HARI KEMERDEKAAN

Standar

hari-kemerdekaan-indonesia-yang-ke-67“Enaknya untuk memperingati hari kemerdekaan besok kita isi acara apa saja ya?” tanya Amon sebagai ketua organisasi .

“Pokoknya harus seru dan mewah, kita kan sekolah elit jadi gak afdol kalau gak mewah “ usul salah satu siswa yang bernama Riko. Kebiasaan Riko adalah selalu dimanja  orang tua, apa maunya harus dituruti. Tidak heran ia menjadi anak yang keras kepala.

Sahabatnya hanya menggelengkan kepala atas usulan tersebut , malah ada yang membantahnya. Rika tidak sependapat dengan riko.

“Riko ingat! meskipun  sekolah kita elit kita tidak boleh begitu. Ingat di sekolah kita ini ada banyak murid dari beasiswa dan apabila acaranya diharuskan  mewah pasti kita akan tambah membebani orang tua” tanggap rika.

“Ah rika jangan bilang kamu membela  Ade, mentang mentang dia kurang mampu selalu saja kamu bela” hardik Riko.

“Cukup Riko! aku tidak membelanya. Ini berdasarkan kenyataan siswa disini. Pendapat ku ini sudah aku fikirkan  matang matang dan tidak seperti kamu yang hanya mengandalkan harta orang tua”.

“Apa katamu?!”

Akhirnya percekcokan terjadi pada keduanya dalam beberapa menit.

“Cukup!” bentak Amon.

“Kalian ini apa apaan, ini musyawarah bukan tempat berdebat. Silahkan keluar bagi yang tidak ingin bermusyawarah” kata Amon dengan tegas.

Bukan Rika ataupun Riko yang keluar ruangan  tersebut tapi Ade. Entahlah apa yang ada dalam fikiran Ade, terlihat jelas di matanya tersimpan kepedihan.

“Brakkk”suara pintu yang di banting Ade, ruangan menjadi hening dan musyawarahpun ditunda  dahulu.

***

Di bawah pohon belakang sekolah

Ade termenung atas perdebatan kedua sahabatnya. Ia memang dari keluarga kurang mampu, namun kemampuanya dalam bidang pendidikan tidak d ragukan. Sikap Ade yang rendah hati itulah yang membuat orang menyeganinya.

Memang awalnya Ade sedih atas usulan Riko, namun sekarang ia berpikir keras untuk menemukan sebuah ide  yang unik dan cocok untuk memperingati hari kemerdekaan. Ia  pun ber posthink diri.

“Ya aku tau “ sebuah ide yang muncul dalam pikiran Ade.

***

Musyawaroh dilanjutkan kembali keesokan harinya.

Hari ini Ade tidak hadir dalam musyawaroh tersebut. Usulan pertunjukan  seperti pameran tentang budaya dan perjuangan para pahlawan deal akan dilaksanakan. Itulah usulan dari Riko dan akirnya semua pihak menyetujuinya meskipun memungut biaya yang banyak.

“Akirnya, Ade aku bisa mengalahkan mu” batin Riko .

Persiapan demi persiapan telah dilaksanakan, namun batang hidung Ade tidak muncul muncul.

“Ade kamu dimana? Apakah kamu tidak berpartisipasi dalam acara ini? padahal aku ingin melihat kreasimu yang unik untuk terakir kali kita bersama” Rika bertanya sendiri dalam batinnya. Ini adalah tahun terakhir untuk angkatannya ikut berpartisipasi.

***

Ade sedang menyibukkan diri kamarnya, mengedit video yang akan dia tampilkan pada acara  besok. Berbekal komputer  bekas dari ayahnya, Ade semangat empat lima mengerjakan idenya hingga larut malam.

***

Hari H di lapangan sekolah

Kelas sepuluh hingga kelas dua belas berkumpul di lapangan. Berbagai macam penampilan dari usulan Riko satu persatu telah ditampilkan. Rasa puas dan bangga menyelimutinya. Bangganya memuncak ketika ia tahu bahwa  Ade tidak hadir.

“Yeee….ini baru acara gak garing  sob” senggol salah satu siswa yang merasa puas  dengan acara tersebut.

“Siapa dulu..Riko”

Tak lama kemudian tiba tiba di lokasi tersebut menjadi sepi. Siswa siswi seakan berjalan menuju aula sekolah . Karena penasaran Riko pun menguntit  di belakang kelas sepuluh yang berada paling belakang aula.

Setelah semua  siswa siswi terkumpul, pintu aula di tutup dan lampu aula dimatikan.

“Ha…kenapa ini kok lampunya dimatikan?” bahkan ada siswa yang histeris karena takut kegelapan. Tak lama kemudian tersorot cahaya dari belakang layaknya di bioskob. Sebuah  layar yang memunculkan alasan  ketidakhadiran Ade selama ini. Ternya selama ini ade berkeliling wilayah hanya untuk mengenal warga daerah asing dan belajar apapun yang bisa ia pelajari. Mulai berkenalan hingga belajar sesuatu yang tidak pernah ia jumpai . Hingga ada sesuatu hal yang mengharukan, Ade telah menyelamatkan nyawa seorang anak yang hampir menghembuskan nafas terakir karena demam dan sang ibu tidak mampu berbuat apa apa. Ade pun harus berjalan menuruni dan menaiki gunung  untuk menemukan puskesmas. Meskipun Ade bukan orang yang kaya namun ia bersedia dimintai pertolongan selagi mampu.

“hiks hiks” Rika terharu atas video Ade, tak sedikit siswa siswi yang terharu atas video tersebut.

“Kawan sesungguhnya inilah hal yang patut kita teladani dari jasa para pahlawan, pertama kita adalah satu (bhineka tunggal ika) maka selayaknya  kita harus mengenal satu sama lain dan tidak hanya ditampilkan saja tapi kita harus benar benar mengenalnya dan untuk ke dua, bukankah para pahlawan telah berjuang untuk menyelamatkan nyawa rakyatnya dari penjajah? Pahlawan bukan untuk membuat orang di sekitarnya atau rakyatnya rugi atau susah melainkan untuk  menyelamatkan dan mensejahterahkan rakyatnya. Inilah kemerdekaan ! demi rakyat. Di hari kemerdekaan ini alangkah baiknya kita meneladani jasa para pahlawan bukan untuk sekedar acara berfoya foya” cetus Ade

“plak plak plak” terdengar suara tepukan dari  Amon yang sejak tadi memperhatikan gelagat Ade.

“Ade apa yang kamu lakukan ini ha? Kau  telah mengacaukan acaraku yang sudah ku rencanakan sejak dulu !” teriak Riko dari belakang yang sontak seluruh mata tertuju padanya.

Perlahan Riko  maju ke depan untuk mendekat pada Ade.dan …

“buk” tubuh Riko memeluk erat Ade.

“Maaf Ade selama ini aku telah iri kepadamu, aku kira dengan cara ini aku bisa mengalahkanmu. Ternyata tidak”

Adepun memeluk tubuh Riko makin erat sambil berbisik

“semua orang memililki kelebihan masing masing ko, dan sekarang adalah hari merdeka, marilah kita sama sama merasakan kemerdekaan kita berdua, kemerdekaan persaudaraan.”

Tiba tiba semua anak bertepuk tangan dengan serempak dan meriah….

“Ini baru merdeka” ucap Ade sambil bersalaman dengan Riko. (eS eR I)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s