HUKUM CONTEKAN MASSAL & TRANSAKSI JUAL BELI JAWABAN

Standar

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh : Ust. Nur Kholis Majid, S.HI, M.HI Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Timur Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com ———————————

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh :
Ust. Nur Kholis Majid, S.HI, M.HI Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Timur
Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com
———————————

Pertanyaan: 

Assalamualiakum Wr.Wb. Ustadz Nur Kholis Majid yang terhormat, Sebagaimana lazimnya, pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) menyelenggarakan agenda tahunan secara rutin yang dikenal dengan istilah UN (Ujian Nasional). Seperti pada umumnya, ujian ini diselenggarakan oleh Kemendikbud dengan tujuan untuk mengukur dan mengetahui kompetensi siswa terhadap materi yang telah tuntas diajarkan. Disisi lain, ujian ini tak ubahnya seperti hantu yang sangat menakutkan, tak hanya siswa, tetapi juga wali murid dan guru. Rasa takut, tak percaya diri, nervous sering kali terjadi pada siswa dikarenakan beberapa hal, yaitu: Pertama, great yang tinggi Kedua, materi yang diujikan meliputi Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan mata pelajaran lain yang menjadi kompetensi jurusannya yang kadang-kadang bukan menjadi mata pelajaran favorit bagi sebagian siswa sehingga mereka tidak bisa lulus pada Ujian Nasional. Bahkan, di lembaga tertentu, ketidaklulusan siswa tersebut mencapai angka 100 % . Konsekuensinya, pihak sekolah termarginalkan dengan adanya persepsi yang negatif dari kalangan wali murid dan masyarakat pada umumnya. Atas dasar inilah, berbagai upaya yang bertentangan dengan agama dan norma hukum dilakukan oleh sebagian siswa dengan melakukan transaksi jual beli jawaban dan melakukan contekan massal sebagaimana yang telah diberitakan di beberapa media cetak dan elektronik. Lebih tragisnya lagi, tindakan asusila tersebut dilakukan oleh sebagian oknum guru. Mereka berdalih, hal ini dilakukan semata-mata demi menyelamatkan nasib siswa dan meraih kemaslahatan. Benarkah contekan massal dan transaksi jual beli jawaban tersebut diperbolehkan secara syar’i? Dan bagaimana argumentasinya? Atas jawabannya disampaikan terima kasih.

Ahmad Zamroni

Kamal-Bangkalan

Jawaban:

                Mas Ahmad Zamroni, maksud dan substansi dari ujian itu sesungguhnya sangat positif, yaitu untuk mengukur kompetensi dan daya serap peserta didik terhadap materi sesuai dengan standart dan target yang telah ditentukan. Oleh karenanya, seharusnya ujian tersebut tidak dipersepsikan sebagai upaya pemerintah (Kemendikbud) untuk mengganjal dan menghambat prestasi dan langkah para peserta didik menuju ke level pendidikan yang lebih tinggi dengan melakukan tindakan amoral dan tidak etis sebagaimana marak terjadi belakangan ini. Transaksi jual beli jawaban atau contekan massal, baik atas dasar inisiatif peserta didik sendiri, ataupun oknum guru dan wali murid merupakan salah satu jalan pintas yang mencederai nilai obyektifitas dan tidak selaras dengan azas kejujuran dalam dunia pendidikan. Idealnya, great yang tinggi sebagaimana ketetapan pemerintah harus diimbangi dengan upaya yang maksimal dengan mngikuti try out, bimbingan belajar, dan sejenisnya, bukan dengan cara yang bathil. Larangan berprilaku tidak jujur ini didasarkan kepada Hadis Nabi SAW sebagai berikut:

فَقَالَ أَلاَ وَقَوْلَ الزُّوْرَ

Artinya: “Rasul SAW bersabda: (ingatlah, hindari perkataan dusta).

عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أُمِّهِ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ عُقْبَةَ قَالَتْ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُرَخِّصُ فِى شَىْءٍ مِنَ الْكَذِبِ إِلاَّ فِى ثَلاَثٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ لاَ أَعُدُّهُ كَاذِبًا الرَّجُلُ يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ يَقُولُ الْقَوْلَ وَلاَ يُرِيدُ بِهِ إِلاَّ الإِصْلاَحَ وَالرَّجُلُ يَقُولُ فِى الْحَرْبِ وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا

Artinya: “Dari Humaid bin Abdirrahman, dari Ibunya yaitu Umi Kulsum binti Uqbah, beliau berkata: Saya tidak mendengar Rasul SAW memberikan keringanan bagi orang lain untuk berdusta kecuali dalam tiga hal, yaitu: berdusta untuk mengislahkan (mendamaikan) dua orang yang sedang berkonfrontatif, berdusta dalam peperangan, suami yang membujuk istrinya”.

عَنْ أَبِى الْحَوْرَاءِ السَّعْدِىِّ قَالَ قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِىٍّ مَا حَفِظْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

Artinya: “ Dari Abi Hawra’ al-Sa’di beliau berkata: Aku bertanya kepada Hasan bin Ali, apa yang anda hafalkan dari Rasul SAW? Beliau menjawab: yang saya hafal dari Rasul SAW ialah: tinggalkan sesuatu yang meragukanmu sehingga tidak lagi meragukannya karena sesunnguhnya kebenaran akan (mejadikan hati) tentram, dan kebohongan itu (menjadikan hati) ragu atau waswas”.

Berdasarkan kepada literatur Hadis Nabi Saw diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kebohongan atau ketidakjujuran merupakan tindakan asusila yang wajib dihindari karena memiliki konsekuensi terhadap psikologis manusia, yaitu akan menjadikan hati dan jiwa merasa tidak tenang dan tentram disamping juga terdapat implikasi ukhrawi karena telah diharamkan oleh Allah SWT. Oleh karenanya, larangan tersebut berlaku dalam situasi dan kondisi apapun, kecuali ada kemaslahatan yang hendak dicapai sebagaimana telah dikeculaikan oleh Rasul SAW secara eksplisit melalui sebuah pernyataannya yang telah dideskripsikan diatas. Di sisi lain, mengingat adanya tri fungsi dalam proses pendidikan yang meliputi aspek kognitif, afektif, dam psikomotorik, maka seyogyanya Pemerintah (cq. kemendikbud) tidak menjadikan Nilai Ujian Nasional sebagai satu-satunya standart kelulusan bagi siswa. Artinya, diharapkan ada solusi dan alternatif lain bagi siswa, dikarenakan ada hal-hal tertentu yang patut dijadikan bahan pertimbangan, antara lain:

  1. Varian kompetensi siswa

Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa siswa memiliki bakat dan kompetensi yang tidak sama antara yang satu dengan yang lainnya. Atas dasar inilah, seharusnya yang menjadi standart kelulusan bagi siswa tidak hanya kompetensi kognitif semata, melainkan aspek yang lain yang merupakan bakat dan kemampuan siswa. Dengan demikian, siswa memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuannya sesuai dengan materi pilihannya. Sangatlah ironis, jika keberagaman kompetensi dan bakat siswa, latar belakang sosial, kultral, pendidikan dan ekonomi yang heterogen ini dirumuskan dengan satu standart kelulusan. Hal ini dibuktikan dengan adanya sejumlah siswa yang memiliki prestasi gemilang baik di level regional maupun nasional, tetapi tidak bisa menggapai harapan dan cita-citanya dengan melanjutkan pendidikannya di jenjang yang lebih tinggi karena terhambat oleh nilai materi Ujian Nasional yang notabenenya bukan materi favorit baginya.

