ نَائِمًا عِنْدِى مُضْطَجِعًا هَا هُنَا[4]

ش ( مبسورا ) أي فيه بواسير وهو مرض يكون في مخرج الإنسان من الدبر . ( صلى قاعدا ) أي نفلا لغير عذر أو فرضا لعذر . ( نائما ) مضطجعا على جنبه على هيئة النائم أو مستلقيا على ظهره

Artinya: “Dari Abdillah bin Buraidah, sesungguhnya Imran bin Hushain (dia seseorang yang sedang mengalami penyakit beser), berkata Abu Ma’mar, dari Imran, beliau berkata: aku bertanya kepada Nabi SAW tentang shalat dalam keadaan duduk, lalu beliau menjawab: barang siapa yang shalat dengan cara berdiri, maka itu lebih utama, dan barang siapa yang shalat dengan cara duduk, maka baginya separuh pahala dari orang yang berdiri, dan barang siapa yang shalat dengan cara tidur (berbaring), maka baginya mendapatkan separuh pahala dari pada orang yang shalat dengan cara duduk”.

 

Hadis ini menjelaskan bahwa ada tiga tata cara pelaksanaan shalat, yaitu bisa dilakukan dengan cara berdiri, duduk, berbaring, dan harus dilakukan secara beurutan. Akan tetapi yang menjadi catatan disini ialah bahwa kebolehan untuk melaksanakan shlat dengan cara berdiri, duduk, ataupun berbaring bukanlah bersifat mutlak. Artinya, kebolehan tersebut dikaitkan dengan jenis shalat, dan kondisi Mushalli. Jika konteksnya adalah shalat Sunnah, maka dia boleh memilih diantara tiga cara diatas, namun tetap dengan konsekuensi akan mendapatkan separuh pahala. Dan apabila konteksnya adalah shalat wajib atau fardhu, maka wajib baginya untuk melaksanakannya dalam posisi berdiri, kecuali terdapat sebab yang memeprbolehkannya untuk melakukannya dengan cara duduk, seperti halnya orang yang sedang sakit. Hal ini dikuatkan dengan Hadis yang lain berikut ini:

 

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ عَلَيْهِ نَاسٌ يَعُودُونَهُ فِى مَرَضِهِ فَصَلَّى بِهِمْ جَالِسًا فَجَعَلُوا يُصَلُّونَ قِيَامًا ، فَأَشَارَ إِلَيْهِمِ اجْلِسُوا ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ « إِنَّ الإِمَامَ لَيُؤْتَمُّ بِهِ ، فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوا ، وَإِنْ صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا » . قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ قَالَ الْحُمَيْدِىُّ هَذَا الْحَدِيثُ مَنْسُوخٌ لأَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – آخِرَ مَا صَلَّى صَلَّى قَاعِدًا وَالنَّاسُ خَلْفَهُ قِيَامٌ[5]

Artinya: “Dari Aisyah r.a. sesungguhnya para sahabat menjenguk Nabi SAW dikala sakit, lalu Nabi SAW melaksanakan shalat dalam keadaan duduk, sedangkan mereka melaksanakannya dalam posisi berdiri. Lalu, Nabi SAW memberikan isyarat dan memerintahkan mereka untuk duduk. Seusai shalat, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya imam itu harus diikuti, jika dia ruku’ maka ruku’lah, jika dia bangun, maka bangunlah, jika dia shalat dalam keadaan duduk, maka duduklah”. Abu Abdillah berkata: Hadis ini telah dinasakh karena shalat yang terakhir yang pernah dilakukan Nabi SAW ialah dalam kondisi duduk, sementara sahabat dalam keadaan berdiri dibelakangnya (makmum)”.

 

Tampak jelas bahwa kebolehan melaksanakan shalat dengan cara duduk atau berbaring itu hanya dalam kondisi tertentu yang tidak memungkinkan untuk berdiri, sebagaimana makna Hadis diatas. Disamping itu, ada kemungkinan pula bagi orang tertentu, tidak dapat melaksankan shalat dengan cara berdiri, duduk, ataupun berbaring. Maka dalam hal ini, Imam Syafi’i memeberikan tuntunan sebagai berikut:

  1. Terlentang, dan kepala tetap menghadap kea rah kiblat jika memungkinkan
  2. Memebrikan isyarat dengan kedipan mata pada setiap perpindahan rukun shalat
  3. Memebrikan isyarat dengan gerakan hati (Baca: al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuh, Juz I, hal. 643)

 

Hubungannya dengan pelaksanan shalat di atas kendaraan seperti kereta api dan lainnya, maka perlu dibedakan antara shalat maktubah (wajib) atau Nafilah (sunnah). Sesuai dengan hadis Nabi SAW berikut:

 

عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ فَإِذَا أَرَادَ الْفَرِيضَةَ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ[6]

Artinya: “Drai Jabir, Nabi SAW melakukan shalat diatas kendaraannya kemanapun kendaraan tersebut menghadap, namun ketika beliau hendak melakukan shalat maktubah (wajib), maka beliau turun dari kendaraannya dan menghadap kiblat”.

 

Dengan demikian, maka jelaslah bahwa terdapat perbedaan antara shalat Fardlu dan Sunnah dalam hal menghadap kiblat sebagaimana berbeda pula dalam hal posisi mushalli. Bagaiama jika pada saat kendaraan tersebut berbelok arah? Perlukah kita merubah posisi sesuai arah kiblat? Wahbah al-Zuhayli mengutip pendapat al-Syafi’i berpendapat sebagaimana berikut: dia harus tetap menghadap kiblat, minimal pada saat melakukan takbiratul ihram. (Baca: al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuh, Juz I, hal. 608).

Mas Habibi yang budiman, demikian inilah jawaban Penulis tentang pertanyaan anda. Intinya, boleh melakukan shalat diatas kendaraan sesuai dengan posisi yang menungkinkan, berdiri, duduk, atau berbaring. Begitu pula dia tetap menghadap kiblat meskipun hanya pada saat melakukan takbiratul ihram. Sebagai tambahan informasi: shalat Maghrib dan Isya’ boleh dilakukan dengan cara Jamak-Qashar karena sudah melebihi 90 km. adapun shalat subuhnya tetap harus dilakukan pada waktunya. Semoga manfaat, amin! ()

[1] Q.S. al-Baqarah (2) : 3

[2] al-Nasa’I, Sunan al-Nasa’I, Juz I, hal. 252. Hadis No. 466

[3] Wahbah al-Zuhayli, al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuhu, Juz I, hal. 643

[4] Sahih Bukhari, Juz IV, hal. 375. Hadis No. 1116

[5] Sahih Bukhari, Juz XIX, hal. 57. Hadis No. 5658

[6] Sahih Bukhari, Juz II, hal. 193. Hadis No. 400

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s