Mencintai Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam

Standar

Cover Januari 2014Saudaraku yang dimuliakan oleh Alloh ta’ala. Mencintai Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam merupakan suatu keharusan bagi kita umat Islam. Melalui beliaulah kita mengenal Alloh ta’ala. Melalui beliaulah kita bisa merasakan manisnya iman dan kita bisa menikmati indahnya ajaran Islam. Melalui beliaulah kita bisa mengetahui bahwa ada kehidupan akhirat. Melalui beliaulah kita bisa mengetahui jalan-jalan yang bisa mengantarkan kita menuju surga; tempat yang penuh nikmat. Melalui beliaulah kita bisa mengetahui jalan-jalan yang bisa menjerumuskan kita jatuh ke neraka; tempat yang penuh siksa. Oleh karena itu, selayaknya dan sepantasnyalah kita mencitai nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam.

Firman Alloh ta’ala (yang maksudnya):

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri” [QS. Al-Ahdzab:6]

Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam bersabda (yang maksudnya):

“Demi Allah, salah seorang dari kalian tidak akan dianggap beriman hingga diriku lebih dia cintai dari pada orang tua, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari)

Potret kecintaan para sahabat kepada Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam

Sejenak marilah kita tengok bagaimana para sahabat, generasi terbaik umat ini, mengekspresikan rasa cinta beliau kepada Nabi Muhammad shollallohu alaihiwa sallam.

Ketika Sahabat Zaid bin ad-Datsinah rodliallohu ‘anhu tertawan oleh kaum musyrikin dan hendak dieksekusi, terjadi perbincangan antara beliau dan Abu Sufyan bin Harb -sebelum ia masuk Islam-.

Abu Sufyan berkata, “Ya Zaid, maukah posisi kamu sekarang digantikan oleh Muhammad dan kami penggal lehernya, kemudian engkau kami bebaskan kembali ke keluargamu?”

Serta merta Zaid menimpali, “Demi Allah, aku sama sekali tidak rela jika Muhammad sekarang berada di rumahnya tertusuk sebuah duri, dalam keadaan aku berada di rumahku bersama keluargaku!!!” Maka Abu Sufyan pun berkata, “Tidak pernah aku mendapatkan seseorang mencintai orang lain seperti cintanya para sahabat Muhammad kepada Muhammad!” (Al-Bidayah wa an-Nihayah, karya Ibnu Katsir [V/505], dan kisah ini diriwayatkan pula oleh al-Baihaqy dalam Dalail an-Nubuwwah [III/326]).

Kisah lain diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik rodliallohu ‘anhu, “Di tengah-tengah berkecamuknya peperangan Uhud, tersebar desas-desus di antara penduduk Madinah bahwa Nabi SAW terbunuh, hingga terdengarlah isakan tangisan di penjuru kota Madinah. Maka keluarlah seorang wanita dari kalangan kaum Anshar dari rumahnya, di tengah-tengah jalan dia diberitahu bahwa bapaknya, anaknya, suaminya dan saudara kandungnya telah tewas terbunuh di medan perang.

Ketika dia memasuki sisa-sisa kancah peperangan, dia melewati beberapa jasad yang bergelimpangan, “Siapakah ini?”, tanya perempuan itu. “Bapakmu, saudaramu, suamimu dan anakmu!”, jawab orang-orang yang ada di situ. Perempuan itu segera menyahut, “Apa yang terjadi dengan Rosulullah SAW?!” Mereka menjawab, “Itu ada di depanmu.” Maka perempuan itu bergegas menuju Rosulullah SAW dan menarik bajunya seraya berkata, “Demi Allah wahai Rosulullah, aku tidak akan mempedulikan (apapun yang menimpa diriku) selama engkau selamat!” (HR. Ath Thabarani dan Abu Nu’aim)

