PARA PEMBANTU, RAHIMAKUMULLAH

Standar

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Azis, M.Ag. Ketika memberikan taushiyah di acara Dzikir & Doa Bersama 2013

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Azis, M.Ag. Ketika memberikan taushiyah di acara Dzikir & Doa Bersama 2013

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia 

Di depan hadirin yang terlihat lemas karena semalam suntuk i’tikaf dzikir di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, 24 Ramadlan 1433, saya mempersingkat ceramah shubuh. Ketika turun dari mimbar, tiba-tiba KH Ahmad Sofwan Ilyas menghampiri saya. Ia meminta buku saya, “60 Menit Terapi Shalat Bahagia” untuk dipelajari lebih lanjut setelah mendengar cuplikan yang saya kutip dalam ceramah itu. Tentu sebuah kehormatan, karena buku itu nanti akan mendapat masukan berharga dari kiai besar ini.

Dengan sungguh-sungguh, ia meminta saya agar berkunjung ke rumahnya jam itu juga. Saya sebenarnya ingin segera pulang untuk meneruskan membaca berita tentang kegelisahan para bos di kota-kota besar menjelang lebaran ketika para pembantu rumah tangganya mudik ke kampung. Saya sedang berfikir tentang nasib para pembantu rumah tangga. Betapa banyak di antara mereka tidak memperoleh kehormatan sebagai manusia merdeka. Seolah-oleh membentak mereka tidak dipandang dosa. Para majikan tidak merasa bersalah memberi upah yang pasti mereka tahu tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan diri, apalagi keluarganya. Itupun tanpa hari libur sama sekali dalam seminggu. Pikiran saya itu semakin menjadi-jadi ketika berada dalam bulan Ramadlan ini. Ketika semua anggota keluarga yang lagi tidur nyenyak atau sedang berdzikir khusyuk, pembantu harus menyiapkan makan sahur sang majikan dan keluarga. Itupun makannya harus paling akhir. Beberapa hari menjelang lebaran, para majikan masih sampai hati membujuk mereka untuk menunda pulang kampung.

Di rumah mewah kiai yang juga pengusaha sukses itu, saya meminta ijin meraba-raba perabot rumah yang serba ukir “tiga dimensi.” Tiba-tiba saja kiai ini bercerita tentang wasiat alamaghfurlah ayahandanya, Kiai Sofwan di Rembang tentang bagaimana memperlakukan pembantu. “Lho, dari mana kiai ini tahu saya sedang berfikir tentang hal itu” pikir saya.” “Para pembantu itu orang-orang mulia. Kita bisa memuliakan para tamu karena mereka. Juga atas jasa merekalah, kita bisa beribadah dengan tenang dengan pakaian bersih dan harum.” Inilah kalimat pembuka kiai. Ia kemudian meneruskan wasiat ayahnya, “Nak, berikan pembantumu waktu istirahat yang secukupnya. Jika ia sedang tidur pada jam istirahat, jangan bangunkan dia. Buatlah teh atau kopi dan suguhkan kepada para tamu dengan tanganmu sendiri. Jika sedang shalat atau mengaji, jangan sekali-kali dipanggil untuk mengerjakan sesuatu. Mereka manusia merdeka yang juga butuh istirahat dan ingin masuk surga seperti engkau.” Segera saya lepas kacamataku, karena tidak terasa air mata saya berlinang, tapi saya tetap bersikap seperti tidak terjadi gejolak jiwa sedikitpun. Kiai ini lalu meminta pamit sebentar ke dalam rumah. Ternyata ia kembali ke ruang tamu dengan membawa tiga sarung dan menyuruh saya memilihnya. “Saya ambil yang cerah saja pak kiai. Saya ingin memiliki hati secerah abah panjenengan” kata saya.

