WANITA KARIR: KUNJUNGAN KERJA KE LUAR NEGERI TANPA MAHRAM, BOLEHKAH?

Standar

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh : Ust. Nur Kholis Majid, S.HI, M.HI Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Timur Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com ———————————

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh :
Ust. Nur Kholis Majid, S.HI, M.HI Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Timur
Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com
———————————

 

Pertanyaan:

Modernisasi zaman yang ditandai dengan adanya kemajuan di berbagai aspek kehidupan akan memberikan implikasi dan pengaruh terhadap mindset dan pola pikir masyarakat. Adanya wacana dan aksi yang mencerminkan emansipasi wanita yang selalu didengung-dengungkan oleh sebagian orang belakangan ini merupakan salah satu bukti nyata akan adanya konsekuensi dari adanya dinamisasi zaman. Mereka berdalih bahwa kaum hawa memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam ranah publik. Sejumlah artis ternama di Indonesia yang duduk di kursi perwakilan rakyat juga menjadi bukti yang tak terbantahkan akan adanya tuntutan kaum hawa untuk mendapatkan kesetaraan dalam hal profesi. Di sisi lain, profesi tersebut terkadang dipandang menjadi polemik dalam kehidupan sosial masayarakat karena konfrontatif dengan sejumlah nas yang secara dzahirnya membatasi ruang gerak publik kaum hawa, semisal Hadis Nabi SAW tentang larangan bagi kaum hawa untuk bepergian tanpa mahram. Benarkah Islam membatasi ruang gerak public bagi kaum hawa? Bagaimana pandangan Islam tentang eksisitensi perempuan yang menjabat di structural pemerintahan, dan kerap kali bepergian tanpa didampingi mahram? Atas jawabannya disampaikan jazakumullah ahsanal jaza’, amin!

Alfiana

Sukodono-Sidoarjo

 

Jawaban:

                Islam sebagai agama penebar kasih sayang di muka bumi ini memiliki peran yang sangat signifikan dalam upaya mengangkat harkat dan martabat kaum hawa. Hal ini terbukti dengan adanya spirit agama Islam untuk memposisikan wanita sebagaimana manusia terhormat dan berperadaban tinggi yang diwujudkan melalui serangkaian norma yang dilegalisasikan dalam syariat Islam seperti pelanggaran puasa dengan melakukan persetubuhan di siang bulan Ramdlan yang kemudian berkonsekuensi kepada sanksi “memerdekakan budak”. Keikutsertaannya sayyidatina Aisyah dalam peristiwa “perang Jamal” juga turut serta menjadi bukti bahwa Islam tidak pernah mengenal istilah “diskriminasi”. Akan tetapi, upaya untuk mensejajarkan kaum hawa dengan kaum laki-laki tersebut tidak berarti bahwa wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam segala aspek kehidupan. Allah SWT menciptakan manusia (laki-laki dan perempuan) sesuai dengan kodratnya masing-masing. Ada wilayah tertentu yang secara kodrati bukan menjadi ranah kaum hawa seperti wali nikah, dan lain sebagainya. Atas dasar inilah, kedudukan laki-laki dan perempuan harus diposisikan secara proporsional dan sesuai dengan kompetensi serta naluri yang dimilikinya semenjak lahir.

Kaitannya dengan status dan profesi perempuan sebagai anggota legislatif, yang kadang-kadang terikat dengan tuntutannya sebagai wakil rakyat untuk melaksanakan tugas dan kewajiban semisal melakukan kunjungan kerja atau study banding ke luar negeri tanpa didampingi mahramnya, terdapat sejumlah teks Hadis Nabi SAW yang sangat bervariasi dalam memberikan batas minimal, dan bahkan ada Hadis Nabi SAW yang bersifat mutlak (tanpa batasan minimal) yaitu:

عَنْ أَبِى مَعْبَدٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ يَقُولُ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ وَلاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ[1]

“Dari Ma’bad, dia berkata: saya mendengar Ibn Abbas berkata: saya mendengar Rasul SAW sedang berkhutbah: “janganlah laki-laki itu berduaan dengan perempuan kecuali didampingi mahramnya, dan janganlah perempuan itu bepergian tanpa mahramnya pula”.

وَرُوِىَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ لاَ تُسَافِرُ الْمَرْأَةُ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ[2]

“…Diriwayatkan dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Janganlah perempuan itu bepergian selama sehari semalam tanpa didampingi mahramnya”.

وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ يَوْمَيْنِ مِنَ الدَّهْرِ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ مِنْهَا أَوْ زَوْجُهَا[3]

“…Saya mendengar Rasul SAW bersabda: “Janganlah perempuan itu bepergian selama dua hari kecuali didampingi oleh mahram atau suaminya”.

