PONDASI MASYARAKAT MADANI

Standar

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Ketika berhasil memasuki Madinah setelah menempuh perjalanan hijrah dari Mekah, Nabi SAW berpidato di depan para sahabat. Inilah pidato pertama yang beliau sampaikan, sebagaimana diceritakan oleh  Abdullah bin Salam r.a. ” Abu Yusuf, Abdullah bin Salam r.a.berkata, ”Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Wahai manusia, sebarkan salam, berikanlah makanan, sambunglah silaturrahim, dan salatlah malam ketika manusia tidur” HR Tirmidzi.

Abdullah bin Salam adalah mantan kepala Pendeta Yahudi Madinah. Nama itu pemberian Nabi sebagai ganti nama sebelumnya, yaitu Husein bin Salam.  Ia masuk Islam setelah menjumpai Nabi Muhammad SAW yang ternyata  memiliki ciri-ciri sebagaimana disebut dalam Kitab Taurat.  Allah berfirman,  ”(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-A’raf [7]:157)

Pidato nabi di atas meletakkan empat pondasi masyarakat yang akan dibangun di Madinah, yaitu empat S (Salam, Sedekah, Silaturrahmi dan Salat malam).  Pertama, salam yang berarti ketentraman dan keamanan. Perintah menyebarluaskan ”salam” tidak hanya salam formal, namun lebih bersifat salam substansial yaitu kedamaian, ketentraman dan keamanan. Masyarakat yang ingin dibangun di Madinah adalah masyarakat yang damai sekalipun terdiri dari multi etnis dan multi agama

Pesan Nabi itu juga ditujukan kepada setiap muslim di manapun ia berada.  Dalam komunitas yang bagaimanapun, setiap muslim harus menjadi pelopor kedamaian dan ketertiban. Bukan sebaliknya, menjadi  sumber masalah (trouble maker). Allah SWT memerintahkan kita untuk berlomba menuju Darussalam, yaitu masyarakat penuh kedamaian atau surga di akhirat. (QS.10:2, QS 4:86).

Kedua, sedekah yaitu berbagi kekayaan untuk kesejahteraan. Sudah menjadi sunnatullah bahwa di daerah manapun selalu terdapat orang-orang kaya dan miskin. Kesejahteraan di tengah masyarakat tidak bisa dicapai tanpa adanya kesediaan orang-orang yang berlebih untuk berbagi dengan yang miskin. Inilah konsep zakat dalam Islam. Silakan berlomba menjadi orang terkaya. Tidak ada satupun ayat al-Qur’an yang melarangnya. Tapi jangan buta dengan keadaan orang lain. Kepedulian kepada orang lain adalah kunci pembangunan masyarakat sejahtera.

Ketiga,  silaturrahim yang berarti membangun ikatan kesatuan dan persatuan. Dalam skop kecil, setiap muslim dituntut membangun keutuhan keluarganya. Mereka harus menjadi keluarga teladan bagi orang lain. Masyarakat yang kuat terdiri dari unit-unit keluarga yang kokoh. Dalam skop yang lebih luas, ia harus bisa membangun hubungan sanak famili yang harmonis. Bisa menyelesaikan semua persoalan keluarga besar dengan arif. Menjaga sedemikian rupa agar tidak ada keretakan hubungan berkeluarga besar. Inilah yang dimaksud dengan semangat ”silaturrahim”. Perbedaan agama, ideologi, politik tidak boleh menjadi alasan keretakan berkeluarga besar. Khusus dalam hubungan persatuan sesama muslim, keimanan adalah pengikat yang utama. (QS 49:10).

Keempat,   salat malam yaitu kesalehan pribadi.  Setiap muslim harus membangun kesalehan pribadinya agar berdampak pada kesalehan sosial di tengah masyarakat. Apalagi sebagai pemimpin. Ia harus selalu melakukan introspeksi diri (muhasabah) dan pendekatan diri kepada Allah (muraqabah) setiap malam agar ia diberi kekuatan mengantarkan masyarakat adil makmur dalam keridlaan Allah. (http://www.terapishalatbahagia.net/pondasi-masyarakat-madani/)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s