Cerren : Mimpi-mimpi Sari

Standar

mimpi-ahiraHari ini adalah hari senin dimana semua keluarga SMP Dayu melaksanakan kegiatan rutin yaitu upacara. Semua siswa diwajibkan memakai seragam lengkap, apabila ada yang tidak lengkap maka akan di kenakan sanksi. Selesai upacara semua siswa segera memasuki kelas masing masing dengan berbaris secara teratur.

“Tet tet tet”

Tanda bel untuk pemanggilan ketua kelas. Ketika ketua kelas sedang berkumpul di aula, anak anak yang lain asyik ngerumpi.

Assalamualaikum, maaf bagi Bapak Ibu guru yang sedang mengajar di ruang kelas menggangu waktunya sebentar, sebelumnya ada pengumuman untuk ananda Sari Fatmawati dimohon untuk datang ke aula sekarang, dan terimakasih atas waktunya, wassalamualikum”. Terdengar  suara yang berasal dari mikrofon sekolah. Segeralah Sari berlari menuju aula tanpa  ba bi bu. Sesampainya di kelas semua anak menoleh kearahnya dengan pandangan keheran.

“Sar kamu mau kemana? ngapain bawa tas segala ?” tanya Ani.

“Aku juga gak tau An, ini aja aku harus segera bersiap siap untuk pulang tanpa keterangan yang jelas, doakan aja mudah mudahan gak akan terjadi apa apa ya? iia deh hati-hati ya Sar? ok”. Entah apa yang sedang terjadi, detak jantung gadis remaja yang baru kelas 8 ini terasa begitu  kencangnya. Ada dua orang guru yang mengawal Sari dan secepat mungkin sang gadis diajak naik montor untuk di antar pulang. Di sepanjang perjalanan  Sari disuruh membaca solawat.

***

Saat sampai di rumah, mata Sari  tidak mampu berkedip, melihat apa yang sedang orang orang lakukan di rumahnya, seakan nyawanya keluar dari raganya. Dia hanya tertegun dengan suasana itu.

“Bu Marmi, apa yang sedang terjadi? Kenapa ada  tenda di sini?”. Tanya Sari kebingunan dengan suasana itu.

“Yang sabar ya nak? i…bu…mu….telah tiada”, bu Marmi menjawab dengan terbata-bata.

“Maksudnya ibu ku meninggal………..?”, jawab Sari terkaget tidak percaya.

“ia”. Bu Marmi mengelus-elus  rambut gadis belia itu.

“ibukkkkkk…….”, suara  teriakan Sari sontak menjadi tontonan orang di sekitar. Si gadis memeluk jasad sang bundanya untuk yang terakhir kalinya.

Hujan air matapun tak dapat terbendung lagi, tidak hanya Sari yang menangis namun semua orang yang di sekitar ikut merasakan betapa pedihnya ditinggal orang yang di sayang. Orang-orang hanya bisa memberikan dukungan dan semangat agar Sari tetap bersabar dan tabah.

***

Setelah kejadian yang amat mengguncangkan hati itu, kini Sari menjadi drob dan tak bersemangat melakukan apapun. Dia tidak percaya bahwa ibunya telah tiada. Malahan kepedihan tak pernah berkurang kian hari terus bertambah dan menyesakkan dada, ia merasa dirinyalah yang paling tidak berarti. Perasaan penuh sesal menghampirinya. Melamun menjadi sebuah rutinitas baginya. Sampai suatu ketika datang seorang memakai baju serba putih menghampirinya, yang waktu itu  sang gadis sedang melamun di taman yang lumayan sepi. Di bawah pohon yang rimbun. Terdapat satu kursi panjang di bawahnya.

Assalamualaikum nak,,,”?, tanya orang tersebut. Sejenak Sari berpikir, dari manakah orang tersebut yang tiba tiba muncul di depanya.

Wa’alaikumsalam”, jawabnya pendek.

“Mengapa kau melamun disini nak? tidak kah kau seharusnya melakukan sesuatu yang lebih berharga di dunia ini dari pada sekedar melamun?” Sari hanya terdiam tanpa kata. Kemudian seseorang tersebut duduk di samping Sari dan melanjutkan perbincangan.

“Apakah kau punya masalah yang begitu berat?”

Tetap tanpa jawab, Sari hanya menggelengkan kepala.

