Ibuku, Madrasahku

Standar

Cover Desember 2013Ibu adalah madrasah –tempat belajar- yang pertama dan utama bagi anak

Bila baik madrasahnya, baik pula anaknya

Bila rusak madrasahnya, rusak pula anaknya

-anonim-

Kisah Sang Imam dan Ibunya

Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Apakah Anda mengenal Imam Syafi’iy? Benar. Beliau adalah seorang ‘alim yang menjadi imam bagi banyak ulama. Madzhabnya dianut oleh mayoritas umat Islam di Indonesia. Nama lengkapnya Muhammad bin Idris bin al-’Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Pada usia 7 atau 9 tahun beliau hafal al Qur`an 30 juz. Tidak lama setelah itu beliau hafal kitab al-Muwattha’, karya Imam Malik yang berisi lebih dari 1.700 hadits dan atsar. Pada usia 15 tahun beliau sudah mendapatkan lisensi dari guru-gurunya untuk berfatwa. Beliau merupakan pelopor ilmu ushul fiqh dengan kitab ar-Risalah. Beliau meninggal dunia pada usia 54 tahun dan meninggalkan karya-karya yang sangat berharga bagi umat islam sejumlah lebih dari 170, ada yang mengatakan 200. Itulah riwayat singkat Imam Syafi’iy yang sangat masyhur.

Saudaraku, tahukah Anda, siapa orang yang paling berjasa membentuk kepribadian Imam Syafi’iy hingga menjadi seorang ‘alim yang sangat hebat seperti itu?

Imam an-Nawawi pernah menceritakan bahwa ibu Imam Syafi’iy adalah seorang wanita berkecerdasan tinggi tapi miskin. Beliau juga seorang yang tekun beribadah dan waro’. Ibu Imam Syafi’iy merupakan single parent karena ayah Imam Syafi’iy yang bernama Idris meninggal dunia ketika Imam Syafi’iy masih di dalam kandungan sang ibu. Jadi Imam Syafi’iy ini yatim sejak lahir. Namun demikian, bisa dikatakan bahwa totalitas sang ibu dalam mendidik sang anak lah yang menjadikan Imam Syafi’i menjadi ilmuwan sejati.

Sang Ibu membesarkan Imam Syafi’iy dengan penuh kasih sayang serta dorongan yang kuat terhadap ilmu. Sang Ibu mengirimkan anaknya untuk belajar agama kepada seorang Syeikh di Makah. Melihat kecerdasan Imam Syafi’iy, sang syeikh pun rela tidak dibayar. Di rumah, sang Ibu senantiasa mendorong dan memberikan semangat kepada Imam Syafi’iy untuk belajar. Dikisahkan bahwa sang Ibu mengurung Imam Syafi’iy di dalam suatu kamar dan membolehkannya keluar setelah Imam Syafi’iy menambah hafalan al-Qur`annya.

Ketika berusia 15 tahun, Imam Syafi’iy minta izin kepada sang Ibu untuk merantau demi mendalami ilmu agama. Pada awalnya sang Ibu merasa keberatan karena Imam Syafi’iy adalah anak semata wayang. Namun akhirnya sang ibu pun memberikan izin.

Sang Ibu mengantar kepergian putra kesayangannya yang telah jatuh cinta kepada ilmu agama dengan sebuah doa;

“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu pengetahuan peninggalan Pesuruhmu. Oleh karena itu aku mohon kepadaMu ya Allah, permudahkanlah urusannya. Jagalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu pengetahuan yang berguna, amin!”

Setelah berdoa, sang Ibu berpesan kepada Imam Syafi’iy muda;

“Pergilah anakku. Allah bersamamu. Insyaallah engkau akan menjadi bintang Ilmu yang paling gemerlapan dikemudian hari. Pergilah sekarang karena ibu telah ridha melepasmu. Ingatlah bahwa Allah itulah sebaik-baik tempat untuk memohon perlindungan!”

Di kemudian hari, Imam Syafi’iy pun semakin terkenal sebagai seorang yang sangat ‘alim, ahli dalam bidang bahasa Arab, tafsir, hadits, dan terutama fiqh.