Bilal yang selalu adzan semasa hidup Rosulullah, tidak mau beradzan lagi setelah wafatnya Rosulullah karena Bilal tidak sanggup mengucapkan “Asyhadu anna Muhammad Rosululah” karena ada kata-kata Muhammad di situ. Tapi karena desakan Sayyidah Fatimah yang saat itu rindu mendengar suara adzan Bilal, dan mengingatkan beliau akan ayahnya. Bilal akhirnya dengan berat hati mau beradzan. Saat itu waktu Subuh, dan ketika Bilal sampai pada kalimat “Asyhadu anna Muhammad Rosulullah”, Bilal tidak sanggup meneruskannya, dia berhenti dan menangis terisak-isak. Dia turun dari mimbar dan minta izin pada Sayyidah Fatimah untuk tidak lagi membaca adzan karena tidak sanggup menyelesaikannya hingga akhir. Ketika Bilal berhenti saat adzan itu, seluruh Madinah berguncang karena tangisan kerinduan akan Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam.

Ketika Bilal RA datang dari negeri Syam ke kota Madinah setelah Nabi shollallohu alaihi wa sallam wafat, orang-orang memintanya untuk mengumandangkan adzan bagi mereka sebagaimana yang dilakukannya ketika Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam masih hidup. Penduduk kota Madinah, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa, berkumpul untuk mendengarkan adzannya.

Ketika Bilal mengucapkan “Allahu Akbar, Allahu Akbar”, semuanya berteriak dan menangis. Sewaktu ia mengucapkan “Asyhadu anlailahaillallah”, mereka mulai gaduh. Saat ia melafadzkan “Asyhadu anna Muhammadar Rosulullah”, tidak ada seorang pun di Madinah yang tak menangis dan tak berteriak. Para gadis keluar dari kamar-kamar mereka dengan menangis. Hari itu menjadi seperti hari wafatnya Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam. Semuanya karena mereka teringat kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam.

Ketika nama Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam di sebut, sahabat Abdullah bin Umar selalu meneteskan air mata. Dan tidaklah ia melewati rumah Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam melainkan ia pejamkan kedua matanya. Sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab az-Zuhud dengan sanad shahih, saking cintanya kepada Rosulullah SAW, ia selalu mengikuti atsar-atsar (kebiasaan) Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam.

Di setiap masjid, di mana Nabi pernah melakukan shalat di situ, ia pun shalat di situ. Saat berhaji, ketika wuquf di Arafah, ia selalu wuquf di tempat Rosulullah wuquf. Bahkan ia juga selalu memeriksa untanya di setiap jalan yang dilihatnya Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam pernah memeriksa untanya di situ.

Begitu pula Ikrimah bin Abu Jahl RA, yang selalu setuju dengan Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam dan senantiasa teguh hatinya. la gugur pada Perang Yarmuk. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, ia meletakkan kepalanya di atas paha Khalid bin Al-Walid, seraya berkata dengan air mata yang mengalir dari kedua matanya, “Wahai paman, apakah kematian ini membuat Rosulullah ridha kepadaku?” Pada saat kritis seperti itu pun ia teringat Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam, dan keinginannya hanyalah agar Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam ridha kepadanya.

Begitulah ungkapan cinta para sahabat kepada Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam. Bagaimana dengan kita?

Cara kita mencintai Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam

Cinta yang sejati adalah cinta yang bukan hanya di bibir saja, bukan cinta yang hanya diucapkan saja, tetapi cinta yang dibuktikan dengan perbuatan. Lalu, bagaimana cara mengekspresikan rasa cita kita kepada beliau Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam? Berikut ini adalah beberapa cara untuk menyatakan rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam.

  1. Membaca siroh Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam

Sesekali coba tanya ke anak usia SMP di sekitar Anda. Anak itu bisa jadi anak Anda sendiri. Atau, mari kita tanya saja pada diri kita sendiri. Siapakah nabi Muhammad itu? Siapa ayah-ibunya? Siapa kakek-neneknyanya? Siapa istri dan anak-anaknya? Bagaimana kehidupannya ketika masih kecil? Bagaimana perilakunya ketika usia remaja? Bagaimana perannya dalam masyarakat ketika sudah dewasa? Bagaimana sikap beliau kepada istri dan anak-anaknya? Bagaimana beliau memperlakukan anak-anak? Bagaimana beliau memperlakukan anak yatim dan fakir miskin? Bagaimana sikap beliau kepada para sahabatnya? Bahkan, bagaimana sikap beliau kepada musuh-musuhnya? Bagaimana perjuangannya ketika sudah diangkat menjadi utusan Alloh ta’ala?

