Hukum Bunga Bank

Standar

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh : Ust. Nur Kholis Majid,  S.HI, M.HI. Dosen Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya.  Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com / SMS langsung ke pengasuh : HP.  081703382149/081333359934  ———————————

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh :
Ust. Nur Kholis Majid, S.HI, M.HI. Dosen Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya.
Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com / SMS langsung ke pengasuh : HP. 081703382149/081333359934
———————————

Pertanyaan:

                Assalamualaikum Wr.Wb. Ustadz yang terhormat, belakangan ini, kebutuhan terhadap lembaga perbankan sebagai institusi perekonomian yang memberikan jasa layanan bagi masyarakat dengan beberapa model transaksinya (akad) yang sangat variatif mulai dari pembiayaan hingga beberapa jasa lainnya sudah berada pada level dharuri (primer). Tanpa ketersediaan jasa perbankan, masyarakat akan mengalami kesulitan (masyaqqah) dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Di sisi lain, adanya pro-kontra atau ikhtilaf antar Ulama’ tentang status hukumnya terkadang menjadi sebuah pertanyaan bagi masyarakat. Oleh karenanya, saya memohon kepada Ustadz agar memberikan penjelasan secara komprehensif  terkait status hukum menggunakan jasa layanan perbankan, dan kecenderungan fatwa yang harus diikuti berdasarkan azas ihtiyat (kehati-hatian). Atas jawabannya disampaikan Jazakumullah Ahsanal Jaza’, Amin!

 

Gayus

Sukodono-Sidoarjo

 

Jawaban:

                Walaikum Salam Wr.Wb. Mas Gayus yang budiman, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa lembaga perbankan di Indonesia ditinjau dari sistem dan regulasinya dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: Pertama, lembaga perbankan syariah. Kedua, lembaga perbankan konvensional. Pada lembaga perbankan syariah, aplikasi dan transaksinya tentu akan menggunakan sistem dan regulasi yang sesuai dengan kaidah-kaidah fikih muamalah  sebagaimana dalam rumusan fukaha (ahli fikih), seperti pembiayaan murabahah, dan lain sebagainya. Selain itu, point yang paing mendasar ialah adanya DPS (Dewan Pengawas Syariah) yang selalu melakukan monitoring secara intensif terhadap perbankan syariah dalam menjalankan amanahnya sebagai institusi perekonomian Islam. Dan jika dijumpai transaksi yang tidak sesuai dengan model akad atau trasaksi dalam fikih Islam, tentu akan dilakukan revisi dan perbaikan secara Islami. Hal ini tidak kita jumpai pada lembaga perbankan konvensional sehingga tidak ada fungsi monitoring yang secara independen mengkaji dan menganalisis terhadap berbagai transaksinya yang diselaraskan dengan hukum Islam. Sebagai ilustrasi, nisbah (bagi hasil) yang diberikan oleh lembaga perbankan syariah kepada nasabahnya dihitung berdasarkan jumlah laba yang didapat oleh lembaga perbankan syariah. Berbeda dengan Bank Syariah, Bank konvensional menentukan bunga bagi nasabahnya berdasarkan jumlah nominal yang di saving (simpan) oleh nasabahnya. Ilustrasi ini merupakan bagian dari perbedaan kedua lembaga perbankan tersebut.

Adapun yang berkenaan dengan status hukumnya secara legal formal, memang masih menjadi perdebatan (debatable) diantara para Ulama’ sebagaimana dalam artikulasi berikut ini:

