GADIS TAPE

Standar

karya Apel 1Ketika sebuah perjalanan hidup menelusuri sebuah bayangan. Di kota kelahiran yang penuh dengan canda dan tawa ini harus mampu aku tinggalkan.  Dengan tekad penuh arti, jiwa ini mengenang kembali kisah-kisah silam yang begitu menyejukkan. Sebuah pilihan hidup tertera dalam gamblang tangan seorang kakak perempuan.

Awal keremajaan menjadi rawan untuk seorang bocah yang baru beranjak remaja seperti ku di sebuah kota besar ke dua setelah Jakarta ini. Aku mematut kembali seragam biru putih ku. Dan inilah awal kisah seru ku di sebuah kota yang baru ku datangi sore menjelang senja kemarin. Aku mengayun tas selempangku bersama-sama kawan seasrama ku, berjalan riang, sambil sesekali melempar lelucon yang renyah. Sesampainya di sekolah kami berempat mengambil bangku yang berada paling pojok belakang. Lia dengan erna dan aku dengan oncom. Pasti lah kalian heran mengapa nama teman ku ada yang oncom? Ya dia tidak mau di sebutkan nama yang aslinya,karena mungkin dia agak malu-malu kucing. Mengapa aku dan kawan-kawan seasrama ku memilih duduk di belakang?itu karena ,aku dan kawan-kawan tidak mau mendapat giliran yang pertama jika ada suatu hal di kelas,contohnya seperti di suruh maju ke depan untuk mengerjakan sebait soal matematika yang bikin kepala serasa lepas dari tempat nya berada. Tapi dugaan kami salah!!justru hari itu kita semua gak pelajaran tapi PRAMOS. Erna menggerutu, karena di antara kami semua yang tidak suka dengan kegiatan yang harus menomor satukan fisik dan andrenalin seperti di suruh maju ke depan untuk bernyanyi hanyalah dia. Padahal badanya yang paling  bongsor. Tinggi tapi sangat..sangat..seperti manusia sawah di saat pakai seragam seperti itu. Kami bertiga tertawa dan merasa mempunyai ide gila untuk mengerjai nya selama PRAMOS. Kami bertiga tidak bisa membayangkan bagaimana senyum jijay nya selama PRAMOS. Ketika kakak osis berbicara melalui microfon,semua murid memperhatikan sambil sesekali berbisik-bisik entah itu tentang apa aku pun tak mau tau. Aku lebih asyik memandang teman-teman ku se kelas. Aku sedikit berdecak,mengingat sekolah smp ku ini berada di tengah-tengah kampung,tapi murid yang mendaftar di sini sangat-sangat lah banyak,hingga  aku tak sanggup untuk menghitungnya. Aku melamun entah berapa lama hingga oncom yang sedari tadi memperhatikan ku langsung menggedor bangku yang aku tempati. “eeh soboh..jangan ngelamun entar di sambet sama osis di depan loooooh. “  semua murid sontak melihat ke arahku dan oncom karena suara kerasnya yang membahana. Aku melotot ke arahnya dan dia hanya menaggapinya dengan cengengesan, seakan-akan ia baru saja melakukan sebuah karya. “stttttt…..tolong adek-adek sekalian diam dan dengarkan intruksi kakak osis di depan.” Aku malu karena merasa menjadi pengacau masa pramos ini. Ku fokuskan pandangan ke depan hingga akhirnya pikiranku kembali melayang terbang bebas entah kemana.

Istirahat pertama ku di masa smp. Aku bersama ke tiga kawan ku berjalan menyusuri kantin sambil sesekali melempar senyum ke kakak osis atau kakak-kakak kelas yang kebetulan lewat di depan kami ber empat. Lia memilih duduk di bawah pohon sambil menyalakan sebatang rokok, bukan hal yang aneh bila kami sudah terbiasa dengan tingkah lia yang seperti itu. Sedangkan kami bertiga memilih duduk di sebelah lia untuk menikmati es kacang ijo. Oncom tidak sedang bersama kami karena tiba-tiba saja dia di panggil ke kantor oleh ibu kepala sekolah. Entah mengapa baru pertama sekolah ia sudah mendapat panggilan dari kepsek. Usai menikmati es kacang ijo sama erna kami bertiga bergegas ke dalam kelas, di koridor kami bertiga bertemu dengan oncom yang memasang wajah muram. “ada apa?” aku menghampirinya. “tadi aku dapat surat pelanggaran,soalnya waktu kakak-kakak osis lagi ngasih kita arahan , aku rame sendiri.” Lia menghampiri oncom,kemudian memegang dagu nya sambil menegadah kan kepala oncom. “gitu aja sedih.” Dengan santai lia memandang oncom. Aku pun maju untuk mencairkan suasana. “udah…udah…gimana kalau se pulang sekolah kita buat tape ketan,kemarin aku bawah tape banyak dari bondowoso loh..” aku berhasil membuat suasana mereka jadi mencair. Kami berempat akhirnya masuk kelas dengan senyum berseri-seri.

