Shalawat Nariyah, al-Fatih, dan al-Munjiyat

Standar

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh : Ust. Nur Kholis Majid, S.HI, M.HI Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Timur Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com ———————————

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh :
Ust. Nur Kholis Majid, S.HI, M.HI Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Timur
Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com
———————————

Pertanyaan:

Assalamulaikum Wr.Wb. Ustadz yang terhormat, belakangan ini banyak bermunculan firqah (kelompok) keagaamaan  yang tidak sefaham dengan amaliyah yang sudah menjadi tradisi di masyarakat, semisal bacaan dan kegiatan shalawat. Misi yang diemban oleh mereka ialah selalu mendengung-dengungkan Islam puritan yang bebas dari aktivitas khurafat dan bid’ah. Lebih dari itu, kritik yang dilancarkan oleh mereka tidak hanya berkaitan dengan amaliyah kegiatannya, melainkan juga masuk pada substansi bacaan shalawatnya seperti shalawat nariyah, al-fatih, dan al-munjiyat. Bagi mereka, mayoritas umat Islam terjebak pada amaliyah khurafat dan bid’ah tanpa sadar karena terlalu berlebih-lebihan dalam memberikan pujian kepada Nabi Muhamad, dan seakan-akan beliau menjadi sekutunya Allah SWT yang dapat memberikan manfaat kepada umat manusia. Padahal, Nabi Muhamad hanyalah seorang manusia sebagaimana kita. Selain itu, kegiatan tersebut tidak ada petunjuk langsung dari Nabi panutan umat. Pertanyaannya Ustadz, apakah mengamalkan bacaan shalawat nariyah, al-fatih, dan al-munjiyat termasuk khurafat dan bid’ah? dan bagaimana hukum mengamalkannya? Atas jawabannya disampaikan jazakumullah ahsanal jaza’, amin !

Andi Awaludin

Mojo Agung – Mojokerto

Jawaban:

                Mas Andi yang dimulyakan Allah SWT, memang benar, belakangan ini marak kritikan yang dilancarkan oleh sebagaian firqah keislaman tentang amaliyah umat Islam seperti kegiatan dan bacaan shalawat, tahlilan, istighasah, dan lain sebagainya. Pertama, Pengasuh akan menjelaskan definisi bid’ah dan klasifikasinya. Adapun definisi dan klasifikasi bid’ah ialah:

هِيَ إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ r

“Bid’ah adalah mengerjakan sesuatu yang baru yang belum ada pada masa Rasullah r.” (al-Imam al-Nawawi, Thadzib al-Asma’ wa al-Lughat, 3/22)

الْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ: مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعًا فَهُوَ بِدْعَةُ الضَّلَالَةِ وَمَا أُحْدِثَ فِي الْخَيْرِ لَا يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ

“Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dlalalah (tersesat). Kedua, sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (al-Baihaqi, Manaqib al-syafi’i, 1/469).

 

Kaitannya dengan amaliyah dan kegiatan shalawat, tahlilan, dan istighasah memang tidak ada tuntunan yang warid (langsung) dari Rasul SAW. Kegiatan tesebut merupakan karya dan kreasi para Ulama’ dan tokoh masyarakat dengan mengakomodir adat istiadat yang berkembang di masyarakat. Meskipun demikian, bukan berarti kegiatan tersebut termasuk kategori khurafat dan bid’ah dlalalah. Sebab, substansi dari kegiatan termasuk adalah untuk kemaslahatan walaupun tanpa dalil yang secara sarih (jelas) melegitimasinya. Salah satu contoh, kegiatan tahlilah yang berkembang di masyarakat. Dari sisi content materi dan amaliyahnya, tidak ada satupun yang menyalahi al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW. Oleh karenanya, hal itu masuk kategori bid’ah hasanah (ghoiru madzmumah). Dari sisi substansi bacaannya, terdapat banyak hujjah (argumentasi) baik dari al-Qur’an Dan Hadis yang membenarkan bacaan shalawat, antara lain:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (الأحزاب 56)

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Dari Abi Hurairah r.a. sesungguhnya Rasul SAW bersabda: “barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah SWT membalas kepadanya sepuluh kali”. (Sahih Muslim, Juz II, hal. 17. Hadis No. 939)

 

Dua nas syar’i diatas cukup menjadi hujjah akan keabsahan bacaan shalawat. Jika Allah SWT  dan para malaikatNya berkenan bershalawat kepada Rasul SAW, pantaskah kita tidak mau bershalawat kepadanya? Apalagi membid’ah dan mengkafirkan orang yang membaca shalawat?

Al-Thabari menjelaskan dalam kitab tafsirnya, bahwa shalawat Allah kepada Nabi SAW adalah memberikan rahmat dan keberkahan, shalawat Malaikat kepada Nabi SAW adalah mendoakan dan memintakan ampunan, shalawat manusia kepada Nabi SAW ialah mendoakan dan menyampaikan salam:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد وَعَلى آلِ مُحَمَّد

Dan jika bacaan shalawat seperti shalat nariyah, al-fatih, dan al-munjiyat dianggap sebagai ungkapan yang terlalu berlebih-lebihan, sesungguhnya tidak benar. Kita tidak pernah memposisikan Nabi SAW sebanding dengan Allah SWT, melainkan sebagai makhluk yang berposisi sebagai mutawassal bih (perantara) karena memiliki banyak keistimewaan dan keutamaan yang ada pada pribadi beliau. Dan itupun juga merupakan perintah Allah SWT sebagaimana dalam al-Qur’an. Banyak riwayat yang secara tegas menyatakan keistimewaan Nabi SAW, meskipun beliau adalah manusia biasa sebagaimana kita, antara lain:

 

عَنْ عَمِّهِ عُثْمَانَ بْنِ حَنِيْفٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَاءَهُ رَجُلٌ ضَرِيْرٌ فَشَكَا إِلَيْهِ ذِهَابَ بَصَرِهِ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ لَيْسَ لِي قَائِدٌ وَقَدْ شَقَّ عَلَيَّ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ائْتِ الْمَيْضَاةَ فَتَوَضَّأْ ثُمَّ صَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدٍ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ فَيُجَلِّي لِي عَنْ بَصَرِي ، اللَّهُمَّ شَفِّعْهُ فِيَّ وَشَفِّعْنِي فِي نَفْسِي قَالَ عُثْمَانُ : فَوَاللهِ مَا تَفَرَّقْناَ وَلاَ طَالَ بِنَا الْحَدِيْثُ حَتَّى دَخَلَ الرَّجُلُ وَكَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِهِ ضَرٌّ

 

Hadis diatas menjelaskan betapa Rasul SAW adalah manusia yang sangat istimewa, seorang yang tuna netra bisa melihat kembali setelah berdoa kepada Allah SWT dan bertawassul kepada Rasul SAW. Ini bukti nyata bahwa Rasul SAW sebagai mutawassal bih mampu memberikan solusi kepada manusia yang lain disaat menghadapi kesulitan. Tentu, yang menyembuhkan orang yang tuna netra tersebut adalah Allah SWT, tetapi melalui pearntara Rasul SAW. Dengan demikian, bacaan shalawat nariyah, al-fatih, dan al-munjiyat tidak termasuk ungkapan yang berlebih-lebihan dan tidak pula termasuk kategori bid’ah madzmuha (bid’ah tercela), sehingga dianjurkan untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian jawaban Penulis, semoga menjadi hujjah yang bisa menguatkan aqidah kita semua, Amin Ya Mujib Sailin!  ()

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s