  1. Sebagian Ulama’ (Syeikh Muhammad Tanthowi, Dr. Alwi Syihab, dan lain-lainnya) menyatakan bahwa hukum bunga pada lembaga perbankan konvensional tidak haram. Hal ini didasarkan kepada beberapa argumentasi, antara lain:
  2. Tidak adanya akad atau ijab kabul yang secara sarih (jelas) ditegaskan oleh kedua belah pihak (nasabah dan bank) untuk mensyaratkan adanya kelebihan dari jumlah dana yang disimpan oleh nasabah di Bank Konvensional pada saat menabung di Bank tersebut. Oleh karena tidak adanya akad yang mensyaratkan adanya kelebihan, maka kelebihan (bunga) tersebut tidak termasuk kategori Riba, dan merupakan tabarru’ (kebaikan) yang dipersembahkan oleh Bank Konvensional kepada nasabahnya.
  3. Nasabah yang telah mempercayakan kepada Bank Konvensional untuk mengelola dana yang telah di saving (simpan) di Bank tersebut tentu akan mengharapakan keuntungan sebagai konsekuensi dari adanya penggunaan dana nasabah yang dikelolola secara professional tanpa mengabaikan azas transparansi (keterbukaan). Penentuan bunga yang dikalkulasi berdasarkan jumlah nominal dana nasabah merupakan bagian dari adanya upaya transparansi, dan ini merupakan maslahah. Sebab, jika penentuan bunga tidak didasarkan kepada jumlah nominal dana nasabah, maka sangat mungkin akan terjadi kebohongan dan penyelewengan yang dilakukan oleh pihak Bank kepada nasabahnya. Atas dasar inilah, sistem bunga yang ada di lembaga perbankan konvensional tidak dinyatakan haram.
  4. Sebagian Ulama’ yang lain (Keputusan DSN tahun 2000, fatwa komisi 2004, majma fiqh al-Islami, dan lain-lain) menyatakan bahwa hukum bunga Bank haram, dan termasuk kategori riba sebagaimana dalam argumentasi berikut ini:
  5. Adanya kelebihan (bunga) pada lembaga perbankan konvensional, meskipun tidak disyaratkan secara jelas oleh kedua belah pihak (nasabah dan Bank), namun adanya kelebihan (bunga) tersebut telah menjadi seolah adat (kebiasaan) yang bisa dipastikan keberadaannya. Oleh karenanya, kebiasaan yang sudah bisa dipastikan adanya kelebihan (bunga) tersebut, cukup menjadi dasar yang menguatkan bahwa bunga Bank konvensional haram, dan termasuk kategori Riba. Hal ini didasarkan kepada Kaidah Fikih:

العادة محكمة

“Adat atau kebiasaan bisa menjadi dasar hukum”

  1. Penentuan kelebihan (bunga) berdasarkan jumlah nominal dana nasabah dengan dalih ada kemaslahatan dan merupakan upaya transparansi serta untuk menghindari adanya kebohongan yang dilakukan oleh Bank sebagai pengelola dana nasabah, tentu tidak bisa dibenarkan secara mutlak, mengingat kemaslahatan yang dimaksud hanya memihak kepada nasabah, dan tidak memihak kepada Bank. Hal ini dikarenakan adanya kemungkinan Bank mengalami defisit atau kerugian, sementara pihak nasabah terus berada pada posisi yang diuntungkan karena selalu mendapatkan bunga dari pihak Bank meskipun pihak Bank dalam kondisi kritis.

Namun demikian, tidak semua fasilitas dan layanan jasa yang tersedia di lembaga perbankan konvensional digeneralisir dengan status hukum Haram, karena masih terdapat banyak layanan keungan lainnya yang sangat membantu kebutuhan masyarakat dalam bertransaksi seperti transfer, penerbitan kartu ATM, Kliring, kotak penyimpanan logam mulia (Safe Deposit Box), dan beberrapa layanan lainnya yang ditawarkan kepada nasabah.

Dari paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa perdebatan dikalangan para pakar hukum Islam tentang status hukum bunga Bank konvensional sangatlah tampak dengan aneka argumentasinya masing-masing dan tidak akan pernah berakhir. Demikianlah ruang lingkup kajian fikih yang didasarkan kepada hasil ijtihad Ulama’ yang selalu diwarnai kontroversi paradigma Ulama dan bersifat variatif. Dalam konteks ini, Penulis memposisikan diri untuk merujuk kepada pendapat Ulama yang lebih ahwat (hati-hati) dan tidak untuk mengklaim kebenaran yang bersifat eksklusif dengan mengesampingkan pandangan yang lain. Menurut hemat Penulis, bertransaksi di lembaga perbankan konvensional sebaiknya tidak dilakukan untuk memenuhi azas kehati-hatian dengan mengacu kepada beberapa kaidah berikut:

المتفق عليه مقدم على المختلف فيه

“Mengikuti pendapat yang telah disepakati keabsahannya lebih didahulukan dari pada pendapat yang masih diperselisihkan keabsahannya”.

الخروج من الخلاف مستحب

“Keluar (menghindari) perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang dianjurkan”.

Berbeda halnya ketika nasabah berada dalam kondisi darurat yang memaksanya untuk bertransaksi di lembaga perbankan konvensional semisal menabung dana haji di lembaga perbankan konvensional karena tidak tersedianya lembaga perbankan syariah yang ditunjuk oleh pemerintah sebagai Bank penerima dana haji, maka tentu hal tersebut diperbolehkan sebatas kebutuhannya. Hal ini dibenarkan berdasarkan kaidah

الضرورة تبيح المحطورات

“(kondisi) darurat dapat memeperbolehkan melakukan sesuatu yang dilarang”.

ما أبيح للضرورة يقدر بقدرها

“Sesuatu yang diperbolehkan karena darurat, maka disesuikan dengan kebutuhannya”.

Demkian jawaban dan tanggapan Penulis seputar pertanyaan anda, semoga manfaat, Amin! ()

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s