HAPUS DUKA DENGAN DLUHA

Standar

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

“Demi waktu dluha, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap). Tuhanmu tidaklah meninggalkan kamu dan tidak (pula) benci kepadamu. Dan sungguh, hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai orang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.  Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?. Oleh sebab itu, terhadap anak yatim, janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu tunjukkan.” (QS. Ad-Dluha [93]: 1-11)

Ayat-ayat di atas benar-benar hiburan yang luar biasa bagi Nabi SAW. Setelah mengumumkan di depan khalayak tentang kenabiannya pasca turunnya wahyu, tiba-tiba wahyu terhenti. Bukan sehari dua hari, tapi berbulan-bulan. Khalayak lalu meragukan kenabian Muhammad SAW. Bahkan istri Abu Lahab terang-terangan mengejeknya, “Tuhanmu telah meninggalkan kamu, dan telah membencimu.” Sebagai manusia biasa, wajar Nabi SAW sedih bercampur malu. Maka turunlah ayat ini untuk membantah ejekan orang-orang kafir, bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan Nabi SAW dan tidak pernah marah kepadanya. Tuhan akan tetap mendampinginya.

Allah secara tidak langsung memerintahkan kita memperhatikan waktu dluha, yaitu sejak matahari terbit beberapa saat sampai menjelang tengah hari. Lihatlah, betapa cerah sinar matahari saat itu. Betapa segar bugarnya fisik kita setelah semalam istirahat. Betapa optimis kita songsong masa depan yang lebih cerah. Lebih-lebih bagi yang shalat tahajud pada malam sunyi sebelumnya. Seolah-olah Allah SWT berpesan, “Bercerialah secerah sinar terang pagi ini. Semalam memang gelap, tapi pandanglah, alangkah terangnya sinar mentari ini. Saat ini, batu besar terasa menindih dadamu sampai engkau kesulitan bernafas. Tapi percayalah, Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Aku tetap mengasihimu. Hanya saja engkau tidak faham maksud-Ku.” Allah SWT berfirman, “Tuhanmu tidaklah meninggalkan kamu dan tidak (pula) benci kepadamu.”

Anda mungkin sedang terhuyung-huyung kelelahan menyelesaikan masalah hidup yang berat. Bahkan bukan air mata yang diteteskan, tapi darah. Belum selesai masalah yang satu, datang lagi masalah berikutnya. Komplit sudah penderitaan Anda. Tapi yakinlah bahwa itu bukan karena Allah membenci Anda. Sebaliknya, itu adalah bentuk kasih-Nya agar Anda cerdas dan menjadi manusia tahan bantingan. Dengan modal itu, Anda akan menjadi manusia sukses di kemudian hari. “Dan sungguh, hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang.” Tidak hanya itu, jika kesuksesan itu disyukuri dan dipergunakan untuk membahagiakan orang-orang menderita, maka senyum mereka adalah senyum Allah untuk Anda. “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” Lebih membahagiakan lagi kesuksesan Anda di akhirat kelak, ketika Allah menjemput Anda dengan “wajah” keceriaan di surga.

Pantaslah Allah SWT menganjurkan kita menyambut keceriahan pagi itu dengan mengangkat dua tangan untuk mengucapkan “Allahu Akbar” sebagai pembuka shalat Dluha dua, empat atau sampai delapan rakaat. Nabi SAW bersabda, “Setiap tubuh manusia terdiri dari 360 ruas tulang yang harus disedekahi. Para sahabat bertanya, “Apa ada yang mampu melakukannya wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Menutup dahak dengan tanah di masjid atau menghilangkan gangguan di jalan raya (adalah sedekah). Jika tidak mampu, maka cukup kerjakan dua rakaat dluha” (HR. Ahmad dan Abu Daud dari Buraidah R.A). Allah Azza Wajalla berfirman, “Ibna Adam, laa ta’jizanna ‘an arba’i raka’atin fii awwalin nahari, akfika fii aakhirihi” (Wahai keturunan Adam, jangan sekali-kali malas mengerjakan 4 rakaat di awal siang (dluha), Aku akan mencukupi (kebutuhan)mu di sore hari.”(HR Al Hakim dan At-Thabrani dari Nuwas bin Sam’an).

Jangan ada sedikitpun keraguan tentang kemurahan dan kasih Allah untuk merubah yang duka menjadi suka, dari tangisan menjadi kesuksesan. Sebab Allah telah membuktikannya. “Bukankah Dia mendapatimu sebagai orang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?. Ketika masih dua bulan dalam kandungan ibu, si kecil Muhammad telah ditinggal wafat ayahnya. Lalu ketika berusia enam tahun, ditinggal wafat pula oleh ibunya. Ia benar-benar yatim piatu tanpa peninggalan sedikitpun harta dari orang tuanya. Allah-lah yang menggerakkan hati kakeknya untuk merawat dan membesarkannya. Setelah sang kakek meninggal, Allah jugalah yang menggerakkan hati pamannya, Abu Thalib untuk membesarkan dan mengasihinya seperti kasih orangtuanya sendiri.

Menjelang menerima wahyu, Muhammad benar-benar bingung melihat perilaku masyarakat sekitar yang tiada hari tanpa perang antar suku, mengubur hidup-hidup bayi perempuan, menjadikan batu sebagai tuhan, memerlakukan wanita seperti binatang piaraan. Allah-lah yang menggerakkan hati Muhammad untuk pergi ke gua Hira, lalu di sana menerima wahyu yang memberi pencerahan baginya.

Sebelumnya, Nabi SAW sangat miskin. Allah-lah yang menggerakkan hati si janda kaya-raya, Khadijah untuk meminangnya menjadi suami. Sama sekali bukan Nabi SAW yang melamar Khadijah. Dengan kekayaan itulah Nabi SAW tidak kekurangan ekonomi dan bisa menjalankan tugas-tugas kenabian lebih tenang.

Jika Anda ingin hidup cerah secerah dluha, maka lakukan tiga hal. Pertama, tunjukkan kasihmu kepada anak-anak yatim. “Oleh sebab itu, terhadap anak yatim, janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” Kedua, tetap santunlah kepada as-sa-il yaitu penanya ilmu pengetahuan yang bertanya hal-hal yang menjengkelkan (Tafsir Ar-Razy) atau peminta-minta (Tafsir Ibnu Jarir At-Thabary). “Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” Ketiga, tunjukkan kepada semua orang bahwa Anda benar-benar telah memperoleh karunia besar dari Allah. Jika Anda berduit, jangan sekali-kali berkata, “Saya miskin” lalu pelit bersedekah. Ketika mendapat kepercayaan untuk melakukan sesuatu, segera katakan dengan percaya diri, “Saya bisa melakukannya atas pertolongan Allah.” Orang yang tidak percaya diri berarti mengingkari kemampuan yang diberikan Allah SWT kepadanya. “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu tunjukkan.” (QS. Ad-Dluha [..]: 1-11).

Dalam Al Qur’an, Surat Ad-Dluha diikuti Surat Al-Insyirah yang berisi kegembiraan Nabi SAW memperoleh jalan keluar dari semua persoalan. Bagi Anda yang sedang mengalami kesulitan, cerahkan hati secerah dluha dengan membaca dua surat tersebut dalam satu shalat. Bahkan konon katanya orang-orang syiah wajib membaca dua surat tersebut dalam satu rakaat salat. (Jalaluddin Rahmat, Meraih Cinta Ilahi, p. 395; Tafisr Al-Azhar p. 178-180). (terapishalatbahagia.net)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s