  1. Nilai Ujian Nasional bersifat kondisional dan spekulatif

Sejauh analisis dan pengamatan Penulis tentang pelaksanaan Ujian Nasional, terdapat sisi-sisi tertentu yang menjadi kelemahannya dan harus segera diadakan pembenahan dalam kurun waktu berikutnya. Kelemahan yang dimaksud ialah adanya model jawaban yang bersifat multiple choice. Hemat Penulis, model jawaban seperti ini sesungguhnya tidak mencerminkan kompetensi siswa karena memberikan peluang besar bagi siswa untuk menjawab pertanyaan yang ada dalam naskah soal secara spekulatif. Oleh karena itu, nilai Ujian Nasional yang memenuhi standart kelulusan belum tentu mewakili kecerdasan dan kemampuan siswa secara faktual. Artinya, nilai akhir yang tertera di SKHUN (surat keterangan hasil ujian nasional) yang telah diraihnya tidak bisa dijadikan dasar utama untuk menyusun sebuah konklusi bahwa siswa tersebut memiliki keilmuan yang memadai dan mampu untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Ribuan siswa yang lulus dalam Ujian Nasional, tetapi tidak memiliki peran yang cukup signifikan dan eksis ditengah-tengah derasnya arus modernisasi seperti saat ini, bahkan cenderung menjadi beban dalam kehidupan bermasyarakat, merupakan bukti nyata yang tak terbantahkan bahwa sistem dan pelaksanaan Ujian Nasional belum memenuhi kriteria dan standart yang ideal. Belum lagi, hampir di setiap momentum Ujian Nasional kita dihadapkan kepada informasi tentang “bocornya soal Ujian Nasional” baik melalui media cetak maupun elektronik. Terlepas dari validitas dan akurasi informasi tersebut, paling tidak hal tersebut sangat menciutkan semangat dan motivasi siswa. Selain itu, kesuksesan siswa dalam menghadapi Ujian Nasional sangatlah bergantung pada situasi dan kondisi fisik dan psikologis siswa. Artinya, siswa yang sedang sakit, atau mengalami depresi dan tekanan psikis lainnya karena memiliki sejuta problem kehidupan tentu akan berpengaruh pada tingkat konsentrasi dan kesiapan mentalnya. Padahal, mereka adalah siswa-siswa berprestasi dan memiliki catatan dan progress yang positif dari pihak sekolah.

Menurut pandangan Penulis, dua argumentasi diatas patut dijadikan dasar dan bahan pertimbangan oleh pemerintah (cq. Kemendikbud) untuk melakukan pembenahan secara berkala terkait dengan sistem dan substansi materi Ujian Nasional, sehingga para siswa memiliki keleluasaan untuk mengekspresikan kemampuannya sesuai dengan kompetensi keilmuan yang dimilikinya, dan tidak lagi menjadi momok yang sangat menakutkan bagi mereka. Atas dasar ini pula, ada sebagian siswa yang melakukan tindakan amoral dan tidak etis dengan bertransaksi jual beli jawaban atau melakukan contekan massal baik atas dasar inisiatif sendiri maupun karena tekanan dan instruksi dari oknum tertentu. Hal ini dilakukan oleh sebagian para siswa sebagai bentuk protes dan kritikan terhadap pemerintah karena dipandang tidak fair dan proporsional. Dalam konteks ini, sekalipun Penulis tidak melegalkan dan merekomendasikan tindakan yang berlawanan dengan aturan tersebut, tetapi Penulis tetap berharap agar pemerintah (cq. Kemendikbud) selaku pemangku kebijakan agar berkenan melakukan pembenahan yang bersifat obyektif dengan mempertimbangkan latar belakang sosial, kultural, ekonomi dan pendidikan siswa yang heterogen yang berimplikasi pada keberagaman kompetensi yang dimiliki oleh siswa, baik yang menyangkut sistem ataupun substansi materi.

Demikian jawaban dan respon Penulis, semoga bermanfaat dan memiliki kontribusi besar terhadap perbaikan kualitas sistem pendidikan di Indonesia, amin !

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ فَارِسٍ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ هَارُونَ الْبُرْدِىُّ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ فَيَّاضٍ الأَبْنَاوِىِّ عَنْ خَلاَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلاً مِنْ بَكْرِ بْنِ لَيْثٍ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَأَقَرَّ أَنَّهُ زَنَى بِامْرَأَةٍ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ فَجَلَدَهُ مِائَةً وَكَانَ بِكْرًا ثُمَّ سَأَلَهُ الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمَرْأَةِ فَقَالَتْ كَذَبَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَجَلَدَهُ حَدَّ الْفِرْيَةِ ثَمَانِينَ.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s