SHALAT INNA LILLAH

Standar

Suasana Dzikr dan Doa Bersama 2013. Prof. M. Ali Aziz menyampaikan taushiyah dalam acara Dzikr dan Doa Bersama 2013. Penulis buku dan trainer Terapi Sholat Bahagia tersebut menyampaikan hal-hal penting seputar sholat yang perlu kita perhatikan.

Suasana Dzikr dan Doa Bersama 2013. Prof. M. Ali Aziz menyampaikan taushiyah dalam acara Dzikr dan Doa Bersama 2013. Penulis buku dan trainer Terapi Sholat Bahagia tersebut menyampaikan hal-hal penting seputar sholat yang perlu kita perhatikan.

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia 

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain” (QS. Thaha [20]:55)

Ayat di atas menjelaskan, Anda diciptakan dari tanah, lalu dikembalikan ke tanah: mati, dan dari tanah itu pula Anda akan dihidupkan kembali. Bumi yang Anda injak setiap hari ini menghasilkan tumbuh-tumbuhan dan makanan yang berisi zat putih telur, zat besi kalori, dan berbagai vitamin yang semuanya dibutuhkan untuk kelangsungan hidup Anda. Di dalamnya juga terdapat zat hormon yang memperkaya darah untuk menghasilkan sperma. Dari sperma itulah Anda diciptakan dan diberi hidup untuk jatah waktu yang telah ditentukan. Setelah jatah waktu itu habis, maka Anda dikembalikan lagi ke tanah. Mayat yang dibakar sampai menjadi debu dan dibuang ke lautpun pasti kembali ke tanah. Pada hari kiamat nanti, semua manusia, tak peduli beragama atau tidak, akan dihidupkan kembali.

Ayat di atas itulah yang dibaca Nabi SAW setiap kali selesai pemakaman seseorang. Ia mengambil sekepal tanah dan dilemparkan sambil membaca penggalan awal ayat, minha khalaqnakum (dari tanah itulah Kami menciptakan kamu), lalu melakukannya untuk kali kedua dengan membaca penggalan tengah ayat, wafiha nu’idukum (dan ke dalam tanah, Kami kembalikan kamu). Nabi mengambil sekepal tanah sekali lagi dan melemparkan dengan membaca ujung ayat, waminha nukhrijukum taratan ukhra (dan dari tanah itu pula, Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain).

Muhsin Qira’ati (2001) mengatakan ayat di atas menjawab pertanyaan, mengapa Anda bersujud dua kali dalam setiap rakaat shalat. Sujud pertama mengingatkan asal muasal kejadian Anda: dari tanah. Bangkit dari sujud pertama mengingatkan kehidupan: realitas sekarang. Sujud kedua mengingatkan muara kehidupan Anda: kembali ke tanah,  dan bangkit dari sujud kedua mengingatkan kehidupan kedua: hari kebangkitan menuju kehidupan yang abadi.  Sebelum sujud, Anda pasti rukuk terlebih dahulu. Inilah posisi shalat yang bermakna penyerahan kepala untuk dipenggal Allah demi ridla-Nya. Rukuk adalah posisi leher paling siap untuk diperlakukan apa saja oleh Allah. Oleh sebab itu, rukuk tanpa penyerahan nyawa atau kesiapan mati adalah rukuk kebohongan.  (Lihat Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, p.71-72)

Berdasarkan pemaknaan filosofis shalat di atas, maka setiap shalat sejatinya adalah “shalat inna lillahi wainna ilahi raji’un” yaitu shalat yang mengingatkan kematian. Tidak semua Anda memahami arti doa shalat. Tapi, jika Anda bersedia memahami simbol-simbol kematian dari gerakan shalat, maka shalat Anda pasti berpengaruh terhadap karakter Anda, sekalipun tidak semaksimal jika Anda memahami kedalaman makna doa-doa tersebut. Imam Al Qurthuby r.a mengatakan,  “Orang yang ingat mati akan memperoleh tiga kemuliaan:  lebih menghayati istighfar, tidak serakah, dan mudah diajak kepada kebaikan.”

Selain analisis terhadap gerakan shalat, beberapa doa dalam shalat juga menunjukkan keterkaitan atau kemiripan dengan doa-doa dalam shalat jenazah. Dalam doa pembuka shalat, kita membaca doa,  “…wahai Allah, bersihkan aku dari semua dosa, seperti kain putih yang dibersihkan dari semua noda. Mandikan aku dengan embun salju yang menyegarkan…”. Ternyata dalam shalat jenazah, kita juga dianjurkan membaca doa yang sama, hanya sasarannya yang berbeda,“…wahai Allah, bersihkan si mayit dari semua dosa, seperti kain putih yang dibersihkan dari semua noda. Mandikan ia dengan embun salju yang menyegarkan…”.

