MEMAKNAI ISTIHLAL

Standar

Cover Agustus 2014Pada bulan Syawwal jamak dijumpai umat Islam di Indonesia menyelenggarakan Istihlal (sebagian orang menyebutnya halal bi halal). Kata istihlal merupakan bentuk masdar dari kata istahlala (‘ala wazni istaf’ala) yang berfaedah “tholab”, artinya “minta halal”. Sama dengan kata istighfar (istaghfaro) yang berarti minta ampun. Jadi “istihlal” berarti minta halal (atas kesalahan yang pernah diperbuat).

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ اَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ الْيَوْمَ     – رواه البخارى

Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “barang siapa mempunyai dosa kedholiman terhadap kehormatan saudaranya atau apa pun darinya, maka hendaklah dia meminta halal dari dosa tersebut pada hari ini”.

Namun memang, minta halal (minta dimaafkan) atas kesalahan atau kedholiman yang telah diperbuat ini hendaknya tidak hanya kita lakukan ketika momen idul fithri atau bulan Syawwal, tetapi kapan saja kita berbuat salah atau dholim, hendaknya kita segera minta dihalalkan (dimaafkan).

Lalu, apa sebenarnya makna yang terkandung dalam Istihlal?

Guru kami, KH. M. Ihya Ulumiddin pernah menyampaikan bahwa Ihtihlal itu hendaknya kita maknai sebagai momentum “pengakuan”. Iya, pengakuan. Kita mengakui bahwa kita banyak dosa dan salah kepada Alloh ta’ala. Kita mengakui bahwa kita punya banyak kesalahan dan kedholiman kepada saudara dan sahabat kita. Kita ngaku, dan kemudian minta maaf.

Kita ngaku bahwa kita belum bisa maksimal dalam memanfaatkan madrasah Romadlon. Kita masih bolong jama’ah sholat fardlunya. Kita masih bolong qiyamul-lailnya. Kita masih bolong tilawah al-Qurannya. Kita masih bolong infaq-shodaqohnya. Iya, memang benar kita berpuasa, menahan lapar dan haus. Tapi kita belum bisa maksimal untuk menahan diri dari perkataan kotor, perkataan yang tidak berguna, perkataan yang menyakitkan orang lain. Kita belum bisa berpuasa dari “ngerasani” (ghibah) dan dusta. Kita masih sering berbohong (kecil). Kita belum bisa berpuasa dari iri-dengki. Kita belum bisa berpuasa dari riya` dan sum’ah, ‘ujub dan takabbur. Ayo kita NGAKU..!!

Astaghfirullohal’adhim…

Sementara orang menganggap bahwa frase ‘Id al-Fithri berarti “kembali ke suci”. Hal ini –mungkin- didasarkan kepada sebuah hadits yang menjelaskan bahwa barang siapa berpuasa Romadlon dengan iman dan ihstisab (mengharap ridlo Alloh ta’ala) maka diampuni dosanya yang telah lampau. Sehingga beberapa orang tersebut mengganggap bahwa orang yang dia beri ucapan selamat ‘Id al-Fithri adalah orang yang diampuni segala dosa-dosanya yang telah lampau. Apakah hal tersebut benar? Agaknya kita tidak bisa membenarkan argumen tersebut begitu saja. Karena Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam pun mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa yang tidak memperoleh pahala apa pun kecuali hanya lapar dan dahaga karena dia tidak menjaga diri dari berkata kotor, berbohong, dan memfitnah ketika dia berpuasa.

Di samping hal tersebut, pemahaman bahwa idul fithri berarti “kembali ke suci” inilah yang mungkin menyebabkan banyak orang merasa gembira dan berpesta pora ketika bulan Romadlon habis dan bulan Syawwal tiba. Hal ini bisa kita saksikan di TV dan kehidupan sekitar kita. Ustadz Junaidi Sahal dawuh; Orang yang merayakan kemenangan belum tentu meraih kemenangan…

Apa makna ‘Id al-Fithri yang sebenarnya? Frase ‘Id al-Fithri عيد الفطر)) terbentuk dari dua kata, ‘Id yang berarti kembali, dan al-Fithri yang berarti sarapan atau berbuka. BUKAN al-fithroh ( الفطرة ) yang berarti; naluri, watak, asal kejadian, agama yang lurus, dan kesucian (Lihat Kamus Mutahar; Kamus Arab-Indonesia, hal: 828). Jadi frase selamat ‘Id al-Fithri bermakna “selamat sarapan atau berbuka kembali” yang menandai bahwa bulan Romadlon telah usai dan tibalah tanggal 1 Syawwal. Bukankah ketika hari Raya ‘Id al-Fithri kita diharomkan untuk berpuasa dan disunnahkan untuk sarapan? Agaknya makna seperti ini lebih rasional dan mendekatkan kita kepada pemahaman yang benar.

Lebih lanjut, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi yang menjelaskan bahwa ‘Id al-Fithri adalah hari untuk berbuka.

