Misteri Rumah Kunang-Kunang Kecil

Standar

2x

 

 

 

 

 

Kaki panjang mengetuk-ngetuk emperan sebuah bangunan panti asuhan di tengah-tengah kampung kecil. Sesekali wajahnya tampak kesal dan muram. Ada sedikit polesan hitam di kantung matanya yang indah namun gelap. Ia menatap sekali lagi bangunan usang didepannya, dengan hati yang masih ragu ia kemudian melangkah pergi dari tempat yang ia pandangi sejak tadi.

****

“Siapa ya? yang tega membakar tempat ini!” Tanya seorang penduduk kampung sekitar saat matahari sudah mulai naik dan memperlihatkan dengan jelas warna keusangan sebuah gedung yang sederhana namun indah. Semua yang berada disana di liputi rasa cemas dan penuh dengan tanda Tanya.

****

Diantara keramaian tak ada yang melihat beberapa pria dewasa menatap girang kearah gedung yang baru saja mereka lumatkan seketika dengan si jago merah. Pria paling tinggi diantara mereka mengisyaratkan anak buahnya untuk segera pergi dari sana sebelum pihak hukum sampai di tempat kejadian.

Tanpa mereka sadari seorang bocah kecil sekitar umur 15 menatap kearah gerombolan pria yang sedari tadi masih berdiri di tempat kejadian secara bergantian dan mengeram pelan. “Sudah pasti kalian semua yang menghancurkan tempat tinggal kita.” Ucap si bocah penuh dengan amarah. “Aku tidak rela mereka semua mati, kalian semua harus membayarnya!!” amarah si bocah semakin memuncak. Ia kemudian berlari sekuat tenaga kearah yang berlawanan dan hilang masuk kedalam semak-semak belukar.

****

Faruq masih berkutat pada buku paket bimbel untuk unasnya nanti. Ia terus berlatih soal-soal bahasa Indonesia. Baju biru putihnya sudah ia tenggerkan bersama hanger di tempat centelan baju. Seketika itu terdengar jeritan dari luar kamarnya. Kosentrasinya buyar dan mencoba keluar untuk melihat keadaan. “Api!!!!” teriaknya. “kakak ayo kita keluar!!” teriak Ridho adiknya. “sebentar,aku harus mengambil baju didalam kamar, dan juga kartu peserta ujianku!!” ia kemudian berlari ke kamarnya, namun dicegah oleh sang adik. “Kakak!! Kakak, biar Ridho aja yang ambil, kakak selamatkan dulu ustadza Mita, dia terjebak bersama adek Daud!!” Faruq menatap kearah adik kesayanganya lalu kemudian mengangguk dan segera turun ke lantai bawah.

“Ustadza!!!!” dada Faruq seakan pecah melihat gurunya menghembuskan nafas terakhir dipelukan buah hati kecil yang baru ia lahirkan seminggu yang lalu. “Daud!! Bangun dek, jangan tinggalin abang!” ia meronta-ronta melihat Daud kecil tidak lagi memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Tiba-tiba ia teringat suatu hal. “anak-anak yang lain kemana semua? Kenapa hanya Ridho yang masih ia lihat disaat seperti ini. “gawat!!!” batinnya. Ia kemudian berlari kearah tangga, namun terlambat, si jago merah sudah melahap habis semua yang ada di lantai 2. Faruq berlari keluar, dan hingga akhirnya ia pun selamat. “kakak!!!!” suara Ridho. Ia melongokkan kepalanya keatas. “Ridho!!!.” Ridho tersenyum. “kak ini seragam sama kartu ujian kakak, tangkap kak.” Faruq tidak lagi mengingat kartu ujian dan seragamnya, yang saat ini menjadi hal yang di khawatirkannya hanya satu. ‘keselamatan Ridho!!’ Faruq maju selangkah agar bisa menjauhi si jago merah di dekat pintu. “ Ridho!!! Ayo loncat dek, kakak yang akan tangkap kamu dari sini.” Faruq bersiap-siap menangkap adiknya yang sudah mengambil posisi meloncat. “satu…dua…tiga.” Dada Faruq berdetak tak karuan. ‘deg’ Faruq menatap kartu ujian dan seragamnya bertengger manis di gendonganya, yang seharusnya di tempati oleh Ridho. “Percuma kak, kaki Ridho udah kebakar, temen-temen masih banyak yang di dalam, terbakar mengenaskan. Lebih baik kakak pergi, dan cepat cari bantuan, kakak harus bisa unas hari ini! Kakak harus sekolah, bangun rumah kita lagi! Ayo kak cepat pergi sebelum api membakar semua isi rumah kita!” Faruq diam. Ia tidak berekspresi apapun lalu kemudian berlari menuju rumah penduduk sambil merasakan kecemasan dan rasa takut yang mendalam. Ketika ia menoleh ke belakang, hanya jeritan Ridho yang ia dengarkan.