Itulah sekilas kisah bagaimana besarnya peran seorang Ibu dalam membentuk kepribadian anak yang berakhlaq mulia dan memiliki kecintaan yang besar kepada ilmu agama.

 

Ibu: Madrasah yang Pertama dan Utama

Ibu lah yang mengandung anak selama sembilan bulan. Ibu lah yang menyusui anak selama dua tahun. Ibu lah yang menghabiskan banyak waktu dengan anak sampai si anak beranjak remaja. Jika selama waktu itu sang ibu menyusui anaknya dengan keimanan, menyuapi anaknya dengan ajaran agama islam, menghiasi anaknya dengan pakaian akhlaqul karimah, menanamkan di hati anaknya kecintaan kepada ilmu agama, senantiasa membisikan ke telinga anaknya bacaan al-Qur`an, dzikr kepada Alloh dan sholawat kepada Rosululloh, besar kemungkinan si anak anak tumbuh menjadi anak yang kuat imannya, cerdas agamanya, mulia perilakunya, dan siap menghadapi segala tantangan yang dihadapinya ketika dia beranjak remaja dan dewasa.

Sebaliknya, jika sang Ibu menyusui anaknya dengan kekufuran, menyuapi anaknya dengan ajaran syetan, menghiasi anaknya dengan perilaku yang bejat, menanamkan di hati anaknya kecintaan kepada dunia, senantiasa berbicara kepada anaknya dengan perkataan-perkataan yang kasar dan buruk, maka besar kemungkinan si anak akan tumbuh menjadi anak yang jauh dari Alloh dan Rosululloh, hatinya kosong, imannya lebih tipis daripada kulit ari, bodoh dalam ilmu agama, tidak mengerti yang halal dan yang haram, mudah tertipu oleh syetan, baik yang berbentuk jin dan manusia, hingga menjadi anak yang durhaka, menyengsarakan orang tuanya di dunia dan akhirat. Na’udzu billahi min dzalik.

Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Inilah dasar pendidikan dalam agama Islam. Pendidikan yang berbasis keluarga. Jika ingin memperbaiki suatu kaum, maka mulailah dengan memperbaiki para wanita. Karena mereka adalah madrasah –tempat belajar- yang pertama dan utama bagi anak-anak mereka. Jika para wanitanya baik, sholihah, inysaalloh lebih mudah untuk menciptakan generasi yang sholih dan sholihah.

Dalam berbagai kesempatan Rosululloh shollallohu alahi wa sallam menasehati kaum laki-laki agar memilihkan ibu yang baik bagi anak-anak mereka. Beliau bersabda;

“Pilihlah untuk sperma kalian tempat-tempat yang baik.”

Dalam riwayat yang lain Rosululloh shollallohu alahi wa sallam bersabda:

“Pilihlah untuk sperma kalian. Nikahilah orang yang cukup (baik agamanya) dan mintalah menikah kepada mereka.” [HR. Ibnu Majah dan al Baihaqi]

Lebih lanjut dalam sebuah kesempatan sayyidina Umar bin Khoththob rodliyallohu ‘anhu pernah berkata, “hak pertama bagi seorang anak atas bapaknya adalah dipilihkan untuknya ibu yang sholihah”.

Bagaimanakah Ibu yang baik itu?

Saudaraku. Setelah kita tahu bahwa ibu yang sholihah adalah faktor yang sangat penting dalam menciptakan generasi yang sholih dan sholihah -tentu tanpa menafikan peran seorang ayah-. Selanjutnya kita perlu mengkaji bersama, bagaimanakah cirri-ciri atau tanda-tanda ibu yang baik –sholihah- itu?

Setidaknya ada tiga hal yang menjadi ciri ibu yang baik. Pertama, baik agamanya. Kedua, memiliki sifat yang lembut dan penyayang. Ketiga, gemar belajar.

 

Pertama, wanita yang baik agamanya.