عن أبي هريرة : أن النبي صلى الله عليه و سلم قال الصوم يوم تصومون والفطر يوم تفطرون والأضحى يوم تضحون

(Maksudnya) “Dari Abu Huroiroh rodliyallohu ‘anhu: Sesungguhnya Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda; shoum /puasa adalah hari kalian berpuasa, (‘Id) al-Fithri adalah hari kalian berbuka, dan (‘id) al-Adlha adalah hari kalian menyembelih.” (Sunan at-Tirmidzi no. 697)

Oleh karena itu, janganlah kita terlalu PeDe dengan merasa bahwa kita telah kembali suci setelah melewati bulan Romadlon. Sebaliknya, marilah kita bersikap tawadlu’ (rendah hati). Marilah kita mengakui kesalahan dan kekurangan kita, terutama selama bulan Romadlon. Marilah kita senantiasa berdoa dan mendoakan saudara kita dengan doa:

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

taqobbalallohu minna wa minkum

(Maksudnya): “semoga Alloh menerima [ibadah, khususnya di bulan Romadlon] dari kami dan kalian”. (Diriwayatkan dari Jubair bin Nufair. Lihat Fiqhus sunnah: I/274)

Konon, dulu para sahabat Nabi mengamalkan doa ini selama kurang lebih 6 bulan. Jadi mulai tanggal 1 Syawwal sampai bulan Robi’ul Awwal, para sahabat Nabi, jika bertemu saudara dan sahabatnya, beliau mengucapkan doa “taqobbalallohu minna wa minkum”.

Kenapa beliau-beliau sampek segitunya..??

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam ad-Daruquthni.

اِذَا سَلِمَتِ الْـجُمُعَةُ سَلِمَتِ الْأَيَّامُ, وَ اِذَا سَلِمَ رَمَضَانُ سَلِمَتِ السَّنَةُ

idza salimat al-jum’ah, salimat al-ayyam. idza salima Romadlon, salimat as-sanah.           

(Maksudnya): “Jika hari jum’at selamat, selamatlah hari-hari (selama sepekan), dan jika bulan Romadlon selamat, selamatlah (bulan-bulan selama) setahun”.

Muslim itu, jika jum’at nya selamat, maka insyaalloh, selamatlah ia di sepanjang pekan. Ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi kita umat Islam di Indonesia. Salah satu kerugian terbesar kita adalah jum’at tidak menjadi hari libur. Sehingga kita tidak bisa menggunakan hari jum’at untuk fokus mendekatkan diri kepada Alloh ta’ala. Kita masih disibukkan oleh sekolah dan pekerjaan. Kita pun akhirnya melaksanakan sholat jum’at dengan kurang sempurna; telat, ngantuk pisan.

Selanjutnya, mari kita perhatikan sabda Nabi kita tercinta. Muslim itu, jika bulan Romadlonnya selamat, bisa diartikan jika ibadah-ibadahnya di bulan Romadlon diterima oleh Alloh ta’ala, maka insyaalloh, selamatlah ia di sepanjang tahun. Selamat imannya. Selamat amalnya. Nah, inilah rahasianya kenapa para sahabat dengan segitunya mengamalkan doa “taqobbalallohu minna wa minkum” sampai 6 bulan pasca Romadlon. Jadi jika doa tersebut dikabulkan oleh Alloh ta’ala, maka efeknya akan ruarrr biasa bagi kehidupan para sahabat itu; selamat sepanjang tahun. Siapa yang gak mau..??

Maka, marilah kita mentauladai para sahabat Nabi yang mulia itu. Mari kita senantisa berdoa dan mendoakan saudara dan sahabat kita dengan doa “taqobbalallohu minna wa minkum”. Semoga doa kita dikabulkan oleh Alloh ta’ala. Amin.

Lebih lanjut, hendaknya kita juga mengakui bahwa kita masih sering berbuat salah kepada bapak ibu kita, saudara-saudara kita, anak-anak kita, tetangga kita, dan teman-teman kita. Perbuatan kita masih sering membuat mereka sakit hati. Lisan kita masih sering membuat mereka tersinggung. Padahal merekakah orang-orang yang selama ini menyayangi kita, memperhatikan kita, meringankan beban kita, membantu kita mengatasi permasalahan sehari-hari, dan sering menolong kita.

Padahal Alloh ta’ala berfirman (yang maksudnya):

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”. (QS. Al Ahzaab : 57)

Padahal Rosululloh shollallohu alaohi wa sallam bersabda (yang maksudnya):

“Seorang muslim (sejati) adalah orang yang orang muslim lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya…” (HR. Bukhari, at Tirmidhi)

Oleh karena itu, mari dengan rendah hati kita mendatangi mereka, kita akui kesalahan kita, kemudian minta maaf.

Terakhir, saya tutup tulisan sederhana ini dengan sebuah sya’ir:

لَيْسَ الْعِيْد لِمَنْ لِبَاسُهُ جَدِيْد # وَلَكِنَّ الْعِيْد لِمَنْ إِيْمَانُهُ يَزِيْد

(laisal ‘id li man libasuhu jadiid  #  wa lakinnal ‘id liman imanuhu yaziid)

‘Id itu bukanlah milik mereka yang baru bajunya

Tetapi, ‘Id adalah milik mereka yang bertambah imannya

 

Selamat ‘idul Fitri 1435 H. Taqobbalallohu minna wa minkum. Ja’alanallohu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin. Mohon maaf atas segala salah dan khilaf.

Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam bish-showab. (tj/LP2A PBSB Kemenag RI)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s