PUASA DAN FUNGSI KELUARGA

Standar

Berpuasa-Membuat-Orang-Jadi-Lebih-Sehat1Oleh: Hj. Luluk Fikri Zuhriyah (Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya)

Puasa merupakan salah satu sendi utama dalam Islam, di samping empat sendi yang lain yang sering disebut dengan rukun Islam. Puasa selain sebagai kewajiban yang harus dijalankan muslim mukallaf, juga sebagai pendukung fungsi keluarga melalui optimalisasi  fungsi religious, edukatif, rekreatif, dan protektif. Tentu saja hal tersebut dapat dilakukan melalui komunikasi antar anggota keluarga.

Hakikat Puasa

Puasa berarti menahan diri untuk tidak makan dan minum serta membatalkannya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Hakikat puasa adalah menahan seluruh keinginan  manusia  untuk  berbuat  yang  tidak  sesuai  dengan  ajaran  agama.   Dengan puasa inilah manusia diharapkan memiliki derajat yang tertinggi, yakni manusia yang bertakwa  yang  selalu  bergairah  untuk  melakukan  amal salih  dan  menjauhi  amal buruk.  (QS.  al-Baqarah: 183). “ Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.”

Puasa  merupakan  ibadah  ritual sekaligus  sosial  yang memiliki  kedalaman makna. Puasa melatih seorang Muslim untuk mengendalikan nafsunya, menahan keinginan-keinginan untuk melakukan perbuatan yang  dilarang, dan  sebagai wahana  memupuk  serta  melatih  rasa  kepedulian  dan  perhatian kepada sesama. Tidak cukup itu, puasa juga memupuk kepedulian dan perhatian terhadap diri dan keluarga. Sebab dengan peduli terhadap diri, dan keluarga berarti kita telah melaksanakan amanah al-Qur’an. (QS. Al-Tahrim: 6)  “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Fungsi Keluarga

Keluarga merupakan sebuah institusi terkecil di dalam masyarakat sebagai wahana untuk mewujudkan kehidupan yang tentram, aman, damai dan sejahtera dalam suasana cinta dan kasih sayang diantara anggotanya. Keluarga menjalankan fungsi yang penting bagi keberlangsungan masyarakat dari generasi ke generasi. Mengutip beberapa fungsi keluarga yang diungkapkan oleh Sudjana bahwa fungsi keluarga diantaranya: edukatif, religius, protektif dan rekreatif. (Djuju Sudjana: 1990)

Fungsi edukatif berarti keluarga adalah tempat pendidikan bagi semua anggota keluarga. Orang tua mempunyai peranan penting untuk membawa anak menuju kedewasaan jasmani dan rohani dalam dimensi kognisi, afeksi maupun skill, dengan tujuan untuk mengembangkan aspek mental spiritual, moral, intelektual, dan profesional. Selaras dengan ini maka  fungsi keluarga tidak hanya dilihat dari sisi edukasi, tetapi juga sisi religi, yakni bahwa keluarga merupakan tempat penanaman nilai moral agama melalui pemahaman, penyadaran dan praktek dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta iklim keagamaan. Hal ini dikisahkan dalam al-Qur’an  dengan memberi contoh bagaimana Lukman al-Hakim menanamkan aqidah kepada anak-anaknya. (QS Lukman: 13). “Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran, “Hai ananda, janganlah kamu mempersekutukan Allah sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedhaliman yang besar”.

Fungsi rekreatif, bahwa keluarga merupakan tempat yang dapat memberikan kesejukan dan melepas lelah dari seluruh aktifitas masing-masing anggota keluarga. Fungsi ini dapat mewujudkan suasana keluarga yang menyenangkan, saling menghargai, menghormati, dan menghibur masing-masing anggota keluarga sehingga tercipta hubungan harmonis, damai, kasih sayang dan setiap anggota keluarga merasa “rumahku adalah surgaku”. Selain itu Fungsi protektif, berarti keluarga menjadi tempat yang aman dari gangguan internal maupun eksternal, dan untuk menangkal segala pengaruh negatif yang masuk di dalamnya. Gangguan internal dapat terjadi dalam kaitannya dengan keragaman kepribadian anggota keluarga, perbedaan pendapat dan kepentingan, dapat menjadi pemicu lahirnya konflik bahkan juga kekerasan.

Bulan Ramadlan adalah momen istimewa bagi keluarga. Antara anggota keluarga saling berinteraksi, dan berdiskusi dengan intensitas lebih dibanding bulan-bulan lain. Pada saat berbuka, sahur maupun taraweh adalah saat-saat bagaimana keluarga berkesempatan untuk berinteraksi  lebih intens. Orangtua dapat memberi nasihat kebaikan, memberi tauladan bagi anak-anaknya. Mengembangkan sikap menghargai  dan senantiasa menjaga keharmonisan keluarga melalui komunikasi. Komunikasi yang baik merupakan faktor yang penting bagi keberfungsian keluarga. Komunikasi mencakup transmisi keyakinan, pertukaran informasi, pengungkapan perasaan, dan proses penyelesaian masalah.

Oleh karena itu puasa di bulan Ramadlan dapat dijadikan sebagai  sarana optimalisasi fungsi keluarga. Fungsi-fungsi tersebut dapat dijalankan sebagai upaya untuk membentuk individu menjadi pribadi yang bertaqwa. Jika fungsi tersebut tidak berjalan maka akan menganggu keharmonisan dan sistem keteraturan keluarga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s