Dalam posisi duduk di antara dua sujud, kita membaca doa, “..wahai Allah, ampuni, dan kasihi aku..”. Dalam shalat jenazah, ternyata kita membaca doa yang hampir sama,“..wahai Allah ampuni si mayit dan kasihilah dia..”. Terakhir, dalam doa menjelang salam penutup shalat, kita membaca doa, “…wahai Allah, dengan pengetahuan-Mu akan yang gaib, dan dengan Ke-Mahakuasaan-Mu dalam semua penciptaan, hidupkan aku, jika menurut pengetahuan-Mu itu lebih baik bagiku, dan matikan aku jika mati lebih baik bagiku….” Allah-lah yang paling tahu yang gaib, termasuk di dalamnya “apa dan bagaimana masa depan kita”. Jika esok hari, iman kita bertambah baik dan akhlak kita semakin terpuji, kita memohon untuk diberi tambahan usia sehari atau dua atau lebih. Namun, jika menurut pengetahuan Allah, esok hari iman kita semakin merosot, dan kita semakin durhaka, untuk apa diberi tambahan usia?. Mati sekarang pasti lebih baik, agar kita mati dalam keadaan tetap beriman, dan selamat dari kematian dengan lebih banyak dosa.

Tidak ada jaminan bahwa orang yang beriman hari ini, esok hari masih tetap beriman. Artinya, Anda yang berakhlak mulia hari ini tidak dijamin tetap demikian pada hari berikutnya. Esok hari penuh spekulasi: antara kesalehan dan kefasikan, antara ketaatan dan kedurhakaan, antara keimanan dan kekafiran. Hidup itu masih “koma”, belum “titik”. Hanya setan dan malaikat yang sudah “titik”. Setan pasti selamanya sesat, dan malaikat juga pasti selamanya taat Allah. Dalam buku-buku agama, Anda membaca kisah Barshisha, ulama besar yang terkenal kepandaian dan kesalehannya, tiba-tiba tergoda dengan wanita cantik, lalu semakin lama, semakin hanyut dalam dosa-dosa lainnya. Akhirnya, ia mengakhiri hidup secara mengenaskan: mati dalam kekafiran. Dalam koran dan televisi, Anda juga mengikuti berita beberapa anggota DPR atau pejabat yang semula terkenal dengan hafalan Al Qur’an, suaranya yang empuk dalam ceramah yang menggugah kalbu, tiba-tiba tampil di pengadilan dengan seragam pakaian penjara karena korupsi milyaran rupiah. Lebih mengerikan lagi, sederet wanita cantik teman kencannya ikut dihadirkan untuk menjadi saksi dalam persidangan.  Benar kan?!  Hidup itu masih “koma” belum “titik”.  Benar kan doa Nabi di atas?! Berhati-hatilah. Sekali lagi, Anda yang baik hari ini, tidak dijamin tetap baik esok hari. Sebaliknya, orang berlumuran dosa hari ini, masih ada kemungkinan menjadi manusia mulia esok hari.

Adanya spekulasi keimanan bagi setiap orang, menuntut kita lebih waspada dalam meniti setiap langkah. Awas, banyak tikungan tajam dan licin. Mintalah kepada Allah SWT petunjuk dan penjagaan keimanan,  paling tidak tujuh belas kali setiap hari.Ihdinasshirathal mustaqim (tunjukilah kami jalan yang lurus) kita baca berkali-kali dengan harapan,  sekarang, esok sampai akhir hayat, kita tetap menjadi muslim yang taat dan lebih saleh.  Selain itu, jadikan shalat Anda, “shalat inna lillah,” yaitu shalat yang menguatkan kesiapan untuk mati. Jika Anda dipanggil Allah menghadap-Nya hari ini, maka dengan “shalat inna lillah,” Anda dan keluarga pasti tetap bersyukur, karena Anda mati sebagai muslim yang saleh. Mungkin saja esok hari, keimanan dan akhlak Anda tidak lebih baik. Jika hari esok adalah hari penambah kemuliaan Anda, bergembiralah jika Allah SWT masih memberi kesempatan hidup sehari lagi. Wallahu a’lamu bis-shawab. (Dikutip dari: http://www.terapishalatbahagia.net/shalat-inna-lillah/)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s