Tak kenal maka tak sayang. Bagaimana kita bisa mencintai Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam jika kita kurang mengenal sejarah kehidupan beliau yang mulia? Bahkan kita tidak akan bisa memahami ajaran agama Islam dengan benar jika kita tidak mengetahui perikehidupan manusia mulia yang membawa risalah agama ini. Mari kita membaca dan mempelajari siroh (perjalanan hidup) Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa salami, niscaya bertambah-tambahlah rasa cinta kita kepada beliau. Dan jangan lupa, mari kita ajak suami/istri dan anak-anak kita untuk membaca dan menghayati sejarah kehidupan beliau yang penuh dengan kearifan dan kebijaksanaan.

  1. Memperbanyak membaca sholawat untuk Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam

Salah satu tanda orang yang sedang jatuh cinta adalah ia sering menyebut dan mengingat nama orang yang dicintai. Maka jika kita benar-benar mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka perbanyaklah membaca sholawat. Makna shalawat kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam adalah meminta kepada Allah Ta’ala untuk memuji dan mengagungkan beliau Nabi shollallohu alaihi wa sallam di dunia dan akhirat, di dunia dengan memuliakan peneyebutan (nama) beliau Nabi shollallohu alaihi wa sallam, memenangkan agama dan mengokohkan syariat Islam yang beliau bawa. Dan di akhirat dengan melipatgandakan pahala kebaikan beliau Nabi shollallohu alaihi wa sallam, memudahkan syafa’at beliau kepada umatnya dan menampakkan keutamaan beliau pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk [Lihat kitab “Fathul Baari” (11/156)].

Firman Alloh ta’ala (yang maksudnya);

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab: 56).

Dari Anas bin Malik rodhiallohu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Alloh akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)”[SHAHIH. Hadits Riwayat An-Nasa’i (no. 1297), Ahmad (3/102 dan 261), Ibnu Hibban (no. 904) dan al-Hakim (no. 2018)]

Dari Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, ia berkata, “Bahwasanya Nabi shollallohu alaihi wa sallam telah bersabda, “Orang yang bakhil (kikir/pelit) itu ialah orang yang apabila namaku disebut disisinya, kemudian ia tidak bershalawat kepadaku”. [SHAHIH. Dikeluarkan oleh AT Tirmidzi 5/211, Ahmad 1/201 no 1736, An Nasa-i no 55,56 dan 57, Ibnu Hibban 2388, Al Hakim 1/549, dan Ath Thabraniy 3/137 no 2885]

Dari Abu Hurairah, ia berkata, telah bersabda Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam:” Hina dan rugi serta kecewalah seorang yang disebut namaku disisinya, lalu ia tidak bershalawat kepadaku”. [Dikeluarkan oleh Imam At Tirmidzi 5/210, dan Al Hakim 1/549. Dan At Tirmidzi telah menyatakan bahwa hadits ini Hasan].

Jika kita mencintai Nabi shollallohu alaihi wa sallam, tentu kita merasa senang untuk senantiasa menyebut nama beliau, tentu hati kita merasa tentram dengan senantiasa memuji beliau dengan pujian yang terbaik. Mari kitamemperbanyak membaca sholawat, baik dengan suara lantang maupun dengan suara lembut. Baik dengan lisan maupun dengan hati. Mari penuhi hari-hari kita dengan sholawat. Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.