“Taukah kau nak, kau masih terlalu muda untuk pupus harapan dan bersedih hati, ingatlah bahwa  di dunia ini tidak ada yang abadi, semua pasti ada  masanya sendiri-sendiri. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, asalkan kau istiqomah dan terus berusaha, bukan dengan melamun begini? ingatlah, kau masih punya bapak yang bisa kau bahagiakan selagi ia masih hidup, iklaskanlah ibumu pada Sang Maha Kuasa, karena beliau sudah tenang di  alam sana, ia hanya butuh doamu dan melihat dirimu hidup bahagia”.Kata orang tersebut sambil  beranjak pergi meninggalkan Sari seorang diri.

Ia tersadar akan kebodohanya selama ini, begitu bodohnya ia menghabiskan waktu dengan percuma. Setelah ia tersadar dari kebodohanya, Sari pun mencoba mencari sosok orang tersebut. Alhasil nihil, tiada satu orang pun di sana.

“Ah mungkin tadi adalah malaikat yang di utus oleh Alloh untuk menyadarkan aku.” batinya. Lalu Sari kembali pulang. Di pikiranya kini tertuju pada ayah handanya tercinta.

Assalamualaikum…ayah…!” Sari mengucapkan salam tepat di depan pintu rumah.

Wa’alaikumsalam….anak ku sayang, dari mana saja kau nak, ayah mencarimu”, sebelum Sari menjawab pertanyaan ayahnya, Sari mengajak sang ayah ke ruang  keluarga. Sari meletakkan kepalanya di atas pangkuan sang ayah.

“Ayah, Sari punya mimpi-mimpi dan impian nan tinggi?”

“Apa itu nak?”

“Dulu Sari  kan punya impian ingin menghajikan bunda, trus berhubung bunda sudah di sisi Alloh, gantian Sari ingin menghajikan Ayah, Ayah bersediakan?”, goda Sari sambil tersenyum.

“Subhanalloh Sar, Ayah bangga padamu, padahal Ayah saja tidak pernah berpikiran sampai ke situ”. Sang ayah pun tersenyum dan memeluk anaknya dengan erat.

Tujuh tahun kemudian…….

Setelah menyelesaikan kuliahnya S2, Sari mendapat pekerjaan dari sebuah perusahaan, yang terbilang gajinya diatas rata-rata. Setelah  cukup lama Sari bekerja di sana, ia kini dipercaya oleh perusahaan atas kinerja dan prestasi-prestasi yang dihasilkan Sari dalam mengembangkan perusahaan. Pangkatnya kini bukan sekedar pegawai biasa, kini dia dipercaya menjadi seorang manager kepala pengembangan usaha. Setelah ia berhasil mengumpulkan uang untuk menghajikan sang ayah, Sari pulang memberi kabar bahagia tersebut dengan membawa koper yang berisi uang.

“Ayah aku pulang”, suara teriakan sari tidak ada yang menjawab, keadaan rumah terlihat sepi.

“Duh ayah dimana ya?”, batinya sambil membuka pintu rumah. Kakinya  melangkah menuju kamar sang ayah dengan perasaan campur aduk jadi satu. Dia tergaket saat melihat ayahnya terdiam di atas ranjang tanpa nafas.

“Ayah…..” teriaknya sampai ia menangis terisak-isak.

Astaghfirulloh, kenapa Alloh tega mengambil ayah disaat apa yang ayah inginkan akan terlaksana? Alloh mengapa engkau tidak adil pada kehidupanku? Mengapa?”…..hatinya bagaikan tersayat-sayat sembilu untuk yang ke dua kalinya, setelah ia kehilangn ibu tercintanya…baginya tiada yang berarti lagi di dunia ini.

“Ayah aku baru menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi, maka sekarang aku akan melakukan yang terbaik untuk semuanya, o iya ayah aku telah berhasil menghajikan ayah, walaupun dengan perwakilan orang lain dan tidak lupa ibu juga kok? dan selain Sari kini sibuk bekerja, Sari belajar agama, supaya ayah dan ibu tenang di sana. Sari sayang kalian semua. Impian terbesarku adalah BISA MENGHAJIKAN KALIAN BERDUA dan alhamdulillah telah terkabul J .”

 

By: aReGh bLItar.coM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s