MEMOTRET DIRI MELALUI LENSA ILAHI

Standar

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Azis, M.Ag. Ketika memberikan taushiyah di acara Dzikir & Doa Bersama 2013

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Azis, M.Ag. Ketika memberikan taushiyah di acara Dzikir & Doa Bersama 2013

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

“Sungguh, telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?”. (QS. Al Anbiyak [21]:10).

Ayat di atas merupakan kelanjutan beberapa ayat sebelumnya yang menjelaskan fungsi para nabi dan rasul sebagi ahludz dzikri, rujukan atau tempat bertanya tentang agama, karena mereka telah dibekali wahyu Allah. Sebagai kelanjutan ayat tersebut, ayat ini menjelaskan bahwa, di samping mengutus para nabi dan  rasul, Allah juga menurunkan Kitab Suci untuk membimbing manusia ke jalan keselamatan dan kemuliaan.

Kata dzikrukum pada ayat di atas bisa diartikan sebutan tentang kamu atau sebutan untuk kamu atau pelajaran untuk kamu. Ibnu Abbas mengartikan kemuliaan untuk kamu (syarafukum). Diartikan sebutan tentang kamu atau sebutan untuk kamu, karena Al Qur’an  berisi kisah-kisah tentang kamu: bangsa Arab dan bangsa-bangsa lain sebagai pelajaran dan petunjuk agar kamu tetap berada di jalan yang benar.  Al Qur’an juga memberi pedoman dan manusia bisa memilih menjadi terhormat atau terhina, mulia atau tercela. Ayat diatas ditutup dengan teguran, “Mengapa kamu tidak menggunakan akal sehat untuk mengambil pelajaran Al Qur’an?”.

Ayat yang dikutip diatas sangat pendek. Tapi ayat itulah yang mendorong Al Ahnaf bin Qays membolak-balik lembaran-lembaran Al Qur’an. Ia ingin mengetahui ayat-ayat yang mengantarkan manusia kepada kemuliaan (dzikrukum), kemudian ingin melihat potret dirinya, apakah dia termasuk orang mulia dalam ayat-ayat itu atau orang hina.

Siapakah Al Ahnaf bin Qays?. Dia adalah sahabat yang lahir pada tahun ketiga sebelum hijrah. Nama aslinya Ad-Dhahhak, tapi lebih dikenal dengan nama Al Ahnaf yang artinya kaki bengkok. Kakinya memang seperti huruf X, tubuhya kecil, kepalanya botak, matanya cekung dan dagunya agak miring. Ketika Nabi SAW wafat, ia masih usia remaja. Ia pernah didoakan Nabi untuk ampunan Allah, dan itulah doa yang selalu menjadi kenangan dan harapan, “Itulah doa yang paling saya butuhkan pada hari kiamat nanti”.

Al Ahnaf adalah murid kesayangan Umar bin Khattab. Secara fisik, ia tidak meyakinkan. Tapi luar biasa pengaruhnya di masyarakat. Pemimpin Bani Tamim dan pejuang Islam ini sangat berwibawa. “Jika dia marah, seratus ribu orang bisa ikut marah tanpa tahu sebabnya” kata Muawiyah bin Abi Sufyan. Ia seperti singa ketika menghadapi musuh di medan perang karena keberaniannya, dan bagaikan patung ketika mendapat cacian orang karena kesabarannya. Setiap tengah malam, ia menyalakan lentera di samping tempat sujudnya. Sesekali meletakkan jarinya di atas lentera untuk mengingakan panasnya api neraka. Dialah muslim tauladan yang bisa membangun keseimbangan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial.

Berbekal dorongan ayat di atas, Al Ahnaf mulai membuka-buka Al Qur’an, Tiba-tiba mata tertuju pada firman Allah Surat Adz-Dzariyat [51]: 17-18 ”Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di waktu pagi sebelum fajar, mereka  selalu memohon ampunan”.  Menurut ayat ini, orang yang bertakwa selalu salat malam, dan hanya memohon ampunan Allah SWT. Al Ahnaf bin Qays  meneteskan air mata dan berkata, ”Wahai Allah, sungguh saya tidak termasuk dari mereka yang Engkau sebutkan dalam firman-Mu ini”.

Dalam lembaran berikutnya, Al Ahnaf membaca Surat Ali Imran [3]: 134, ”(Orang-orang yang bertakwa adalah)… orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.Menurut ayat ini, orang-orang  bertakwa selalu menginfakkan harta setiap saat. Tidak menunggu sampai ia kaya atau berlebih. Mereka tidak hanya mengobral infak, tapi juga mengobral maaf dan kelapangan hati. Setelah diam sejenak, Al Ahnaf berkata, ”Wahai Allah,  saya tidak termasuk kelompok ini”.

Dalam lembaran Mushaf Al-Quran berikutnya, ia menjumpai Surat Al Hasyr [59]: 9 ”…..dan mereka mengutamakan (orang-orang lain), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapapun yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”. Mereka yang dipuji Allah dalam ayat di atas adalah para sahabat penduduk asli Madinah yang memberi semua kebutuhan saudara-saudaranya yang hijrah dari Makkah, sekalipun mereka sendiri bukan orang berlebih. Mereka lebih banyak memikirkan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Bukan sebaliknya, seperti yang kita saksikan di negeri ini, mengorbankan orang banyak demi kepentingan diri, keluarga, kelompok atau partainya. Setelah membaca ayat ini, Al Ahnaf sekali lagi berkata, ”Wahai Allah, sungguh, saya tidak termasuk kelompok ini”.

Al Ahnaf melanjutkan pencarian ayat sambil berkata, “Wahai Allah aku belum menemukan potret diriku”. Kali ini ia membaca firman Allah Surat As Shaffat [37]:35-36 ”Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan melainkan Allah), mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena (menikuti) seorang penyair gila?” Ayat ini menjelaskan adanya sekelompok orang yang acuh bahkan sinis ketika mendengar nasehat keagamaan. Mereka menganggap para penganjur kebajikan di tengah kemaksiatan sebagai orang-orang tak waras. Al Ahnaf bin Qays berkata, “Wahai Allah, jauhkan aku dari sifat-sifat yang tercela ini”.

Al Ahnaf tidak henti-hentinya membolak-balik mushaf Al-Qur’an sampai bertemulah Surat At Taubah [90]:102,”Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka. Mereka mencampurbaurkan perbuatan yang baik dengan perbuatan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Melalui ayat inilah, Al Ahnaf bin Qays menemukan potret dirinya. Ia berkata, ”Wahai Allah, saya temasuk kelompok ini”. Ia menyadari bahwa sepanjang hidupnya ia mengerjakan dua hal yang berlawanan antara pahala dan dosa. Ia mengakui potret dirinya yang abu-abu, tidak jelas keimanan dan keislamannya.

Anda bisa melakukan seperti yang dilakukan Al Ahnaf bin Qays. Sudah sangat jelas diterangkan dalam Al Qur’an sifat-sifat orang mukmin, munafik, kafir dan seterusnya. Dari situlah Anda dapat mengetahui ”Siapa Anda sebenarnya”. Anda hanya bisa memotret diri, jika lensa Anda bersih dan tajam yaitu akal yang cerdas dan indera yang peka. ”Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya”. (QS. Qaf [50]:37). Sumber : (http://www.terapishalatbahagia.net/memotret-diri-melalui-lensa-ilahi/)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s