Tahajjud dan Dhuha Antarkan Mohammad Anwar ke Tanah suci

Standar

hajiBanyak cara ke Tanah Suci. Mohammad Anwar punya cara menarik agar bisa menunaikan rukun Islam kelima. Ia secara rutin mendawamkan shalat tahajjud dan shalat dhuha. Aktifitas pagi hari ini sedikit berbeda bagi Mohammad Anwar (53), warga Desa Glagahan, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pria paru baya itu tidak lagi berkeliling mengantarkan koran dari rumah ke rumah.Saat ini, dia duduk di antara ratusan calon jemaah haji embarkasi Surabaya. Tabungannya selama lima tahun dari hasil loper koran, akhirnya membuahkan keberangkatan ke Tanah Suci bersama kloter 12, Selasa (17/9).

”Kuncinya adalah Shalat Tahajud dan Dhuha. Ditambah sedekah rutin di jalan-jalan,” kata ayah tiga anak ini pada Republika sesaat setelah tiba di Asrama Haji Surabaya, Senin (16/9).

Anwar mengatakan, perjuangannya mengumpulkan uang tidaklah mudah. Dia bahkan harus menjual sepeda motornya untuk modal pendaftaran tabungan di sebuah bank syariah. Uang loper koran yang tidak lebih dari Rp 50 ribu per hari, akhirnya terkumpul Rp 36 juta selama lima tahun, biaya haji saat itu hanya Rp 35 juta.

Pada 2008, pria kurus berkulit gelap ini, menyetorkan uang muka pendaftaran haji Rp 4 juta, ditambah biaya administrasi nomor porsi Rp 20 juta. Namun, dia baru bisa membayar Rp 2 juta, kekurangan 18 juta, wajib dilunasinya setahun ke depan.

”Tapi saya baru bisa lunasi setelah tiga tahun, dan itu kena denda Rp 3 juta,” katanya sambil menahan tangis mengingat sulitnya gali tutup lubang untuk melunasi tabungan tersebut.

Bukan hanya itu, Anwar pun bersyukur, meski hanya tamatan Sekolah Dasar, dia tetap bisa menyekolahkan ketiga anaknya hingga lulus sarjana. Bahkan, putra-putri tersebut turut andil dalam menambah biaya tabungannya setelah bekerja.

Anwar mengaku, selama 10 tahun terakhir ini, dia selalu menjaga ibadahnya, terutama shalat tahajud. Menurutnya, hampir setiap malam, dia terbiasa bangun untuk bersimpuh pada Allah SWT dan meminta kecukupan rezeki esok hari.

”Kemudian, di perjalanan saya selalu menyediakan uang receh untuk para pengemis atau tukang minta-minta di lampu merah,” tambah Anwar.

Tidak cukup sampai di situ, usai mengantar koran, sekitar pukul 09.00 ketika tiba di rumah, dia melaksanakan Shalat Dhuha setidaknya dua rakaat. Tidak ada rutinitas lain yang dia lakukan, namun dengan menjalankan amalan itu, dia selalu mendapat rezeki tak terduga.

Anggota ranting PWNU Jombang ini mengatakan, selalu saja ada warga yang memintanya datang untuk mengisi materi ceramah pengajian di suatu kegiatan. Walau pekerjaan sampingan itu tidak menuntut bayaran, sedikitnya dia akan menerima Rp 200 ribu dari pihak penyelenggara.

”Uang itu saya sisihkan untuk tabungan haji, makan sehari-hari, dan biaya anak sebelum mereka lulus,” ujarnya penuh syukur.

Awalnya, bapak bertubuh bungkuk itu adalah tulang punggung keluarga. Namun sekarang tiga anaknya sudah bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri.

Justru sebagian gaji mereka disisihkan untuk orang tua. Anwar merasa terharu karena akhirnya bisa berangkat haji, namun sedih karena hanya sendiri.

Setibanya di Mekkah nanti, dia mengatakan, akan berdoa agar ke depan bisa dicukupkan kembali berangkat umrah bersama istri. Dia juga menyarankan agar keluarganya terus mengamalkan ibadah rutin seperti tahajud, dhuha dan infak sedekah setiap harinya.

”Kalau kita punya keinginan dekatkanlah diri kepada Allah, biar nanti Dia yang mengurusnya,” ujarnya menerangkan.

 

Dikutip dari:

http://www.republika.co.id/berita/jurnal-haji/pengalaman-haji/13/09/16/mt7tbb-tahajjud-dan-dhuha-antarkan-mohammad-anwar-ke-tanah-suci

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s