APRESIASI UNTUK PARA ISTRI

Standar

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan perlakukan mereka dengan sebaik-baiknya. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’ [4]:19)

Ayat ini berada dalam surat nomor 4: An-Nisa (wanita), yang banyak menjelaskan hubungan suami istri, atau keluarga pada umumnya. Ayat ini berisi dua larangan dan satu perintah. Pertama, larangan memperlakukan wanita yang ditinggal mati anggota keluarga dengan seenaknya seperti budak atau barang warisan. Kedua, larangan memeras harta wanita itu, baik dari maskawin yang diterima sewaktu pernikahan atau harta waris dengan alasan yang dicari-cari. Adapun perintah satu-satunya dalam ayat ini adalah kewajiban memperlakukan istri dengan cara yang sebaik-baiknya (makruf).

Kajian ini tidak membicarakan dua larangan di atas, tapi fokus pada firman Allah, “..Dan perlakukan mereka (istri) dengan sebaik-baiknya..” Coba Anda perhatikan, perintah ini disebut setelah Allah menjelaskan larangan memperlakukan wanita seperti budak yang bisa diperjualbelikan atau diwarisi oleh siapa saja yang berminat. Secara tidak langsung Allah berpesan agar memperlakukan istri dengan cara terhormat dan memperhatikan perasaannya sebagai manusia merdeka, tidak memandangnya sebagai budak.

Artikel ini ditulis ketika hampir semua media massa menyiarkan “perbudakan” di sebuah pabrik wajan di Tangerang. Para buruh diperas tenaganya siang dan malam tanpa imbalan yang pantas, serta dicabut kebebasannya sebagai manusia bermartabat. Pada saat yang sama, saya mendapat telpon dengan nada yang hampir sama dengan perbudakan itu dari ibu setengah baya dengan suara yang terisak-isak. “Pak tolonglah saya. Doakan saya tetap sabar menghadapi suami yang semalam menghajar saya, sampai darah mengucur dari hidung. Padahal cinta saya tertumpah hanya kepada suami. Sepanjang berkeluarga, saya abdikan segalanya untuknya. Ia memaksa saya memberi ijin untuk menikah dengan wanita lacur pilihannya.” Saya kenal betul siapa wanita itu. Secara lahiriyah, saya tahu benar kesetiaannya kepada suami, dan pengabdiannya seperti budak melayani majikannya. Beberapa kali saya melihatnya membawa tissue harum untuk mengusap keringat di kening suami atau membersihkan sisa makanan di ujung kedua mulut setelah makan siang.

Sebelum melanjutkan membaca artikel ini, saya mengingatkan, “Jika Anda suami yang mudah tersinggung, Anda dilarang keras membaca kisah dan pesan utama artikel ini.” Dalam pesawat Saudi Airlines dari Johor menuju Jedah bersama rombongan umrah Surabaya, saya memperoleh pengalaman amat berharga. Saya ditakdirkan Allah duduk di barisan kursi tengah, bersebelahan dengan sepasang suami istri yang sama-sama berusia diatas 60-an tahun. Inilah pengalaman terlama saya mencium bau minyak kayu putih: 8 jam lebih. “Mama, tolong gosok yang ini. Terasa masuk angin,” kata sang suami sambil menunjuk punggung kanan di bawah pundaknya. Istri yang setia itu lalu mengosoknya pelan-pelan. Tidak lama kemudian, ia meminta lagi, “Mama, ganti gosok leher saya, saya terasa mau muntah” Istri tetap melayani permintaan sang suami dengan ikhlas.

Beberapa menit kemudian saya tertidur, karena lelah melintasi dua negara melalui darat sebelumnya. Ketika terbangun, bau minyak kayu putih ternyata masih menyengat, karena si istri masih melanjutkan menggosokkan minyak itu. Semula di punggung dan di leher, sekarang ganti di bagian kaki. “Ya itu mama, tekan agak keras sedikit,” pinta sang suami sambil menyelonjorkan kakinya di pangkuan istri. Menjalang turun di Jedah, saya masih melihat istri memegang botol minyak kayu putih di tangan kiri dan tangan kanan memegang kaki sang suami. Saya tidak tahu apakah selama dalam perjalanan delapan jam itu tiada menit tanpa gosokan minyak atau hanya beberapa jam. Yang pasti bagi saya, minyak itu menjadi saksi bakti istri kepada suami. Luar biasa, saya yakin dialah yang termasuk apresiasi Nabi SAW, “Siapapun wanita yang meninggal, dan suaminya sedang bersuka hati atas kesetiaannya, ia dijamin masuk surga.”