  1. Mengikuti ajaran Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam (ittiba’u as-sunnah)

Orang-orang yang mengakui bahwa dirinya mencintai Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam, tentu mereka, dengan ringan dan penuh kegembiraan, senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan hal-hal yang membuat beliau ridlo dan senang. Dan cara membuat beliau ridlo dan senang adalah dengan mengikuti ajaran beliau, mentaati perintah beliau, dan menjauhi larangan beliau. Ibnu Rajab, dalam Fathul Bari Syarh Shahih al Bukhari, menyebutkan bahwa kecintaan bisa sempurna dengan ketaatan, sebagai firman Allah Ta’ala:

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku…. ” (QS. Ali Imran: 31)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar mengambil setiap yang beliau shollallohu alaihi wa sallam berikan dari urusan agama dan meningalkan apa yang beliau larang.

“Apa yang diberikan Rosul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Hal tersebut karena beliau shollallohu alaihi wa sallam berbicara dengan bimbingan wahyu dan bukan karena menuruti hawan nafsu, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu  menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),” QS. Al-Najm: 3-4)

Sehingga seorang pecinta Nabi shollallohu alaihi wa sallam akan membenarkan setiap yang beliau beritakan, mentaati apa yang beliau perintahkan, meninggalkan apa yang beliau larang, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyariatkannya.

Al Qadli ‘Iyadh rahimahullah, berkata: “Di antara bentuk cinta kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam adalah dengan menolong sunnahnya, membela syariahnya, berangan-angan hidup bersamanya, . . . ”

Langkah awal untuk mengikuti ajaran beliau adalah dengan mempelajari ajaran agama Islam. Bagaimana kita bisa mengikuti ajaran Nabi jika kita tidak tahu apa dan bagaimana ajaran Nabi itu? Ayo semangat belajar..!!

  1. Menjadikan Nabi shollallohu alaihi wa sallam sebagai teladan dan panutan

Jika kita benar-benar cinta kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam, ya mari kita jadikah beliau sebagai tokoh idola, tokoh panutan dan teladan. Jadi idola kita bukanlah artis-artis Ibu Kota itu, bukan artis luar negeri itu, bukan mereka, idola kita adalah Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala berfirman (yang maksudnya);

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh.” (QS. al-Ahzab: 21)

 

Contoh akhlaq Nabi kepada anak kecil.

Suatu hari, Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam didatangi seorang perempuan yang bernama Sa’idah binti Jazi. Ia membawa anaknya yang baru berumur satu setengah tahun. Rosul kemudian memangku anak tersebut. Tiba-tiba, si anak kencing (mengompol) di pangkuan Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam. Spontan, sang ibu menarik anaknya dengan kasar. Seketika itu juga, Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam menasihatinya. “Dengan satu gayung air, bajuku yang terkena najis karena kencing anakmu bisa dibersihkan. Akan tetapi, luka hati anakmu karena renggutan mu dari pangkuanku tidak bisa di obati dengan bergayung-gayung air,” ujar Rosul.

Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya kamu bersikap lemah lembut, kasih sayang, dan hindarilah sikap keras dan keji.” (HR Bukhari).

Suatu hari beliau sedang sujud –tatkala beliau mengimami para sahabat- maka datanglah Al-Hasan bin Ali bin Abi Thoolib, lalu –sebagaiman sikap anak-anak-, Al-Hasanpun menaiki pundak Nabi yang dalam kondisi sujud. Nabipun melamakan/memanjangkan sujudnya. Hal ini menjadikan para sahabat heran mereka berkata : “Wahai Rasulullah, engkau telah memperpanjang sujudmu, kami mengira telah terjadi sesuatu atau telah diturunkan wahyu kepadamu”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka, “Bukan…, akan tetapi cucuku ini menjadikan aku seperti tunggangannya, maka aku tidak suka menyegerakan dia hingga ia menunaikan kemauannya” (*HR Ahmad no 16033 dan An-Nasaai no 1141)

Abu Hurairah –semoga Allah meridhoinya- berkata : “Nabi shollallohu alaihi wa sallam mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, “Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati” (HR Al-Bukhari no 5997 dan Muslim no 2318)

Lihatlah, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam sangat menyayangi anak kecil, bersikap lemah lembut dan tidak keras kepada anak kecil, dan beliau senang mencium anak kecil. Bagaimana dengan kita?

