MUTIARA DALAM LUMURAN DARAH

Standar

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2]:216)

Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan kepada Nabi SAW bahwa orang-orang shaleh terdahulu tiada sepi dari cobaan yang menyangkut kesehatan, ekonomi dan cobaan-cobaan berat lain sampai menggoncang jiwa mereka seperti gempa yang menggoncang bumi (wazulzilu). Jika Anda muslim shaleh, Anda juga harus bersiap menghadapi cobaan yang sama. Jangan terkejut dan jangan mengeluh.

Ayat yang dikutip di atas merupakan kelanjutan ayat sebelumnya, bahwa di samping cobaan-cobaan yang telah disebutkan, masih ada cobaan lain, yaitu perang. Semua orang normal tidak menyukai perang: biaya besar, korban jiwa yang tak terhitung dan rasa damai yang hilang. Tapi, jika musuh sudah melecehkan kehormatan dan kedaulatan negara, Anda harus angkat senjata sekalipun Anda sama sekali tidak menyukainya. Allah SWT memberitahu Anda untuk selalu bersiap menjumpai hal-hal yang sama sekali tidak Anda sukai. Pada saat itulah, Anda harus berfikir positif dengan merenungkan firman Allah, “..boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu..”

Untuk memudahkan Anda memahami ayat ini, saya ilustrasikan sebuah peristiwa yang dialami kuli bangunan yang terdampar di sebuah terminal bus tanpa bekal satu rupiahpun. Pemuda asal Magetan Jawa Timur yang bekerja di Surabaya itu harus segera pulang karena ibunya sakit kritis di kampung. Ia membawa uang hanya cukup untuk tiket bus karena ia akan dijemput adiknya di terminal terakhir. Sialnya, ketika bus berhenti di terminal Mojokerto, ia pergi ke toilet, dan saat itulah ia ditinggalkan bus. Di mushalla tempat ia istirahat, ia mengadu kepada Allah, “Wahai Allah, saya sudah tidak memiliki uang sepeserpun. Bagaimana saya melanjutkan perjalanan pulang? Tidakkah tujuan saya ini mulia: menjenguk ibu saya yang kritis?” Berkali-kali ia mengajukan protes kepada Allah, “Mengapa Engkau tidak memberi kemudahan hamba-Mu yang sedang berbakti kepada orang tua ini?”

Pagi hari setelah bangun tidur di mushalla kecil itu, ia mendengar suara penjual koran, “Koran, koran. Kecelakaan maut, kecelakaan maut. Bus Brahma.” Ternyata bus itulah yang meninggalkannya di terminal sehari sebelumnya. Ia langsung bersujud syukur sambil mengatakan, “Wahai Allah, luar biasa skenario-Mu untuk menyelamatkan saya. Luar biasa kasih-Mu. Andaikan saya tidak tertinggal di terminal, tentu saya sudah mati dan tidak bisa menjenguk ibu selamanya.”

Kasus serupa terjadi pada diri saya sendiri. Pada tahun 2000, sepulang dari Afrika, tiba-tiba suara saya hilang dan berlangsung selama enam bulan. Saya sedih, tidak bisa mengajar dan berceramah seperti sebelumnya. Beberapa tahun kemudian, cobaan kedua datang. Nyaris saya tidak bisa rukuk dan sujud dengan sempurna karena penyakit punggung dan lutut. Saya harus rukuk dengan perlahan menahan sakit dan lebih lama. Sejak itu saya “terpaksa” rukuk dan sujud lebih lama dan lebih tenang, tidak tergesa-gesa, dan berusaha memahami makna doa di dalamnya. Dari situlah, saya memperoleh inspirasi menulis buku tentang kedahsyatan rukuk dan sujud, dan pada tahun 2012 terbitlah buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia. Andai tidak ada cobaan itu, tidak akan ada buku tersebut. Ternyata, pada semua kejadian yang tidak saya sukai tersimpan rahasia Ilahi yang baru dibuka-Nya di kemudian hari. Sekali lagi renungkan firman Allah, “Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu..”

Untuk Anda yang masih meragukan firman Allah di atas, saya tambahkan satu kisah lagi. Seorang anggotaTNI Angkatan Laut tiba-tiba mendapat surat pemecatan karena terbukti salah satu keluarganya tokoh PKI. Berbulan-bulan ia merasakan derita psikis dan ekonomis karena tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelematkan masa depan anak-anaknya yang masih kecil. Setahun kemudian ia diterima di perusahaan pelayaran dan beberapa tahun sesudahnya ia mendapat gaji perbulan sama dengan gaji TNI selama dua tahun. Tiada henti ia bersyukur, “Terima kasih oh Allah atas peristiwa pemecatan saya sekian tahun yang lalu.”

Dalam hidup selalu ada siang dan malam. Artinya, tidak selamanya seseorang dalam kegelapan malam, sebab esok hanya ia menyaksikan matahari terbit di ufuk timur. Tidak selamanya Anda dalam penderitaan. Pada waktu yang lain, Anda pasti mengalamai hal yang menyenangkan. Pada saat demikian, Anda harus berhati-hati, sebab Allah memberitahu Anda, ”… dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu..”. Anda mungkin pernah mendengar kisah berikut ini. Seorang pejabat mengadakan pesta besar-besaran dengan aneka makanan rakyat, sebagai tanda kegembiraan atas terpilihnya sebagai bupati, mengalahkan pesaingnya dengan selisih suara yang tipis. Baru setahun memimpin kabupaten, ia tertangkap tangan oleh KPK dan masuk bui karena kasus korupsi.

Ada lagi kisah lain yang serupa. Seorang janda bertahun-tahun menabung untuk membelikan motor untuk anak tunggalnya. Seusai shalat subuh, sang anak mencoba motornya di jalan raya. Di pagi buta itulah sang anak menghembuskan nafas terakhir, karena sebuah truk pengangkut sayur dari pasar induk melaju dengan kecepatan tinggi menabraknya.

Allah SWT menyudahi firman-Nya, “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Artinya, Anda hanya bisa mengetahui bungkus sebuah peristiwa sedang Allah-lah Yang Maha Tahu isinya. Anda hanya bisa melihat kulit dan tidak mengetahui di baliknya. Anda hanya bisa mengetahui kekinian dan tidak akan tahu apa yang terjadi kemudian.

Ternyata, pada buah apel segar di tangan Anda, terdapat ulat di dalamnya yang mematikan Anda. Di tengah kegembiraan terkadang tersimpan sebuah malapetaka. Maka bergembiralah secara wajar-wajar saja, jangan berlebihan. Bahkan, tetap waspadalah di tengah kegembiraaan itu. Sebaliknya, di tengah genangan air mata dan darah, kadang terdapat mutiara indah yang baru Anda temukan di kemudian hari. Maka tetap bersiullah di tengah badai derita kehidupan. Semoga Anda segera menemukan mutiara itu. (http://www.terapishalatbahagia.net/mutiara-dalam-lumuran-darah/)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s