Rojab, Bulan Menanam

Standar

Cover Mei 2014Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Marilah kita bersyukur kepada Alloh ta’ala yang tidak henti-hentinya mencurahkan nikmat kepada kita. Nikmat badan sehat, panjang umur, kesempatan beribadah, kecukupan rezeki, dan yang paling utama, nikmat iman. Saat ini kita memasuki bulan Rojab yang merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Alloh ta’ala.

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ (رواه البخارى و مسلم )

Sesungguhnya zaman beredar sebagaimana yang telah ditentukan sejak Alloh ta’ala menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan dan diantaranya ada empat bulan haram (mulia), yang tiga berurutan. (keempat bulan tersebut adalah) Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharrom, dan Rojab Mudhor yang berada diantara Jumada dan Sya’ban.” (HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim)

Pada kesempatan kali kami ingin menyampaikan hikmah dari pengajian yang disampaikan oleh Abina KH. M. Ihya` Ulumiddin pada acara Haflah PP. Ar-Roudhoh dan TPQ al-Irsyad Tulungagung. Acara tersebut bertepatan dengan Harlah Nahdhotul Ulama ke-89 dan Dzikro Rojab 1433 H.

Seorang ‘Alim yang bernama Abu Bakar al-Warroq al-Balakhy, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Lathoiful Ma’arif, mengatakan:

“Rojab adalah bulan untuk menanam. Sya’ban adalah bulan untuk menyirami (tanaman). Dan Romadlon adalah bulan untuk memanen (tanaman).”

Yang dimaksud ‘tanaman’ dalam perkataan tersebut adalah ‘tanaman kebaikan’. Sedangkan hasil panennya adalah ‘pengampunan dari Alloh ta’ala’.

Kita dianjurkan untuk memperbanyak dan memperbaiki berbagai amal kebaikan di bulan Rojab sebagai upaya dalam ‘menanam kebaikan’. Karena kebanyakan orang yang melalaikan bulan Rojab juga melalaikan bulan Sya’ban dan Romadlon. Harapannya semoga ‘tanaman’ amal-amal kebaikan itu akan semakin tumbuh subur di bulan Sya’ban nanti. Dan pada akhirnya, insyaalloh, kita akan ‘memanen’ pengampunan dari Alloh ta’ala di bulan Romadlon. Adakah panen yang lebih menggembirakan dibanding dengan ‘panen pengampunan’ dari Alloh ta’ala?

Bukankah kita memiliki banyak salah dan dosa? Jika kita mendapatkan pengampunan dari Alloh ta’ala, tentu hal itu merupakan anugerah yang sangat besar. Kita bisa berharap meninggal dunia dalam keadaan husnul khotimah, nyaman di alam kubur, mendapatkan perlindungan dari Alloh ta’ala di hari kiamat, memperoleh kemudahan di hari perhitungan amal, dan selamat dari siksa neraka jahannam. Hingga bisa tinggal selamanya di surga Alloh yang penuh dengan kenikmatan. Semoga.

Selain itu, saat memasuki bulan Rojab, kita dianjurkan minta keberkahan kepada Alloh ta’ala dengan doa:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَشَعْبَان َوَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

(Allohumma baarik lanaa fi rojaba wa sya’bana wa ballighnaa Romadlon…)

“Ya Alloh, berkahilah kami di bulan Rojab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Romadlon”.

Sudah tentu, meminta berkah itu ada caranya. Ada yang semestinya dikerjakan dan diamalkan agar doanya benar-benar menjadi doa sungguhan. Ada orang minta kepandaian kepada Alloh ta’ala, sudah tentu dia harus rajin dan serius belajar. Ada orang yang minta kekayaan kepada Alloh ta’ala, sudah tentu dia harus kerja keras dan cerdas. Kalau kita mau minta keberkahan kepada Alloh ta’ala di bulan Rojab ini, kita harus meningkatkan kuantitas dan kualitas amal kebaikan.

Saudaraku yang semoga disayang oleh Alloh ta’ala. Diantara banyak kebaikan yang bisa kita tanam di bulan Rojab ini, ada tiga ‘tanaman kebaikan’ yang selayaknya kita berikan perhatian lebih, yaitu puasa sunnah, memperbanyak istighfar, dan memperbaiki kualitas sholat.