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لاَ تُسَافِرُ الْمَرْأَةُ سَفَرَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ فَصَاعِدًا إِلاَّ مَعَ أَبِيهَا أَوْ أَخِيهَا أَوِ ابْنِهَا أَوْ زَوْجِهَا أَوْ ذِى مَحْرَمٍ[4]

“Dari Abi Said, beliau berkata: Rasul SAW bersabda: “Janganlah perempuan itu bepergian selama tiga hari atau lebih kecuali bersama dengan ayah, saudara, anak, suami, atau mahramnya”.

Sejumlah teks Hadis SAW diatas menjelaskan adanya larangan bagi perempuan untuk melakukan safar (bepergian jauh) tanpa ada mahram yang mendampinginya. Mahram yang dimaksud ialah orang-orang yang masih ada hubungan kekerabatan dan haram untuk dinikahi, seperti ayah, ibu, saudara, paman, dan bibi. Penjelasan teks Hadis Nabi SAW yang pertama bersifat mutlak atau tanpa disertai qayd (batasan) minimal. Sedangkan teks Hadis Nabi SAW kedua, ketiga, dan keempat bersifat muqayyad (ada batasan minimal), namun sangat bervariasi, antara satu, dua, dan tiga hari. Atas dasar dzahirnya teks Hadis Nabi SAW diatas, sebagian Ulama’ melarang perempuan untuk bepergian jauh tanpa didampingi mahramnya. Atas dasar pertimbangan ini pula, perempuan diharamkan untuk untuk duduk di birokrasi pemerintahan secara mutlak karena dimungkinkan akan konfrontatif dengan teks Hadis Nabi SAW sebagaimana diatas.

Sedangakan sebagaian Ulama’ yang lain menyatakan bahwa perempuan yang bepergian jauh tanpa didampingi mahramnya tidak mencapai status “haram” namun berada pada level makruh. Adapun argumnetasi yang dijadikannya sebagai acuan oleh mereka ialah adanya situasi dan kondisi yang melatar belakangi lahirnya teks Hadis Nabi SAW yaitu “rasa tidak aman”. Dalam konteks masyarakat arab di era Nabi SAW, situasi, kondisi, dan latar belakang sosial kulturalnya memang berbeda dengan masyarakat modern seperti saat ini. Hal ini ditopang dengan jumlah populasi manusia yang ada pada saat itu masih bersifat minim, sehingga jaminan keamanannya belum bisa dipastikan. Lebih dari itu, ketersediaan layanan publik dan jejaring sosial masih belum ada. Berbeda dengan masa kini, jumlah populasi manusia semakin bertambah, didukung dengan adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat canggih sehingga memudahkan bagi orang yang bepergian untuk mengakses informasi terkini, dan berinterkasi serta berkomunikasi dengan pihak lain, termasuk keluarga yang menjadi mahramnya. Substansinya, aspek keamanan yang menjadi prioritas paling utama sangat mungkin terjamin. Dengan demikian, wanita yang bepergian jauh tanpa didampingi mahramnya, selagi ada jaminan keamanan bagi dirinya, maka hal tersebut diperbolehkan. Teks Hadis Nabi SAW diatas harus difahami secara kontekstual dengan melihat latar belakang sosial-kulturalnya, bukan merujuk kepada tekstual dan redaksinya semata. Pandangan ini dianalogikan dengan perempuan yang hendak melaksanakan ibadah haji tanpa mahram sebagaimana statemen Ulama’ dalam memberikan syarh (penjelasan) terhadap teks Hadis Nabi SAW diatas.

وَقَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ إِذَا كَانَ الطَّرِيقُ آمِنًا فَإِنَّهَا تَخْرُجُ مَعَ النَّاسِ فِى الْحَجِّ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ وَالشَّافِعِىِّ[5]

“Menurut sebagian Ahli Ilmu, Jika dalam perjalanannya tersebut ada jaminan keamanan, maka perempuan tersebut boleh bepergian jauh melaksanakan ibadah haji. Dan ini pandangannya Imam Malik dan Imam al-Syafi’i”.

Demikian jawaban Penulis, semoga tulisan ini bermanfaat bagi Anda khususnya, dan masyarakat pada umunya, amin!

 

[1] Sahih Muslim, Juz IV, hal. 104. Hadis No. 3336

[2] Sunan Turmudzi, Juz V, hal. 16. Hadis No. 1202

[3] Sahih Muslim, Juz VIII, hal. 425. Hadis No. 3325

[4] Sunan Ibn Majah, Juz IX, hal. 72. Hadis No. 3010

[5] Sunan Turmudzi, Juz V, hal. 16. Hadis No. 1202

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s