Menggabungkan Niat Mengqadha’ Puasa Ramadhan dengan Puasa Sunah

Standar

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh : Ust. Nur Kholis Majid, S.HI, M.HI Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Timur Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com / SMS langsung ke pengasuh : HP. 0813 333 599 34 ———————————

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh :
Ust. Nur Kholis Majid, S.HI, M.HI Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Timur
Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com / SMS langsung ke pengasuh : HP. 0813 333 599 34
———————————

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr.wb. Dua tahun terakhir ini, saya masih ingat kalau saya memiliki hutang puasa Ramadhan. Karena faktor psikologi saya yang tidak stabil, akhirnya saya membiarkan waktu saya begitu saja tanpa mengqadha’ puasa yang pernah saya tinggalkan. Hutang puasa tersebut terjadi pada dua tahun yang lalu. Saat ini, Saya ingin untuk mengqadha’nya. Bagaimana cara dan niatnya?

 

Siti Maghfirah

Kebondalem, Nganjuk

 

Jawaban:

Mbak Siti Maghfirah yang saya hormati, puasa adalah rukun Islam yang keempat yang diwajibkan kepada umat Nabi Muhammad SAW sebagaimana juga diwajibkan kepada umat sebelumnya, walaupun waktunya berbeda. Esensi puasa Ramdhan dan puasa pada era Nabi sebelumnya sama, hanya waktu dan tata caranya saja yang berbeda. Untuk umat Nabi Muhammad SAW diwajibkan berpuasa pada bulan Ramadhan sebulan penuh, meninggalkan makan, minum, jimak dan hal-hal lain yang membatalkan puasa dimulai sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari yang dibarengi niat.

Jika tidak dapat melakukan puasa di bulan Ramadhan karena sakit, bepergian atau karena sebab lain termasuk karena faktor psikologi, maka wajib diganti di waktu yang lain. Allah SWT, berfirman:

…فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ…

Artinya: “…Maka barangsiapa diantara kamu sekalian sakit atau bepergian, maka diganti dihari yang lain…” (Q.S. al- Baqarah:184).

Sayidatina ‘Aisyah berkata setelah konfirmasi dengan Rasulullah SAW tentang shalat dan puasa yang biasa ditinggalkan oleh wanita yang sedang menstruasi (haid) sebagaimana berikut ini:

عَنْ مُعَاذَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِى الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِى الصَّلاَةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّى أَسْأَلُ. قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ[1]

Artinya: “Dari Muadzah beliau berkata: Aku bertanya kepada Aisyah, lalu aku berkata: bagaimana keadaan orang yang haidh, apakah mengqadha’ puasanya dan tidak mengqadha’ shalatnya. Aisyah bertanya: apakah kamu termasuk penduduk Harura’? aku menjawab: saya bukan penduduk Harura’, tetapi aku hanya bertanya. Aisyah berkata: hal demikian juga terjadi padaku, Kami diperintah (oleh Rasulullah SAW) untuk mengganti puasa dan tidak diperintah untuk mengganti shalat.”

Mbak Maghfirah yang saya hormati, puasa yang Anda tinggalkan itu baik karena ada alasan syar’i seperti sakit, bepergian, haid, atau alasan non syar’i seperti karena malas, psikologi tetap harus diqadha’. Caranya, ya puasa di hari-hari lain yang tidak dilarang sepanjang tahun (seperti halnya dua hari raya, hari tasyriq: 11,12,13 bulan dzul hijjah). Adapun Syarat rukunnya sama dengan puasa Ramadhan, namun yang membedakan ialah niatnya. Yang seharusnya niat ‘aada’ diganti ‘qadha’. Contohnya:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu shouma ghodin an qadha’i syahri romadlona lillahi ta’ala.” (aku niat berpuasa besok untuk mengqadha’ puasa dibulan Ramadhan karena Allah ta’ala). Dengan demikian, maka niat qadha’ ya hanya untuk mengqadha’ puasa yang telah ditinggalkannya, dan tidak boleh untuk yang lain. Namun ada sebagian pendapat ulama’, kalau dia terbiasa berpuasa sunnah di hari itu kemudian digunakan puasa qadha’ maka dia mendapat nilai pahala puasa sunnah itu walaupun tidak diniatkan kerena keistiqamahannya. Sedangkan niat puasa hanya untuk satu amalan, dan tidak boleh untuk dua amalan sekaligus. ()

 

[1] Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi al-Naysaburi, Sahih Muslim, Juz I, hal 182. Hadis No. 789

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s