Nabi Muhammad shollallohu alahi wa sallam bersabda:

Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia. (Muttafaq Alaihi dan Imam Lima)

Dalam hadits tersebut Rosulullah shollallohu alahi wa sallam menyampaikan bahwa biasanya seorang wanita itu dinikahi oleh laki-laki karena empat perkara; harta, nasab (keturunan), kecantikan, dan agamanya. Namun kemudian, Rosululloh shollallohu alahi wa sallam memerintahkan kepada para laki-laki agar berusaha mendapatkan dan memilih wanita karena ketaatan beragamanya, agar laki-laki dan wanita tersebut berbahagia. (Hal ini tentu juga bermakna sebaliknya. Maksudnya, hendaknya seorang wanita memilih laki-laki yang akan menjadi suaminya, teman hidupnya, ayah anak-anaknya, dan pemimpin keluarganya, berdasarkan ketaatan agamanya.) Inilah petunjuk nabawiy tentang kriteria seorang ibu yang baik, yaitu taat beragama. Dalam pengertian wanita tersebut bukan hanya mengerti ilmu agama Islam, namun juga mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Sederhana saja, jika ada seorang wanita yang tidak taat kepada Alloh ta’ala yang telah menciptakannya, memeliharanya, mencukupi rezekinya, dan senantiasa mengawasinya tanpa henti, maka besar kemungkinan wanita tersebut juga akan tidak taat kepada suaminya.

Seorang wanita yang taat beragama memiliki cirri-ciri; menutup dan menjaga aurot, komitmen melaksanakan ibadah fardlu; misalnya sholat wajib dan puasa romadlon, gemar melaksanakan ibadah sunnah; misalnya puasa sunnah dan shodaqoh, suka membaca al-Quran, serta berperilaku baik. Seorang wanita seperti ini akan sangat bermanfaat bagi anak-anaknya. Pada masa usia balita hingga sekitar 7 tahun, anak-anak belajar dengan cara meniru. Apapun yang dipelajari anak pada usia ini –sebagian besar- akan masuk ke dalam memori jangka panjang dan menjadi pedoman bagi anak dalam memandang segala sesuatu yang dia temui. Kita semua tahu bahwa pada usia tersebut, orang yang paling banyak berinteraksi dengan anak adalah ibu, kecuali jika sang ibu tidak mau mengasuh si anak. Jika pada usia yang disebut sebagai Golden Age ini seorang anak mendapatkan pendidikan agama yang baik, terutama melalui teladan, insyaalloh di masa selanjutnya si anak lebih mudah belajar untuk menjadi seorang muslim yang kuat imannya, cerdas akalnya, dan baik budi pekertinya.

 

Kedua, wanita yang memiliki sifat lembut dan penyayang

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Sayyidah Aisyah rodliyallohu anha: bahwasanya Rosululloh bersabda kepadanya, “Wahai Aisyah, bersikaplah lembut, karena sesungguhnya, jika Alloh ta’ala menghendaki kebaikan pada suatu keluarga, maka Dia ilhamkan kelembutan kepada mereka.”

Sifat lembut adalah modal dasar dalam mendidik anak. Pada dasarnya setiap anak yang lahir di dunia ini memiliki sifat lembut dan mereka cenderung suka kepada kelembutan. Anak-anak suka kepada orang-orang yang lembut kepada mereka. Mereka tidak suka orang-orang yang kasar. Sangat sulit –atau bahkan tidak mungkin- seseorang bisa mendidik dengan baik, anak yang membencinya.

Alloh ta’ala pun Maha Lembut dan menyukai kelembutan dalam segala hal.

Nabi Muhammad shollallohu alahi wa sallam bersabda; “Sesungguhnya Alloh Maha Lembut dan menyukai kelembutan dalam segala perkara.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Sayyidah ‘Aisyah rodliyallohu anha)

Dalam riwayat Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah, beliau berkata. Aku mendengar Rosululloh bersabda; “Barang siapa tidak dikaruniai kelembutan, maka dia tidak dikaruniai seluruh kebaikan.”

Rosululloh shollallohu alahi wa sallam memberikan contoh nyata bagaimana beliau senantiasa bersikap lembut kepada anak.