 

Contoh akhlaq Nabi kepada Istri

Berkata Ibnu Abbas rodliyallohu ‘anhu. Aku menginap di rumah bibiku Maimunah (istri Nabi shollallohu alaihi wa sallam), maka Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam berbincang-bincang dengan istrinya (Maimunah) beberapa lama kemudian beliau tidur”. ( HR Al-Bukhari IV/1665 no 4293, VI/2712 no 7014 dan Muslim I/530 no 763)

Urwah berkata kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam jika ia bersamamu (di rumahmu)?”, Aisyah berkata, “Ia melakukan (seperti) apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sendalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember”. (HR Ibnu Hibban (Al-Ihsan XII/490 no 5676, XIV/351 no 6440),)

Dari sayyidah Aisyah, beliau berkata: “Biasanya pada hari raya, orang-orang Habasyah bermain perisai dan tombak (berlatih perang-perangan). Aku yang meminta kepada Nabi (agar diperkenankan menonton permainan tersebut) dan beliau sendiri menawarkan dengan berkata, ‘Apakah engkau ingin melihat permainan mereka?’ ‘Iya’, jawabku. Beliau pun memberdirikan aku di belakangnya, pipiku menempel pada pipi beliau. Beliau berkata: ‘Teruskan wahai Bani Arfidah.’ Hingga ketika aku telah jenuh, beliau bertanya, ‘Cukupkah?’ ‘Iya’, jawabku. ‘Kalau begitu pergilah’, kata beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 950 dan Muslim no. 2062)

Dari Aisyah bahwasanya ia pernah bersama Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersafar, dan tatkala itu ia masih gadis remaja (Aisyah berkata, “Aku tidak gemuk), maka Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya, “Pergilah ke depan”, lalu merekapun maju ke depan. Kemudian beliau berkata, “Kemarilah (Aisyah) kita berlomba (lari)”, maka akupun berlomba dengannya dan aku mengalahkannya. Tatkala di kemudian hari aku bersafar bersama beliau lalu beliau berkata kepada para sahabatnya, “Pergilah maju ke depan”, kemudian ia berkata, “Kemarilah (Aisyah) kita berlomba (lari)”, dan aku telah lupa perlombaan yang dulu dan tatkala itu aku sudah gemuk. Maka akupun berkata, “Bagaimana aku bisa mengalahkanmu wahai Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam m sedangkan kondisiku sekarang seperti ini?”. Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam berkata, “Engkau akan berlomba denganku”, maka akupun berlomba dengannya lalu Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam mendahuluiku, kemudian beliaupun tertawa dan berkata, “Ini untuk kekalahanku yang dulu” (Al-Humaidi di Musnadnya, Abu Dawud, An-Nasai, At-Thobroni)

Lihatlah, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam sangat perhatian kepada istri beliau, dengan rendah hati bersedia membantu istri beliau mengerjakan pekerjaan rumah, bersikap mesra kepada istri, dan tidak merasa segan untuk mencandai istri beliau. Bagaimana dengan kita?

Ini hanyalah sedikit contoh kemuliaan akhlaq Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam. Masih banyak yang bisa kita pelajari dari akhlaq beliau yang indah. Mari sempatkan diri untuk mempelajari akhlaq Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam dan mari kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Begitulah diantara cara-cara yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan rasa cita kita kepada Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam. Cinta sejati itu memang bukan hanya sekedar pengakuan, tetapi harus dibuktikan dengan perbuatan. Bukankah seperti itu? Semoga cinta kita kepada Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam mengantarkan kita bertemu dan berkumpul dengan beliau kelak di hari akhir. Amin.

Ya Alloh… tanamkanlah di hati kami, rasa cita kepada Nabi. [Tije/LP2A PBSB]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s