Ibuku Yang Sering Berbohong

Standar

ibu-di-sawah2Aku punya Ibu, namanya Ibu. Ya namanya Ibu.

Ketika aku masih kecil, Ibu sering menemaniku untuk makan. Kerap kali aku melihat Ibu membawa hanya satu piring makanan. Ibu selalu bilang, “Anakku sayang,  ayo habiskan makanan ini. Biar sehat dan cepet GeDe.” Aku pun bertanya, “Ibu gak makan?” Ibuku tersenyum dan menjawab, “Ibu sudah makan nak.”

Ketika aku sedang sakit, Ibu selalu berada di sampingku; menjagaku, merawatku, dan mendoakanku. Ibu bilang, “Anakku sayang, tidurlah, biar cepet sembuh. Ibu akan menjagamu.” Aku pun bertanya, “Ibu gak tidur?” Ibuku tersenyum dan menjawab, “Ibu gak ngantuk nak..”

Ibu adalah seorang buruh tani. Ibu bangun sebelum subuh, sholat, lalu menuju ke dapur. Ketika waktu subuh tiba, Ibu menuju kamar tengah untuk sholat. Setelah itu Ibu menuju dapur lagi; mempersiapkan sarapan untuk ku. Lalu ibu menyapu dan membersihkan rumah. Sekitar jam enam pagi, ketika aku mau mandi, Ibu berpamitan berangkat ke sawah. Siangnya ketika aku pulang sekolah, Ibu juga pulang dari sawah. Ibu menuju ke dapur untuk mempersiapkan makan siang. Kadang-kadang ibu kembali ke sawah untuk melanjutkan pekerjaannya. Atau jika tidak, Ibu membersihkan rumah. Sorenya Ibu berada di dapur lagi untuk menyiapkan makan malam. Malamnya Ibu menyempatkan diri untuk memijat tubuhku yang kecapekan bermain seharian. Aku bertanya, “Ibu capek ya?” Ibuku tersenyum dan menjawab, “Ibu tidak capek sayang.”

Sejak kuliah aku tidak lagi tinggal di rumah bersama Ibu. Aku tinggal bersama teman-temanku. Aku pun sudah bisa mencari uang sendiri. Sebagian uangnya aku simpan. Kadang-kadang, ketika pulang ke rumah aku memberikan sebagian uang itu kepada Ibu. Ibu tersenyum dan berujar, “Ibu masih punya uang. Simpan saja untuk kebutuhanmu.” Tidak jarang ketika aku berpamitan untuk berangkat ke kota tempat aku kuliah, Ibu menyisipkan uang 50 ribu-an di sakuku. Ibu tersenyum dan berkata, “Buat nambah beli bensin.”

Ibuku sudah semakin renta. Ibu pun sakit. Dari hari ke hari sakitnya semakin parah. Aku berada di samping Ibu yang sudah sangat lemah. Aku pun menangis melihat kondisi Ibu. Ibu tersenyum dan berkata, “Ibu tidak apa-apa sayang.”  Tidak lama kemudian Ibu pun pergi. Ibu menghadap ilahi robbi.

Kali ini aku tahu. Selama ini Ibu sering berbohong kepada ku. Ketika itu sebenarnya Ibu belum makan. Ketika itu sebenarnya Ibu sangat mengantuk. Ketika itu sebenarnya ibu sangat kecapekan. Ketika itu sebenarnya Ibu hanya punya sedikit uang. Ketika itu sebenarnya Ibu merasakan sakit yang sangat.

Ya Alloh… Wahai Tuhan yang Maha Pengampun. Aku mohon kepada-Mu, ampunilah semua dosa ibuku.

Ya Alloh… Wahai Tuhan yang Maha Penyayang. Aku mohon kepada-Mu, sayangilah ibuku.

Ya Alloh… demi keagungan dan kebijaksanaan-Mu, aku mohon kepada-Mu, selamatkanlah ibuku dari neraka-Mu, tempatkanlah Ibuku di dalam surga-Mu, bahagiakanlah ibuku selalu. Amin. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s