Suatu hari, Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam didatangi seorang perempuan yang bernama Sa’idah binti Jazi. Ia membawa anaknya yang baru berumur satu setengah tahun. Rosul kemudian memangku anak tersebut. Tiba-tiba, si anak kencing (mengompol) di pangkuan Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam. Spontan, sang ibu menarik anaknya dengan kasar. Seketika itu juga, Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam menasihatinya. “Dengan satu gayung air, bajuku yang terkena najis karena kencing anakmu bisa dibersihkan. Akan tetapi, luka hati anakmu karena renggutanmu dari pangkuanku tidak bisa diobati dengan bergayung-gayung air,” ujar Rosul.

Selain bersifat lembut, seorang ibu hendaknya juga memiliki jiwa yang penyayang.

Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya kamu bersikap lemah lembut, kasih sayang, dan hindarilah sikap keras dan keji.” (HR Bukhari).

Menurut berbagai referensi ilmu Psikologi, kebutuhan yang paling mendasar bagi seorang anak adalah attachment atau kelekatan. Kelekatan ini bisa dibangun jika sang pengasuh, terutama Ibu, memberikan rasa aman, kedekatan baik secara fisik maupun emosi, dan kasih sayang yang cukup kepada anak. Anak yang mendapatkan kelekatan seperti ini akan tumbuh menjadi anak yang sehat jiwa raganya serta tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Ketika anak tumbuh tanpa mendapatkan banyak kasih sayang dari orangtuanya, saat dewasa dia bisa merasakan hidupnya penuh masalah. Begitulah pendapat dari Ratih Ibrahim yang sudah lebih dari 20 tahun bekerja sebagai psikolog profesional.

Kenapa anak menjadi durhaka kepada orang tua? Kemungkinan besar, tentu tanpa mengesampingkan kehendak Alloh ta’ala, dikarenakan sang anak tidak cukup mendapatkan rasa aman, kedekatan dan kasih sayang dari orang tua.

Nabi shollallohu alaihi wa sallam. pernah ditanya, “Bagaimana seseorang membantu anaknya supaya ia berbakti?”, Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkata: “Janganlah membebani dia dengan sesuatu yang melebihi kemampuannya, janganlah memakinya, menakut-nakutinya dan menghinanya”.

 

Ketiga, wanita yang gemar belajar

Di dalam perjalanan kehidupan sebagai seorang pribadi, istri, dan ibu bagi anak-anak, tentu seorang wanita akan menghadapi berbagai permasalahan. Jika wanita tersebut gemar belajar, insyaalloh dia akan diberi kemampuan oleh Alloh ta’ala untuk menyelesaikan permasalahannya dengan baik, dengan berdasar ilmu.

Abu Sa’id berkata: “Seorang wanita datang menemui Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam., lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, kaum lelaki bisa berangkat mendengarkan ucapanmu karena itu sediakanlah olehmu satu hari untuk kami yang pada hari itu kami datang menemuimu sehingga engkau bisa mengajarkan kepada kami apa yang telah diajarkan Allah kepadamu.’ Beliau menjawab: ‘Berkumpullah kalian pada hari ini dan ini.’ Mereka pun berkumpul. Maka datanglah Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam ke tempat mereka, lalu mengajarkan kepada mereka apa yang telah diajarkan Allah kepada beliau…” (HR Bukhari dan Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Hadits tersebut menunjukkan betapa antusiasnya istri-istri para sahabat untuk mempelajari masalah-masalah agama.” Benar, Mereka betul-betul antusias, tidak merasa cukup dengan hanya mendengarkan hadits-hadits bersama kaum laki-laki di masjid. Bahkan mereka menuntut disediakannya waktu belajar khusus.

Dalam riwayat yang lain Sayyidah Aisyah berkata: “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Mereka tidak terhalang oleh rasa malu dalam mendalami masalah agama.” (HR Muslim)

Itulah potret para wanita yang gemar belajar, wanita-wanita yang mulia, istri-istri para sahabat Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam.

Namun sebaliknya, jika seorang wanita malas belajar, maka dia akan kesulitan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Mungkin saja dia berniat baik, namun karena tidak berdasarkan ilmu yang benar, apa yang dilakukannya bukan menyelesaikan masalah, justru memperbesar dan menambah masalah.