Setelah menggeser pantatnya sedikit, kiai yang terkenal dengan travel bimbingan haji dan umrah itu melanjutkan wasiat abahnya, “Nak Ahmad (panggilan untuk kiai sewaktu kecil), berhati-hatilah. Jangan mempekerjakan pembantu di luar tugas utamanya, atau lebih dari batas jam maksimalnya. Sedikit saja ia mengeluarkan keringat dengan hati yang jengkel, kejengkelan itu langsung tersambung ke arasy, maka murkalah Allah SWT dan kemudian tertutuplah pintu-pintu rizki untukmu.”.  Kiai ini kemudian berdiri dan menyampaikan dengan lebih bersemangat, padahal saya sebenarnya agak sakit menahan buang air sejak memasuki rumahnya. Tapi menjadi tidak terasa karena melihat semangat dan keikhlasan kiai mewariskan wasiat itu kepada saya. “Nak Ahmad, setiap kali pembantu itu pulang, tanyakan kepadanya daftar nama secara lengkap anggota keluarga yang miskin di kampungnya. Masukkan uang dalam amplop walaupun sedikit dan tuliskan nama masing-masing mereka, agar pembantu itu tidak salah memberikannya. Kegembiraan pembantu bisa bersilaturrahim kepada keluarga dengan membawa uang dan kebahagiaan mereka yang menerimanya tersambung ke arasy, terseyumlah Allah, dan terbukalah sejuta pintu rizki untukmu.” Saya menunduk dan beristighfar, sebab saya belum bisa melakukan persis seperti yang diwasiatkan kiai kharismatik yang sekarang “berbahagia” di alam kuburnya.

Ketika sampai di rumah, saya langsung membuka beberapa buku yang terkait dengan wasiat yang mulia di atas. Dalam kitab Tanbighul Ghafilin disebutkan sebuah kisah. Salah seorang sahabat Nabi SAW meminta air kepada tetangganya, dan menyuruh budaknya untuk mengambilnya. Karena ia terlambat mengambilkan air, tetangga itu menghardiknya dengan kata yang kasar, “Pelacur kau”. Sahabat Nabi itu langsung mengingatkan,  “Pada hari kiamat kelak, engkau akan didera Allah sebagai hukuman, jika engkau tidak bisa membuktikan ucapanmu itu.” Tetangga itu segera meminta maaf kepada si budak dan memerdekakannya. “Semoga Allah menebus dosamu” doa sahabat Nabi untuk  tetangga tersebut.

Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Kam na’fu ‘anil khadim/berapa kali kami harus memaafkan pembantu?” Nabi menjawab, “70 kali untuk setiap hari”. Sebagai imbalan kebaikan majikan, pembantu tentunya harus mengikuti nasehat Al Hasan Al Bashri. Ketika ditanya, “Manakah yang didahulukan: memenuhi panggilan adzan shalat atau melayani sang tuan?,” ia menjawab, “Layani tuanmu terlebih dahulu.”.

Dalam Kitab Riyadlus Shalihin,  Ma’rur bin Suwaid berkata, “Aku melihat Abu Dzarrin r.a memakai perhiasan yang sama dengan yang dikapai pembantunya. Lalu aku bertanya kepadanya, dan dia menjelaskan bahwa dia pernah memaki seorang (pembantu)  dan mencela dengan mengaitkan dengan ibunya.  Nabi SAW mengingatkan, “Engkau manusia dengan budaya jahiliyah. Mereka saudara kalian, pembantu kalian, mereka berada dalam kekauasaan kalian. Siapapun yang mempekerjakan orang, hendaklah ia memberi makan seperti yang dia makan, memberi pakaian seperti yang dia pakai. Janganlah kalian membebenai pekerjan di luar kemampuan mereka, jika mereka dibebani pekerjaan demikian, maka bantulah mereka.” (HR Bukhari Muslim).

Nabi SAW mengajarkan perlakuan yang terhormat dan penuh kemuliaan untuk para budak. Pembantu rumah tangga sama sekali bukan budak. Oleh sebab itu, ia harus dihormati, diberi kesejahteraan dan diberi peluang memiliki masa depan kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Lailatul Qadar adalah malam yang tepat bagi para majikan “besar” atau “kecil” untuk bertaubat dan meminta maaf kepada para pembantu yang mungkin selama ini belum diperlakukan seperti ajaran Nabi SAW. Idul Fitri tahun ini harus menjadi hari raya yang mencerahkan masa depan para pembantu. Pembaca yang tercerahkan dengan Ramadlan, yakinlah Anda juga akan tercerahkan masa depan ekonomi, karir, kesehatan dan kebahagiaan rumah tangga Anda berkat senyum dan doa tulus para pembantu Anda. Minal aidin wal faizin, berbahagialalah para pembantu, rahimakumullah. ()

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s