Tiga Kebiasaan Orang Tua

Standar

Cover Februari 2014Yang menghasilkan perilaku buruk pada anak

Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Saya yakin Anda semua ingin sekali memiliki anak-anak yang sholih; anak-anak yang berbakti dan membahagiakan orang tua. Namun pada saat yang sama, kita sama-sama mengetahui bahwa mendidik anak agar menjadi anak sholih itu sulit sekali. Apalagi di zaman sekarang ini. Diantara kita mungkin ada yang memiliki anak yang susah sekali diatur, sering menggunakan tangisan untuk memaksa orang tua, sulit diajak belajar dan lebih suka main game, suka berbohong, tidak mau menuruti perintah orang tua, bahkan cenderung suka melawan orang tua. Mungkin diantara ada yang sedang bertanya-tanya, “kenapa hal itu bisa terjadi?”, “apa penyebabnya?”, “bagaimana cara mengatasinya?”

Saudaraku yang dirohmati Alloh ta’ala. Saya ingin bertanya, “Apakah ketika pertama kali lahir di dunia dulu, anak-anak kita sudah punya rencana misalnya, ‘aku mau jadi pembohong’, ‘aku mau melawan orang tuaku’, ‘aku mau main game terus’, dan rencana-rencana ‘buruk’ yang lain? Apakah hal tersebut mungkin terjadi?”

Saya yakin Anda semua akan menjawab bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi. Jawaban Anda 100% tepat. Tidak ada manusia yang terlahir di dunia dengan membawa rencana-rencana ‘buruk’ seperti itu. “Setiap manusia terlahir dalam keadaan fitrah…”

Lalu kenapa ada beberapa anak yang ‘nakal’, sulit diatur, dan suka melawan orang tua? Maaf. Kalau boleh, saya akan menjawab bahwa penyebabnya adalah orang tuanya. Tolong jangan marah dulu. Kalau bukan orang tuanya, siapa yang menjadi penyebabnya? Siapa yang pertamakali bertemu dengan anak ketika baru lahir? Siapa yang pertamakali berbicara dengan anak? Siapa yang dilihat perilakunya setiap hari oleh anak di rumah? Dengan siapa anak menghabiskan waktunya sehari-hari di rumah? Bila jawabannya adalah orang tua, maka jawaban saya diatas boleh dianggap ada benarnya. Kecuali jika sejak bayi pengasuhan anak diserahkan kepada seorang baby sitter atau care taker.

Oleh karena itu, jika kita ingin merperbaiki perilaku anak, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki perilaku orang tua karena mereka lah sumber referensi utama perilaku bagi anak. Pada kesempatan kali ini saya ingin menyampaikan tiga kebiasaan orang tua yang menghasilkan perilaku buruk anak. Keterangan ini saya kutip dari buku “Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur?” karya Ayah Edy, dengan berbagai penyesuaian.

Berikut adalah tiga kebiasaan orang tua yang menghasilkan perilaku buruk pada anak;

 

  1. 1.       Banyak mengancam

“Jangan naik ke atas meja!! Nanti jatuh gak mama tolong lho..!!”

“Jangan lupa ngerjain PR, nanti papa/mama marah..!!”

“Jangan maen game terus, nanti gak diberi uang saku..!!”

Dari sudut pandang anak kecil, teriakan semacam itu adalah ancaman. Perintah atau larangan yang diutarakan dengan teriakan tanpa beranjak dari tempat duduk, tanpa menghentikan aktifitas dulu, tanpa memandang wajah anak, adalah sebuah bentuk ancaman bagi anak. Apalagi jika ada tambahan, “…. nanti Papa/Mama marah” atau yang sejenisnya.

Anak adalah pembelajar yang hebat. Dia bisa belajar pola perilaku orang tuanya dengan cepat. Bahkan dia bisa saja memanfaatkan pola perilaku itu untuk mengendalikan perilaku orang tua. Hal ini sangat mungkin terjadi jika orang tua sering memberikan ancaman-ancaman kosong. Ancaman yang hanya berupa kata-kata, namun setelahnya tidak ada tindak lanjut atau bahkan orang tua sudah tidak ingat lagi ancaman itu.

