Apakah perkataan “Pulanglah ke rumah orang tuamu!” menyebabkan jatuh talak?

Standar

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh : Ust. Nur Kholis Majid, Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Timur Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com ———————————

Konsultasi Agama ini diasuh Oleh :
Ust. Nur Kholis Majid, Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Timur
Kirimkan pertanyaan anda seputar masalah keagamaan ke redaksi melalui email redaksihikmah@gmail.com
———————————

 

Pertanyaan:

Assalamualaikum Wr.Wb. Ustadz, saya ingin bertanya, beberapa waktu yang lalu, tidak jauh dari rumah, ada suami istri yang sedang bertengkar. Pertengkaran tersebut disebabkan belas kasihan suami kepada ibunya dan selalu memberikan nafkah kepadanya yang ada di desa. Karena istri merasa tidak ikhlas dan ridha dengan perbuatan suaminya, sehingga melarang suami untuk memberikan nafkah kepada ibunya yang tinggal di desa. Disisi lain, suami tetap pada pendiriannya ingin menghormati dan memenuhi kebutuhan hidup ibunya yang tinggal seorang diri. Sejak itulah,mulai terjadi perselisihan dan perdebatan panjang antara keduanya sehingga berujung kepada pertengakaran. Dan puncaknya, suami memerintahkan istrinya agar pulang ke rumah orang tuanya. Pertanyaannya, apakah kata-kata suami kepada istrinya sebagaimana yang dideskripsikan diatas termasuk talak? Dan bagaimana seharusnya sikap suami dan istri tersebut dalam situasi seperti diatas?

Rahman

Gedangan – Sidoarjo

Jawaban:

Waalaikum Salam Wr.Wb. Mas Rahman yang dimulyakan oleh Allah, sebelum Penulis menjelaskan tentang pertanyaan diatas, Penulis ingin memberikan nasehat (wejangan) terkait dengan talak. Pada prinsipnya, talak (cerai) merupakan hal yang boleh dilakukan oleh suami kepada istrinya jika hubungan pernikahan dan perkawinan tersebut tidak memungkinkan untuk dipertahnkan dan dilanjutkan. Namun, karena talak (cerai) tersebut memiliki implikasi sosial, khususnya kepada anak keturunannya, maka sebaiknya dilakukan upaya-upaya tertentu untuk mempertahankan hubungan pernikahannnya. Hal ini mengingat adanya sabda Rasul SAW sebagaimana berikut:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ أَبْغَضُ الْحَلاَلِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلاَقُ[1]

Artinya: “Dari Ibn Umar, dari Nabi SAW beliau bersabda: “paling dibencinya perbuatan halal yaitu talak (cerai)”.

Statemen Nabi SAW diatas menggambarkan betapaun talak (cerai) merupakan solusi terakhir dalam menyelesaikan persoalan rumah tangga. Kata “paling dibencinya perbuatan yang halal” mengisyaratkan adanya konsekuensi sosial yang harus dihadapi, bukan saja hubungan antar mantan suami istri, melainkan juga akan memperkeruh hubungan kedua belah keluarga. Lebih dari itu, efek dari retaknya hubungan pernikahan (broken home) akan diarasakan oleh anak keturunannya. Atas dasar itulah, sebaiknya proses musyawarah untuk ber islah (damai) antar keduanya harus diupayakan, tidak hanya suami istri sendiri, melainkan harus ada intervensi kedua keluarga. Dengan demikian, Penulis meminta kepada Mas Rahman yang budiman agar menyampaikan hal tersebut kepada suami istri yang sedang berselisih faham, agar keduanya dapat berfikir secara obyektif dan mendalam.

Terkait dengan pertanyaan anda tentang kalimat yang disampaikan kepada istrinya “pergilah kamu ke keluargamu” sesungguhnya merupakan bahasa kinayah (sindiran). Oleh karenanya, pernyataan tersebut sangat tergantung pada niat suami. Artinya, jika suami mengucapkan kata-kata tersebut dibarengi dengan niat untuk mencerai istrinya, maka ikatan pernikahan dan perkawinan suami istri tersebut terputus. Dan sebaliknya, jika pernyataan tersebut tidak dimaksudkan untuk mencerai istrinya, melainkan hanya sebagai langkah takhwif (mewanti-wanti) istrinya agar mau menuruti perintah suami, maka ikatan perkawinannya antara keduanya masih sah secara hukum, dan keduanya mendapatkan hak dan kewajiban sebagai pasangan suami istri sebagaimana mestinya. Dalam kajian fikih, pernyataan talak (cerai) diklasifikasikan menjadi dua, yaitu sarih (langsung) dan kinayah (sindiran). Menurut pendapat Penulis, pernyataan suami kepada istrinya sebagaimana digambarkan diatas termasuk kategori kinayah (sindiran), dan untuk melegalkankannya dibutuhkan niat dari pihak suami. Berbeda dengan hal itu, pernyataan talak yang bersfat sarih (langsung atau jelas) seperti: kamu saya cerai atau saya talak atau saya pisah, maka tidak lagi dibutuhkan niat sang suami untuk menceraikan istrinya. Hal ini sebagaimana penjelasan dalam kitab sahih bukhari sebagaiman berikut:

(الْحَقِيْ بِأَهْلِكِ ) مِنْ أَلْفَاظِ الْكِنَايَةِ الَّتِي تَحْتَاجُ إِلَى نِيَّةٍ حَتَّى يَقَعُ الطَّلاَقُ[2]

Artinya: “(Pergilah kamu ke keluargamu) termasuk kalimat sindiran yang sangat tergantung pada niat suami untuk dianggap sebagai pernyataan talak”.

Adapun sikap suami yang senantiasa memberikan nafkah kepada ibunya semata wayang, merupakan hal yang baik. Bahkan, hal tersebut bisa merupakan sebuah kewajiban anak kepada orang tua jika orang tua tersebut fakir dan tidak mampu mencari nafkah sendiri. Hal ini ditegaskan oleh fukaha sebagaimana berikut:

فَأَمَّا الْوَالِدُوْنَ فَتَجِبُ نَفَقَتُهُمْ بِشَرْطَيْنِ الْفَقْرُ وَالزَّمَانَةُ أَوْ الْفَقْرُ وَالْجُنُوْنُ[3]

Artinya: “Kewajiban menafkahi orang tua dengan dua syarat, yaitu: karena fakir dan lumpuh atau karena fakir dan gila”.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka Penulis menyimpulkan bahwa suami yang menafkahi ibunya tersebut merupakan kewajiban. Oleh karenanya, istri harus rela dan ikhlas atas bantuan suami yang dipersembahkan untuk ibunya, dan itu merupakan ibadah dan sekaligus tanggung jawab anak kepada orang tuanya. Disisi lain, suami dituntut harus berlaku adil, yaitu tidak selalu memihak kepada ibunya sendiri, tetapi juga orang tua istri (mertua). Jika suami mampu berlaku adil antara orang tua sendiri dan mertuanya, insya Allah akan memperkecil kecemburuan sosial yang terjadi pada istriya dan pada akhirnya akan mengurangi terjadinya konflik keluarga.

Inilah jawaban dari Penulis, semoga bermanfaat dan menjadi bahan renungan bagi suami yang selalu mengucapkan kata-kata talak (cerai) kepada istrinya. Amin !


[1] Lihat Sunan Abi Dawud Juz VI, hal. 406. Hadis No. 2180

[2] Sahih Bukhari, Juz V, hal. 2012. Hadis No. 4955

[3] Mustafa Raibal Bigha, Matn al-Ghayah Wa al-Taqrib, 187

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s