Cerita Fitri

Standar

143420_minalaidinwalfaidzinMatahari masih hangat. Burung-burung mensenandungkan tasbihnya masing-masing. Sementara semut, jangkrik, kupu-kupu, kumbang, kelinci, dan kambing tengah mengerjakan dluha mereka. Fithri bergegas menuju kebun di sebelah rumah. Seperti anak tiga tahunan yang lain, Fithri suka sekali bermain di kebun yang juga bersebelahan dengan rumah tetangganya itu. Dengan muka yang cinuk-cinuk1si Fithri menuju kebun. Sesampainya di sana ia mendapati Ulfi tengah bermain di comberan favoritnya.. Ulfi yang usianya tiga bulan lebih tua dari Fithri itu memang suka sekali bermain dengan air.

Fithri pun bergegas mendatangi si Ulfi. Mungkin agak terkejut dengan kedatangan Fithri, si Ulfi tanpa sengaja memuncratkan isi comberan ke badan Fithri. Tak ayal badan Fithri pun basah kuyup plus belepotan dengan lumpur basah. Fithri terlihat tidak suka dengan perlakuan si Ulfi. Fithri berang “Ulfi, kamu nakal..!!”

“tidak. Ulfi tidak sengaja kok…” Ulfi coba membela diri.

Terjadilah perang mulut antar ke dua anak ingusan itu. Percekcokan semakin panas hingga menimbulkan suara gaduh. Kakak si Fithri yang sedang menyirami bunga di halaman pun mendengar kegaduhan itu.

”ada apa Fithri..??” tanya Kakak kepada Fithri.

”Ulfi nakal kak…”

”nakal gimana..??” tanya Kakak menginterogasi.

”ni badan Fithri kotor semua”

”kenapa kok bisa kotor kayak gitu..??”

”si Ulfi memuncratkan air comberan ke badan Fithri. Kotor deh jadinya…”

”o….alah, kamu ya yang nakal…” sang Kakak menatap Ulfi dengan mata memelotot.

Karuan saja Ulfi ketakutan dan …. ”Huwa… huwa …. huwa ….!!!” si Ulfi menangis dengan sekeras-kerasnya hingga kelinci dan kambing yang sedang ber-dluha di kebun pun menghentikan aktivitas mereka sejenak.

Tangisan Ulfi terdengar hingga ke dapur rumahnya. Ibunya yang sedang mengulek2 sambal pun segera memahami bahwa ini suara tangisan si Ulfi. Si Ibu langsung bergegas menuju tempat sumber suara tangisan. Dilihatnya dari kejauhan di Ulfi menangis dan di depannya berdiri Kakaknya Fithri. Pikir si Ibu pasti si Ulfi diapa-apain sama kakaknya Fithri. Ibu pun langsung melabrak si Kakak.

”kamu apakan anakku..??!! beraninya sama anak kecil..!! ayo lawan aku kalau berani..!!”

”wong Ulfinya yang salah. Dia yang memuncratkan air comberan ke badan adikku” si Kakak coba membela diri.

”gak mungkin. Anakku emang suka comberan. Tapi gak suka memuncratkan comberan” si Ibu gak mau menerima pembelaan si Kakak.

Si Ibu mulai melinting lengan bajunya. Tanda siap bertarung.

Sementara itu Pak Dollah, ayah Fithri, hendak berangkat kerja. Didengarnya suara ribut dari kebun sebelah rumah. Ia pun menengoknya. Dan ia melihat Ibunya Ulfi dengan kondisi siap tempur berhadapan dengan Kakaknya Fithri yang masih muda belia. Ia pun bergegas menuju kebun.

”Bu, jangan Cuma berani sama anak muda..!!”

”lalu kamu mau ngelawan aku..??!! ayo..!!” Ibunya Ulfi menantang Pak Dollah. Percekcokan semakin panas. Dan terus memanas hingga menjelang siang.

Sekarang dua kubu sedang berhadapan. Keluarga besar si Fithri berhadapan dengan keluarga besar si Ulfi. Kakak, Bapak, Ibu, Pak Lek, Bu lek, pak De, bu de, kakek, nenek, dan uyut dari kedua belah pihak sudah berkumpul lengkap dengan senjata andalan masing-masing; mulai suthil3, wajan, sendok, piring, sapu lidi, alat pel, pemukul lalat, hingga sikat pembersih toilet.