Misalnya ketika anak maen game, sang Ayah berteriak dari kejauhan, “Dodi..!! berhenti maen game. Nanti ayah kurangi uang sakunya..!!”

Si Dodi tidak segera beranjak dari depan monitor. Masih terus saja main game. Keesokan harinya, sang Ayah tidak jadi melaksanakan ancamannya. Sang Ayah tetap memberi uang saku seperti biasa kepada Dodi. Jika hal seperti ini terjadi berkali-kali, tentu si Dodi dengan mudah akan belajar, “Tidak perlu kawatir dengan ancaman Ayah. Toh Ayah gak akan melakukannya.”

Bagaimana sebaiknya?

Kita tidak perlu berteriak-teriak. Kita juga tidak perlu mengeluarkan ancaman. Dekati si anak, hadapkan seluruh tubuh kepadanya. Tatap mata anak dengan lembut, perlihatkan ekspresi bahwa Anda tidak suka dengan apa yang dia lakukan. Kemudian pertegas dengan ucapan, “Sayang. Ayah mohon kamu berhenti main game. Sekarang waktunya mandi, sebentar lagi Adzan ‘ashr. Ayah makin sayang sama kamu.” Ikuti dengan senyuman atau ciuman hangat kepada anak.

Atau jika ingin lebih aman, ketika anak maen game, buat kesepakatan dengan anak. Misalnya, “Sayang, sekarang jam 2 siang, kamu main gamenya sampai jam setengah 3 ya. Setelah itu mandi. Jam 3 kan waktunya sholat ‘ashr lalu ngaji.” Biasanya anak akan menawar. Misalnya, “sampai jam 3 kurang 15 menit ya.” Jika Anda merasa bahwa waktu 15 menit cukup untuk mandi dan persiapan sholat, Anda bisa katakan, “OK. Sepakat ya.” Jika Anda masih kawatir bahwa anak akan melanggar kesepakatan, Anda bisa menambahkan konsekuensi untuk memperkuat kesepakatan Anda dengan anak. Misalnya, “Jika jam 3 kurang 15 menit Adek tidak berhenti main, TV nya ayah simpan selama 3 hari ya. Jadi adek gak bisa main game selama 3 hari.” Jika sudah sepakat dan anak melanggar kesepakatan, segera tepati pernyataan tadi dengan tindakan nyata. Anda tidak perlu marah atau teriak-teriak. Dalam hal ini, yang diperlukan adalah ketegasan dan konsistensi. Dengan begitu si anak akan belajar bahwa setiap apa yang dia lakukan memiliki konsekuensi.

 

  1. 2.       Menekankan pada hal-hal yang salah

Ketika anak kita berbuat sebuah kesalahan. Ada banyak diantara orang tua yang langsung memarahi si anak. Misalnya ketika tanpa sengaja anak kita memecahkan gelas. Langsung saja sang ayah atau ibu memarahi anak, “Kamu ini megang gelas saja tidak becus!”

Begitu juga ketika anak pulang terlambat karena keasyikan main di rumah teman. Ayah atau ibu meresponnya dengan kemarahan, “Kamu ini jam segini baru pulang. Ke mana aja kamu?!”

Namun ketika si anak melakukan sesuatu yang baik dan benar, misalnya; mencuci piring, membersihkan kamarnya sendiri, atau mengerjakan PR, ayah atau ibu menganggapnya biasa-biasa saja, tidak memberikan perhatian. Mungkin ayah ibu mengira bahwa memang sudah sewajarnya anak-anak kita mengerjakan semua itu. Jadi ya biasa-biasa saja.

Sikap yang ‘lebih memperhatikan’ kesalahan anak ini bisa berakibat buruk. Hal seperti inilah yang sebenarnya memicu anak untuk mengulangi kesalahan atau melakukan hal-hal buruk yang lain. Kenapa? Karena mereka ingin mendapatkan perhatian dari orang tua mereka.

Bagaimana sebaiknya?

Ketika anak melakukan kesalahan, Anda tidak harus memarahinya. Cukup jelaskan padanya apa akibat dari perbuatan yang dia lakukan. Berilah dia pemahaman kenapa dia tidak boleh melakukan suatu hal. “Adek kalau main di rumah teman jangan malam-malam ya… maksimal jam 8.30. Karena adek harus tidur jam 9 agar besok bisa bangun pagi, sholat subuh dan sekolah dengan badan segar, tidak ngantuk.” Untuk mendidikanya agar dia tidak mengulangi kesalahan yang sama, buatlah kesepakatan dengan dia beserta konsukuensi-konsekuensi yang wajar.