Pertama, Puasa Sunnah

Puasa adalah ibadah yang disunnahkan secara mutlak kecuali pada bulan Romadlon (karena puasa Romadlon hukumnya adalah fardlu ‘ain) dan pada hari-hari yang di dalamnya diharamkan berpuasa (Idul Fitri, Idul Adha, dan hari-hari Tasyrik). Sedangkan dalil puasa di bulan Rojab diantaranya adalah sebagai berikut:

Hadits riwayat Usamah Bin Zaid

“Aku berkata kepada Rosululloh : Yaa Rosululloh aku tidak  pernah melihatmu berpuasa sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban. Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam menjawab: Bulan Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan di antara bulan Rojab dan Romadlon, dan bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah ta’ala dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaaan aku berpuasa”. (HR. Imam An-Nasa’I Juz 4 Hal. 201)

Imam Syaukani menjelaskan. Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa puasa Rojab adalah sunnah sebab dengan jelas Nabi shollallohu alaihi wa sallam mengingatkan bahwa mereka lalai dari mengagungkan Sya’ban dengan berpuasa karena mereka sibuk mengagungkan Romadlon dan Rojab dengan berpuasa. (Naylul Author juz 4 hal 291)

Puasa adalah pintu ‘ibadah

Itulah kata hikmah yang disampaikan oleh al-Habib Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki untuk menggambarkan keistimewaan ibadah puasa. Tidak ada ibadah yang lebih ikhlash, lebih aman dari riya` dan sum’ah, dibandingkan puasa. Lebih dari itu, puasa adalah ibadah yang sangat privasi antara seorang hamba dan Alloh ta’ala. Yang dapat menjamin seseorang benar-benar bersabar dalam menahan diri dari makan, minum, jima’ dan segala hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari, tidak lain dan tidak bukan, adalah iman dan rasa takutnya kepada Alloh ta’ala.

Alloh ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi yang maksudnya adalah “Setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat, hingga 700 kali lipat, kecuali puasa karena puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang memberi pahala atasnya”. (HR. Muslim, Ahmad, dan an-Nasa`)

Tersebut dalam hadits qudsi yang lain, “Dia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makannya demi diri-Ku. Puasa adalah untuk-Ku maka Aku lah yang memberi ganjaran kepadanya”. (HR. Bukhari, Ahmad, Imam Malik, Muslim)

Hadits-hadits tersebut mengisyaratkan bahwa pahala ibadah puasa bersifat istimewa dan tak terbatas hitungan. Mari kita bepuasa sunnah di bulan Rojab ini, dengan niat ikhlash, semata-mata mengharap ridlo Alloh ta’ala.

Kedua, Memperbanyak Istighfar

Istighfar adalah permohonan ampun atas berbagai dosa. Jika istighfar itu disertai dengan penyesalan atas tiap-tiap dosa yang dilakukan, kemudian dengan merendahkan diri meminta ampun atas tiap-tiap dosa tersebut, dan berazam tidak akan mengulanginya lagi, maka hal itu disebut taubat. Istighfar dan taubat ini merupakan sebuah ibadah yang keutamaannya sangat besar.

Firman Alloh ta’ala (yang maksudnya);

“Maka aku (Nuh) berkata kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia kan memberimu kenikmatan yang baik (terus-menerus).” (QS. Hud: 3)

Sabda Nabi Muhammad shollallahu alahi wa sallam (yang maksudnya);

“Barangsiapa istiqomah beristighfar, Allah akan menjadikan kesenangan dari setiap kesusahan, jalan keluar dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dengan cara yang tidak ia duga.” (HR. Abu Dawud).

Bacaan istighfar yang minimal adalah

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْم

“Aku minta ampun kepada Alloh yang Maha Agung.”

Sedangkan bacaan istighfar yang lebih utama adalah sayyidul istighfar, rajanya istighfar, istighfarnya Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam.

اَللَّهُمَّ اَنْتَ رَبِّي لاَ اِلَهَ إِلاَّ اَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَاَنَاعَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّمَا صَنَعْتُ أَبُؤُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُؤُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

“ya Alloh. Engkau Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau menciptakan aku dan aku adalah hambaMu. Aku berada dalam ikrar dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang Engkau berikan) kepadaku. Aku mengakui dosaku. Ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau”

Mari kita memperbanyak istighfar di bulan Rojab ini. Semoga Alloh ta’ala mengampuni dosa-dosa kita dan menerima taubat kita.

Ketiga, Memperbaiki Kualitas Sholat

Sholat adalah tiang agama. Sholat adalah pembeda antara orang muslim dan orang kafir. Sholat merupakan kewajiban pertama yang diperintahkan kepada para Rosul. Sholat merupakan washiat terakhir para Rosul. Sholat dapat menghapus dosa. Sholat dapat menyebabkan pelakunya diangkat derajatnya di sisi Alloh. Sholat merupakan indikator rasa syukur kita kepada Alloh ta’ala. Sholat merupakan media komunikasi antara manusia dengan sang Pencipta, dengan tata cara yang telah digariskan oleh-Nya dan dicontohkan oleh Rosul-Nya. Sholat adalah amal terbaik bagi orang yang beriman. Sholat adalah amal yang pertama kali akan dihisab kelak di akhirat. Jika baik sholatnya, seluruh amal diterima, jadilah ia manusia yang beruntung dan berbahagia. Sebaliknya, jika rusak sholatnya, seluruh amal ditolak, jadilah ia manusia yang paling sengsara.