Sepulang sekolah kami berempat langsung berganti pakaian, dan turun ke lantai satu untuk memasak tape dengan adonan tepung. Anak yang lainya pun ikut bergabung dalam kompetisi memasak kami ber empat. Dengan suka ria kami mengaduk adonan tepung yang kemudian di campur dengan tape dari bondowo. Awalnya aku takut salah masak. Ternyata, sewaktu adonan tape dengan berbagai bumbu cake itu terasa lezat dan jarang sekali di temui di jajanan pasar. Terlintas di pikiran ku untuk membuatnya lebih banyak lagi dan di titipkan di kantin sekolah atau paling tidak di tawarkan langsung kepada teman-teman baru ku di kelas. Ide itu aku ungakapkan ke teman-teman dan mereka setuju dengan rencana ku bahkan mereka juga mau mebantu ku membuat nya.

Keesokan hari nya kami ber empat sudah menenteng wadah tempat kue tape. Sesampai nya di sekolah kami segera menuju ke kantin untuk menitipkan dagangan kami. 2 wadah di kantin dan 1 wadah kami bawah ke kelas untuk awal perkenalan produk kami. Di pintu kelas sudah ada kakak-kakak osis yang sedang berbincang-bincang. Lia menghampiri kakak osis itu. “mbak mau gak mencicipi kue tape buatan kami.” Lia menawarkan layak nya seorang bocah yang baru saja belajar memasak. Kakak osis yang ternyata namanya laila itu langsung mengambil satu kue tape yang di sodorkan oleh lia dan di ikuti oleh teman nya yang bernama sasa. Lia menunggu sambil melongo. “gimana mbak rasa nya?” Tanya oncom antusias. Kak laila dan sasa manggut-manggut. “enak juga, kalian buat nya gimana? Boleh gak minta resep nya?” berondongan komentar dan pertanyaan datang berputar di kepala ku. “ya…ini mah bahan utama nya dari tape mbak, gampang..gampag susah kok mbak buat nya.”  Jawab oncom tulus.  “aku boleh gak besok pesen satu tepak buat di bawah pulang ke rumah.” Mata ku berbinar-binar. Aku dan lia,erna,serta oncom ternganga tak percaya lantaran kita ber empat sebentar lagi akan menjadi kandidat pengusaha kecil-kecilan di sekolah yang baru kita masuki 2 hari ini. “beres mbak..mbak sasa gak pesen?” Tanya ku penuh harap. Mbak sasa mengangguk dan memesan 1 tepak seperti mbak laila. Tidak lama kemudian bell sekolah masukkami ber empat langsung masuk dengan wajah berseri-seri. Satu tepak kue tape sudah ludes di makan teman-teman satu kelas dan mereka banyak yang memesan besok nya.

Hari berganti hari waktu berganti waktu. Kami ber empat sudah bisa membeli laptop dan mampu membeli sepeda untuk mengantar pesanan. Pengurus asrama merasa senang. Karena kami ber empat sudah benar-benar bisa mandiri tanpa bergantung kepada orang tua.  Ini tahun ke tiga di smp dan sebentar lagi kami akan menghadapi ujian nasional. Kami focus belajar dan pending usaha untuk sementara waktu. Tapi banyak pesanan yang datang untuk meminta kami ber empat segera membuka usaha kami lagi.

Liburan telah tiba. Pesanan datang terus menerus hingga menyibuk kan kami ber empat. Hingga suatu hari aku mengusuklkan untuk mencari investor usaha kami ber empat agar memiliki lahan sendiri tanpa harus menumpang di asrama lagi. Akhirnya kami ber empat sepakat. Tak berselang beberapa bulan akhirnya kami mendapatkan modal 50 juta untuk membuat tempat kecil-kecilan sebagai tempat pembuatan kue.  Namun kami ber empat akhirnya berpisah. Erna dan lia pulang ke desa atas permintaan orang tua satu-satu nya mereka. Kami melepas mereka dengan haru dan mengikat janji aka saling mengingat usaha yang kita dirikan bersama-sama hingga sukses. Usaha ini aku da noncom kelola. Hingga aku kuliah dan bertemu dengan erna dan lia. Aku bahagia,bersama ke empat kawan asrama ku aku membangun semangat ku yang sempat pudar karena di tinggal ayah pergi.

Sekarang aku menjadi gadis tape yang penuh dengan aura semangat. Bersama ke tiga kawan ku aku berdiri dan saling menopang bila ada yang jatuh. (santriwati DF)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s