Sebaliknya, ketika anak melakukan kebaikan, biasakanlah untuk memberikan perhatian dan pujian. Gunakanlah kata-kata sederhana yang mudah dipahami oleh anak. Misalnya, “alhamdulillah. Adek hebat ya bisa mencuci piring”, “Adek anak yang pintar. Bisa menyelesaikan PR”, “adek anak yang rajin. Bisa membersihkan kamar sendiri. Ayah/ibu senang”. Tunjukkan rasa senang Anda dengan senyuman, pelukan, dan ciuman hangat. Dengan begitu, anak akan memahami bahwa hal-hal yang dia lakukan itu adalah kebaikan. Hal-hal yang membuat orang tua mereka senang. Anak-anak juga akan semakin percaya diri dan bersemangat melakukan kebaikan-kebaikan karena mendapatkan dukungan, pujian, dan perhatian dari orang tua mereka.

 

  1. 3.       Memberikan julukan yang buruk

Ada beberapa guru dan orang tua yang suka menjuluki anak dengan julukan yang buruk seperti si lemot, si cengeng, anak nakal, biang kerok, si gendut, dan lain-lain. Saya yakin, para orang tua dan guru pun tidak suka jika dipanggil dengan julukan yang buruk. Namun anehnya, ada banyak guru dan orang tua yang dengan begitu mudahnya memanggil anak dengan julukan yang buruk.

Kebiasaan memanggil anak dengan julukan yang buruk bisa mengakibatkan efek psikologis yang buruk pada anak. Misalnya anak menjadi minder, merasa rendah diri, tidak percaya diri, merasa bodoh, merasa buruk. Julukan yang buruk juga bisa menyebabkan munculnya rasa benci pada diri anak. Jika seorang anak benci dengan guru atau orang tua nya, tentu dia lebih suka melakukan hal-hal yang membuat mereka marah, sebagai salah satu cara untuk membalas dendam. Adakalanya juga, seorang anak justru ingin menunjukkan kehebatan julukan yang diberikan kepadanya. Misalnya ada anak yang dijuluki biang kerok, maka anak tersebut akan berusaha melakukan hal-hal yang mengganggu orang lain. Pikirnya, “toh aku dijuluki biang kerok, jadi tidak salah kan kalau aku mengganggu orang lain.”

Bagaimana sebaiknya?

Berhentilah memanggil anak dengan julukan yang buruk. Ingat. Bisa jadi karena panggilan yang buruk tersebut anak –anak kita suka melakukan hal-hal yang buruk sesuai julukannya. Bukankah nama, termasuk juga panggilan, adalah sebuah doa?

Panggilah anak-anak Anda dengan julukan yang baik seperti, anak baik, anak rajin, anak hebat, atau anak sholih. Atau panggilah anak Anda dengan panggilan yang dia sukai. Cobalah bertanya kepada anak, panggilan apa yang paling dia sukai. Insyaalloh, anak akan lebih menyukai Anda dan lebih mudah untuk dididik.

 

Itulah tiga kebiasaan orang tua yang bisa mengakibatkan perilaku buruk pada anak; banyak mengancam, menekankan pada hal-hal yang buruk, dan memberikan julukan yang buruk. Jika tiga kebiasaan ini atau salah satunya sering kita lakukan, marilah kita menghentikan kebiasaan buruk tersebut sekarang juga. Mari kita menggantinya dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik.

Saudaraku yang semoga senantiasa dibimbing oleh Alloh ta’ala. Percayalah. Setiap manusia, termasuk anak-anak kita, terlahir dalam keadaan fitrah. Melalui ‘kebiasaan’ ketika berinteraksi dengan merekalah, kita para orang tua ‘mengajari’ anak-anak untuk berperilaku. Mari kita sebagai orang tua membiasakan diri berperilaku baik sebelum meminta anak menjadi baik.

Semoga Alloh ta’ala membuka hati kita dan mengisinya dengan cahaya hidayah. Amin. [tj/lp2a pbsb]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s