Itulah sedikit gambaran tentang kemuliaan dan keutamaan sholat fardlu. Memandang betapa pentingnya sholat fardlu bagi seorang muslim, Alloh ta’ala menyampaikan ancaman yang sangat keras bagi orang-orang yang melalaikan sholat.

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ )) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ( )

Maka wail bagi orang-orang yang sholat. Yaitu mereka yang lalai dari sholat mereka.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)

Ahli tafsir al-Qur`an, Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa wail berarti kehancuran dan kebinasaan. Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari Ziyad ibn Fayyadh bahwa Abu Fayyadh menyampaikan, ”Wail adalah nanah di dasar neraka jahannam”.

Atha’ bin Yasar berkata, ”Wail adalah lembah di dalam neraka jahannam. Jika gunung-gunung dilewatkan di dalamnya, maka gunung-gunung itu meleleh”. Sedangkan Ibnu Abbas rodliyallohu ’anhu berpendapat bahwa ”Wail adalah siksa berupa api yang menyala-nyala”.

Sedangkan yang dimaksud ’orang yang lalai dari sholatnya’, berdasarkan keterangan dalam kitab Tafsir al-Qur`an al-’adhim li Ibni Katsir, adalah

–             Orang-orang yang lalai dari melaksanakan sholat fardlu lima waktu secara sempurna. Mereka melaksanakan sebagian, dan meninggalkan sebagian.

–             Orang-orang yang suka mengakhirkan atau menunda-menunda sholat.

–             Orang-orang yang tidak menyempurnakan syarat dan rukun sholat.

–             Orang-orang yang melaksanakan sholat tanpa kekhusyu’an. Mereka sholat tapi hatinya tidak sholat, hatinya lalai kepada Alloh ta’ala.

Bagaimana sholat kita? Sudahkah kita melaksanakan sholat fardlu lima waktu secara istiqomah? Sudahkah kita mengerjakan sholat dengan menyempurnakan syarat dan rukunnya? Apakah bacaan dan gerakan sholat kita sudah sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam? Sudahkah kita senantiasa mengerjakan sholat fardlu di awal waktu? Sudahkah kita mendirikan sholat fardlu dengan hati yang hadir, hati yang khusyu’, hati yang ingat Alloh ta’ala?

Mari kita terus menerus belajar dan berusaha memperbaiki sholat kita, meningkatkan kualitas sholat kita. Ingat!! Sampai detik ini Alloh ta’ala masih memberi kita kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Ayo kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Sebelum ajal menjemput kita.

Setidaknya ada empat hal yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kualitas sholat:

  1. Aqimu ash-asholat (tegakkan sholat). Artinya perbaiki bacaan dan gerakan sholat. Bacaannya yang benar dan jelas. Ingat! Sholat itu, walau hanya 5 menit, adalah proses mi’roj seorang mukmin, sowannya seorang mukmin kepada Alloh ta’ala. Jaga adabmu. Jaga sopanmu. Saat sholat, Engkau sedang berhadapan dengan Alloh ta’ala.
  2. Haafidhu… (jagalah sholat). Artinya jagalah sholat Anda. Jangan sampai terlewat. Kerjakan sholat di awal waktu. Jangan menunda sholat.
  3. Khoosyi’un… (sholat dengan khusyu’). Artinya menghadirkan hati ketika sholat. Saat melaksanakan sholat, hendaknya kita merasa sedang sowan kepada Alloh ta’ala. Kita hayati makna setiap gerakan dan bacaan sholat. ”Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu mereka yang khusyu’ di dalam sholat mereka”. (QS. Al-Mu’minun: 1-2)
  4. Daaimun… (rutin, istiqomah). Artinya kita musti terus-menerus, istiqomah, mengerjakan sholat. Jangan sampai bolong.

Terlebih dari itu semua, mari kita membiasakan sholat dengan berjama’ah karena hal itu lebih memungkinkan agar sholat kita diterima. Jika ada salah satu anggota jama’ah yang sholatnya bisa khusyu’ dan diterima oleh Alloh ta’ala, maka anggota jama’ah sholat yang lain tentu sholatnya juga diterima oleh Alloh ta’ala. Lagi pula, bukankah sholat berjama’ah lebih utama dari pada sholat sendirian dengan selisih 27 derajat?

Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Mari kita gunakan bulan Rojab ini untuk menanam berbagai macam kebaikan, apapun kebaikan itu, baik yang berhubungan langsung dengan Alloh ta’ala, maupun yang berhubungan dengan sesama makhluq. Khususnya, mari kita menanam amal sholih berupa puasa sunnah, memperbanyak istighfar, dan memperbaiki sholat. Mari kita jaga dan sirami tanaman-tanaman kebaikan itu hingga kita bisa panen ”pengampunan” kelak di bulan Romadlon, insyaalloh.

Ingat! Orang yang tidak menanam, tidak berhak menikmati hasil panen.

Wallohu a’lam bi ash-showab. Semoga Alloh ta’ala senantiasa memberikan pertolongan-Nya kepada kita semua. Amien.[tije/alumni PBSB Kemenag RI]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s