“Ridho!!!.” Wajah Faruq penuh dengan peluh. Sekarang dia berada di ruang perpustakaan yang sebagian lampunya dimatikan untuk penghematan. “ada apa den?” Tanya pak sapto penjaga sekolah Faruq.”minum dulu den.” Iba pak sapto sambil menyerahkan gelas berisi air untuk Faruq. Faruq masih diam sambil sesekali mengatur aliran darahnya yang sedari tadi turun naik. “aden mimpi itu lagi?” Faruq mengangguk lemah. “Kasus pembakaran panti sampai saat ini belum terkuak pak, padahal saya sudah beri tahu ciri-ciri orang yang sudah membakar rumah kami.” Jelas Faruq dengan sedih. “Dan, lebih parahnya lagi kasus itu sudah ditutup sejak insiden kebakaran sebulan yang lalu.” Tambah Faruq dengan kedukaan yang belum sirna.

****

Malam ini tidak turun hujan, karena memang bulan ini bukan waktu musim hujan. Faruq duduk di dalam panti yang gelap dengan penerangan sinar senter kecil dari korek api. Ia terus memandang ke tiap-tiap bangunan yang hitam pekat sambil menikmati aroma kematian didalamnya. Menjelang tengah malam, udara dingin semakin terasa menusuk ke dalam tulang rusuk Faruq. Ia terus duduk disana, menikmati kunang-kunang kecil bercerita tentang kesedihan dan rasa sakit yang di rasakan oleh anak-anak tak berdosa di gedung yang renta ini. Di dalam berkelebat bayangan, dan tiba-tiba semua berubah ke semula. Faruq berdiri dan tersenyum saat adik-adik dan kakak-kakaknya mendekatinya. “Ridho.” Faruq memegang tangan Ridho yang dingin. Ridho tersenyum, lalu kemudian meninggalkan Faruq yang kebingungan melihat keadaan sekitar yang ramai, seperti tidak terjadi apa-apa pada hari pertama unasnya. Selain anak-anak lain, ia juga melihat ustadza Mita mengajari Daud kecil berjalan. “Ustadza.” Faruq menghampiri ustadza Mita yang masih belum merespon panggilanya. Seperti baru pertama melihat Faruq, ustadza Mita tampak kebingungan dan hanya memandangnya sekali lalu kemudian berjalan menjauhinya. Faruq tersenyum, ia hanya diam tanpa ekspresi. “sial, ini ilusi!” batin Faruq yang kemudian kembali duduk ke tempat nyamannya kembali. Dan ketika ia melihat ke belakang terlihatlah pemandangan yang ia takutkan selama sebulan terakhir ini. Tampak anak-anak berlutut di lantai dengan lemas dan pucat. Darah berceceran dimana-mana. Dan sekali lagi ia melihat adegan saat ia akan menangkap Ridho dari lantai dua. Hari ini ia dapat melihat jelas kaki Ridho melepuh dan punggungnya penuh darah disana sini. Hati Faruq perih melihat kejadian itu di perjelas kembali didepan mata hitam pekatnya. Setelah melempar seragam dan kartu ujiannya, kini Ridho berlari terpincang-pincang kearah “ustadz Fatah!!” Faruq hanya bertanya-tanya. Kali ini ia sudah tidak tahu pasti apa yang akan sebentar lagi terjadi pada adik tersayangnya. Ustadz berdiri, lalu kemudian menggendong Ridho dan berlari menuju tangga. “tidaaaaaakkkk!!! jangan!! disana sudah terbakar habis.” Teriak Faruq percuma, dan “Arrrrrgghh, panas!!” Faruq hanya bisa memukuli dirinya yang terlambat menyelamatkan adiknya waktu itu. Si jago merah sekarang memenuhi semua ruangan, hanya Faruq yang tidak merasakan hawa panasnya.

Ia sadar, itu semua keinginan korban yang dulu berjatuhan di bangunan yang dulu pernah membuat hari-harinya bahagia. Suara pak sapto mengembalikan pemandangan yang berada didepannya. Saat pak sapto sampai di dekat tangga yang sudah berkarat, kunang-kunang kecil berhamburan pergi menjauhi Faruq, meninggalkan kenangan menyakitkan di dalam ingatan Faruq. Pak sapto menghampiri Faruq lalu kemudian mengajak Faruq kembali pulang. Faruq pun keluar dari gedung tempat ia di besarkan sejak kecil dengan membawa misteri yang hanya diketahui oleh Faruq saja. Dan sampai kapanpun, kejadian itu akan menjadi cerita pengantar tidur seumur hidupnya.

 

[oleh; enJul, Santri Darul Falah]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s