Situasi semakin memanas. Tidak ada tanda-tanda akan diadakan gencatan senjata. Pertarungan tinggal menunggu waktu saja. Dan….

”assalamu’alaikum…” Kang Udin datang.

”wa’alaikumussalam …” mereka serentak menjawab salam.

”ada apa ini..?? siang-siang kok pada kumpul di kebun, mau kerja bakti ya…?” Kang Udin memulai pembicaraan. Kang Udin merupakan orang yang cukup disegani oleh masyarakat setempat. Walaupun pernah ke Baitulloh dua kali, penampilannya tetap bersahaja, gaya hidupnya pun sederhana. Pekerjaan harian Kang Udin adalah sebagai pengembala kambing. Tapi kalau sudah waktunya sholat, ia alih profesi menjadi imam sholat. Ia juga sering memberikan makanan secara cuma-cuma kepada tetangganya, terutama kepada anak-anak. Karena akhlaqnya yang baik itulah, ia disegani warga setempat.

”enggak Kang, ini lho Bapaknya si Fithri ini, ya ini, masak mau ngajak berantem istri saya, istri saya kan wanita”. pak Sarmin, bapaknya Ulfi,  tidak mau didahului.  ”lha masak anak saya yang masih belia dan imut-imut ini mau diajak berantem sama Ibuknya si Ulfi yang tangannya sekeras bambu petung4. Ya gak bisa saya biarkan” Balas pak Dollah gak mau kalah.

”o… gitu…”

Setelah berdiam diri sejenak. Kang Udin mengajukan pertanyaan

”sebenarnya masalahnya apa..? kok bisa sampek dua keluarga besar hendak perang baratayudha seperti ini..?”

Akhirnya Kakaknya si Fithri menjelaskan asal muasal persoalannya. Bahwa tadi pagi ketika Fithri mau bermain di kebun, ia dimuncrati comberan oleh Ulfi.

Kang Udin pun mengangguk-anggukkan kepalanya

”o.. gitu to persoalanya..”

Kang Udin pun tersenyum.

”kenapa Kang, kok tersenyum?” tanya orang-orang itu hanpir bersamaan.

”lihatlah.. dua anak yang kalian katakan sebagai sumber persoalan itu sekarang sedang bermain comberan bersama…”

Orang-orang itu pun memutar-mutar mata mencari kemana perginya si Fithri dan si Ulfi. Kedua mata mereka terhenti di sebuah pemandangan yang membuat mereka tertegun. Fithri dan Ulfi sedang bermain comberan bersama. Sekarang bukan cuma bajunya si Fithri yang terkena comberan. Dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki, semuanya bermandikan comberan. Begitu juga Ulfi. Dan keduanya terlihat sangat menikmati comberan itu. Keduanya bermain dan bahagia bersama. Mereka sudah tidak ingat lagi apa yang terjadi pagi hari tadi. Mereka tidak ingat lagi bahwa pagi tadi Ulfi memuncratkan comberan yang mengotori badan Fithri. Fithri sudah melupakan kesalahan Ulfi. Dan mereka pun tertawa bahagia bermain comberan bersama.

Orang-orang itu hanya bisa melongo melihat pemandangan yang agak aneh itu.

”kita ini, yang suka mengaku dewasa, ternyata masih kalah bijak dengan anak-anak. Anak itu dengan mudah memaafkan dan melupakan kesalahan temannya. Lha kita…??” Kang Udin menutup pembicaraan. Ia bergegas menuju tempat wudlu di sebelah utara musholla. Sebentar lagi waktu sholat dzuhur tiba.

Sementara dua keluarga besar yang semula siap bertempur tadi masih terbengong di kebun. Mereka saling tatap. Lalu membubarkan diri tanpa sepatah kata pun.

[Ibnu Munawwir]

 

 

Catatan :

1 cinuk-cinuk                         : menggemaskan

2 mengulek                           : menghaluskan sesuatu dengan alat yang biasanya terbuat

dari batu

3 suthil                                  : alat yang terbuat dari logam, biasa digunakan untuk

menggoreng sesuatu

4 pethung : salah satu jenis bambu yang k

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s