Masih banyak istri yang menunjukkan kesetian seribu persen untuk suami. Anda mungkin pernah melihat istri yang tidak tidur semalam karena sibuk menyiapkan segala sesuatu keperluan suami yang akan pergi agak lama ke luar kota. Ia ingin suaminya menikmati perjalanan jauhnya. Sedangkan sang suami- mungkin Anda sendiri – tidur dengan pulas. Anda juga pernah melihat istri yang berlari-lari mengejar suami yang akan memasuki mobilnya hanya karena dasi yang dipakai kurang tepat pemasangannya. Ketika Anda tertawa riang di tempat kerja, istri Anda di rumah justru sedang mengompres anaknya dengan cemas karena panas badannya tidak menurun. Pengabdian istri lebih-lebih dapat Anda lihat pada bulan suci Ramadlan. Pagi hari dimulai dengan pertanyaan, “Makanan apa lagi yang paling disukai suami untuk berbuka puasa?” Mereka juga tidak bisa tidur nyenyak karena takut terlambat bangun untuk menyiapkan sahur sang suami. Ketika suami bangun semua makanan sudah tersaji dengan hangat di meja makan.

Setelah melihat dua fenomena yang kontras yaitu kesetiaan istri dan kesewenang-wenangan seorang suami di atas, saya merasa berkewajiban memberi apresiasi kepada para istri: luar biasa keluhuran budinya. Terlintas juga pertanyaan, “Mengapa ada suami yang begitu tega melakukan kekerasan kepada istrinya yang lemah?”

Dua kasus di atas juga mendorong saya untuk membuat kesimpulan sementara, atau mengambil pelajaran, bahwa “Kepastian susu dibalas susu hanyalah rumus akhirat.” Sedangkan rumus dunia tidak selalu demikian. Tidak jarang kita menyaksikan atau bahkan mengalami sendiri, “Susu; jelas-jelas susu dibalas dengan air toba”. Saya ingin menegaskan kembali pesan ayat ini untuk diri sendiri dan orang lain yang memiliki kepekaaan kemanusiaan, bahwa apapun alasannya, perlakuan yang bertentangan dengan martabat dan kemuliaan wanita harus dihentikan. Suami yang minta serba dilayani oleh istri sampai hal-hal yang sekecil-kecilnya adalah bentuk pelecehan kepada istri. Apalagi melakukan kekerasan kepadanya. Istri yang dititipkan orang tuanya kepada Anda tidak boleh diperlakukan seperti pembantu. Ia adalah belahan jiwa. Jika perlakuan tidak manusiawi itu dipelihara, maka kita telah menyuburkan “perbudakan” baru di rumah tangga. Ketika Anda mengutuk perbudakan buruh di Tangerang, maukah Anda mengutuk perbudakan yang banyak terjadi juga di rumah tangga?. Al Aswad bertanya kepada Aisyah, istri Nabi SAW, “Bagaimanakah kehidupan Rasulullah di rumah?” Aisyah menjawab, “Ia selalu membantu semua pekerjaan rumah tangga. Dan ketika terdengar suara adzan, dia segera bergegas menunaikan shalat.“ (HR Bukhari).

Anda wajib bersyukur jika istri Anda memiliki cinta, kesetiaan dan semangat pelayanan seperti istri kayu putih di atas. Tapi, biarlah itu tumbuh dari dirinya sendiri, bukan atas permintaan atau “instruksi” Anda. Itupun Anda seharusnya menolak perlakuan yang berlebihan. Jika Anda bisa mengaduk kopi sendiri, mengapa harus istri yang Anda minta melakukannya? Ketika tangan Anda masih sehat, mengapa harus istri yang Anda suruh mengambilkan sepatu. Anda harus berkompetisi dengan istri untuk saling melayani, bukan meminta dilayani. Jika kompetisi itu yang kedepankan, dijamin seratus persen ketegangan suami istri bisa berkurangi secara drastis. Frekwensi amarah suami istri juga bisa dikurangi, bahkan bisa dieliminir sama sekali.

Ayat di atas ditutup dengan firman Allah, “Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” Artinya, tidak mungkin semua sifat istri cocok persis dengan keinginan Anda. Jika ada yang tidak Anda sukai, jangan tergesa-gesa berpikir negatif. Sebab, bisa jadi sifat yang tidak Anda sukai itulah yang menyelamatkan Anda, bahkan mengharumkan nama Anda di kemudian hari. (http://www.terapishalatbahagia.net/apresiasi-untuk-para-istri/)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s