Sebuah kisah. Ada seorang ibu yang sering berkata kasar dan kotor (misuh) kepada anaknya. Ibu tersebut juga gemar mencubit dan memukul si anak. Ketika ditanya mengapa dia melakukan hal seperti itu. Ibu tersebut menjawab, karena anaknya nakal dan susah diatur. Ketika ditanya lagi, apa ibu yakin dengan berkata kasar, mencubit, dan memukul si anak akan berubah menjadi anak yang baik dan mudah diatur. Sang ibu pun menjawab, “ibuku dulu juga melakukan hal yang sama kepadaku.”

Inilah salah satu contoh seorang ibu yang mencoba menyelesaikan permasalahannya dengan cara yang sama sekali tidak tepat. Jika ibu tersebut mau belajar bagaimana cara mendidik anak yang baik, bukan hanya berdasarkan perlakuan orang tuanya dulu, insyaalloh ibu tersebut akan mendapatkan ilmu bahwa anak tidak akan berubah menjadi baik dengan perkataan kasar, cubitan, dan pukulan. Bukankah saat ini banyak beredar buku-buku parenting yang dapat dengan mudah didapatkan di toko-toko buku? Misalnya, “Yuk Menjadi Orang Tua yang Sholeh sebelum Meminta Anak Menjadi Sholeh”; karya Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, “Orang Tuanya Manusia”; karya Munif Chatib, “Mengapa Anakku Suka Melawan dan Susah Diatur”; karya Ayah Edy, “Alhamdulillah Anakku Nakal”; karya Miftahul Jinan, “Prophetic Parenting: Cara Nabi shollallohu alaihi wa sallam Mendidik Anak”; karya DR. Muhammad Nur Abdul Hafidz Suwaid, “Tarbiyatul Aulad”; karya DR. Abdullah Nashih Ulwan, “Ushul at-Tarbiyyah an-Nabawiyah”; karya Prof. DR. Sayyid Muhammad bin Alawy al Maliki, dan lain sebagainya.

Selain itu. seorang ibu yang gemar belajar juga memiliki kesempatan dan kemungkinan lebih besar untuk mendidik anaknya tumbuh menjadi orang yang gemar belajar, insyaalloh. Bukankah anak-anak itu suka meniru orang-orang yang ada didekatnya? Jika seorang anak tumbuh menjadi pribadi yang gemar belajar, insyaalloh, kelak dia akan menjadi seorang yang ahli ilmu. Ilmu akan menjaganya, mengangkat derajatnya, dan menghiasi kehidupannya, menjadi semakin baik, dan lebih baik.

Itulah sekelumit pembahasan kami tentang petingnya peran seorang ibu dalam mendidik anak. Melihat betapa beratnya tanggung jawab seorang ibu, maka pantaslah jika ada ungkapan, “Surga di bawah telapak kaki ibu.” Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam pun mendidik umat beliau agar memprioritaskan kepentingan ibu, melebihi bapak. “Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian bapakmu.”

Kami berpesan kepada para orang tua; “Didiklah anak-anak perempuan Anda dengan baik. Semoga kelak mereka melahirkan generasi muslim yang hebat, kuat imannya, cerdas agamanya, dan mulia perilakunya.”

Kami pun berpesan kepada para Ibu, “Belajarlah menjadi ibu yang baik. Sungguh Engkaulah madrasah yang pertama dan utama bagi anak-anakmu.”

Tidak lupa kami juga berpesan kepada para remaja muslimah, “Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Jadilah muslimah yang cerdas. Engkau akan menjadi madrasah –tempat belajar- yang pertama dan utama bagi anak-anakmu. Jika madrasahnya baik, baik pula anakmu. Jika madrasahnya rusak, rusak pula anakmu.”

Semoga Alloh ta’ala membuka hati kita, mengisinya dengan cahaya hidayah, dan senantiasa memberikan kita pertolongan, di dunia dan akhirat. Amin.

–^_^–SELAMAT HARI IBU–^_^–

4 thoughts on “Ibuku, Madrasahku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s